Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
31. Lembaran baru


__ADS_3

Di kamar hotel, Stefan duduk terpekur di atas kasur. Kedua tangannya bersimpuh di atas pahanya. Pandangannya lurus ke depan, pas ke arah cermin. Dilihatnya dirinya sendiri. Alis yang tebal dan agak melengkung, hidung mancung, dan dagu lancip. Lengan yang cukup besar karena dari dulu sewaktu remaja memang hobi olahraga seperti gym.


Stefan bersumpah akan membuktikan bahwa suatu saat dia akan menjadi bos sebuah perusahaan dan dikagumi banyak orang. Dia berjanji pada dirinya sendiri, suatu saat Bobby dan keluarganya akan menyadari bahwa dia bukanlah orang yang diremehkan.


Lantas dengan kedua genggaman tanganya, dicengkeramnya selimut di atas kasur dengan keras, lalu diremuk-remuknya, seolah ingin sekali meremuk wajah-wajah mertua dan iparnya. Dengusan napas Stefan kian kasar dan raut mukanya semakin menggeram.


Dia merogoh tas selempangnya dan mengambil ponsel, kemudian menghubungi Pak Wesley.


“Ada apa, Stefan?”


“Maaf mengganggu malam-malam seperti ini, Pak. Saya meminta maaf karena tidak bisa menyelesaikan project. Progres sudah berjalan tujuh puluh persen, sementara estimasi waktunya masih lama. Silakan Bapak cari ketua tim lain.”


“Jangan bilang kalau kau resign, Stefan. Jangan! Kami masih butuh kau.”


“Betul, saya bukan lagi karyawan Sanjaya Techno. Program SigmaX sudah saya update ke versi 0.6. Cyber security perusahaan akan tetap terjaga. Maaf, karena hanya itu saja yang bisa saya berikan kepada perusahaan.”


Terdengar helaan napas kasar dari Pak Wesley. Sebuah kesan tidak menyangka kalau Stefan akan keluar dari perusahaan. Pak Wesley amat menyayangkan kepergian Stefan. Betul katanya, bahwa Stefan masih dibutuhkan.


“Kami tidak yakin ada orang yang mampu menyelesaikan project itu dalam sisa waktu lebih dari dua bulan lagi,” keluh Pak Wesley skeptis.


“Jangan bicara seperti itu, Pak. Yakinlah, masih banyak orang di luar sana yang mampu menyelesaikan project tersebut. Jangan bergantung pada satu dua orang saja.”


“Terus mau ke mana kau, Stefan?”


“Saya akan ke Swiss. Bekerja di Alfatech.”


“Syukurlah. Impianmu akhirnya tercapai. Semoga sukses di sana.”


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=

__ADS_1


Stefan sudah janjian akan bertemu seseorang di Jakarta. Setibanya di sebuah cafe yang tak jauh dari bandara, Stefan pun menunggu cukup lama di sana. Diseruputnya kopi hitam sembari mengerling kiri kanan. People watching. Berusaha mencari kira-kira adakah orang yang lebih melarat darinya?


Oh, pikir Stefan, tentu. Masih ada banyak orang yang jauh lebih menderita dari padanya, yang lebih susah, lebih miskin, lebih terhina, dan lebih dianggap sampah. Meskipun hatinya hancur berkeping-keping, Stefan berusaha membesarkan jiwanya, menyabarkan dirinya, dan menguatkan tubuhnya, serta lebih bersyukur.


Tidak lama kemudian, sekonyong-konyong ada hentakan sepatu, toyoran di balik punggungnya, dan suara kencang pas di telinganya, semuanya berbarengan.


Deg! Buk! “Woi!”


Stefan terkejut dan nyaris lepas landas dari kursinya. Dia pun menoleh ke kanan. Namun wanita itu menggeser tubuhnya ke kiri.


“Astaga, Grace!”


“He-he. Ngelamuni apa?” Grace yang sudah tahu soal kabar Stefan bercerai dari istrinya sontak melempar pertanyaan yang agak menyinggung.


“Kenapa kau bahagia sekali? Padahal aku sedang bersedih.” Air muka Stefan tidak marah, tapi hatinya masih berdarah-darah.


Stefan mengangguk, lalu menjawab, “Terima kasih atas perhatiannya, Grace. Serius kau turut prihatin dengan status dudaku sekarang?”


Grace mengalihkan pembicaraan. “Pelayan, lemon tea satu.” Grace menatap mata Stefan. “Ayahku masih merekomendasikan namamu untuk bisa bekerja di sana. IT support tapi. Kau mau?”


Meskipun turun kasta, Stefan tetap sumringah. Lagi pula, jika mencari pekerjaan lain yang halal dan dengan cara yang baik, apa sekarang Stefan bisa mendapatkannya? Sulit. Makanya ketika mendengar posisi kecil tersebut dia tidak mengeluh sama sekali.


“Apa alasanku menolaknya?” tepis Stefan, malah menanya balik. Sorot matanya tak lepas dari kedua manik mata Grace. Dua mata yang indah. Terlebih ketika senyum itu mengembang, kian mempesona, kian membuat terlena.


Grace membekap mulutnya sendiri sambil cengar-cengir. “Entah aku bingung sekarang mau bilang apa.”


Stefan yang malah bingung. “Kenapa kau malah cengengesan begitu?”


Mata Grace berkaca-kaca karena sedari tadi menahan tawa. “Serius, kau ojol yang pernah dulu membantuku? Serius, kau orang yang ditunggu oleh ayahku sekitar empat tahun lalu untuk bekerja di Alfatech? Serius, kau bekas menantunya Bobby Sanjaya dan merupakan cucu angkat kesayangannya bos besar Kakek Sanjaya? Stefan, kau orangnya?”

__ADS_1


Stefan tersandar dicecar pertanyaan sedemikian banyak oleh Grace. Stefan meresponsnya dengan anggukan kecil saja, lalu membuang pandangannya sambil menyeruput kopinya lagi. “Hm, ada pertanyaan lain yang akan membuatmu terpingkal?”


Grace makin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Wanita manis itu masih saja tidak percaya kalau si ojol yang dulu membantunya rupanya bukan orang sembarangan. Mukanya memerah, kemudian dia melepaskan tawanya yang cukup membahana, “Ha-ha-ha.”


Stefan terlonjak dan bergetar kursi yang didudukinya. “Grace? Ketawamu itu? Kecilin sedikit!”


Grace menggeleng heran. Hatinya bercampur aduk. Setelah berusaha menenangkan dirinya, barulah Grace agak serius. “Stefan, aku barusan hanya bercanda. Kau akan menempati posisi senior programmer. Dalam waktu lima tahun, kau akan dijanjikan manager oleh ayahku.”


Stefan mengerutkan jidat sambil mengusap dagunya.” Grace, sedari tadi kau bercanda terus. Aku ingin serius.”


“Oke, Stefan. Baiklah, sekarang aku serius. Suer!” Grace mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. “Senior programmer dan akan dijanjikan menjadi manager. Jika masih kurang yakin, nanti pas ketemu ayahku kau bisa kembali membahasnya.”


Stefan memaksakan senyum. Meskipun Grace dari tadi berusaha menghiburnya, Stefan tidak bisa berpura-pura bahagia saat ini, kehilangan dua orang yang dicintai terlalu pedih dan dalam, jokes barusan tak akan bisa membuatnya terhibur.


“Terima kasih, Grace. Apa kau ikut berangkat?” Stefan mengawasi satu koper dan satu ransel di samping Grace.


Grace menyedot minumannya, barulah menjawab, “Aku sudah lama tidak bertemu ayahku. Terus aku juga ingin liburan.” Khawatir ajakannya ditolak Stefan, Grace urung mengajaknya liburan bareng, sebab dia tahu Stefan sepertinya tidak bisa diajak bersenang-senang sekaran-sekarang ini.


“Oke. Kita berangkat bareng.”


“Bagaimana kau bisa berangkat? KTP dan visamu?”


“Sewaktu di Palembang aku sudah mengurus kembali KTP dan lainnya. Semua sudah aku persiapkan. Tinggal, menunggu jalan mana yang akan datang duluan. Aku kira tidak akan pernah bisa bekerja di luar negeri.”


“Ternyata bisa ya! Semangat, Mas Ojol!”


Ada sunggingan tipis di sudut bibir Stefan.


Berjam-jam lamanya perjalanan, Stefan dan Grace terus ngobrol dan bercengkerama, banyak persoalan yang mereka bahas, terlebih soal masa depan Stefan di Swiss nantinya. Ya, Stefan sudah membuka lembaran baru, memijakkan kaki di atas tanah lain yang jauh lebih subur, dan berteduh di bawah payung langit yang jauh lebih cerah.

__ADS_1


__ADS_2