
Saat ini memang suasana di dalam bank cukup sepi karena baru saja selesai istirahat siang. Masih sekitar jam satu lewat. Ada segelintir nasabah yang ada keperluan, mungin menabung, atau mengurus buku tabungan.
Harvey beranjak dan memanggil security. Sempat terjadi percekcokan di antara mereka. Melihat keributan kecil itu, Lionny pun mendekat.
Lionny mengerutkan kening dan bertanya heran, “Stefan, ada apa ini?”
Stefan tersenyum tipis dan menjawab, “Aku cuma ingin membuka tabungan baru dan punya kartu Black Star, tapi dipersulit.”
Security pun terperangah. “Black Star? Sudah lebih dari tiga tahun tidak ada nasabah yang berani punya kartu itu. Sebaiknya Anda berpikir ulang, Pak. Nasabah tersebut harus bertemu dahulu dengan Tuan Lee kalau ingin punya kartu itu,” jelas security, lalu langsung meninggalkan mereka karena segera mau berjaga di depan pintu.
Harvey menyilangkan tangan di dada dan berkata, “Apa kau dengar?” bicaranya mulai tidak sopan. “Sebaiknya kau tidak saja dari sini!”
Tidak ingin masalah ini terlalu bertele-tele, Stefan pun mengambil dompet dan mengeluarkan kartu Black dari Bank Ace, kemudian mengaparkannya ke atas meja.
Mata Harvey membulat kembali. “It-itu! Bahkan kartu itu lebih bagus daripada Black Star milik Bank Diamond!” Harvey masih tidak percaya, alasannya adalah untuk apa konglomerat memilih Bank Diamond jika sudah ada Bank Ace? Tapi, Stefan tidak mau menjelaskan alasan sebenarnya karena Harvey.
Hanya orang kelas dua dan kelas satu yang bisa punya kartu Black Star! Harvey tercekat. Kartu Platinum Bank Diamond miliknya bisa apa?
“Apa saya boleh duduk?” tanya Stefan ramah.
Namun, Harvey masih tidak percaya. “Kartu ini pasti bukan milikmu! Untuk apa kau datang ke sini?”
Stefan heran, bagaimana seorang pegawai bank tidak tahu sebuah aturan yang ada pada bank? Entahlah.
Lionny pun ikut kesal. “Stefan adalah ....”
Stefan memotong. “Sudah. Kau duduklah kembali, Lionny.”
Tadi Lionny ingin menjelaskan yang sebenarnya. Lionny melirik tajam ke arah Harvey. Sungguh menyebalkan, pikirnya.
Sekarang Stefan sudah kembali duduk berhadapan dengan Harvey. “Bisa tolong dipercepat prosesnya,” ucap Stefan ramah.
__ADS_1
Harvey menggeleng. “Silakan Anda ambil lagi kartu Anda!” bicaranya mulai agak sopan kembali. “Tuan Lee sedang sibuk dan tidak bisa ditemui jika Anda memang ingin punya kartu Black Star.”
Stefan tidak punya banyak waktu dan hari ini juga dia harus mengelarkan urusan tabungan barunya.
Namun, tiba-tiba semua komputer berhenti beroperasi. Semua karyawan panik.
Begitu juga Harvey bersama CS lain, serta teller bank di sekitar sana, semua panik.
Seorang manager bank bernama Joe keluar dari ruangannya dengan ekspresi menegangkan.
Tidak mungkin mati listrik karena lampu dan tv masih menyala.
Stefan pun menyuruh Lionny untuk tetap duduk di tempat dan jangan panik. Dia lalu beranjak menemui Joe di lantai tiga. “Ada yang perlu dibantu?” tawar Stefan.
“Apakah Anda Stefan CEO Nano-ID?” tanya Joe sambil mengernyitkan kening.
Harvey lari tunggang langgang seperti dikejar rentenir. “Pak Manager, pria bernama Stefan ini sungguh menyebalkan. Tidak usah urusi dia, Pak!”
Joe mendengus. “Ngomong apa kau Harvey?” sentaknya kesal. “Berhenti bicara dan cepat bekerja!”
Joe harus bertindak cepat sebelum bos Lee pulang. Joe berlari ke sana kemari memasuki beberapa ruangan di dalam bank berlantai lima ini. Di harus tahu permasalahannya.
Harvey dengan congkaknya mendorong Stefan. “Kau bukan karyawan sini! Keluarlah, kami ingin bekerja!”
Stefan tersenyum tipis dan memilih tak mengindahkan omongan Harvey. Entah, bagaimana cara meyakinkan orang seperti Harvey. Harvey berjalan cepat pontang panting segera ingin membantu yang lain.
Jika tindakan cepat tidak diambil, di saat sistem sedang down, tentu sangat berbahaya. Sudah banyak kasus yang terjadi di saat sistem down para pelaku kejahatan akan bertindak untuk memanfaatkan situasi.
Atau jangan-jangan, peristiwa yang terjadi sekarang lantaran ulah dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Stefan lantas tak tinggal diam. Dia pun membuka ponselnya, lalu mengaktifkan sebuah software rancangannya sendiri.
Tidak lama kemudian setelah dilakukan pemindaian, sekitar wilayah bank memang terdeteksi ada malware yang menyerang, sehingga menyebabkan sistem di bank menjadi down dan jaringan internet terputus seketika.
__ADS_1
Stefan mendobrak pintu masuk ruangan Joe. “Aku pinjam laptop pribadi milik orang kantor!”
Joe tidak bisa menghilangkan kepanikan yang ada pada dirinya. Wajahnya diselimuti kerisauan. “Aku harus melapor ke polisi!”
Stefan menenangkannya. “Tidak perlu. Jika kita melapor, polisi bisa apa? Pelakunya tidak terlihat, kecuali polisi menugaskan ahli IT untuk melacak pelakunya.”
Joe terhenyak. “Maksudmu, semua terjadi karena ulah hacker?” tanyanya penasaran.
Stefan mengangguk. “Jelas! Mereka sengaja membuat sistem down, ketika itu mereka melakukan transaksi gelap. Sebaiknya kita bertindak sekarang, jika tidak, Bank Diamond akan rugi banyak, bisa puluhan milyar rupiah!”
Joe makin panik. Baru kali ini dia melihat suasana kantor yang begitu mendebarkan dan menakutkan. Sangat aneh, komputer tiba-tiba tidak bisa beroperasi dengan normal, sampai-sampai mereka tidak bisa mengakses data-data penting.
Namun, bagi Stefan hal yang terjadi sekarang tampak biasa. Oleh karena itu Stefan tetap tenang meskipun jika Bank Diamond rugi pun tidak akan berpengaruh pada dirinya. At least, Stefan kan nantinya akan menjadi nasabah Bank Diamond.
Wajah Joe pucat, apalagi mendengar kegaduhan di luar. “Pakailah!” Joe menyodorkan laptopnya kepada Stefan.
Mengejutkan, semua orang di dalam bank tidak bisa menggunakan saluran telepon dan intenet di ponsel mereka, kecuali Stefan.
Para pelaku telah menyerang semua aktivitas para pekerja dan nasabah, kecuali jika mereka keluar dari gedung. Namun, tidak untuk Stefan, karena ponselnya terpasang anti-malware canggih, ponselnya tetap aman.
Seorang teller berlarian dan menjerit. “Ada transaksi mencurigakan barusan, dan tiba-tiba aku kehilangan akses.”
Joe makin pucat.
Tiba-tiba Harvey masuk. “Hei kau orang luar! Kenapa kau di ruangan manager kami? Cepat lari dari sini! Kami sedang sibuk!”
Joe naik pitam. BUG! Sebuah pukulan menghantam di wajah Harvey. Pipi kananya langsung memerah.
“Diam kau, bangsat!” umpat Joe menyeringai. “Dia adalah CEO Nano-ID! Dia ahli IT di Jakarta!”
Harvey tercekat. Dia mengerutkan bibir dan mencoba menggali ingatannya. ‘CEO Nano-ID?’ batinnya. “Kenapa dia harus ke Bank Diamond yang kecil, dan tidak memilih Bank Ace?” Harvey sangat heran.
__ADS_1
Sambil mengutak-atik laptop, Stefan membalas, “Bukankah tadi sudah aku tunjukkan kartu Black Bank Ace? Jelas semua orang tahu, kecuali dirimu, bahwa tidak bisa punya kartu Black double di bank yang sama. Maka dari itu aku buka tabungan baru di Bank Diamond.”
Joe kembali menghadiahi sebuah tamparan keras ke pipi Harvey. PLAK! “Keluar kau dari ruanganku!”