Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
56. Pertemuan dengan Robert


__ADS_3

Awalnya pihak keluarga telah sepakat hanya akan menyuruh Lionny mengurus kerja sama dengan Nano-ID. Namun, setelah dipikir-pikir, Bobby ragu dengan putri sulungnya itu. Lagi pula, Bobby ingin menguji kemampuan Robert yang baru saja ditunjuk sebagai salah satu manager di kantor pusat Sanjaya Group.


Pagi ini juga dia langsung menuju kantor Nano-ID. Meski dia tahu bahwa Nano-ID belum beroperasi, setidaknya kali ini dia ingin berkenalan terlebih dahulu dengan sosok CEO Nano-ID.


Setibanya di sana, Robert sangat terkejut melihat Stefan sedang duduk-duduk di pos penjagaan. Setelah turun dari mobil, dia pun bergegas menghampiri mantan ipar sampah itu.


“Woi! Sejak kapan kau tinggal di Jakarta?” tanya Robert sambil memampang ekspresi terkejut.


Ryan menyenggol Stefan. “Kau masih ingat kalau dia ini adalah mantan iparmu. Bahkan aku saja tahu kalau orang ini adalah Robert Sanjaya. Cucu kandung asli Kakek Sanjaya.”


Stefan memperbaiki posisi duduknya. Karena agak refleks, sapu lidi di sampingnya terjatuh, lalu dibenarkannya kembali. “Apa kabar, Robert?”


Bukannya menjawab, Robert malah acuh tak acuh. “Jangan bilang kalau kau ingin melamar pekerjaan di sini!”


Ryan berdiri dari bangku pos keamanan, lalu mendekati Robert dan berkata, “Mantan iparmu yang menyedihkan ini menjadi OB di Nano-ID. Apa kau terkejut?”


Robert mengangguk cepat. Dia menatap hina Stefan. “Jika dia bekerja hanya untuk menjilati kloset karyawan, aku tidak akan pernah heran. OB terlalu tinggi untuk pria menyedihkan seperti dia.”


Ryan tertawa keras lalu berkata, “Dia baru hari ini mulai bekerja. Aku sudah berusaha keras menyampaikan kepada asisten CEO agar aku punya teman bekerja selama satu bulan ini. Entah, setelah itu, apakah dia tetap bekerja atau tidak di sini.”


Robert mendengus jijik. “Dia ini tiga tahun menjadi benalu gila yang tidak tahu diri. Setelah itu, dia punya sedikit pengalaman menjadi pembantu rumah tangga dan pekerja keras di kantor ayahku. Tentu perusahaan besar sekelas Nano-ID akan mempekerjakannya seumur hidup meskipun dia tidak punya ijazah.”


Semalam melalui telepon, Stefan sudah bilang pada Martin dan David bahwa beberapa hari ini dia akan bantu-bantu tugas di luar dan jangan pernah bicara apapun terhadap semua orang. Martin dan David sibuk di dalam kantor mengurusi administrasi kepegawaian.

__ADS_1


Stefan berdiri lalu menghadap Robert. “Apa keperluanmu ke sini, Robert? Kantornya akan beroperasi enam hari lagi.”


Robert menggeleng malas, lalu berkata, “Wahai mantan ipar yang tidak berharga! Posisi OB-mu saat ini tidak akan bisa memahami urusan orang-orang besar. OB dan CEO itu ibarat kecoak dan harimau. Apa kau mengerti?”


Stefan menjawab, “Saat ini kau tidak mungkin bisa menemui CEO di ruangannya. Dan, sepertinya tidak akan pernah bisa, selamanya.”


Mendengar itu, meskipun usianya terlampau muda, Robert emosi juga. Saat ini, Stefan sempat berpikir keras, dia menyangka Robert pasti akan ada urusan penting di Nano-ID. Tidak mungkin Robert ke sini hanya kebetulan.


Stefan melanjutkan, “Apa kau ingin menemui CEO dan membahas sesuatu?” tanya Stefan menyelidik.


Robert membuang muka. “Lucu sekali office boy baru ini. Kau bilang, aku tidak akan pernah bisa bertemu CEO Nano-ID? Apa kau tahu aku siapa? Apa kau tahu sekarang aku seorang manager di Sanjaya Group? Silakan kau pergi ke sana dan cari tahu sendiri. Tidak lebih dari dua jam kalau kau berjalan mengendarai sapu lidi penyihir itu, kau akan sampai di perusahaan ayahku!”


Kuping Stefan sudah tebal mendengarkan ocehan pedas dari Robert. Tiga tahun lebih dia menerima makian sarkas. Omongan kali ini hanya sedikit menggetarkan gendang telinganya saja. Dia masih menyelidiki apa yang ingin dilakukan oleh Robert.


Di resepsionis, seorang wanita cantik menjelaskan kepada Robert bahwa CEO tidak akan menemui siapapun, terlebih terkait bisnis dan pekerjaan, siapa pun itu.


“Bilang pada CEO Nano-ID kalau aku ngin bertemu sekarang,” kata Robert dengan nada bicara yang ditegas-tegaskan seperti kopral. “Dari Sanjaya Group.”


Bukannya tidak mau menjelaskan lebih panjang dan detail, bahkan wanita ini pun belum tahu CEO-nya siapa. Hingga saat ini struktur organisasi perusahaan masih dalam proses pembentukan. Belum dipampang jelas CEO berikut pejabat di bawahnya, seperti CMO dan COO, masih belum tahu.


Jiwa muda Robert berontak. “Kau tidak mungkin tidak tahu Sanjaya Group. Kurasa, pasti kau pernah melamar pekerjaan di sana tapi tidak diterima.”


Mendengar itu, petugas resepsionis malah menatap bingung. “Jika masih bersikeras, silakan sekarang temui asisten CEO bernama Martin!” Wanita itu langsung duduk karena sudah malas.

__ADS_1


Belum sempat menuju ruangan Martin, orang yang dituju rupanya datang sendiri. Martin melangkah cukup lebar karena takutnya Robert malah salah masuk ruangan.


Dia berkata, “Robert Sanjaya? Barusan tadi CEO Nano-ID meneleponku untuk segera bicara dengan Robert Sanjaya. Sepertinya ada urusan penting. Namun, karena CEO tidak bisa bertemu siapa pun, jadi silakan Robert Sanjaya masuk ke ruangan saya.”


Setibanya di sana Robert pun disuruh duduk dan dilayani cukup baik sesuai dengan permintaan CEO sendiri.


Martin tersenyum ramah dan berkata, “Kebetulan perusahaan sudah menutup lowongan kerjanya.....”


Jiwa muda Robert berontak lagi. “Kau pikir, aku mau melamar pekerjaan di sini? Aku manager di Sanjaya Group. Tahun depan akan menjadi manager umum,” bentaknya.


Martin tertegun beberapa saat. Dia tidak salah omong sama sekali. Biasanya dalam belakangan ini memang cukup banyak orang datang ke sini dan membawa berkas lamaran pekerjaan. Martin tak hirau soal dia bagian dari Keluarga Sanjaya atau bukan.


“Saya tidak menyangka seorang Robert Sanjaya akan melamar pekerjaan di sini. Sanjaya Group terlalu besar untuk perusahaan baru seperti Nano-ID. Barangkali ada teman Robert Sanjaya yang ingin melamar di sini melalui Robert Sanjaya sendiri.”


Robert tersenyum malas dan berkata, “Langsung ke point saja. Aku mewakili Sanjaya Techno, ingin menjalin kerja sama dengan Nano-ID. Kami berminat memakai AlfaStudio untuk Sanjaya Techno. Tidak hanya itu, kami ingin bisa collabs bersama Nano-ID dalam banyak hal.”


Martin mengangguk takzim. “Inti masalah sudah diketahui. Silakan Robert Sanjaya undur diri. Maaf sekali lagi karena Robert Sanjaya tidak bisa bertemu dengan CEO saat ini, atau entahlah. Saya juga masih banyak urusan.”


Robert terperanjat. Hampir ternganga mulutnya. “Maksud kedatangan aku ke sini sangat baik. Bagaimana mungkin kau mempersilakan aku untuk undur diri?"


Martin kembali tersenyum ramah dan berkata lembut, “Perusahaan masih belum beroperasi. Kami tidak bisa melanjutkan pembicaraan ini, Robert Sanjaya.”


Dan pada akhirnya Robert pun undur diri. Dia tidak membawa apa-apa kecuali cerita bahwa Stefan menjadi OB di Nano-ID.

__ADS_1


__ADS_2