Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
43. Kado dari Stefan


__ADS_3

“Stefan, suapin dong Stephanienya!” titah Theo kelikikan.


“Emang sih nih ketua gak romantis!” ledek Stephanie sambil mencebik.


Stefan menatap langit-langit ruangan. Bangs4t si Theo, pikirnya. Habis dia hari ini dikerjai. Mana empat anak baru ini kompak pula menuruti perkataan Theo.


Stefan pun menggeremet dan perlahan memotong tipis kue cokelat yang sedari tadi dipegang oleh Theo, lalu menusuknya dengan garpu plastik kecil dan menerbangkannya ke arah mulut Stephanie.


Stephanie malah malu-malu dan membekap mulut dengan telapak tangannya. Kue itu berhenti di udara. Setelah Stefan menyuruh Stephanie membuka mulutnya, barulah Stefan mendorong kuenya pelan-pelan ke mulut Stephanie.


“Waw! Romantisnya!” lolong Theo berdecak-decak. Matanya belingsatan memindai wajah-wajah orang di dalam ruangan ini.


“Aeemm ...” Stephanie mengunyah lambat-lambat.


“Stefan, lihatlah di dekat bibir Stephanie ada bekas cokelat. Bagaimana kau menyuapinya? Cepat bersihkan!” titah Theo sok serius, padahal matanya hampir basah menahan tawa.


Stefan menghela napas berat. Diambilnya tisu, lalu diusapnya bagian kotor di sekitar bibir Stephanie. Apa lagi habis ini?


“Oke, sekarang gilirang dong! Stephanie yang menyuapi Stefan.”


Walaupun malu dan pipinya makin memerah, Stephanie malah girang menyambutnya. Dengan cepat dia memotong kue ukuran agak besar. Karena agak gugup, jadi tidak rapi memotongnya. Dicolokannya di garpu, lalu diberangkatkannya ke mulut Stefan.


Stefan sudah menganga cukup besar. Tapi kuenya masih tidak muat. Lantas Stephanie membelesakkan kue itu secara paksa. Di sekujur bibir Stefan diselimuti cokelat. Mulutnya seperti ikan lohan, mengunyah-ngunyah, mengembung.


“Ha-ha-ha-ha.” Mereka semua tertawa terbahak-bahak.


Stephanie mencolok satu potongan lagi yang agak besar, kemudian mendaratkannya tepat ke bibir Stefan yang tengah mengatup. Diremetnya pakai tangan dan diusap-usapnya ke sekujur wajah Stefan, hingga wajah itu penuh dengan gumpalan cokelat.


Stefan mundur tiga langkah, menjauh dari tangan jahil Stephanie. Ketika Stefan sedang sibuk membersihkan mukanya, tiba-tiba separuh kue yang sudah dipersiapkan dari tadi lantas dilemparkan Theo tepat ke kepala Stefan.


“Ha-ha-ha.”


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Setelah dari wc untuk membersihkan wajahnya, Stefan pun masuk lagi ke ruang kerja.


“Theo, sudah cukup ya bercandanya hari ini. Kita serius kerja. Yang lain juga, berhenti berdancanya,” ujar Stefan sembari mengelap wajahnya pakai tisu.


“Siap, bos! Kata Stephanie, mana kadonya?” Theo langsung memutar kursinya dan menghadap pc.

__ADS_1


Stefan melangkah ke meja kerjanya, karena ada sekat dan berbeda dari pada yang lain, Stefan menjawabnya tanpa mengawas mereka, “Satu jam lagi kadonya akan datang. Tunggu saja.”


Theo berdeham-deham dan menyenggol-nyenggol Stephanie yang berada di sebelah kirinya. Theo berbisik, “Apa kubilang, ketua memang respect padamu, Stephanie. He-he.”


Satu jam kemudian ada yang mengetuk-ngetuk ruangan. Security tadi mengambil sebuah kiriman dari seseorang pengatar paket dan mengantarkannya. “Kiriman buat Pak Stefan!”


Stefan pun membuka pintu, lalu mengambil kotak paketnya. “Terima kasih, Pak.”


“Widih! Datang juga akhirnya. Buka sekarang dong!” Theo melangkah lebar. Dirampasnya kotak itu dari tangan Stefan seperti kucing mencuri ikan.


“Hei, Kocak! Siapa yang ulang tahun?” ledek Stefan mengernyit. “Biar Stephanie saja yang buka.”


“Tidak apa-apa, Stefan. Biar Theo saja yang mewakili,” sela Stephanie berseri-seri. Kedua dengkulnya makin rapat saja. Disisirnya rambutnya sebagian hingga leher putih itu tampak berkilau.


Seperti Youtuber yang bikin konten unboxing, Theo menjulurkan lidahnya seperti anjing, kesan seolah tak sabar ingin segera tahu kira-kira apa kado yang diberi oleh Stefan.


Theo merobek isolasinya. Pelan karena takut merusak kotak yang berukuran lima puluh kali tiga puluh senti ini. Lalu dibukanya kotak tersebut.


“Waw!” seru Theo heboh. Biji matanya membesar.


Semua orang di ruangan meninggalkan pekerjaanya dan sibuk menunggu apa yang akan dikatakan si ikal ini.


“Tas Hermes dan jam Rolex!” jeritnya lagi membahana. 


Stefan hanya bergeming dan sibuk mengutak-atik keyboard komputernya, tidak begitu mengindahkannya. Makin kesal Stefan gara-gara ulah si kocak. Habis dia hari ini dikerjai.


Theo menjinjit dan berusaha melihat kepala Stefan. Tapi karena tidak puas, dia pun berjalan sedikit, lalu meletakkan tangannya pada sekat setinggi satu meter lebih itu. Dilihatnya wajah Stefan yang sedang serius bekerja.


“Bos! Katanya mau beli cincin!” Theo menggeleng sambil berdecak. “Malu lah sama yang lain ini. Masa bos tidak bisa beli perhiasan untuk wanita yang diidam-idamkan?!”


Stefan mendongak dan memberikan tatapan nyalang. Mata elangnya membuat Theo berbalik arah dan kembali menuju kursinya.


“Berikanlah kado itu buat Stephanie!” titah Stefan tegas.


 Di ruangan ini, bahkan di kantor ini, cuma Theo yang berani memperlakukan Stefan seperti demikian. Sebagai seorang pemimpin, Stefan harus bisa membaca karakter anak buahnya. Dia tahu kalau Theo hanya ingin bercanda dan bersenang-senang. Makanya dia tidak menampakkan kemarahan walaupun hatinya terusik.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Siang harinya ketika jam istirahat, Stefan mengajak Theo duduk ngobrol di sebuah tempat bersantai karyawan yang berada di lantai paling atas.

__ADS_1


Pengalaman pahit dan sering ditindas membuatnya menjadi pribadi yang tidak gampang marah sama orang. Namun, bukan berarti lantas Stefan mendiamkan sikap Theo.


Stefan menyeruput kopinya lagi, lalu berujar, “Aku senang ada satu orang pelawak di tim. Aku suka orang sepertimu, Bro. Tapi, aku tidak suka dengan orang yang terlalu berlebihan dalam bercanda.”


Theo mengawasi bangunan-bangunan di depan sana. Sepakan angin membuat rambut keritingnya bergoyang-goyang lucu. Dirapikannya lagi, tapi balik kusut lagi.


“Oke, sekarang aku serius, Stefan. Beberapa hari yang lalu, Stephanie ngobrol melalui chat. Dia menumpahkan semua perasaannya. Dia kagum sama kau. Dan kalau aku nilai, sepertinya dia memang suka sama kau,” beber Theo.


Helaian rambut Stefan bergoyang seirama dengan hembusan angin yang cukup kencang. Kemejanya bergelombang-gelombang sehabis diterjang-terjang udara. Tapi wajahnya teguh.


“Mulai sekarang kau jangan bersikap seperti tadi. Aku tidak ingin Stephanie makin larut dalam perasaannya. Dikhawatirkan pekerjaan kita akan terganggu.”


“Jadi kau tidak tertarik dengannya? Serius? Dia termasuk primadona lho?”


Stefan menggeleng pelan. Ditengoknya Theo yang berada di sebelah kirinya. “Aku tidak tertarik dengan dia.”


“Lalu bagaimana dengan kado istimewa tadi?”


“Ya itu memang hadiah karena dia ulang tahun. Anggap saja bonus setelah menyelesaikan project kemarin.”


Theo tersenyum puas. Lalu melepas kacamatanya. “Maaf kalau aku tadi berlebihan, Stefan. Aku hanya ingin meluapkan kebahagiaanku saja. Dan, memang salah aku juga sih, malah kau yang jadi bahan jokes.”


Stefan menghela napas panjang. Benar berarti kalau semua rencana ini keluar dari otak busuknya Theo. Lantas, bagaimana dengan perasaan Stephanie selanjutnya? Apa wanita itu kira bahwa Stefan benar-benar respect dan punya perasaan yang sama?”


Baru saja beranjak dan ingin melangkah, tiba-tiba Alan dan Liam langsung duduk di samping mereka. Alan menyulut api di rokoknya, menariknya agak dalam, lalu menghembuskannya perlahan.


“Mau ke mana kalian?” tanya Alan menatap nanar.


“Kami baru saja duduk. Ngopi lagi kita!” timpal Liam.


Theo membuang mukanya jauh-jauh. Malas dia kalau berhadapan dengan dua spesies sok jago ini. Stefan meneguk habis kopinya dan melenggang meninggalkan dua orang itu.


“Apa kalian berdua yang mengirimkan rootkit di komputerku?” teriak Alan.


Stefan berhenti. “Hei Theo!”


Theo yang sudah berada di dekat pintu dan ingin turun tangga pun menyahut. “Oi!”


“Kau dengar ada yang bicara barusan?” Stefan melangkah lagi dan memasukkan tangannya ke saku celana.

__ADS_1


“Tidak!” suara Theo samar-samar terdengar karena menggema dari balik pintu dan tertabrak oleh deru angin.


“Aku juga tidak!”


__ADS_2