
Urat malu Ryan sepertinya memang sudah putus. Dia mendekati Grace, lalu berkata, “Bu Sekretaris, maafkan saya. Saya sebenarnya sudah mengenal Bu Grace, tapi karena gugup, jadi saya bingung mau bicara apa tadi pagi.”
Grace baru membuka pintu mobilnya. “Pesan CEO, jika tugasmu tidak becus, masa orientasi kerja di halaman ini akan ditambah satu bulan lagi. Selain itu, apa kamu tidak tahu aturan yang sudah diberikan tentang perlakuan terhadap sekretaris? Sepertinya masa orientasi ini jelas akan ditambah. Soal waktunya berapa lama, CEO yang akan memberikan keputusan.”
Biji mata Ryan Vikes membulat sempurna seperti telur mata sapi. Jika dalam hitungan minggu ini saja dia sudah kualahan dan malunya minta ampun, bagaimana jika dia harus lebih lama lagi menjadi petugas kebersihan di halaman?
Ryan tersenyum memelas, lalu menjawab, “Maafkan saya sekali lagi, Bu sekretaris. Saya tidak akan mengulanginya kembali. Mulai besok, saya akan benar-benar jaga mobil mewah Anda melebihi saya menjaga mobil saya sendiri.”
Grace tidak perlu mencari tahu keberadaan mobil milik pria sombong ini. Andai Grace tahu, mobil Grace dan Ryan, analoginya seperti bola resmi piala dunia dan bola Mikasa 40 ribu pada zamannya. Sangat lucu dan ironis jika orang seperti Ryan naksir sama Grace. Ryan kalah dari segi apapun.
“Kesalahanmu hari ini cukup mengecewakan. Saya tidak tahu apa yang akan CEO lakukan untuk menghukummu. Besok pagi kamu akan tahu hukuman apa yang akan kamu dapatkan dari CEO!”
Lalu Grace masuk ke mobil mahalnya dan menyalakan mesinnya. Ryan yang sudah meleleh wajahnya mau tidak mau mengatur jalan buat Grace.
“Ya terus, Bu!” Ryan Vikes memaju-mundurkan telapak tangannya di udara.
Ng....
Mobil menderum dan meninggalkan Ryan yang sedang tertegun. Hanya saja, orang ini sulit menundukkan kepala dan bahunya.
Grace mampir ke sebuah mall dan membeli sesuatu. Tadi siang dia sempat bertanya kepada Stefan tentang sesuatu yang disenangi oleh Lionny. Agaknya, Grace cuma ingin menutupi kecemburuannya saja kali ini.
__ADS_1
Dia membeli dua parfum kegemaran Lionny, Tiffany & Co Rose Gold dan Versace Absolu. Stefan pernah membelikan dua parfum itu di sebelum pernikahan saat Stefan masih pegang duit cukup banyak.
Keesokan paginya, Marcedes milik Grace pada saat masih di pinggir jalan, pria busuk bernama Ryan itu sigap membuka jalan untuk Grace. Sudah lima belas menit Ryan bercokol di atas trotoar depan kantor menunggu kedatangan Grace.
Ryan berada di depan mobil Grace sembari memberi aba-aba untuk maju dan belok. Pagi ini, Ryan tampil dengan performa parkir yang luar biasa. Dia harus all out karena tidak ingin mengecewakan kembali. Bahkan Ryan menyuruh dua security untuk tetap duduk manis saja di pos.
Grace keluar dari mobil, menutup pintunya dengan anggun, lalu berkata pada Ryan, “Semalam saya sudah menghubungi CEO. Sesuai dengan keputusan beliau sendiri, masa orientasi di halaman ini akan ditambah dua bulan lagi, total jadi tiga bulan, setelah itu barulah kamu akan menjabat sebagai supervisor.”
Wajah Ryan yang cerah secerah pagi ini sontak berubah masam. Di kedua sudut bibirnya tercetak sunggingan kekecewaan. Ada hembusan napas lemah keluar dari mulutnya. Seolah tak percaya, lalu dia berkata:
“Sampaikan maaf saya pada CEO. Saya janji tidak akan mengecewakannya lagi,” ucapnya dengan perasaan yang sangat mendalam.
Duet pengangguran dan freelancer selama satu tahun terakhir ini menjadi momok menakutkan bagi Ryan. Sebelumnya dia tidak pernah terpilih menjadi supervisor, mentok di staf biasa.
Uniknya orang ini, dia tidak mau menundukkan kepalanya meski sedikit saja. Dia berkata sangat ramah, “Sampaikan kepada CEO, cukup satu bulan saja masa tugas saya sebagai petugas kebersihan, Bu. Saya menyesal sudah melakukan kesalahan kemarin.”
Grace tidak peduli dengan tai kuku ini. Jelas dia akan patuh dengan perintah bosnya saja. Dia menatap Ryan agak kasihan, lalu berkata, “Nanti jika ada tamu spesial bernama Lionny Fransisca Sanjaya, kamu harus layani dia dengan sangat baik. Kata CEO, layani wanita itu seperti kamu melayani ibu kandungmu sendiri. Mengerti?”
Akhirnya Ryan harus mengakui kerendahannya sedikit demi sedikit. Dia mengangguk dua kali, lalu menjawab, “Baiklah. Saya akan serius melayani Nona Sanjaya nantinya. Asalkan hukuman saya tidak ditambah.”
“Hukumanmu sudah mutlak dan tidak akan pernah berkurang. Tapi, jika kamu berbuat kesalahan sedikit saja, hukumanmu dipastikan bertambah.”
__ADS_1
Ryan seperti tercekik lehernya. Jantungnya seperti diremas-remas. Lubang hidungnya serasa tersempal biji karet. Makin sesak napasnya. Dia berkata lirih, “Baiklah, akan saya laksanakan.”
Lalu, Grace memberikan uang dua ratus ribu kepada Ryan dan berkata, “Beli kwetiau A Ling cabang Jakarta. Harganya tidak lebih dari lima puluh ribu. Sisanya buat bensin dan makan siangmu hari ini. Nanti kamu antarkan ke ruang pertemuan. Harus sopan di hadapan Bu Lionny nanti.”
Ryan mengangguk sampai empat kali. Makin lama, kebodohan orang ini kian tampak.
Grace masuk ke dalam kantor dan Ryan melanjutkan pekerjaannya di halaman. Setelah satu jam kemudian, ada sebuah Audi A6 silver masuk ke dalam kantor. Ryan yang wawasan permobilannya agak kurang luas namun gayanya mantap luar biasa ini pun menganggapnya biasa.
Bagi Ryan, Audi A6 hanya sedan pasaran karena bentuknya memang seperti mobil murah pada umumnya. Dia salah persepsi lagi. Dengan ini sudah dipastikan Ryan tidak akan pernah diterima bekerja di showroom mobil mana pun di dunia.
Satu orang petugas keamanan yang mengatur jalan buat mobil itu. Ryan malah sibuk main HP. Begitu wanita cantik itu keluar dari mobil, ada seorang karyawan yang langsung menyambutnya. Lalu mata Ryan teralihkan dan telinganya seperti mendengar nama Lionny.
Ryan meloncat dari pos keamanan langsung menghampiri wanita itu. “Minggir kalian semua! Biar aku saja yang menyambut Bu Lionny!”
Ryan tersenyum sambil merapikan kemejanya dan bermaksud ingin mengantarkan Lionny masuk ke dalam. Namun, Martin mencegahnya karena sikap berlebihan dan norak dari Ryan hanya akan buat malu.
Martin menjauhkan Ryan dari keramaian dan berkata, “Tadi sekretaris menyuruhmu membeli sesuatu. Lakukan! Tadi saya lihat kamu lalai menyambut tamu spesial ini. Cepat laksanakan!” sentak Martin cukup keras.
Ryan pun tunggang langgang menjalankan perintah.
Martin segera kembali menghampiri Lionny dan menemaninya sampai ke ruangan pertemuan. Dia menatap ramah dan berkata, “Acaranya sepuluh menit lagi akan dimulai. Apa Bu Lionny bersama rekan kerja datang ke sini?”
__ADS_1
Sembari berjalan dengan anggun, Lionny menjawab, “Saya datang sendiri.”
Di ruangan, Grace sudah menunggu dari tadi.