
Di pengujung sore, sebuah taman indah Jakarta.
Jingga berpendar-pendar di langit raya.
Awan putih bergelung tipis-tipis.
Sang mentari semakin menukik ke barat.
Sebentar lagi, temaram ‘kan datang.
Stefan bukan orang yang romantis.
Untaian puisi, terkadang bisa merobek hati.
Terlalu klise.
Karena terlalu sering bergelut dengan kode, diksi jadi seperti menakutkan.
Stefan bukanlah pria dominan, tapi dia si pria sigma. Terlihat dingin dan santai. Namun, di balik itu, dia punya hati yang tulus.
“Grace ... kau adalah dewi.”
Grace malah tertawa. Dia tahu bahwa Stefan bukanlah sosok pria puitis. Kali ini Stefan mencoba menjadi pujangga. Apa Grace sedang bermimpi?
Grace malah menutup matanya dengan telapak tangan dan menjawab, “Aku sekretaris,” balasnya sambil bercanda.
“Grace ... kau adalah peri.”
Grace tambah tertawa. Stefan sangat jarang bercanda, namun bukan berarti Stefan tidak pernah tertawa. Karena, Stefan tidak ingin lelucon hanya akan menurunkan value yang ada pada dirinya.
Grace berkata lirih, “Berhenti kau bicara seperti orang mabuk.”
Stefan menatap langit dan berkata, “Aku bukanlah pangeran, bukan pula raja, atau malaikat, bahkan aku bukan siapa-siapa.” Stefan menghela napas panjang lalu melanjutkan, “Sangat tidak pantas bagi seorang dewi dan peri.”
Grace membeku. Stefan mengajaknya pergi ke tempat indah seperti ini, apa hanya ingin mengutarakan kalimat barusan?
__ADS_1
Kemudian, Stefan menceritakan berbagai pengalaman asmaranya yang sering berantakan. Waktu masih SMP, dia merupakan orang yang sangat pemalu, bahkan tidak mengerti apa itu cinta.
Saat SMA, Stefan mulai sedikit dan perlahan memahami arti sebuah cinta. Namun, kekonyolan masa remaja memang menggelikan. Alur rasa seperti roller coaster, sangat fluktuatif. Pagi bertengkar, malamnya rindu.
Grace menyimak dengan penuh arti. Dia berkomentar, “Mereka datang dan pergi?” tanyanya.
Stefan mengedikkan bahu, lalu menjawab, “Lucunya, ada di antara mereka yang pergi sebelum datang.”
Grace tidak paham. “Bagaimana ceritanya?”
Stefan membalas simpel. “Pacar khayalan.” Lalu Stefan tertawa.
Grace terpana dalam diam. Hingga saat ini, baginya, Stefan pria yang cukup sulit ditebak. Di balik kharismanya sebagai pria sigma yang cold, rupanya Stefan punya masa lalu asmara yang menggelitik. Perubahan dari seorang pengkhayal menjadi pria kalem yang sukses memang agak terlalu complang.
Namun, Stefan bisa melakukannya. “Aku kagum, tapi tidak pernah mengatakannya.” Nada bicara Stefan menekan dan menyinggung. “Malu, takut ditolak, entahlah. Masa remaja memang fase yang aneh. Sepertinya waktu itu aku bukan tipe pria sejati dalam urusan asmara.”
Ya, bagaimana tidak, pada saat SMA, Stefan banyak menghabiskan waktu di warnet dan perpustakaan. Pacarnya cuma dua : pc dan buku. Meskipun demikian, hingga saat ini Stefan cukup ahli dalam memahami perasaan wanita.
Karena dari dulu tidak pernah ada niat untuk mempermainkan wanita, jika bicara sepatah kata atau pun melakukan gestur yang akan menyakiti perasaan wanita, Stefan tidak akan pernah melakukannya seumur hidup.
Stefan mengawasi pepohonan di sekitarnya, lalu berkata, “Grace, apa kau menyangka bahwa dulu aku pernah dicampakkan lantaran statusku? Jika wanita tersebut latar belakangnya biasa saja, bagaimana dengan wanita dengan latar belakang yang baik dan terhormat?”
“Ada banyak tipe wanita, Stefan. Jika kau pernah dicampakkan karena statusmu, jelas hal itu bisa saja terjadi. Dan aku tidak akan pernah menjadi wanita seperti itu,” balas Grace dengan tatapan hangat.
Stefan menceritakan bahwa dulu dia sering diremehkan karena status sebatang kara tersebut. Di saat teman sekolahnya berkunjung, mereka tidak mendapati siapa pun di rumah. Beda dengan teman-temannya, mereka punya orang tua dan saudara, serta kerabat yang lain seperti sepupu, paman, dan besan.
Sementara Stefan, kosong! Tidak ada siapa pun. Stefan kecil, tumbuh di panti asuhan, karena tidak betah, dia keluar dari sana dan memilih untuk hidup mandiri meskipun pahit. Maka dari itu, banyak tuduhan dan hinaan yang diterimanya.
Anak haram....
Dan semacamnya.
Stefan tersenyum hambar dan berkata, “Pada saat lebaran, aku tidak punya keluarga dan kerabat untuk dikunjungi. Bukankah itu sangat menyedihkan?” tanya Stefan sambil melirik Grace.
Grace cukup lama berpikir. Begitu pedih apa yang dialami oleh Stefan. Seolah Grace turut merasakan kepedihan itu. Grace tidak berkomentar.
__ADS_1
“Pada saat pembagian rapor sekolah, aku meminta tolong pada bapak-bapak tukang becak ataupun tukang ojek......”
Grace terenyuh.
“Ketika demam, aku mengompres tubuhku sendiri.”
Grace tertunduk.
“Aku tidak punya siapa-siapa. Di acara pernikahanku bersama Lionny, tidak ada kursi untuk pihak besan kecuali teman-teman dekatku saja.”
“Cukup, Stefan. Kenapa kau menceritakan semuanya? Apa yang kau bicarakan itu telah menurunkan harga dirimu di mataku,” balas Grace dengan nada merendah. Dia tidak ingin Stefan melanjutkan omongannya.
Akan tetapi, Stefan menginginkan demikian. Dia ingin agar Grace tahu sebagaimana seharunya dan tanpa ada yang dirahasiakan. Stefan terus menceritakan kepahitan hidupnya sehingga persepsi Grace terhadap Stefan semakin berubah.
Meski Grace berulang kali meminta Stefan untuk berhenti, Stefan tidak peduli. Stefan ingin tahu apa reaksi Grace ketika tahu bahwa Stefan merupakan pria yang memang sangat menyedihkan.
“Grace, apa kau tahu bahwa dulu aku pernah menjadi pemulung dan berjualan di lampu merah?” tanya Stefan sambil tersenyum datar. Matanya ingin tahu bahwa Grace harus membalasnya sekarang.
Grace menggeleng. Menurutnya, Stefan cuma berbohong dan bercanda. Grace tahu bahwa Stefan pernah berada pada masa sulit, namun untuk hidup di jalan dengan pandangan remeh dari orang-orang, dia tak sanggup menerimanya.
Stefan melanjutkan, “Aku pernah ditangkap Pol-PP dan masuk ke kurungan Dinas Sosial.”
“Kau bercanda, Stefan!” sergah Grace dengan memampang wajah tidak percaya.
“Aku berbicara serius dan apa adanya. Aku ingin kau tahu siapa aku sebenarnya. Apakah masa laluku akan berpengaruh?”
Grace terdiam. Ekspresi di wajahnya makin pudar dan datar. Setelah kenal sekian lama, baru kali ini Stefan sangat blak-blakan.
Dalam hal pekerjaan, jelas apapun masa lalu seseorang tidak akan berpengaruh, karena hal terpenting adalah orang tersebut mesti kompeten dan punya peran penting bagi perusahaan.
Namun, jika mengarah ke ranah pribadi dan masa depan, latar belakang keluarga dan track record kisah hidup jelas akan berpengaruh bagi kebanyakan orang pada umumnya.
Dan untuk wanita setinggi Grace dengan latar belakang keluarga terpandang, setelah persepsinya terhadap Stefan berbelok sembilan puluh derajat, maka sudah seharusnya kemudi yang ada di tangannya segera dibanting ke arah lain.
Stefan menoleh dan menatap Grace sangat lekat, “Tidak selamanya cinta itu buta, selagi logika masih dipergunakan dengan baik dan dengan mata terbuka. Aku yakin tidak semua wanita selalu menerima kekurangan segalanya.”
__ADS_1
Setelah ini, Stefan meminta untuk berkunjung ke rumah Grace dan bertemu ibunya.