Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
68. Pinang dibelah dua


__ADS_3

Bagai pinang dibelah dua.....


Di ruangan pertemuan pada pagi hari yang amat cerah, dua wanita cantik menjadi sorotan semua orang. Jika dua wanita ini bersaing menjadi puteri Indonesia, juri dan masyarkat akan kebingungan memilih siapa yang berhak juara dari keduanya.


Tak terlukiskan kecantikan dan keanggunan keduanya. Pria buta sekalipun tahu bahwa mereka berdua cantik luar biasa. Selain itu, dari segi posisi dan latar belakang keluarga, dua wanita ini jelas layak diperhitungkan. Agaknya, pria di sini harus berpikir berulang kali sebelum mengajak mereka berdua kencan.


Grace tersenyum ramah dan berkata, “Selamat datang, Bu Lionny Sanjaya.” Lalu, Grace memberikan satu kotak hadiah sebagai salam perkenalan.


Lionny terkesan. “Terima kasih. Saya mengenal Anda dari Pak Martin. Grace Santika. Saya ingat bahwa Anda pernah menjadi sekretaris kantor di Sanjaya Sawit.”


Grace seperti tersengat listrik. Namun, dia berusaha menahan senyumnya walaupun hatinya terusik. Jika demikian, berarti Lionny mungkin saja berpikir kembali soal perselingkuhan dulu yang sempat heboh.


Lionny sudah melupakan semuanya seolah tak pernah terjadi. Dia bukan tipe wanita penikmat masa lalu. Dia datang ke sini untuk mengurus kontrak kerjasama. Lionny sudah jauh lebih dewasa.


Namun, saat ini juga, ketika Lionny membuka kotak di tangannya, wajahnya langsung berubah heran. Pikirnya, dari mana Grace tahu tentang parfum kesukannya ini? Cuma Stefan orang yang pernah memberikan dua parfum ini seumur hidupnya.


Lionny bersikap ramah, lalu berkata, “Hadiah yang sangat spesial. Anda sangat mengerti apa yang diinginkan oleh rekan kerjasama.”


Grace membalasnya dengan nada keakraban, “Saya belajar banyak dari Ayah Anda, Nona Sanjaya.”


Lionny kembali tersenyum riang. Bukan Stefan, bisa jadi soal parfum ini ayahnya yang memberi tahu.


Sebelumnya Grace rasa dia akan canggung ketika berhadapan dengan Lionny, sebaliknya, saat melihat sikap ramah dari Lionny, dia malah antusias.

__ADS_1


Kunci rahasia ini ada di tangan Grace.


Setelah dipersilakan duduk, Lionny melontarkan pertanyaan, “CEO Nano-ID sepertinya masih ada kesibukan.”


Grace memperbaiki posisi duduknya, menatap Lionny lurus-lurus, lalu menjawab, “Betul. Bukan berarti CEO tidak mau mengurus kontrak kerjasama ini, justru beliau sangat menghormati Nona Sanjaya. Hanya saja, beliau masih sibuk.”


Lionny melepaskan senyumannya, lalu membalas, “Wajar. CEO Nano-ID saya yakin bukan orang sembarangan.”


Mendengar itu, Grace terdiam sejenak. Jika dia memasukkan kunci ini dan membuka pintu rahasianya, Stefan bisa marah padanya. Grace memegang komitmen. Dia tidak akan mengacaukan kontrak kerjasama ini. Bahasan pasti akan berubah jika pintu itu terbuka.


Grace berkata santai, “Nano-ID dipimpin dan bahkan dimiliki juga oleh beliau. Status seperti itu tidak mungkin dimiliki oleh orang rendahan.” Kemudian Grace menatap lekat dan melanjutkan, “Jika saya menjadi istrinya, tidak akan pernah saya sia-siakan.”


Lionny pun membalasnya dengan dingin, “Siapa yang tidak ingin menjadi istri dari CEO Nano-ID? Pasti menyesal orang yang menolak pinangannya. Dan untuk wanita seperti Grace, saya rasa beliau tidak akan menolak.”


Lionny berdecak kagum. “Saya salut dengan pimpinan perusahaan ini. Meskipun memprioritaskan Sanjaya, beliau tidak juga sembrono. Baiklah, kami tergiur dengan AlfaStudio. Kami ingin mempergunakan software tersebut selama beberapa tahun ke depan untuk bisnis kami.”


Sesuai arahan dari CEO, jika Lionny meminta apapun, harus diberikan. 


“Nano-ID akan menjadikan Sanjaya Techno sebagai rekan bisnis pertama yang bekerjasama meskipun urutan mendaftar yang ke sekian ratus. Ini serta merta atas perintah CEO. Teruntuk AlfaStudio, hanya akan diberikan untuk Sanjaya Techno.”


Mendengar itu, Lionny sangat bahagia. AlfaStudio menjadi target utama. Jika kontrak kerjasama ini telah terjalin, dia tidak akan pernah lagi diremehkan oleh keluarganya sendiri.


Martin yang berada pas di samping Grace pun berkata, “CEO memberikan kontrak kerjasama selama tiga tahun. Jika dalam masa itu Sanjaya Techno melanggar aturan, Nano-ID berhak mencabut kontrak kerjasama tersebut.”

__ADS_1


Lionny sepakat, “Soal keuntungan bagi Nano-ID?” tanyanya menyelidik.


Martin membuka dokumennya dan berkata, “Dua puluh persen.”


Lionny termundur badannya. Dia agak kaget. “Dua puluh persen untuk Sanjaya Techno?” Matanya menajam karena syok.


Martin menjawab pelan, “Dua puluh persen untuk Nano-ID. Dan delapan puluh persen buat Sanjaya Techno.”


Saat ini, Lionny makin bingung. Entah siapa yang dapat dua puluh persen, dia tetap tidak bisa mencerna dengan akalnya. Angka itu terlalu kecil. Jika 50-50, sangat masuk akal. Idealnya 60-40.


Lionny berkata heran. “Apa Pak Martin tidak salah lihat? Atau Pak Martin keliru menerima informasi dari CEO Anda?” Ada kerutan di kening mulus Lionny. Dia masih tak percaya. Bagaimana angkanya terlalu melanting jauh? Sulit dipercaya.


Jelas Martin tidak salah menerima informasi dan angka di dokumen ini juga sangat jelas. Tidak ada yang keliru. Dia berkata yakin, “Keuntungan dua puluh persen bagi Nano-ID dengan kontrak kerjasama selama tiga tahun. Apa angka itu tidak sesuai, Bu Lionny? Jika tidak berkenan, kami akan kembali menghubungi CEO dan akan memperkecil angkanya.”


Lionny langsung menggeleng keras. “Hm. Justru angkanya terlalu kecil. Asumsi saya keuntungan yang akan didapatkan oleh Nano-ID adalah enam puluh persen.”


Pria berbadan berisi dan berwajah teguh ini tetap pada pendirian dan ingat pula dengan perintah atasannya. Martin tidak akan bangkang walaupun sekedip mata. Dia loyal dan percaya terhadap pemimpin. Meskipun memang akalnya berontak juga ketika mengetahui angka dua puluh persen, tapi kepatuhannya mengalahkan segalanya.


Grace pun angkat bicara, “Bu Lionny Sanjaya. Kami hanya menjalankan perintah CEO. Jika Anda masih saja keberatan dengan keputusannya, sekarang juga kami akan menghubungi CEO untuk mengubah isi perjanjiannya.”


Lionny menghela napas samar. “Baiklah. Saya setuju dengan perjanjiannya. Hanya saja, saya tidak ingin ada kesalahpahaman di awal. Saya tidak ingin kerjasama dengan Nano-ID menjadi kacau apalagi batal gara-gara kesalahan baik besar ataupun kecil.”


Pada akhirnya Sanjaya Techno resmi menjadi perusahaan pertama yang telah bekerjasama dengan Nano-ID dengan melewati ratusan pendaftar lain. Peristiwa ini sangat berharga bagi Lionny. Dalam benaknya, dia sangat dihargai karena bagian dari Keluarga Sanjaya.

__ADS_1


Namun, jika dia jauh lebih cerdas, apa mungkin Sanjaya Group lebih besar daripada perusahaan seperti Google dan Apple? Lionny tidak berpikir sejauh itu. At least, dia akan membawa kabar gembira ini di hadapan keluarganya.


__ADS_2