
Sore harinya ketika sedang berada di koridor kantor dalam perjalanan ingin pulang, Stephanie melangkah lebih cepat lalu menjajari Stefan dan Theo. Rambut wanita itu berjingkat-jingkat mengiringi langkah kakinya yang anggun.
“Stefan, terima kasih untuk hari ini,” lirihnya tak jauh dari telinga Stefan.
Stefan menoleh sedikit dan melirik sedikit ke kiri. “Terima kasih kembali. Jangan cuma berterima kasih padaku. Pesta kecil dari pagi sampai siang tadi juga lantaran anak-anak yang lain. Terutama Theo.” Stefan memutar cepat hitam matanya ke kanan dan melirik penuh ke kanan.
Theo berdeham-deham. Supaya Stephanie tidak larut dalam perasaannya terhadap Stefan, makanya dia jadi agak jujur dan tetap menjaga perasaan Stephanie. “Betul. Stefan juga tidak akan mau kalau tidak ada aku. Sebenarnya aku sih yang berperang paling penting.”
Stephanie menyugar sebagian rambutnya ke belakang. Matanya masih saja berbinar-binar. Direngkuhnya kado-kado dari teman-temannya dengan kuat. Sebetulnya wanita ini memang ada ketertarikan terhadap Stefan, namun masih malu-malu untuk mengungkapkan sebab dikhawatirkan Stefan tidak punya rasa yang sama terhadapnya.
Jika Stefan tidak membalas perasaannya sebagaimana harapannya, eh urusan malah kacau, pekerjaan terganggu, tidak fokus, ujung-ujungnya bisa-bisa tidak bakal satu tim lagi. Makanya Stephanie tidak begitu menonjolkan sikapnya terhadap Stefan selama ini. Berminggu-minggu dia menahan perasaan yang mengganjal kuat di relung batinnya.
Setibanya di halaman parkir, Stefan hanya melambaikan tangan ke Theo dan Stephanie. Membuka pintu mobil, membungkuk lalu masuk. Tidak ada sesuatu apa pun yang membekas di ingatan Stefan soal perayaan ulang tahun Stephanie. Semua datar. Sebab, bayang-bayang Lionny, mantan istrinya sulit dihilangkan.
Stefan pun menyalakan mesin mobilnya. Kendaraan dinas yang difasilitasi oleh perusahaan ini sebenarnya Stefan tidak mau menerimanya, tapi karena dipaksa oleh Pak Arya Stefan mau tidak mau harus menerimanya. Jarak antara kantor dan rumahnya tak lebih dari satu kilometer. Dekat sekali. Kalau jalan kaki, jelas bisa.
Pada saat berada di rumah, Stefan berpikir keras soal project yang sedang digarap sekarang. Tidak bisa istirahat. Otaknya masih ingin berpikir. Dua tangannya yang menyatu dalam kepalan menopang dagunya yang tirus. Sorot matanya masih membaca kode-kode program yang tertera di layar komputernya.
“Apa bisa ribuan aplikasi digabungkan menjadi satu?” tanyanya sendiri.
Ah, Stefan ragu. Gara-gara ingin menunjukkan bahwa dirinya bukanlah orang yang diremehkan, bukanlah orang rendahan, di hadapan Bobby Sanjaya, dan inilah akibatnya. Stefan masuk dalam perangkap ambisi besarnya sendiri. Terperosok di dalam kubangan lumpur yang dibuatnya sendiri.
Belum ada satu pun sebuah proyek gila seperti ini!
Keesokan harinya Stefan langsung menemui Pak Arya di ruangannya untuk membahas hal tersebut. Setelah dipikir masak-masak, mustahil project ini selesai dengan estimasi biaya dan waktu yang telah disepakati.
Pak Arya mengedikkan bahu, menegaskan sorot matanya. “Stefan, kau tidak tidak boleh pesimis seperti itu.”
Stefan menghembuskan napas kasar sembari memejamkan matanya sesaat. Pria berwajah tampan ini berdecak kesal terhadap dirinya sendiri. Menyesal karena sudah sok berani ikut andil dalam project.
“Ada banyak alasannya, Pak.” Stefan memaparkan dengan gamblang.
__ADS_1
Pertama, kompleksitas yang sangat tinggi. Menggabungkan seribu aplikasi yang berbeda menjadi satu akan memerlukan waktu yang sangat lama.”
Kedua, keterbatasan teknologi. Tentu akan memerlukan sumber daya yang sangat besar, seperti kapasitas penyimpanan dan memori yang cukup untuk menjalankan aplikasi tersebut.
Ketiga, tumpang tindih fungsi. Penggabungan menjadi satu aplikasi akan menyulitkan pengguna dalam menemukan fitur-fitur yang mereka butuhkan, serta akan membingungkan pengguna.
Keempat, developer sendiri. Saat ini hanya ada tujuh orang yang bekerja. Jelas kurang tenaga.
Pak Arya mengangguk takzim. “ Menyatukan semua dalam satu aplikasi, dengan mempertahankan fungsi masing-masing, dan memastikan integrasi dan interoperabilitas yang baik antara aplikasi, memang sangat sulit.”
“Secara teori, mungkin saja bisa, Pak. Tetapi dalam praktiknya? Bisa jadi akan lebih efisien, seperti penghematan anggaran bagi pemerintah, tapi apakah akan efektif dalam penggunaannya?”
Pak Arya tersandar di kursinya. Diusapnya dagunya yang tidak gatal. “Apa solusimu, Stefan?”
Stefan menegakkan bahu. Tak ada opsi lain. Jika mundur dari project, jelas tidak mungkin. “Kita minta tambahan waktu, dana, dan pekerja.”
“Kau menjanjikan hasil yang maksimal?”
“Aku tidak janji, Pak.” Stefan meletakkan telapak tangan kirinya di atas meja kerja Pak Arya. “Kita akan usahakan menggabungkan seribu aplikasi menjadi satu. Tidak lebih dari itu. Jadi nanti akan ada dua puluh tujuh aplikasi saja. Itu target kita. Sebisa mungkin, paling tidak dari dua puluh tujuh ribu aplikasi itu, bisa menjadi sekitar seratus aplikasi.”
Pak Arya mengundang dua orang perwakilan dari kementerian terkait guna membahas masalah ini. Mereka berdua terbang langsung ke Swiss, beserta dengan lima tenaga ahli dari Indonesia.
“Sesuai dengan permintaan Pak Arya. Kami membawa lima programmer untuk membantu tugas di sini.”
“Kami telah menyepakati untuk menambah estimasi waktu menjadi satu tahun dan juga menambah dana sebanyak tiga puluh persen dari kesepakatan sebelumnya.”
Di ruang rapat tertutup ini, Pak Arya senang karena pihak pemerintah bersedia menuruti permintaan mereka.
“Bagaimana, Stefan?” Pak Arya mencuil Stefan yang berada di sebelah kirinya.
Stefan mengangguk ramah sembari menatap satu per satu dua orang perwakilan tersebut. “Sesuai dengan apa yang kita harapkan, Pak Arya.”
__ADS_1
Dua pria itu mengharapkan agar AlfaTech bisa profesional dan bekerja sama dengan baik dalam menyelesaikan project ini. Pemerintah tidak ingin dikecewakan. Apalagi setelah dipenuhi syarat tambahan.
Pertemuan ini menjadi angin segar bagi Stefan. Sebuah pertemuan yang mengikis sebagian keraguan yang menggelayut di hatinya beberapa hari belakangan ini. Semoga semangatnya kembali berkobar.
\=\=\=>>>0<<<\=\=\=
Stefan melangkah santi menuju ruang kerjanya. Lagi-lagi, dia dihadang oleh Alan. Orang ini selalu saja mengusik Stefan.
“Cieh, kedatangan orang dalam ya? Kenalin dong,” singgung Alan sambil manggut-manggut, tatapannya antagonis.
“Aku tidak punya urusan dengan orang sepertimu, Alan. Berhentilah kau menguntitku terus,” tepis Stefan, pangkal alisnya perlahan menukik.
Alan curiga sama Stefan kalau orang yang mengirimkan rootkit tempo lalu ialah Stefan orangnya. Tidak mudah untuk melakukan hal seperti itu, kecuali dilakukan oleh orang yang profesional dan andal.
Bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia IT, baru kali ini ada orang yang jahil terhadapnya. Selama ini semua aman karena tidak ada orang yang berani dan mampu melakukannya.
“Mengakulah Stefan!” Alan bertelekan pinggang.
“Kau salah orang, Alan. Aku sudah tidak ada urusan apa pun sama kau. Jika aku mau, bisa saja aku membuat perhitungan karena kau tidak menepati janjimu waktu itu.”
“Aish! Kau malah mengungkit.”
Stefan mempercepat langkahnya. Malas dia meladeni orang satu itu. Setibanya di ruangannya, Stefan pun langsung duduk di kursinya.
“Stephanie, tolong ke sini!” panggil Stefan.
Wanita itu segera menghampiri. “Ada apa, Stefan?” tanyanya, berdiri dan agak membungkuk untuk mengimbangi tubuh Stefan.
“Tugas kita sangat berat. Aku pusing akhir-akhir ini. Kau dan Theo ada pengalaman dalam hal membuat aplikasi. Aku sangat bergantung pada kalian berdua. Semangat ya! Silakan duduk kembali.”
'Sudah?' batin Stephanie. Dikira ada perihal penting dan pribadi apa.
__ADS_1
Stephanie menyoroti mimik wajah Stefan. Seperti tertekuk. Akhir-akhir ini Stefan memang selalu serius dan agak sensitif. Banyak pikiran dan kurang tidur mikirin project yang sulit. Bisa jadi, pikir Stephanie.
Langkah apa yang akan dilakukan Stephanie untuk mengambil hati Stefan?