Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
92. Lima tahun


__ADS_3

“Aku memberikan penawaran kepadamu?” ujar Stefan sambil melipat tangan di dada.


Bobby yang masih terduduk di mulut pintu pun berusaha kembali mengangkat batok kepalanya dan berkata tidak jelas, “Hm, ap-apa?” tanyanya tergagap.


Stefan menghunjamkan pandangannya ke arah mata Bobby yang layu. “Setelah aku mendapatkan bagianku, kau harus mengikuti arahanku!”


Bobby mengangguk penuh semangat. “Si-siap!”


Stefan berdiri tegap. “Kau berlutut di hadapanku sekarang! Akui semua kesalahanmu terhadapku selama ini dan juga terhadap Lionny! Sampaikan kata maafmu setiap hari selama lima tahun ke depan, mulai hari ini!” titah Stefan tegas.


“Ap-apa Sanjaya Group bisa bangkit?” tanya Bobby tak percaya.


“Apa kau masih tidak percaya bahwa aku CEO Nano-ID ha?”


Bobby mengangguk-angguk seperti orang stres. “Ya! Saya akui!”


“Jadi, sekarang, siapa yang sampah?”


Bobby mengangguk-angguk lagi berkali kali seperti sedang kerasukan jin disco. “Aku yang sampah!”


“Ulangi kalimat itu sampai seratus kali!”


“Aku yang sampah. Aku yang sampah......”


Stefan tersenyum sebelah mendengarnya. “Terus! Yang keras!”


“AKU YANG SAMPAH ... AKU YANG SAMPAH ....”


Stefan mengoles dagu dan berkata, “Panggil anak dan istrimu! Suruh mereka melakukan seperti ini juga!”


Chyntia dan Luchy yang sedang menikmati kesedihannya terpaksa menuju teras rumah. Mereka berdua diperintahkan oleh Bobby. 


Chyntia yang rambutnya sangat berantakan pun menolak berali-kali. “Aku tidak akan bicara seperti itu. Memalukan!”


Luchy pun sama. “Apa ayah sudah gila mau menuruti omongan pria menyedihkan ini?”


PLAK!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Luchy.

__ADS_1


“Kerjakan!” tegas Bobby. “Demi Keluarga Sanjaya!”


Chyntia melongo dan tidak habis pikir. “Apa hubunganya?” tanyanya tak percaya. “Aku tidak mau!”


BUG!


Bobby menggocoh wajah istrinya.


Luchy, jiwa mudanya berontak, dia menatap Stefan sangat lama. Semakin lama tatapannya semakin menajam.


“Anak sialan!” maki Bobby. “Jangan kurang ajar sama Stefan! Hormat sama dia!”


Luchy tertegun beberapa detik. Lalu pandangannya ke arah wajah ayahnya. Saat ini, Luchy tidak habis pikir dengan apa yang sedang terjadi.


Pada saat urusan keluarga dan bisnis berantakan, tiba-tiba dia disuruh yang tidak-tidak di hadapan Stefan. Dunia tambah lucu.


Bobby kembali menegaskan, “Katakan, ‘Kami semua sampah!’ terus sampai seratus kali! Katakan saja!”


Stefan menatap mereka satu per satu, lalu berkata dingin, “Jika perintah itu terasa berat, silakan kalian akan hidup dalam kesengsaraan!”


Chyntia berontak. “Bagaimana bisa kau menolong bisnis Keluarga Sanjaya? Apa hubungannya denganmu?” cecar Chyntia tidak terima.


Stefan menggagahkan diri dan menunjukkan dokumennya. “Aku bisa melaporkan Bobby ke polisi karena dia tidak jujur dan menggelapkan hakku!”


PLAK!


Lalu, serempak mereka bilang, “Kami adalah sampah .... Kami adalah sampah......” Terus sampai seratus kali.


Stefan menghela napas panjang, lalu berkata, “Oke, cukup! Sekarang, berlutut di hadapanku!” titahnya emosi. “Hm, sebentar, panggil Robert sekarang! Jika dia tidak ada, urusan bakal gawat!”


Entah bagaimana caranya, lima menit kemudian Robert pun sampai di rumah dalam kondisi mabuk. Bobby lantas berang dan memukuli Robert sampai wajah Robert merah dan biru.


“Ayah, ada apa ini?” Robert meronta.


Lalu, Robert melakukan hal yang sama. “Kami adalah sampah,” kata Robert sampai seratus kali.


Di teras, empat orang bersimpuh di hadapan Stefan yang tengah duduk sambil mengangkat kaki. Mata mereka menghadap kaki dan dengkul Stefan.


Jika anak-anak dan istrinya berontak dan protes, Bobby segera memukuli mereka. “Lakukan apa saja perintah Stefan! Jangan banyak tanya! Kalian bertiga tidak bisa diandalkan! Kalian bertiga sialan!” umpatnya menyeringai.

__ADS_1


Stefan merentangkan kedua tangannya seperti burung yang mengepakkan sayap, kemudian diawasinya satu per satu wajah-wajah yang dulu sering memaki, menghina dan menertawakannya.


Wajah-wajah yang muram dan masam. Hari ini adalah hari di mana bisnis yang susah payah dibangun oleh Kakek Sanjaya nyaris rubuh dan ambruk total. Semua karena ulah pria bodoh dan arogan bernama Bobby Sanjaya.


Stefan mendengus, lalu berkata dingin, “Jika sewaktu hidup Kakek Sanjaya tidak percaya padamu, aku rasa beliau sangat kecewa. Kau adalah penerus gagal, Bobby!” sentak Stefan.


Istri dan kedua anaknya ingin bicara karena marah, tapi Bobby menghalangi mereka. “Diam kalian semua! Dengarkan Stefan bicara! Jika kalian protes, akan aku habisi kalian!”


“Aku tidak ingin berlama-lama berada di tempat yang dipenuhi sampah ini. Baiklah, sekarang aku minta pada kalian. Akui semua kesalahan kalian terhadapku dan terhadap Lionny. Tanpa terkecuali!”


Kali ini, tidak ada yang bisa menolak.


Diawali dari Bobby. “Aku adalah orang yang benci sama kau Stefan. Alasannya karena kau adalah cucu kesayangan Kakek Sanjaya dan mendapatkan dua puluh persen dari peninggalan Kakek.”


Semua orang tercengang.


“Karena itulah aku ingin membunuhmu, tapi kau tidak mati. Lalu, aku dan keluargaku menyiksamu dan menghinamu selama tiga tahun ketika kau sedang sakit. Kami tidak pernah menghormatimu sedikit pun.”


Tidak ada yang Bobby sembunyikan pada hari ini. Semuanya dibuka secara terang-terangan.


Chyntia pun sama. “Kami memaksa Lionny untuk membencimu. Kami juga berkeinginan kuat agar kau keluar dari rumah dan bercerai dari Lionny. Kami semua benci terhadapmu!”


Robert dan Luchy memaksakan diri berbicara meskipun hati mereka sangat berat rasanya.


“Aku benci sama Lionny,” ungkap Robert. “Dia adalah kakak yang tidak berguna.”


“Aku benci dengan kalian berdua,” beber Luchy. “Kau dan Lionny adalah cucuk kesayangan kakek. Itulah alasannya. Kami bahkan ingin kalian berdua mati saja!”


Stefan tidak perlu lama mendengar pernyataan yang sudah dia tahu. Empat orang ini adalah pemeran antagonis yang ulung. Stefan hampir mati dibuatnya.


Stefan berdiri. “Berlutut kalian semua di hadapanku! Sebagai permohonan maaf, bukan penyembahan, karena aku bukanlah Tuhan!”


Satu per satu, dimulai dari Bobby. Meski sangat berat dan memalukan, harus bagaimana lagi?


Bobby sudah tidak punya ide dan langkah apapun. Akalnya sudah mati. Dengan terpaksa dia berlutut di hadapan Stefan dan berkata, “Maafkan semua kesalahanku padamu, Stefan. Aku berjanji tidak akan mengulanginya selamanya.”


“Bagus! Ingat, kau harus mengatakan setiap hari padaku. Kau harus datang setiap pagi ke kantorku hanya untuk mengatakan ini. Selama lima tahun ke depan!”


Bobby mengangguk takzim. Dia mundur dan menyenggol istrinya, “Cepat lakukan!”

__ADS_1


Chyntia menyeret tubuhnya ke depan, lalu berlutut di hadapan Stefan dan mengatakan seperti apa yang barusan dikatakan oleh suaminya. Kemudian, diteruskan oleh Robert dan Luchy.


Stefan melipat tangan di dada. “Selama lima tahun!”


__ADS_2