Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
41. AlfaStudio


__ADS_3

Empat anggota tambahan tersebut adalah Ahmad dari Indonesia sebagai database administrator, Gonzalez dari Spanyol sebagai network engineer, Chris dari Inggris sebagai system analyst, dan Feliks dari Rusia sebagai designer. Mereka berempat merupakan orang pilihan Pak Arya dan semuanya berpengalaman dalam pembuatan aplikasi dan sejenisnya.


Sembari menjalankan project, Stefan mempelajari dan menjajal sendiri beberapa software yang biasa digunakan oleh para programmer umumnya untuk membuat sebuah aplikasi di sistem operasi android, ios, dan windows, seperti Adobe Flash Builder, Android Studio, Netbeans, Apache Cordova, React Native, dan lainnya.


Setelah memahami semuanya, Stefan mengembangkan software sendiri yang bernama AlfaStudio, yang jauh lebih baik dan gampang digunakan. Bahasa pemrograman yang bisa digunakan untuk software ini adalah Java, C++, PHP, dan lainnya.


Di AlfaStudio, programmer tidak perlu mencari plugin lainnya, semua tools dan fitur IDE sudah terintegrasi lengkap dalam satu software. Selain itu, software ini memiliki beberapa fitur yang menjadi andalannya seperti, instant run, intelligence code editor, emulator, serta layout editor yang mempercepat proses coding.


“Software ini menyediakan render component yang berbeda untuk ios dan android,” beber Stefan kepada semua anggotanya.


“Berapa lama kau membuat AlfaStudio?” tanya Theo terheran-heran.


“Tiga hari. Dua malam aku tidak tidur,” balas Stefan.


Untuk sementara ini, AlfaStudio hanya bisa dioperasikan oleh Tim 18 saja. Maka dari itu, Stefan membuat server atau peladen khusus yang hanya bisa dimasuki oleh user tertentu saja, yakni dia bersama tujuh anggotanya saja.


“Proses authentication dengan dua metode, yakni biometric authentication dan token-based authentication, dalam upaya menjaga keamanan. Pada authorization, aku yang akan memberi akses kepada kalian sesuai dengan tugas masing-masing,” papar Stefan cukup gamblang.


Otentikasi berbasis token biasanya mengikuti proses empat langkah. Pertama user melakukan login dengan dua metode tadi. Kedua, verifikasi, yakni otentikasi menentukan bahwa kredensial user sudah benar. Ketiga, sistem mengeluarkan token dan memberinya kepada user. Keempat, token dipegang oleh user untuk mengautentikasi tanpa kredensial ke depannya lagi.


Dalam serah terima data, Stefan selalu berhati-hati dalam menjaga keamanan supaya data yang dikirim tidak bocor di tangan pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh sebab itu, Stefan menggunakan enkripsi dan dekripsi data dengan menggunakan metode kriptografi simetris atau private key.


“Aku pernah mengoperasikan lebih dari lima software, baru kali ini merasa nyaman dan enak bekerja. Aku salut dengan AlfaStudio,” puji Ahmad senyum sumringah.


“Luar biasa! Kita bisa menggabungkan lebih dari seribu aplikasi yang sudah ada menjadi satu aplikasi saja.” Feliks terpana.


“Satu aplikasi yang kebanyakan fitur akan lemot biasanya pas digunakan, sementara AlfaStudio menjamin aplikasi keluarannya akan tetap berjalan dengan optimal.” Gonzales takjub.

__ADS_1


“AlfaStudio akan mempermudah project-project aplikasi ke depannya,” tukas Chris sambil mengacungkan jempol.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Usai dari menemui seorang manager, Stefan dan Theo tiba-tiba dihadang oleh Alan dan Liam di tangga. Tak hentinya dua orang ini menyerang dengan psychological war.


“Hei orang yang pernah gegar otak! Mau cari muka ke mana lagi kau?” ledek Alan mencebik, kedua pasang alisnya bertaut.


“Theo, kau sekarang sepertinya ketularan menjadi penjilat di kantor ini,” olok Liam sambil mendengus.


Lantas Stefan menghunjamkan pandangannya pas ke biji mata Alan. “Sudah pernah kubilang padamu, Alan. Penjilat adalah orang ambisius yang tidak punya kapasitas, ingin posisi dengan cara menyikut rekan dan merayu-rayu atasan. Sayangnya, aku bukan orang murahan seperti itu.”


Theo mulai emosi. Dipelototinya wajah-wajah mereka sambil menyeringai. “Justru atasan yang merayu-rayu kami. Malah, rekan yang menyikut-nyikut kami. Dan ingat, kami punya kapasitas. Tidak seperti kalian!” Makin keras Theo mengunyah permen karetnya, lalu menyugar rambut keritingnya yang berantakan.


Alan berkacak pinggang, seolah tak terima. “Dasar si paling hilang ingatan!”


Stefan terkinjat. “Ngomong apa kau ha?” serunya, naik pitam.


Stefan menoleh ke belakang dan terus memberikan tatapan tajam kepada Alan. Selama ini dia terus sabar. Tapi, sepertinya si Alan terus memberikan intimidasi. Seolah dia tidak berani untuk melakukan sesuatu. Jika omongan dan sikap tidak mempan, Stefan mau tidak mau melakukan serangan lewat udara dan jaringan. Lihat saja nanti.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Untuk mencairkan suasana hati Stefan, terlebih selama beberapa hari belakang sibuk mengerjakan project, Theo mengajak Stefan untuk kembali berkunjung ke rumahnya. 


“Hei, Stefan! Kau tahu selama ini Stephanie terus memperhatikanmu?” buka Theo sambil cekikikan.


Stefan tersentak. “Entahlah, aku tidak tahu. Memperhatikan seperti apa?” tanyanya balik, sambil memasang kupingnya baik-baik.

__ADS_1


Theo menepuk jidat, lalu menyandarkan pungungnya ke sofa. “Astaga! Dia sering tampil beda setiap harinya, ngasih perhatian. Apa kau tidak peka ha?”


“Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan. Lagi pula, bagaimana bisa dia ada keterkaitan denganku?”


“Kami semua sudah tahu siapa kau, Stefan.”


Theo pun beranjak dan mengajak Stefan untuk masuk ke dalam kamarnya. Meski ini yang kedua kalinya, Stefan masih saja terpana melihat seisi ruangan ini. Untuk seorang Theo yang penampilannya kadang berantakan sangat tidak sesuai kalau kamar ini adalah miliknya.


Semua perangkat komputer dengan spesifikasi yang cihui. Ada tiga layar di atas meja sana yang berfungsi dengan baik. Jaringan internet yang ngebut. Semua fasilitas ini sudah cukup untuk menjadi seorang programmer dari rumah, namun anehnya Theo lebih suka bekerja dengan tim.


“Silakan kalau kau mau coba!” tawar Theo sambil melempar telunjuknya ke arah perangkat komputer, lalu dia menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


Stefan tahu kalau komputer Theo tidak bisa langsung digunakan karena terkunci. Tak butuh waktu lama, mengutak-atik sebentar, semua sistem menyala. Layarnya hidup.


“Terima kasih. Kebetulan aku ada tugas sedikit,” seru Stefan.


Theo langsung bangkit dan ternganga mulutnya. “Hah? Serius? Bagaimana kau bisa?” Theo terkaget-kaget.


“Canggih juga nih komputer! Pakai SigmaX buat cyber-security. Tapi sayangnya masih versi 0.4. Update lah!”


“Dulu gratis. Sekarang bayar. Belum ada duit,” tepis Theo lalu merebahkan badannya kembali.


“Dulu aku pikir program itu hanya bisa dipakai buat pribadi. Ternyata lama kelamaan banyak juga yang pakai. Jadi pas rilis versi 0.7, aku sudah mematenkannya dan mulai memasarkannya.”


Stefan bekerja sama dengan AlfaTech dalam penjualan program SigmaX. Dengan itu Stefan mendapat penghasilan tambahan.


Setelah memanipulasi user, meskipun dengan menggunakan server milik Theo, Stefan akan mengirim rootkit dan menanamkannya di komputer milik Alan sebagai balas dendam atas serangan psywar siang tadi.

__ADS_1


Selang beberapa menit, dari sini Stefan sudah bisa mengintai dan mengambil alih komputer milik Alan. Karena firewall komputer tersebut sangat lemah. Stefan tahu aktivitas di sana. Jika mau, dengan gampangnya mencuri file-file penting atau menghapusnya.


Untuk sementara ini Stefan hanya memberikan peringatan tegas terhadap Alan dengan cara membuat tampilan depan layar komputer di rumahnya, dengan tulisan : Berhenti melakukan psywar jika tidak ingin rahasiamu terbongkar semua!


__ADS_2