Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
66. Terjebak di perasaan yang keliru


__ADS_3

Ekspresi Grace langsung berubah. Dia tidak heran mendengar nama perusahaan Sanjaya, tapi mendengar nama wanita itu disebut, rasanya jantungnya mau lepas. Grace tahu persis siapa wanita itu.


Grace langsung meninggalkan ruangan dengan hanya berpamitan kepada mereka tanpa memberi tahu alasan jelas. Sementara Martin melongo menghadap peserta lainnya, mencoba mencari-cari alasan kenapa Grace pergi begitu saja.


Sikap profesionalitasnya berperang dengan isi di relung jiwanya. Jika menuruti kemauan hatinya, Grace tidak akan pernah bertemu dengan Lionny. Namun, dia dipaksa menjadi seorang yang profesional. Bukankah dia sayang sama ayahnya dan patuh dengan perintah CEO-nya?


Grace melawan perasaannya sendiri. Meski memang berat, Grace harus melawannya. Tidak wajar jika dia menolak tugas kantor. Ya, karena hal yang akan dibahas adalah terkait kerjasama, bukan soal pribadi. 


Ah, di ruangannya Grace termenung.


Tak kuat, dia akhirnya menelepon Stefan.


“Ada apa, Grace?”


Grace tak tahan dengan gejolak di dadanya. Dia berkata kesal, “Kenapa kau mengutamakan Sanjaya Techno daripada perusahaan lainnya? Apa alasannya karena mantan istrimu?” Grace mengeluarkan nada yang sangat menekan.


Stefan yang saat ini masih berada di kantor sontak tertegun mendengar pertanyaan Grace. Dia menjawab, “Jangan berpikir macam-macam, Grace. Ini tentang kerjasama dan project.”


Grace mengernyitkan kening dan menumpahkan kekecewaannya, lalu berkata, “Kau masih ada perasaan sama dia, Stefan. Aku curiga.”


Grace gelisah. Dia berdiri dan berjalan mondar-mandir di ruangan kerjanya. Matanya nanar menunggu jawaban dari Stefan. Bibirnya menggerenyet mengekspresikan kekecewaannya.


“Bahkan, dia tidak tahu bahwa aku menjadi CEO di Nano-ID.” Stefan tegang. Dia tidak boleh salah omong, jika terpeleset sedikit, urusan hati dan pekerjaan akan kacau nanti.


Namun, Grace makin dihanyutkan oleh perasaannya sendiri. Dia memang cemburu. Tidak bisa dipungkiri kalau dia cemburu. Lantas, dia akhirnya berani mengungkapkan apa yang ada di kepalanya terang-terangan terhadap Stefan.

__ADS_1


Grace berkata penuh amarah, “Kenapa kau masih menyimpan perasaan terhadap wanita yang sudah punya suami? Apa kau ingin mengambil hak orang lain?”


Grace mendengar hembusan napas Stefan yang kasar dari ujung ponselnya. Suara itu makin menggetarkan hatinya. Grace egois. Seharusnya dia tidak menjadi wanita kecil. Dia telah menurunkan derajatnya di mata Stefan. Dia dibunuh oleh perasaan sendiri.


Di tempat yang jauh, Stefan tersentak setelah dilempar pertanyaan seperti itu? Apa gunanya seorang sekretaris bicara begitu lantang membahas soal urusan yang sudah lama? Stefan jelas sadar akan kecemburuan Grace. Dia menyayangkan kejadian ini.


Namun, Grace harus tahu alasannya.


Stefan berkata tegas, “Jika saat ini aku jadi benalu dan dianggap gila selama tiga tahun ke depan, apa kau akan mengurusku dan setia padaku?”


Grace terdiam. Saat ini, hatinya luluh. Perasaan kacau barusan dikalahkan oleh perasaan mengaku bersalahnya sendiri. Dia belum tentu menjaga kesetiaan terhadap Stefan selama tiga tahun penuh di saat Stefan sedang terpuruk.


Bisa jadi Grace terpukau di saat Stefan sedang jaya. Namun, di saat Stefan sedang berada di bawah dan bahkan tidak bisa melakukan apapun, apa Grace bisa terus menemaninya? Dia belum belajar apa itu arti kesetiaan.


Selama itu, Lionny selalu sabar mengurus Stefan. Dia tidak mengeluh. Bahkan, dia rela menanggung cacian dari keluarganya sendiri demi Stefan. Meskipun sempat terprovokasi dan berada dalam kebimbangan, kesetiaan Lionny tak pernah lekang oleh waktu.


“Tenangkan dirimu. Bekerjalah sebaik mungkin.”


Klik!


Setelah perasaannya netral, barulah Grace menyuruh Martin ke ruangannya.


“Kapan pertemuan dengan pihak Sanjaya Techno?” tanya Grace memaksakan senyum.


Martin mendelik wajah wanita itu. Ada perbedaan tapi tidak mencolok. Mata itu agak layu. Martin menjawab, “Besok pagi, Bu Grace.”

__ADS_1


Ada ratusan perusahaan yang sudah menandatangani kontrak kerjasama. Perusahaan-perusahaan tersebut akan dijadwalkan kembali pada pertemuan selanjutnya untuk bahasan lebih lanjut dan spesifik. Atas perintah CEO, perusahaan pertama yang akan diajak bekerjasama adalah Sanjaya Techno.


Grace tersenyum ramah, lalu berkata, “Wanita itu sangat spesial bagi kita semua, bukan hanya bagi CEO Nano-ID. Berikan sambutan meriah untuknya besok. Saya dan kamu, Martin, yang akan menjadi teman diskusi mereka. Persiapkan diri sebaik mungkin.”


Getaran suara Grace seirama dengan getaran jantungnya. Tadi, karena meluapkan emosi yang salah, dia berbicara tidak karuan sama Stefan. Tadi bukan Grace yang asli. Sekarang, bicaranya tegas seperti Grace biasanya. Pesonanya kembali.


Grace telah berdamai dengan dirinya sendiri. Dia rasa, tidak mungkin juga Stefan akan kembali ke pangkuan mantan istrinya itu. Mustahil.  Grace hanya terpancing dan dijebak oleh perasaan yang keliru. Seharusnya dia tetap tenang dan tidak membuatnya malah malu sendiri di mata Stefan.


Martin menatap curiga dan berkata penasaran, “Sepertinya, Bu Grace mengenal siapa itu Lionny.”


Grace melihat mata bertanya-tanya itu, lalu membalas, “Jika lama tinggal di Palembang dan Jakarta, aneh orang itu tidak mengenal Keluarga Sanjaya.”


Orang lebih mengenal Keluarga Sanjaya daripada mengenal Ketua RW mereka sendiri. Mungkin seperti itulah analoginya. Sanjaya terkenal dan berpengaruh. Grace berusaha memutar alur. Jika jujur, Martin akan bingung. Grace tidak ingin asisten CEO ini malah masuk ke dalam cerita pribadi mereka.


Martin mengangguk. “Berarti saya yang belum banyak tahu soal mereka. Soalnya, ada beberapa perusahaan luar negeri dan sangat ternama yang telah mendaftar, tapi tidak dinomorsatukan oleh Tuan CEO. Apa mungkin Keluarga Sanjaya terlalu besar dibandingkan semuanya? Apa mungkin saya yang keliru?”


Mata Grace menjadi tegas. Rasa ingin tahu Martin terlalu kuat. Grace yang baru tenang hatinya dipaksa berpikir kritis pagi ini. Seharusnya Martin melempar pertanyaan krusial ini kepada Stefan.


Grace menatap Martin lurus-lurus, lalu berkata, “Nanti kamu akan tahu sendiri seperti apa Keluarga Sanjaya. Secara, saya pernah bekerja di salah satu perusahaan Sanjaya Group.”


Martin masih tak puas atas jawaban putri dari atasannya ini. Logikanya tidak bisa menerima. Bagaimana mungkin Sanjaya Techno, sebuah perusahaan IT yang kecil dan punya masalah, bisa diprioritaskan daripada perusahaan besar dan populer?


Jidat Martin berkerut tiga. Pusing kepalanya mencari jawabanya sendiri. Lalu, Martin undur diri dan sibuk kembali dengan pekerjaannya.


Grace pun sama. Dia mulai disibukkan dengan pekerjaannya. Tetapi hari ini dia banyak menghabiskan waktu dengan menemui cukup banyak orang terutama pejabat kantor. Grace mempererat network internal. Dia makin dikagumi.

__ADS_1


Sore harinya ketika hendak pulang, Grace agak marah karena si Ryan malah asyik main game di pos penjagaan, meninggalkan tugas pentingnya hari ini.


“Hei kamu, Ryan!” sentak Grace agak menjerit. Suaranya merdu dan nyaring. Wajahnya menyeringai cantik. “Kamu tidak menuruti perintah saya. Seharusnya kamu jaga mobil saya! Akan saya laporkan kepada CEO. Awas kamu!” 


__ADS_2