Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
29. Pembicaraan di telepon


__ADS_3

Lionny melambaikan tangannya, lalu berkata cukup kencang karena Stefan sudah berada di mobil, “Hati-hati, suamiku.”


Lionny yang baru saja mengurus suaminya lalu melangkah dari beranda menuju kamar rawat Kakek Sanjaya. Sesampainya di sana, dia menyuruh satu orang pembantu itu untuk segera pergi.


“Biar aku saja yang mengurus Kakek.”


“Bilang saja kalau perlu bantuan, Non.”


Lionny menjawabnya dengan anggukan pelan. Lantas dia pun duduk tepat di samping kakeknya. Dia menggamit tangan kakeknya, kemudian menggenggamnya cukup erat. Dielusnya dengan ibu jarinya dengan pelan.


Merasakan itu, Kakek Sanjaya terbangun. Terbit sebuah senyum di sudut bibrnya yang kering. Kakek Sanjaya mengatur napasnya perlahan. Leher beliau menggeremet dan menoleh perlahan ke kanan, tapi sulit.


Kakek Sanjaya membuka matanya, lalu melirik seorang wanita cantik yang begitu dicintainya tepat di sampingnya. Cucu yang paling disayanginya dari pada siapa pun. Beliau berusaha berbicara, tapi malah terbatuk-batuk.


“Uhhuukk! Uhhuuk!”


“Dokter yang merawat Kakek sedang berada di rumah sakit, mengambil beberapa obat, agak siang baru balik.”


“Tidak apa, Lionny. Batuk Kakek tidak begitu parah. Ada yang mau Kakek bicarakan padamu.” Masih terpejam, hanya bisa merasakan tangan halus cucunya.


“Baiklah, apa yang mau Kakek bicarakan?”


Cukup lama hening. Setelah itu, barulah Kakek Sanjaya berucap lemah, “Minta kepada ayahmu bagian untuk suamimu, Stefan.”


Lionny paham. Karena satu-satunya penerus keluarga hanyalah ayahnya, maka setelah Kakek Sanjaya, tentu ayahnya yang punya hak untuk mengatur. Namun, Lionny ragu jika bermusyawarah dengan ayahnya, terlebih meminta bagian untuk suaminya.


Total ada delapan perusahaan milik Sanjaya Group. Otomatis semua akan jatuh ke tangan Bobby Sanjaya. Akan tetapi, jika Kakek Sanjaya berwasiat sesuatu, tidak ada yang boleh protes selagi wasiat tersebut bisa dapat diterima.


Kakek Sanjaya berpesan kepadanya agar nantinya setelah beliau wafat, harus menemui ayahnya untuk meminta hak Stefan, itulah pesan Kakek, nanti setelah beliau wafat.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=

__ADS_1


Ketika sedang berjalan di salah satu koridor kantor, Stefan berpapasan dengan Pak Wesley pagi ini. Stefan menyalami atasannya tersebut sambil menyapanya.


“Pak Wesley, sekali lagi saya meminta maaf karena tidak bisa membantu Sanjaya Techno soal masalah yang dihadapi Sanjaya Sawit tempo lalu.”


“Kau tidak perlu meminta maaf, Stefan. Lagi pula, kami sudah mendapat mandat dari Kakek Sanjaya untuk tidak melibatkanmu dalam masalah tersebut. Jika terjadi sesuatu, kau tidak akan disangkutpautkan.”


Stefan tidak keenakan dengan Pak Wesley. “Saya juga terlalu sibuk dengan project yang saya kerjakan sekarang, Pak.”


“Lupakanlah, Stefan. Silakan kau bekerja!” Pak Wesley melempar senyum dan Stefan membalasnya dengan senyum pula.


Meskipun Stefan senang melihat Sanjaya Sawit hancur dan Bobby Sanjaya merana saat ini, tapi dia teringat dengan atasannya di sini yang telah dinilai gagal dalam membantu Sanjaya Sawit. Apalagi sempat ada ancaman dari Bobby kepada Pak Anggara dan Pak Wesley.


Jika terjadi apa-apa dengan kedua atasannya tersebut, asli Stefan akan merasa bersalah. Seandainya dia membantu, tentu mereka berdua tidak akan serisau ini. Barusan jelas terlihat oleh Stefan sebuah kecemasan di wajah Pak Wesley. Wajah yang diselimuti kekhawatiran yang membuncahkan.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Untuk mengetahui keadaan Sanjaya Sawit, Stefan menghubungi Alifha, menanyakan situasi di sana.


“Sisa aset bagaimana?”


“Setahuku, Pak Bobby menjualnya, seperti peralatan pabrik, seisi kantor, semua dijual. Jadi nama Sanjaya Sawit sudah tidak ada lagi.”


“Kasihan sekali karyawan-karyawannya. Berarti ada empat ratus lebih karyawan yang terlantar sekarang.”


“Kau apa kabar di sana? Untunglah kau sudah bekerja di sana.”


“Kabarku baik di sini. Semoga kau cepat mendapat pekerjaan baru, Alifha.”


Jika dipikir-pikir, Stefan kasihan. Tapi, dia terkadang terbayang dengan siksaan dan hinaan yang diberikan Bobby terhadapnya selama lebih dari tiga tahun. Ada rasa puas darinya, tapi, semua itu belum cukup. Dia belum bergerak saja, sudah kualahan mertuanya, bagaimana kalau Stefan bergerak dengan seluruh kemampuannya?


Balas dendam terhadap keluarga istrinya memang sudah terpikir, tapi Stefan belum merencanakannya dengan matang karena dia masih membuka peluang agar keluarga istrinya bisa berubah dan menerimanya dengan baik, namun sepertinya harapannya tersebut sepert utopia yang melayang-layang di fatamorgana. Justru perlakuan buruk terhadapnya kian menjadi-jadi. 

__ADS_1


Jika Bobby berpikir bahwa apa yang menimpanya sekarang karena ulah Stefan, jelas salah total, Stefan sama sekali tidak terlibat dalam kasus tersebut. Stefan hanya diam dan memperhatikan. Sengaja tidak membantu karena dia yakin kalau si hacker akan membuat jatuh perusahaan, dan perkiraannya tidak meleset. Semua telah terjadi.


Untuk mengetahui keadaan di rumah Bobby, Stefan menyuruh istrinya untuk menelepon keluarganya malam ini. Stefan hanya mendengarkan percakapan mereka. Istrinya berbicara dengan ibu mertuanya. Disampaikan kepada Lionny bahwa mereka di sana baik-baik saja karena tidak bakal kekurangan uang, hanya saja psikis mereka terutama Bobby agak terganggu. Emosi beliau semakin tidak bisa dikontrol dengan baik, makanya sering berobat menemui psikiater.


“Apa yang sudah dibicarakan oleh Stefan kepada Kakek?” sentak Chyntia dengan nada tinggi.


“Bicara soal apa, Bu? Banyak yang dibicarakannya kepada Kakek.”


“Ya soal warisan lah, Lionny! Pasti Stefan merengek di hadapan Kakek untuk meminta jatah warisan yang banyak.”


Mendengar itu, Lionny kaget. “Ibu jangan berpikir seperti itu. Tidak pernah sama sekali Stefan bicara soal warisan kepada Kakek Sanjaya. Bahkan suamiku tidak pernah minta sesuatu apa pun kepada Kakek. Jika Stefan menerima sesuatu, itu murni dari pemberian Kakek, bukan dari kemauan keras suamiku.”


Tiba-tiba suara di telepon berganti. Melolong keras, “Stefan menantu sampah itu licik! Anakku, kau harus berhati-hati! Jika nanti dia dapat bagiannya dan Kakek sudah mati, kau akan ditinggalinya begitu saja.”


Lionny tersentak. “Ayah bicara apa? Berhenti menebar fitnah tentang suamiku.”


“Lionny, kau tidak mengerti urusan orang dewasa!” sembur Bobby gusar. “Stefan itu tidak jelas keluarganya! Tidak punya siapa-siapa, jadi wajar kalau dia mengincar harta Kakek. Dia ingin menjadi saingan Ayah. Apa kau sudi punya suami yang punya hati seperti setan?”


Chyntia menyeloroh dengan nada tinggi. “Dia tidak akan pernah menjadi bagian dari Keluarga Sanjaya! Kami tidak pernah ikhlas menerima dia menjadi suamimu.”


Bobby melanjutkan, “Dia tinggal di sana, pasti sengaja menjelek-jelekkan kami di hadapan Kakek. Pasti dia menceritakan bahwa kami tidak merawatnya dengan baik, kami menyiksanya, kami menghinanya, kami menelantarkannya. Iya kan? Pasti dia membahas soal perusahaan Ayah yang hancur di hadapan Kakek, seolah-olah Ayah ini orang bodoh.”


Stefan yang mendengar omongan itu hanya bisa tertegun tak percaya. Disandarkannya punggungnya sambil menghembuskan napas lemah. Fitnah apa lagi? Pikirnya. Entah, di mana pun berada dan apa pun yang dilakukan, Stefan selalu salah di mata keluarga istrinya.


Lionny yang mendengar omongan kedua orangtuanya hanya bisa terpekur tak percaya. Disekanya air mata yang baru saja tumpah dari matanya. Napasnya satu-satu. Entah, bagaimana lagi caranya untuk meyakinkan kedua orangtuanya bahwa semua tuduhan tersebut tidaklah benar.


Selanjutnya, umpatan sarkas berhamburan.


“Menantu sialan!”


“Dasar parasit!”

__ADS_1


__ADS_2