Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
105. Gairah


__ADS_3

Stefan menggeser kursi dan mendekatkannya ke kasur. Dia melepas kaosnya sehingga dadanya yang bidang dan perut sixpack-nya tampak terlihat. Dia lalu duduk menghadap Helena.


Helena menatap Stefan lurus-lurus sembari membasahi bibirnya dengan juluran lidah seksinya, hingga bibirnya basah. Ketika Helena tersenyum menggoda, tampakah lesung pipi kanannya. Helena makin mempesona.


Stefan menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, mencoba mengimbangi detak jantungnya yang berdebar-debar. Sebisa mungin dia mengontrol diri kali ini. Dia berkata pelan, “Keberangkatan masih dua jam lagi. Masih ada banyak waktu.”


Helena membuka jepitan rambutnya, lalu memutar kepalanya seperti biduan, hingga rambutnya terurai seksi menjulur menutupi mukanya. Kemudian dia menyibakkannya ke belakang sehingga wajahnya yang cantik langsung tampak kembali.


Helena mendesah, “Kita bisa melakukannya bahkan sampai tiga kali, Pak Stefan.”


Stefan tak berekspresi. “Kau wanita kuat, Helena. Sungguh tidak disangka kita bisa bertemu di sini.”


“Ayo cepat Pak Stefan naik ke sini. Saya sudah tidak sabar. Saya begitu bergairah,” ucap Helena, lalu mengelus-elus leher dan dadanya.


Stefan menegakkan bahu dan berkata, “Santai, masih ada banyak waktu. Sepertinya kita harus mengobrol lebih jauh sebelum melakukannya. Lucu sekali jika saya bercinta dengan orang yang tidak saya kenal. Jika kau tidak ingin dianggap sebagai pelacur, ayo kita lakukan sekarang!” sentak Stefan.


Helena menutup belahan dadanya, lalu membalas, “Tentu saya bukan pelacur, Pak Stefan. Tapi siapapun wanitanya, pasti akan mau jika bercinta dengan Pak Stefan. Tampan, gagah, kaya, baik, dan saya sangat yakin bahwa Pak Stefan adalah pria perkasa di atas ranjang.”


Stefan membuang pandangannya dan berkata, “Sepertinya kau terlalu sering dalam posisi seperti ini, Helena.”


Helena menggeleng. “Tidak. Saya terpaksa melakukan ini demi saya dan keluarga saya, Pak. Saya dituntut berpakaian dan berlagak seperti ini karena suruhan bos supaya kerjasama antara perusahaan kami dan Nano-ID bisa terjalin.”


Sebagaimana sudah dijelaskan oleh Helena bahwa proposal yang diajukan belum direspons oleh pihak Nano-ID, padahal perusahaan butuh kontrak kerjasama tersebut.


Dengan alasan utang dan status pekerjaan Helena, bos perusahaan harus memaksa Helena mendekati dan melobi Stefan dengan cara yang tidak wajar.


Jika Helena pergi langsung ke kantor Nano-ID, belum tentu juga proposal akan diterima, namun dengan melakukan tindakan seperti ini, bos perusahaan yakin kalau Stefan akan terbuka hatinya.

__ADS_1


Keinginan Helena untuk bercinta dengan Stefan sebenarnya bisa jadi ide awal yang diperintahkan oleh bosnya. Namun, niat Helena sebenarnya masih ingin diketahui oleh Stefan.


Hanya saja, Stefan masih butuh kejelasan, “Saya kasihan melihat kau seperti ini. Kau menjadi alat oleh perusahaan. Saya tidak tega.”


“Begitulah. Saya hanya ingin utang saya lunas dan saya tetap bisa bekerja.” Namun, ketika dalam situasi seperti ini, wanita manapun, termasuk Helena, mana mungkin bisa mengelak dari nikmatnya cumbuan.


Seperti manusia pada umumnya, jika nafsu sudah hampir mencapai puncak, bahkan orang baik pun bisa terjungkal. Seperti halnya Stefan, naluri laki-lakinya bangkit ketika ini. Sulit untuk lepas dari syahwat yang membuncah di dada.


Terlebih Helena pun tahu tentang status Stefan : CEO dan duda!


Wanita mana yang tidak tergila-gila? Jika dia bisa bercinta dengan Stefan di pagi yang dingin ini, dia akan dapat banyak keuntungan. Tidak utang lunas dan pekerjaannya aman, tapi dia mendapat kenikmatan yang langka.


Stefan mengoles dagu dan bertanya, “Jika saya membayarmu, berapa uang yang kau inginkan?”


Wanita mana yang tidak butuh uang? Bahkan, jika sekarang Helena tidak dibayar sepeser pun, tentu dia akan rela. Dia pun rela untuk melakukannya sampai malam jika Stefan mau.


“Bukankah kau sedang butuh uang? Akan saya bayar dengan bayaran yang cukup besar. Apakah sepuluh juta cukup?” tawar Stefan.


Helena bedesir jantungnya. Kira-kira, apakah dia akan menerima tawaran itu, sementara misinya bukanlah mendapatkan uang dari Stefan. Dia harus pintar menguasai panggung, karena jika tidak, dia akan terlena. “Terima kasih, tapi saya tidak butuh uang Pak Stefan.”


Lalu, Helena kembali membuka lipatan handuknya sehingga belahan dadanya kembali tampak. Helena punya dada  yang cukup besar dan menggoda. Tidak memakai bra saja dadanya sudah seperti demikian seperti buah melon.


Stefan menahan napas untuk dan mengatup matanya untuk menghentikan kegilaan ini. Helena memang cantik dan menggoda, namun masih sehat akalnya. Namun juga, nafsunya semakin gencar menyerang.


Helena tidak tahan. Sontak dia pun meloncat dari kasur, hingga paha dan betisnya yang mulus begitu berkilauan di mata Stefan. Dia berjalan seperti model dan melewati Stefan, kemudian mengambil kopi di atas meja.


“Pak Stefan, silakan minum lagi kopi buatan saya. Setelah ini, pasti Pak Stefan akan lebih bersemangat dan bergairah,” desahnya.

__ADS_1


Stefan pun berdiri. Dia menatap Helena lekat-lekat. Jarak antara dia dan Helena hanya setengah meter. Terdengar helaan napas mereka masing-masing.


Mata mereka beradu. Helena memejamkan mata sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Stefan. Helena ingin segera bisa mencium bibir Stefan. 


Namun, Stefan mundur dan langsung mengambil kopi tersebut dari tangan Helena. “Ya, sepertinya saya kurang ngopi pagi ini.” 


Stefan menyeret kursi tadi dan mendekatkannya ke meja. Dia duduk dan berkata, “Jangan terburu-buru, Helena. Kau begitu nafsu. Kasihan pacar barumu.”


Helena tersentak kaget. Dia pun duduk di atas kasur dan membalas, “Saya tidak punya pacar. Pak Stefan jangan mengada-ada.”


Stefan tidak meminum kopinya. Dia taruh cangkir tersebut di atas meja. Dia memakai kaosnya lagi, lalu berkata, “Bagaimana mungkin wanita secantik dan seseksi dirimu tidak punya pacar?” Stefan mengerutkan sebagian bibirnya, lalu tersenyum getir.


Helena tidak ingin terpancing dengan omongan Stefan, lantas dia menyugar rambutnya ke samping sambil memiringkan kepalanya. Helena makin menggoda. “Jika saya punya kekasih, kenapa saya mau bercinta dengan Pak Stefan?”


Stefan mengangguk penuh arti, seolah betul betul sepakat dengan omongan Helena barusan. “Sebelum kita bercinta, saya hanya butuh kejujuran darimu, Helena. Saya jelas seorang duda.” Stefan menatapnya dengan penuh tanda tanya. “Terus terang saja dengan statusmu.”


Helena tersenyum penuh kehangatan dan membalas, “Apa yang mesti saya sembunyikan darimu Pak Stefan? Oke, lebih baik kita lakukan cumbuan ini sekarang juga, agar nanti kita bisa mengulanginya kembali, terus Pak Stefan segera berangkat untuk mengurus kerjasama kita.”


Tidak ingin berlama-lama dan mengulur waktu, Helena yang tidak bisa menahan nafsunya, berdiri dan membuka handuknya di hadapan Stefan. “Ayo Pak Stefan!”


Tiba-tiba, ada suara ketukan di pintu. Tok! Tok! Tok!


Helena tidak jadi membuka handuknya.


Stefan membukakan pintu.


Lionny langsung masuk!

__ADS_1


__ADS_2