Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
75. CEO tidak merestui


__ADS_3

Di hadapan Martin sudah ada sepuluh orang bawahannya. Dia berkata, “CEO kita sangat baik, khusus bagi kalian, akan mendapatkan fasilitas tambahan dan bisa dibawa pulang ke rumah. Fasilitas ini tentunya harus digunakan sebaik mungkin untuk menunjang pekerjaan. Asus ROG Mothership.”


Dua manager dan delapan supervisor tersenyum riang. Tak terkecuali bagi Ryan. Sebagai seorang gamer sejati, laptop itu dari dulu sangat diidam-idamkannya, seandainya bisa dibeli pakai paylater, sudah lama dia beli, namun sayangnya harganya seharga mobil.


David menimpali, “Fokus buat kerja. Jangan hanya main game!”


Sepuluh orang kembali tertawa.


Setelah itu, Ryan yang tangannya menenteng laptop mahal tersebut pun mendekati Grace, lalu berkata, “Bilang pada CEO, Bu Grace, terima kasih banyak. Kenapa sampai sekarang CEO kita masih belum muncul?”


Grace menjawab, “CEO masih sibuk. Andai kau tahu, Ryan, CEO kita sangat rendah hati. Dia sering ke mana-mana pakai ojek online. Padahal jarak dari apartemennya ke kantor tidak lebih dari lima kilometer.”


Ryan terpana. “Saya kagum dengan sosok pemimpin yang menjadi teladan layaknya CEO. Saya sudah tidak sabar untuk bisa bertemu dengannya.”


Grace mengulum senyum mendengar perkataan Ryan. “Persiapkan diri baik-baik ketika nanti bertemu dengan beliau. Kau tidak boleh buat masalah lagi.”


Martin menimpali, “CEO sangat kalem tapi tegas. CEO lebih dingin daripada es! Dan tegas seperti srigala!"


Ryan membusungkan dada dan merasa tampan. “Saya harap Bu Grace melupakan masa lalu saya selama satu bulan kemarin. Sebelumnya saya tidak pernah bekerja seperti itu. Lihatlah saya sekarang, tidak mungkin Bu Grace tidak suka dengan gaya dan penampilan saya?”


Martin berdeham cukup keras, “Ehheem!”


Seharusnya Ryan sadar akan teguran itu, tetapi karena wajahnya sudah tebal, seolah kupingnya tersempal biji pepaya. Dia makin tebar pesona di hadapan Grace.


Ryan memperbaiki kerah bajunya yang sudah rapi, lalu menggombal, “Saya suka dengan cara Bu Grace bicara. Bu Grace seperti gabungan antara Miss Wolrd dan Ibu Sri Mulyani. Tidak hanya menawan, tapi jago bicara. Saya sangat suka.”

__ADS_1


“EHHEEM!”


Ryan mulai merespons. Hitam matanya berputar ke kanan, mengawasi seringai di wajah Martin. Sepertinya kali ini Ryan cukup peka. Pikirnya, ‘Pak Martin pasti cemburu dengan rayuanku. Sepertinya dia menaruh perhatian sama Bu Grace’.


Grace menyelaraskan apa yang pernah dibilang oleh Stefan dan apa yang dia lihat sekarang. Memang benar, Ryan unik. Sayangnya, Grace terlalu mewah untuk pria sekerdil Ryan.


Hanya saja, Grace tidak ingin mencapakkan Ryan terlalu dini. Dia bahkan masih menunggu-nunggu kalimat apa lagi yang akan Ryan lontarkan.


“Bu Grace, jika tidak bawa makan siang sendiri, saya akan mentraktir Bu Grace nanti. Sebagai rasa hormat saya.”


Martin yang tengah sibuk dengan berbagai macam dokumen pun berang. Sontak dia mendekat dan berkata, “Wahai supervisor kebanggan! Silakan pergi! Kami mau bekerja. Apa kau bekerja di ruangan ini?”


Ryan kembali mencetak senyum, tapi bukan buat Martin, melainkan buat wanita yang sangat dikaguminya. “Jika Bu Grace belum siap, tidak apa, mungkin besok-besok.” Lalu, Ryan pun pergi dengan hati yang berbunga-bunga.


Untuk merayakan kemenangan besarnya, Ryan berencana ingin mengajak teman-teman lamanya kumpul reuni kembali seperti waktu itu. Namun, semua menolak karena trauma, kecuali Stefan.


Malam ini di sebuah kafe ternama di Jakarta.


Ryan menghembuskan asap rokoknya, lalu berkata, “Aku kasihan sekali melihat kau ke mana-mana naik ojek online. Apa kau butuh duit buat dp motor? Carilah dp satu juta. Nanti akan aku pinjamin.”


Astaga, apa Ryan tidak tahu berapa harga headset game yang diberi oleh Stefan kemarin. Sekitar empat juta. Dan Ryan membicarakan dp motor satu juta?


Stefan menyeruput cappucinonya, lalu menjawab, “Naik ojol seru. Driver-nya juga kadang lucu. Bisa sambil bercerita.”


“Kau masih ingat omonganku, Stefan, Jakarta lebih keras dari Palembang. Jika kau tidak punya keahlian dan pengalaman, kecuali cuma bisa bawa motor, nanti kau akan balik jadi ojol lagi. Kasihan dirimu.”

__ADS_1


Stefan mengalihkan pandangannya ke orang-orang yang sedang mengobrol. “Ya, Jakarta keras. Oh ya, kabarnya, kau dapat fasilitas laptop ROG.”


Wajah Ryan langsung berubah. Kerutan di wajahnya hilang. Dia berkata semangat, “Iya betul! Laptop yang sangat kau impi-impikan. Kau bermimpi punya sepuluh kan? Jika kau ingin numpang main FB di laptop seratus tiga puluh juta itu, kau bisa datang ke kosan elitku. Dan kau jangan khawatir soal kuota. Di sana ada wifi gratis.”


Stefan tidak berekspresi. Dia menjawab dingin dan santai. “Enak sekali jadi kau, Ryan. Kau tetap Ryan seperti yang ku kenal dahulu. Selalu diselimuti keberuntungan.” 


“Aku harap kau lebih sering bersamaku. Supaya keberuntungan itu menular. Jujur, aku sangat kasihan dengan orang menyedihkan seperti kau Stefan. Makanya, cerdas saja tidak cukup, kau harus perbaiki penampilan dan cara bicara untuk mempengaruhi orang lain.”


“Ya, gabungan dari penampilan seperti artis dan sikap populis. Bahkan, kau cocok jadi pemerintah, Ryan.” Populis akan terbentuk jika pintar ngomong disatukan dengan kedekatan dengan rakyat. Sebelum jadi koruptor, tikus kotor harus punya sikap seperti Ryan terlebih dahulu.


Bedanya, Ryan tidak dekat dengan rakyat. Sikap populis disasarkannya ke orang-orang tertentu yang bakal menaikkan jati diri dan saldo di rekeningnya. Selain itu, sikap tersebut juga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan jati dirinya, seperti perlakuannya terhadap Grace.


Ryan blak-blakan. “Aku rasa, Grace juga respek padaku. Bisa aku lihat ketika dia memandangku. Stefan, jika nanti aku bisa berkencang dengan sekretaris kantor itu, kau akan aku traktir apa saja!”


“Bagaimana jika aku memesan Kobe beef lagi?” sentak Stefan dengan nada dingin. “Jangan sampai ada yang tergadai lagi sekali ini. Tapi, aku turut senang jika kau bisa mengajaknya berkencan.”


Stefan terus memberikan sanjungan agar kepala Ryan makin membesar. Dia melanjutkan. “Ryan, teman lamaku, jika kau bisa menjadi kekasihnya, jelas sangat pantas kau dapatkan. Status supervisor bisa saja menjadi manager dalam waktu satu tahun.”


Mendengar itu, kepala Ryan benar-benar membesar. Dia mematikan rokok yang tersisa tiga hisapan lagi, lalu membakar rokok baru. Sengaja Ryan mengulur waktu dengan cara menghisap dan menghembusnya berkali-kali.


Saat ini, mereka tidak bicara. Stefan melirik kepulan asap itu. Ryan sangat menikmati momen di saat dia mendapat sanjungan. Dalam imajinasi liarnya, dia membayangkan sudah menjadi bagian dari direksi, lalu berhubungan resmi dengan Grace, seperti bertunangan.


Hingga setengah batang, barulah bujangan itu menaruh rokoknya dan berkata, “Pengalamanku sangat banyak dalam urusan asmara. Grace memang istimewa, tapi dia wanita kesekian. Agak tidak logis jika aku tidak mampu menciduk hatinya.”


Itulah susunan kalimat yang ditunggu oleh Stefan sekitar dua menit lalu. Stefan menatapnya lurus-lurus dan berkata sangat tegas, “Tapi, CEO Nano-ID tidak akan pernah merestui hubungamu!”

__ADS_1


__ADS_2