
Untuk memastikan kebenaran Stefan, Alifha menemui Grace di rumahnya sepulang dari bekerja, menanyakan problem yang sebenarnya. Apa yang disampaikan oleh Grace sama dengan apa yang disampaikan oleh Stefan. Jadi jelas sudah bahwa mereka tidak mungkin berselingkuh.
“Bagaimana Stefan di kantor? Silakan diminum” tanya Grace yang barus saja menaruh dua cangkir teh hangat di atas meja.
“Terima kasih, Grace,” tutur Alifha sambil memperbaiki posisi duduknya. Setelah mengeluarkan napas kasar, barulah Alifha menjawab, “Dia diperlakukan tidak pantas oleh banyak karyawan di sana. Aku dengar, Pak Bobby sengaja menyuruh karyawan agar berlaku demikian terhadap Stefan.”
“Daripada dijadikan pesuruh dan diejek, mending dia keluar saja dari sana.”
“Aku dengar, dia ingin buktikan kepada Pak Bobby kalau dia itu bisa bekerja dengan baik.”
“Itu menurut pola pikir dia pribadi, tapi coba lihat keadaan yang sebenarnya. Jujur aku kasihan sama dia. Aku sudah bilang pada ayahku supaya mengusahakan Stefan bisa diterima lagi di AlfaTech.”
“Apa kata ayahmu, Grace?”
“Tinggal menunggu waktu saja. Dalam waktu dekat Stefan akan bisa bekerja di sana.”
“Syukurlah kalau begitu. Aku tidak tidak melihat dia disuruh-suruh.”
Meskipun tidak terlalu akrab, Grace dan Alifha sudah cukup lama saling mengenal satu sama lain. Makanya ketika Grace dituduh berselinguh, Alifha agak syok, bagaimana bisa temannya berselingkuh.
\=\=\=>>>000<<<\=\=\=
Stefan mendapat panggilan dari mertuanya di minggu pagi ini. Ada apa gerangan? Kira-kira ada angin baik atau angin buruk? Segera dia meluncur ke kediaman mertuanya. Dan sesampainya di sana, Stefan disuruh duduk bukan di ruang keluarga, tapi di ruang tamu.
“Akan ada acara pertemuan penting besok, Stefan,” ungkap Bobby sambil memicingkan mata.
“Pertemuan dengan siapa, Ayah?” tanya Stefan.
“Pertemuan dengan orang penting, dan sangat jauh lebih penting daripada kau. Pertemuan kali ini membahas soal masa depan bisnis dan masa depan keluarga.”
Bobby menggagahkan dirinya, meletakkan betis kanannya di atas paha kiri, lalu membentangkan kedua tangannya seperti burung mengepakkan sayap. Setelah mendongakkan kepala, beliau melanjutkan, “Akan ada pertemuan antara petinggi Sanjaya Sawit dan Sanjaya Karet. Pertemuan dua orang besar dan orang penting.”
Stefan tahu orang yang dimaksud. Tapi tidak tahu seperti apa acara besok dilangsungkan. “Apa tugasku besok, Ayah?”
“Tugasmu tidak kalah penting, Stefan. Kau akan menjadi salah satu anggota pelaksana pertemuan. Besok akan ada rapat dan jamuan. Kau bukan ketua, tapi jika ada kesalahan, kau orang pertama yang bertanggung jawab.”
Bagaimana konsepnya, bukan ketua tapi punya tanggung jawab utama? Jangan sangka Stefan selalu menurut dan patuh lantas dia idiot! Stefan tahu rencana mertuanya apa. Stefan tahu kalau tugasnya besok sangat berisiko, dan satu lagi besok dia akan dipermalukan, itulah prediksinya.
\=\=\=>>>0<<<\=\=\=
Dan senin pun tiba. Jam enam Stefan sudah tiba di halaman kantor, ikut briefing yang dikepalai oleh salah seorang manajer.
“Stefan, kau urus konsumsi dan kebersihan! Jika ada masalah di sana, kau yang harus bertanggung jawab!”
Catering baru saja tiba. Jam delapan ini hidangan kopi dan makanan ringan. Stefan akan membantu tugas dua orang pekerja catering tersebut.
Ada sebuah meja panjang yang bagus. Di dekatnya ada dua belas kursi. Di sini jamuan ngopi dan makan siang akan dilaksanakan.
__ADS_1
Stefan merapikan kursi-kursi, lalu menata perlengkapan di atas meja, seperti cangkir, piring, dan semacamnya.
Tak lama kemudian ada beberapa mobil yang masuk ke halaman parkir secara bergilir. Tiba-tiba suasana di pintu masuk kantor jadi semarak.
Direksi dari Sanjaya Sawit dan Sanjaya Karet sudah tiba. Satu per satu mereka pun masuk ke dalam kantor, disambut oleh beberapa karyawan yang telah bersiap dari tadi.
Bobby Sanjaya dengan setelan jas hitam dan dasi merah begitu berwibawa. Kumisnya yang lebat menjadikannya identik dibandingkan yang lain.
Beliau merangkul erat seorang pria muda agak hitam manis. Pria itu mengenakan jas dan dasi biru. Sekilas atau diperhatikan lama, pria itu memang punya kharisma.
Di belakang mereka berdua total ada sepuluh orang direktur yang melangkah dengan pelan dan tenang. Sepertinya mereka membicarakan sesuatu tentang perusahaan.
“Erick, coba kau lihat salah satu karyawan yang telah menyiapkan acara pertemuan ini,” kata Bobby Sanjaya.
Erick memperhatikan tiga orang yang tengah sibuk mengurusi makan dan minum. “Oh, dia itu. Rajin sekali dia mau ditempatkan di bagian konsumsi.”
“Dia ingin mencari perhatian dengan melakukan apa saja.”
Kemudian sang manajer berjalan agak cepat dan memotong rombongan, lalu mendekati Stefan sambil memberikan perintah bahwa harus hormat dan memberikan pelayanan lebih terhadap peserta jamuan.
“Stefan, ada dua orang dirut dan sepuluh direktur di sini,” bisik Yoga. “Jika mereka menyuruhmu untuk menjilat telapak sepatu mereka, lakukan dan jangan mengeluh. Mereka semua orang besar. Status menantumu tidak akan pernah berlaku. Kerjakan!”
Stefan manggut sedikit dan penuh keraguan. Benar sekali perkiraannya, dia akan dibuat malu hari ini. Stefan bersama dua orang catering menuangkan teh dan kopi ke cangkir-cangkir peserta jamuan.
“Pelayan! Kopiku sedikit gula,” perintah Ercik.
Tak ada yang menoleh di antara ketiga orang itu.
Stefan menoleh, lalu sigap. “Ada apa, Tuan?”
“Layani Pak Erick, cepat! Kopi sedikit gula.”
“Baik.” Stefan pun mengambil cerek berisi kopi hitam pahit, lalu menuangkannya ke cangkir Erick. Kemudian Stefan menuangkan setengah bungkus gula pasir.
“Tolong kau aduk!” titah Erick sambil tersenyum miring di hadapan para bawahannya bawahannya.
Stefan yang hanya mengenakan kemeja putih polos dan celana dasar hitam ini dengan senantiasa menuruti kemauan Erick. Tanpa ada protes apapun.
“Kepada bapak-bapak direktur, kalau butuh apa-apa, silakan perintahkan apa saja sam pelayan ini,” tawar Bobby Sanjaya setelah meneguk kopinya dua kali.
Mendengar itu, satu per satu direksi pun minta dilayani oleh Stefan. Minta tuangi minuman. Minta diambilkan roti. Minta diambilkan tisu. Atau buang sampah.
Walaupun ada tiga orang yang bertugas, Stefan yang paling aktif dan punya mobilitas tinggi memberikan service. Ketika dua orang lainnya sigap membantu Stefan, Bobby menyentak dan melarang.
Setelah jamuan pagi selesai, para rombongan pun masuk ke ruang rapat. Di sana akan dibahas soal kemajuan serta masalah-masalah yang tengah dihadapi oleh perusahaan masing-masing.
Stefan mendekati Yoga. “Pak, bagaimana dengan pekerjaan saya?”
__ADS_1
“Saya bahkan meninggalkan ruang kerja saya untuk mengurusi acara dari pagi sampai sore hari ini. Kau cuma pekerja IT, saya manajer keuangan di sini. Lakukan saja apa yang sudah diperintahkan!”
Stefan membalik badannya sambil menghembuskan napas panjang, lalu masuk ke ruang kerjanya untuk istirahat. Masih ada cukup waktu untuk beristirahat, sebelum kembali sibuk menyiapkan makan siang.
Baru sepuluh menit santai-santai, pintu ruang kerja Stefan diketuk cukup keras oleh Yoga. “Stefan! Cangkir dan piring kotor itu cepat kau angkut ke mobil milik pihak catering. Bantu dua orang itu!”
“Baik!” Stefan menghembuskan napas panjang lagi. Stefan pun bangkit, lalu sibuk membantu tugas dua orang catering.
“Stefan, Pak Erick minta diantarkan kopi lagi!” Seorang karyawan yang barus saja turun dari lantai tiga itu menepuk-nepuk pundak Stefan.
Alifha sedari tadi diam-diam memperhatikan Stefan, lalu wanita itu mendekatinya. “Seharusnya kau tidak perlu melakukan semua ini, Stefan,” ucapnya perihatin.
Stefan mengangkat bahunya, lalu merespons ucapan Alifha hanya dengan senyuman. Stefan melenggang dan menaiki anak-anak tangga menuju ruang rapat.
“Ini kopi untuk Pak Erick,” kata Stefan pada seseorang yang berdiri di dekat pintu ruang rapat.
“Enak saja kau menyuruhku. Aku bukan pelayan di sini. Masuk sana, kau kasih sendiri ke Pak Erick,” cecar pria yang berpakaian serba hitam ini. Sepertinya pria ini semacam petugas keamanan.
Stefan pun masuk. Pas pula Erick sedang berdiri dan berbicara di hadapan para peserta. Dilihatnya Stefan tertegun seperti patung.
“Pelayan! Sini kau! Beruntung sekali kau bisa masuk ke ruangan ini. Sekarang kau bisa bertemu dengan para direksi. Kami semua orang-orang penting.”
Bobby ikut berdiri. “Interupsi. Saya ingin menanyakan kepada kalian semua di sini. Apakah pelayan itu layak menjadi seorang programmer di perusahaanku? Apa dia layak menjadi cucu angkat kesayangan Kakek Sanjaya? Dan apa dia layak menjadi menantuku?”
Sepuluh orang direktur bereaksi semua tanpa terkecuali. Menggeleng tak percaya. Menghela napas kasar. Tidak ada satu pun dari mereka yang percaya bahwa pelayan ini merupakan bagian dari Keluarga Sanjaya.
Erick melanjutkan, “Rapat kita tunda sebentar. Akan ada bahasan lain. Saya ingin bertanya kepada kalian semua. Siapa di antara saya dan pelayan itu yang lebih baik dari segala macam segi?”
“Jelas Pak Erick lah!”
“Pasti Pak Dirut jauh lebih baik dari segala macam segi.”
“Pelayan ini bisa apa?”
Intinya, semua mendukung Erick dan memojokkan Stefan. Belum lagi, Bobby terus memberikan intimidasi terhadap Stefan, bahwa Stefan benar-benar tidak layak mendapatkan apa yang telah didapatkannya saat ini.
Bobby mengawasi semua wajah-wajah peserta rapat. “Kalian harus menjadi saksi dan bilang kepada Kakek Sanjaya bahwa Erick lebih pantas menjadi cucu angkat kesayangan beliau dan lebih pantas pula menjadi menantuku.”
Semua direktur bersedia.
Stefan masih tertegun dengan memegang secangkir kopi. Karena tidak ingin menyela pembicaraan, dia masih saja diam dan menyimak. Stefan terus menguatkan dirinya.
“Kenapa kau melamun, Bodoh?! Sini kopiku!” perintah Erick sambil melotot dan menyeringai.
Stefan menegakkan kepalanya, lalu menaruh kopi itu di atas meja. Stefan pun keluar dari ruangan rapat. Kelar? Belum! Stefan kembali sibuk menyiapkan hidangan makan siang buat mereka.
Saat acara makan siang dimulai, atas perintah Bobby, hanya Stefan yang melayani, sementara dua orang catering lainnya disuruh istirahat. Terang saja Stefan kualahan menyiapkan nasi, lauk, sayur, buah, minuman, dan apa saja yang berada di atas meja. Stefan mondar-mandir dari kursi ke kursi. Para direktur juga sepertinya sengaja ingin membabui Stefan.
__ADS_1
“Mending hilang ingatan, atau seperti ini?” tanya Bobby sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
Erick menatap Stefan sambil mencebik, “Kalau aku jadi kau, mending aku kabur, atau mati saja!”