
Stefan sedang berbelanja di sebuah supermarket di Jakarta seorang diri siang hari ini. Ketika sedang memilih-milih beberapa lembar pakaian di sebuah toko, dia bertemu dengan seorang pria yang tidak begitu asing baginya.
“Ryan?” tanya Stefan tanpa ragu.
Pria itu tertegun beberapa detik lalu berkata, “Kau teman SMA-ku yang cukup dibanggakan. Kau sangat terkenal karena sempat tiga tahun menjadi pria gila dan menumpang hidup di rumah mertua. Aku tidak mungkin lupa denganmu, Stefan!”
Awalnya, Stefan ingin tersenyum karena dia bisa bertemu kembali dengan sosok yang begitu dikaguminya selama beberapa tahun pas masih remaja dulu.
Ryan, meski tidak ada prestasi mencolok, tapi dia ini punya sifat menjaga pribadi yang mengagumkan. Misal, mending tidak bisa matematika dari pada mendapat satu ejekan dari temannya. Dia benar-benar menjaga harga dirinya. Jika berkedip tiga kali dalam satu detik bisa menuruni martabatnya, dia tidak akan melakukannya seumur hidup.
Dulu waktu SMA, Ryan ini tidak pernah mendapat nilai tertinggi ataupun menang di suatu perlombaan. Dia tidak pernah jadi ketua OSIS atau bahkan ketua kelas sekalipun. Namun, karena karakternya yang kuat dan selalu menjaga ucapan dan tingkah, orang tidak akan berani menatapnya lama, karena segan. Ryan punya kharisma.
Meski begitu, Stefan tetap mencetak senyum di bibirnya, hanya saja senyum hambar. Dia berkata ramah, “Dari dulu aku mengira kau pasti akan sukses, Ryan.” Lalu, Stefan memperhatikan Ryan dari atas sampai bawah.
Outfit yang melekat di tubuh Ryan setidaknya 100 juta harganya. Jam tangan dan kalung itu sepertinya yang paling berharga. Belum lagi smartphone di tangan keluaran terbaru itu. Ryan makin menarik perhatian.
Ryan tersenyum pahit dan berkata, “Beberapa bulan lalu aku bertemu juga dengan teman lama SMA. Maaf, karena kami asyik menggunjingmu. Tidak ada bahan tertawaan lain selain menertawasi seorang pria gila selama tiga tahun.” Ryan tertawa beberapa saat.
Sebenarnya, Stefan tidak aneh dengan ucapan Ryan seperti ini. Dulu waktu di kelas pria ini memang suka melempar jokes hinaan walau terkadang jokes itu tidak lucu tapi orang lain sakit hati mendengarnya. Reputasinya yang bagus menutupi lawakannya yang kering.
Ryan melanjutkan, “Kau mau beli apa di toko ini? Serius kau bisa membedakan antara barang mahal dan murah? Sangat jarang ada orang yang pernah hilang ingatan tiga tahun terus dia bisa pergi sendirian ke mall. Mustahil.”
__ADS_1
Stefan masih tenang, lalu dia memasukkan tangannya ke saku celana. “Apa kau bisa mengantarkanku ke sebuah toko yang layak bagiku?”
Ryan mengoles dagu dan berkata, “Kau lebih pantas membeli pakaian bekas saja, Stefan. Seorang duda yang sebelumnya menjadi benalu di rumah mertua sangat tidak pantas membeli kaos seharga lima juta. Mending kau simpan uang sebanyak itu untuk jatah makan kau selama dua bulan di Jakarta. Kota ini keras.”
Mendengar kata keras, Stefan ingin tertawa. Stefan lalu mengawasi suasana di dalam toko dan berkata, “Ya, tempat ini terlalu mahal untuk orang seperti aku.”
Ryan menepuk-nepuk pundak Stefan. “Ayo ikut aku ke bawah. Kita ngopi. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan pada orang sepertimu. Mungkin kau akan bisa juga diterima bekerja di sana.”
Mereka tiba di sebuah tempat ngopi ternama berawalan S dan berakhiran S juga. Ryan menyuruh Stefan duduk. Dia yang memesan.
Tak lama setelah itu, Ryan duduk menghadap Stefan. Dia menyeruput kopinya, lalu berkata, “Harga satu cangkir kopi ini bisa buat kau makan tiga kali dalam sehari di Jakarta, Stefan. Jarang-jarang saja kau pergi ke tempat ini.”
Ryan cukup banyak tahu info soal Stefan dari beberapa teman karena ada dua orang yang bekerja di Sanjaya Sawit. Namun, informasi yang dia ketahui hanya sampai di perceraian Stefan dan Lionny. Setelah itu mereka menganggap bahwa kehidupan Stefan telah selesai.
Stefan mulai resah. “Sebagian orang tahu masa lalu yang kelam itu. Aku harap kau tidak membahasnya.”
Buru-buru Ryan memotong. “Apa kita harus bahas masa depan? Kau tidak punya masa depan, Stefan! Ya, kami mengakui di saat kau berada di bangku SMA dan juga kuliah di luar negeri, tapi itu dulu, sekarang dengan otak yang pas-pasan itu, apa kau bisa sukses?”
Stefan menghela napas. “Mudah-mudahan,” balas Stefan masih ramah. Dia memberikan senyuman kembali. “Katanya, kau akan menawarkanku pekerjaan?”
Ryan memperbaiki posisi duduknya dan mengangkat kakinya, lalu berkata, “Aku sudah melakukan interview ketiga di Nano-ID. Melamar sebagai supervisor. Tugasnya mengawasi dan mengkoordinasi setiap ketua tim.”
__ADS_1
Stefan mengangguk sambil melempar pandangannya ke arah pengunjung lain. “Nano-ID. Supervisor. Lumayan tinggi jabatanmu. Aku baru dengan nama Nano-ID. Perusahaan itu bergerak di bidang apa ya?”
Ryan menepuk jidat. Sudah dia prediksi bahwa Stefan tidak mungkin tahu nama perusahaan itu. Persepsi tiga tahun gila dan menumpang di rumah mertua telah mengandaskan apapun sesuatu yang baik dan bagus dari Stefan. Di mata Ryan, Stefan ini benar-benar seperti pria menyedihkan yang tidak tahu apa-apa.
Ryan menatap rendah, lalu berkata cukup gamblang, “Perusahaan yang diurusi oleh pemerintah Indonesia. Hanya saja Nano-ID bukan BUMN seperti Telkom dan perusahaan negara lainnya. Tapi, pemerintah punya andil di Nano-ID. Bergerak di bidang IT. Project seperti pengerjaan web, aplikasi, software, apa saja yang terkait dengan IT, dan juga perangkat komputer.”
Stefan mengangguk lagi seolah baru paham. “Aku tertarik untuk bekerja di sana. Apa kau bisa mengurusnya demi teman lamamu ini?”
“Astaga, Stefan. Kau mungkin akan diterima jadi OB, sesuai dengan pengalamanmu di Sanjaya Sawit waktu itu. Atau nanti akan aku coba rekomendasikan kau sebagai penjaga keamanan. Badanmu sangat tinggi. Kau cocok.”
Sejauh ini, sudah tahu seperti apa karakter dari Ryan. Dari dulu dia memang tidak berubah. Padahal, apa yang ditampilkannya hanya flexing. Bahkan HP-nya saja beli pakai paylater. Jika tahu bobroknya orang ini, dia punya empat tagihan di aplikasi pinjol. Dan pas pulang, dia akan pamer innova sejuta umat itu pada Stefan, padahal angsuran masih tiga tahun lagi.
“Terima kasih sudah memberikan minuman padaku. Suatu saat aku akan mentraktirmu juga,” kata Stefan pas di parkiran mall.
“Di mana mobilmu?” tanya Ryan sambil mengerling.
“Aku hanya mengantarmu sampai sini. Aku sudah pesan Grab untuk pulang.”
Ryan mendengus sebal. “Astaga! Ya sudah biar aku antar. Sekalian aku ingin melihat apa isi kontrakanmu itu.”
Stefan menggeleng. “Grab-nya sudah tiba di dekat pintu masuk parkir.”
__ADS_1
“Oke. Jangan lupa di acara reuni malam minggu nanti. Jika tidak punya kemeja bagus, nanti akan aku pinjamin. Di sana kita akan bicarakan lagi soal pekerjaan OB-mu di Nano-ID.”