
Dokumen rahasia apa?
Dokumen tersebut ditandatangai oleh Kakek Sanjaya, Bobby Sanjaya, Kuasa Hukum Kakek Sanjaya, beserta dua orang saksi.
Stefan membacanya dengan sangat detail selama hampir sepuluh menit. Intinya adalah : Bobby Sanjaya selaku anak kandung dan satu-satunya ahli waris utama dan akan mendapatkan warisan berupa tabungan, properti, aset, semua yang bernilai dari perusahaan Sanjaya Group sebesar 80%. Di dokumen tersebut juga tertulis bahwa Stefan Raden Kusuma, selaku cucu menantu dan cucu angkat Kakek Sanjaya (sewaktu beliau masih hidup) akan mendapatkan 20%.
Pada akhirnya Stefan menyadari kenapa Bobby Sanjaya sangat membencinya. Dan inilah alasan sebenarnya kenapa Bobby ingin membunuh Stefan. Jika alasannya sebatas karena Stefan merupakan pria sebatang kara yang tidak jelas asal usul keluarganya, sangat tidak logis lantas ingin menghilangkan nyawa.
Selama berjam-jam Stefan bergelut di depan laptopnya. Dia tidak pernah ada niat maupun pikiran untuk melakukan tindakan terlarang, namun karena sesuatu yang mendesak dan penting, sepertinya Stefan harus minum kopi dan fokus sampai malam nanti.
Ada suara ketukan pintu. “Pak Stefan, apa Anda ingin makan siang?” tawar Martin agak menjerit.
“Saya tidak ingin diganggu! Pergi kalian!” titah Stefan keras.
Dalam waktu yang cukup lama, banyak hal-hal baru yang Stefan ketahui sekarang ini tentang Keluarga Sanjaya dan Sanjaya Group. Ada beberapa hal yang membuatnya tercengang.
Namun, dari sekian banyak hal tersebut, ada satu data yang sangat rahasia sekali. Stefan menemukan pesan percakapan antara Bobby Sanjaya dan seseorang. Dalam percakapan tersebut, Bobby merencanakan pembunuhan terhadap seseorang yang sedang dalam perjalanan menuju bandara.
Pada saat menyeberang jalan, orang tersebut tertabrak dengan cukup keras. Anehnya, pria tersebut tidak mati, bahkan tidak ditemukan cacat parah pada tubuhnya, melainkan hanya beberapa luka ringan. Hanya saja, pria itu mengalami gegar otak parah.
__ADS_1
‘Pria itu adalah aku sendiri,’ batin Stefan.
Stefan sangat kaget begitu mengetahuinya. Terlalu banyak rahasia yang disimpan oleh Bobby dan keluarganya. Jika alasannya karena takut tersaingi mendapat warisan dari mendiang Kakek Sanjaya, Stefan rela lepas tangan dari semua itu apabila kehadirannya di Keluarga Sanjaya hanya menjadi beban dan penghalang. Stefan rela angkat kaki dari dulu apabila dia tahu alasannya.
Stefan tidak bisa menyalahkan Kakek Sanjaya. Pada saat penandatanganan, Stefan dalam keadaan sakit dan tidak normal. Oleh karena itu, dia tidak bisa menghadiri proses penandatanganan tersebut. Akan tetapi, Stefan jelas marah kepada Bobby, karena hingga saat ini Bobby merahasiakan semuanya demi kepentingannya sendiri.
Stefan ingat dulu Lionny pernah menyampaikan apa yang pernah disampaikan oleh Kakek Sanjaya tentang bagian yang harus diambil dari Bobby. Tetapi Stefan dan Lionny jelas tidak paham bagian apa. Andai saja Kakek Sanjaya menjelaskan secara detail tentang dokumen rahasia ini, tentu sudah dari dulu Stefan membicarakannya kepada Bobby.
Dan liciknya Bobby, setelah proses penandatanganan tersebut, Bobby membayar uang yang cukup besar kepada Kuasa Hukum dan dua orang saksi pria, agar kiranya mereka merahasiakan dokumen ini dari Stefan. Maka dari itu, mereka saat ini seperti hilang ditelan bumi. Meskipun Stefan berhasil melacak mereka bertiga, mereka tetap tidak bersedia menemani Stefan untuk membicarakannya sebagaimana harusnya.
Stefan harus mengambil tindakan tegas dan ekstrem! Bobby sudah sangat keterlaluan terhadapnya!
Stefan bekerja di sebuah warung makan untuk membiayai hidupnya sendiri. Dia tinggal di kontrakan sepetak seadanya. Semua biaya makan, sekolah, dan apapun, Stefan dapatkan dari keringatnya sendiri, tidak pernah meminta kepada siapapun dan tidak pernah pula mengemis. Karena tidak pernah bergantung kepada manusia manapun, Stefan sudah tahu arti kemandirian sejak umur belasan.
Selama duduk di bangku sekolah, dari SD sampai SMA, Stefan merupakan siswa berprestasi dan dibanggakan. Jika dibilang Stefan pendiam, tapi tidak juga. Dia hanya berbicara sesuatu yang memang penting dan bermanfaat, dan satu lagi, lucu. Dulu Stefan merupakan tipe orang yang cukup humoris.
Di dalam pertemanan dan organisasi, Stefan bukan tipe pria yang mendominasi seperti karakter alpha male. Tidak, Stefan tidak seperti itu. Stefan bukan tipe pria yang selalu tampil dan ingin populer, tetapi dia bertipe cold dan ambisius.
Ketika sedang berbicara, Stefan tampak tenang dan santai, tidak menggebu dan selalu ingin didengar. Jika disebut kaku, tidak juga, Stefan merupakan tipe pekerja keras dan cekatan. Hanya saja, karena hobi baca buku sejak kecil dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengasah otak ketimbang otot, dia tampak seperti kaku, tapi bukan, itu sikap dingin.
__ADS_1
Selama masa remaja dan awal kedewasaannya, Stefan sudah terbiasa dihadapkan dalam persoalan pelik, seperti dicaci, dihina. Namun, jika dirasa orang tersebut sudah keterlaluan, Stefan akan membalasnya dengan cara yang elegan dan di luar perkiraan.
Dia merupakan pemaaf sejati dan jika sudah akrab, dia akan menjadikan teman layaknya ayahnya sendiri. Meski demikian, Stefan merupakan pendendam. Karena baginya, dendam adalah sebuah alat yang dipakai untuk menegakkan keadilan.
Setelah menguasai semua sistem keamanan milik Sanjaya Group, Stefan dengan geramnya mengirimkan malware yang sangat berbahaya di dunia. Malware jenis baru tersebut akan sangat sulit terdeteksi dan dibersihkan.
Seperti bekerja dari bawah tanah, tidak disadari, dan menghancurkan sampai ke akar-akarnya. Stefan tidak perlu bersusah payah mengobrak-abrik semuanya karena malware tersebut akan bekerja dengan sendirinya.
Enam perusahaan Sanjaya Group down! Hanya Sanjaya Techno yang masih bertahan. Dalam beberapa jam enam perusahaan tersebut lumpuh dan tidak bisa beroperasi. Jaringan rusak dan tidak terkendali. Semua data banyak hilang entah ke mana.
Tidak butuh waktu lama bagi Stefan untuk segera mengubur Sanjaya Group dalam-dalam. Keuangan mereka hancur. Rekan bisnis, seperti mitra, klien, investor dan lainnya pada kabur semua. Kehancuran Sanjaya Group hanya menunggu hitungan hari.
‘Nanti, kau akan melihat bisnismu hancur, atau berlutut meminta maaf di hadapanku?’ gumam Stefan sambil menggertakkan gerahamnya.
Stefan menakuti-nakuti orang-orang di kediaman Bobby dengan cara mengirimkan pesan di wa mereka bahwa Sanjaya Group akan jatuh dan bangkrut. Bahkan, Stefan bisa mengendalikan tv dan berbagai perangkat yang ada di kediaman Bobby Sanjaya. Semua orang di sana ketar-ketir dan dihantui ketakutan.
Di kantor Sanjaya Group, sebagian karyawan keluar dari gedung kantor karena tidak ingin terjadi apa-apa.
Stefan tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1