
Peresmian kantor Nano-ID sebenarnya senin pekan depan, namun karena butuh persiapan selama beberapa hari, maka ada beberapa atasan dan staf yang mulai aktif bekerja dari senin hari ini.
Kantor ini kecil jika dibandingkan beberapa gedung tinggi puluhan lantai di Jakarta. Kantor dengan desain arsitektur abad masa depan dengan model nano teknologi, sebagaimana nama perusahaannya, tampak mewah meskipun hanya delapan lantai saja.
Ada belasan orang yang masih berstatus sebagai calon karyawan. Mereka semua sedang menunggu kedatangan CEO Nano-ID di halaman parkir. Sengaja mereka datang lebih dulu, atau bisa jadi sepertinya CEO yang tidak bisa hadir.
Martin yang menjadi asisten CEO Nano-ID berbicara di hadapan mereka, “CEO tidak bisa mengurus kalian karena ada kesibukan dengan pihak pemerintah. Jadi saya yang akan memberikan keputusan apakah kalian bisa mendapat kontrak kerja atau tidak.”
Satu per satu mereka pun masuk bergantian ke ruang kerja Martin. Hingga tibalah giliran Ryan yang akan menandatangani kontrak kerja.
Martin melihat CV milik Ryan, lalu berkata, “Lulusan Management Informatika. Ada banyak pengalaman tapi tidak pernah sampai satu tahun. Apa nanti kau akan betah bekerja di sini?”
Ryan yang umurnya sudah hampir 28, sontak mendongakkan kepalanya, lalu menjawab, “Kali ini saya akan betah, Pak Martin. Sebelumnya memang saya pernah bekerja di sekitar delapan atau sepuluh perusahaan, tapi swasta. Sekarang, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bekerja di perusahaan yang berada dalam pengawasan pemerintah.”
Martin menyelipkan lagi dokumen kontrak kerjanya. “Sesuai dengan perintah CEO Nano-ID, kau akan melewati masa uji coba di posisi OB selama satu bulan sebelum menjadi seorang supervisor.”
Bagi Ryan, tugas ini jelas berat baginya, karena seumur-umur baru kali ini dia akan pegang sapu dan pel. Jika dia tolak, tidak mungkin, hampir setahun ini dia mencari pekerjaan tapi tidak pernah dapat dan terpaksa freelance dengan bayaran tidak menentu. Dia harus menanggung malu.
Ryan berkata ragu. “Saya tidak begitu mengerti kenapa CEO menempatkan saya di posisi OB terlebih dahulu. Apakah karyawan lain juga sama seperti saya?”
“Tugas ini khusus. Keseriusanmu akan terlihat ketika menerima tugas khusus ini. Jika bersedia, kontrak kerja ini akan saya simpan sampai bulan depan. Jika tidak, akan saya bakar.”
Ryan cepat menjawab, “Baiklah saya bersedia.”
Saat ini juga, sesuai dengan perintah CEO, Ryan ditempatkan di pos terdepan, yakni halaman kantor. Ryan dengan setelan kemeja kantoran rapi pun menarik perhatian para tukang yang masih bekerja.
__ADS_1
Tiba-tiba David muncul di sana untuk mengecek tugas Ryan. “Serpihan-serpihan dan semua kotoran ini harus kau bersihkan, Ryan. Ini sesuai perintah CEO! Jika tidak kau laksanakan, kau tidak akan pernah menjadi supervisor di Nano-ID!”
Ryan mengangguk sekali.
Honda Jazz pink masuk ke halaman parkir. Berulang kali dia mengklakson agar petugas kebersihan itu segera menyingkir dari jalannya. Namun, Ryan yang sudah dijamin posisi supervisor agak congkak walaupun sekarang ini dia pegang sapu lidi.
“Ryan?” gumam Marissa. Pikirnya, ‘Berarti di telepon tempo lalu memang benar.’
Pimmmpp!!!
Marissa mengeluarkan kepalanya dari mobil. “Wahai petugas kebersihan, bisakah kau bantu aku memarkirkan mobilku. Letakkan dulu alat kerjamu itu!”
Ryan menoleh. Dia kenal wajah dan suara itu. Astaga, mau dibuang ke mana mukanya pagi ini dan sampai satu bulan ke depan?
Ryan mengeluarkan alibi, “Ini tugas khusus bagi calon pejabat seperti supervisor. Jangan kau anggap remeh!” katanya sembari mendekat ke mobil milik Marissa.
Ya, jelas, apa adanya. Karena seperti inilah si Ryan. Di saat apapun, Ryan akan selalu mengangkat dirinya, terlebih di saat down, tentu dia akan membenarkan bahunya yang landai.
Marissa turun dari mobil dan berkata, “Aku mau ketemu Pak Martin dahulu. Apa mungkin sebelum menjadi staf bendahara, aku harus menjadi tukang masak di kantor ini selama sebulan?” cebiknya remeh.
Ryan mendengus. Dia tahu kalau Marissa ini memang jarang ngomong, tapi sekali ngomong, memang mulutnya jauh lebih tajam dari silet. Ryan harus menahan malu.
Ketika halaman kantor bersih, Ryan bicara sama Martin, “Apa ada tugas selain dari ini?”
Martin pun menjawab, “Sesuai dengan perintah CEO, tugasmu hanya di depan. Jika ada kendaraan karyawan yang mau masuk atau keluar, kau harus mengatur jalan menemani security.”
__ADS_1
Dari pagi sampai siang Ryan stay di pos petugas keamanan. Dia tidak mungkin jauh dari sapu dan sekop. Hiburannya hanya main hp dan sesekali berkelakar dengan security yang sedang bertugas.
Tidak lama kemudian, sepeda motor berhenti di depan gerbang kantor. Pria itu turun dan bilang pada drivernya, “Sebentar, Mas.”
Setelah itu, Stefan melangkah santai ke arah pos keamanan sambil memasukkan tangannya di saku celana. Dia tersenyum renyah ke arah Ryan dan berkata, “Kau sudah mulai bekerja hari ini. Pakaian petugas kebersihan sangat rapi. Hebat sekali kantor ini. Kapan kau akan memasukkanku bekerja di sini?”
Ryan tersentak dan langsung mematikan video tontonannya. “Oh, kau pria tiga tahun menyusahkan mertua itu. Pria gila yang menumpang. Pria mantan ojol.”
Lalu, Ryan memanggil dua orang security di dalam. Dia melanjutkan, “Namanya Stefan. Apa menurut kalian, dia ini pantas menjadi OB?”
Dua security itu melihat penampilan Stefan dari atas sampai bawah berkali-kali. Tidak ada bedanya antara penampilan Stefan dan Ryan. Mereka berdua sama rapi.
Salah seorang dari mereka menjawab, “Siapa pun bisa menjadi petugas kebersihan asalkan dia rajin.”
Satunya lagi menimpali, “Menyapu adalah tugas termudah di dunia ini.”
Ryan bertelekan pinggang dan menatap remeh Stefan. “Dia pernah menjadi pembantu di rumah dan tukang bersih-bersih di kantor milik mertuanya. Kurasa, teknik menyapunya jelas lebih epic daripada OB manapun.”
Stefan masih menunggu kira-kira apa yang akan diucapkan dua security itu, jika mereka berdua sepakat dengan omelan Ryan, jelas mereka dalam bahaya. Namun, dua orang itu tidak peduli dengan OB baru ini, malah sibuk mengawasi tukang yang sedang bekerja. Mereka selamat.
Ryan menoleh ke kiri-kanan dan mencari orang yang bakalan mendengarkan ocehan selanjutnya. Lalu, dia kembali menatap Stefan dan berkata, “CEO-nya sedang sibuk pula hari ini. Nanti mungkin akan aku sampaikan kepada asistennya.”
Stefan bertanya tegas, “Apa namanya Martin?”
Ryan mendecih. “Jangan sok tahu! Lebih baik, kau persiapkan dirimu, Stefan. Siapa tahu besok atau lusa kau akan segera bekerja.”
__ADS_1
Stefan melihat Martin dan David baru saja keluar dari pintu, segera dia membalik badan dan cabut dari tempat ini. “Ryan, bilang pada CEO-mu, siapkan aku dua sapu terbaik di Jakarta!”