Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
81. Hari yang memalukan


__ADS_3

Hari pun berganti hari.....


Di sebuah ballroom hotel ternama di Jakarta, minggu malam hari ini, ratusan tamu undangan hadir dengan setelan mewah. Semua pria memakai jas dan semua perempuan memakai gaun.


Hidangan makan dan minum disediakan oleh pihak hotel dengan sangat perhitungan. Semua santapan berkelas dihidangkan demi memberikan kepuasan kepada semua tamu undangan.


Ratusan perwakilan perusahaan sudah hadir. Mereka semua dihormati, namun dari semua itu, perusahaan yang menjadi sangat spesial adalah Sanjaya Techno. Ada alasan menarik yang akan mengguncangkan dada para undangan.


Setelah pembawa acara membuka acara meriah ini, lalu Martin menggagahkan diri di atas podium dan berkata, “CEO Nano-ID adalah mantan pekerja di Sanjaya Group. Beliau begitu dikagumi ketika menjadi seorang pekerja IT di Sanjaya Techno.”


Lionny terperanjat kaget. Apa dia tidak salah dengar? CEO Nano-ID pernah bekerja di Sanjaya Techno dan begitu dikagumi?


Bobby Sanjaya rasanya mau meloncat biji matanya!


Saking terkejutnya, Bobby sampai merinding seluruh tubuhnya!


Siapa mantan pekerja Sanjaya Techno yang bisa sesukses ini?


Saat ini, orang-orang yang memang mengenal sosok Bobby Sanjaya pun mengalihkan perhatian mereka. Pemandangan seketika merucut ke arah Bobby.


Bobby bangga, tapi kaku. Bobby tidak pernah terbayang kalau ada bekas pekerjanya mampu menjadi CEO Nano-ID, jika memang ada, ah, tidak mungkin ada.


Bobby hanya terbayang sosok Anggara dan Wesley yang sangat berpengalaman dalam persoalan IT. Namun, Bobby ragu, jika mengurus perusahaan kecilnya saja mereka berdua kadang kurang becus, bagaimana mungkin mereka akan mengelola perusahaan sebesar Nano-ID.


Martin melanjutkan perkataannya, tentu sesuai perintah Stefan, “CEO Nano-ID juga pernah bekerja di Sanjaya Sawit tapi tidak lama. Beliau senang sempat bekerja dengan menempati posisi yang paling mobile!”


Mobile? Ya, Stefan adalah sosok multi-talenta kala itu.


Rahang Bobby seakan mau runtuh! CEO Nano-ID pernah bekerja di Sanjaya Sawit? Dengan posisi yang serba sibuk? Apa Martin hanya berkelakar di atas sana?


Mata para undangan kini kembali menghunjam ke sosok Bobby Sanjaya, karena posisinya paling depan dan tengah, secara Bobby merupakan tamu yang spesial di acara ini, semua orang dengan mudahnya menyorotinya.

__ADS_1


Semua orang membanggakan pencapaian Bobby dan menyanjung Sanjaya Group. Namun tidak untuk Bobby, keringat dingin di tubuhnya keluar perlahan, badannya bergidik karena gugup.


Martin meluaskan pandangannya, lalu melanjutkan, “CEO Nano-ID pernah menjadi tukang ojek pangkalan dan ojek online!”


Bobby tercekat. Seakan-akan ada tangan besar yang mencekik lehernya. Dadanya remuk. Terbayang wajah seseorang, tetapi Bobby segera mengikis bayang-bayang itu.


Sementara itu, terdengar suara riuh rendah dari para tamu undangan. Mereka sibuk membatin dengan diri sendiri dan bertanya-tanya kepada orang-orang di sebelahnya. Siapa CEO yang sangat misterius ini?


“CEO Nano-ID pernah melewati masa-masa sulit di dalam hidupnya! Setelah sempat jatuh dan terpuruk selama tiga tahun, beliau pun bangkit!”


Bobby rasanya mau pingsan. Seakan-akan ruh di tubuhnya mau melayang di udara. Tidak salah lagi. Dialah orangnya!


Martin tersenyum bangga dan berkata semangat, “Selamat datang CEO Nano-ID, Stefan Raden Kusuma!”


Semua orang berdiri, semuanya, kecuali Bobby Sanjaya.


Bobby mengeras badannya dan perlahan kepalanya menunduk.


Semua orang bertepuk tangan. Semua orang menyambutnya dengan sangat bahagia dan antusias.


Stefan pun berjalan santai dan tegap, naik ke atas panggung, lalu menggeser posisi Martin dari podium kehormatan.


Setelah mengucapkan salam dan menyapa tamu undangan, Stefan pun menyampaikan beberapa patah kalimat.


Saat ini, Stefan sangat berkharisma dan tidak terlihat arogan. Dia tetap Stefan yang dingin dan santai. 


Stefan tersenyum, lalu berkata, “Sebuah alasan kenapa Sanjaya Group istimewa daripada yang lain. Karena perusahaan tersebut telah membentuk pribadi saya. Saya tidak akan pernah melupakan pengalaman bernilai setelah bekerja di Sanjaya Group meskipun tidak dalam waktu yang lama.”


Kemudian, Stefan memandang Bobby Sanjaya. Jarak mereka hanya terpaut sepuluh meter saja. Saat ini, Stefan juga memandang mantan istrinya, Lionny Fransisca Sanjaya.


Lionny akhirnya tersadar bahwa kemenangan yang diraihnya selama ini bukan serta merta usahanya pribadi atau pun karena nama besar Keluarga Sanjaya, namun, Stefan adalah dalang di balik semuanya.

__ADS_1


“Sebuah kebanggaan tersendiri bisa bertemu dengan Bobby Sanjaya, CEO dari Sanjaya Group!” Stefan bertepuk tangan.


Bagi sebagian orang yang mengenal Keluarga Sanjaya, tentu mereka tahu apa status Stefan di Keluarga Sanjaya. Mereka bahkan tahu bahwa Stefan adalah sosok kesayangan mendiang Kakek Sanjaya dan mantan istri Lionny.


Bobby berusaha mengangkat wajahnya dan melirik Stefan secara perlahan. Bobby membatin, ‘Apa orang itu menantu benalu yang pernah menyusahkanku selama tiga tahun? Apa orang itu menantu sampah yang dulu sering aku hina?’


Ya, dia adalah Stefan yang dulu sering dihina dan dipermalukan! Ya, dia adalah Stefan sang menantu yang terbuang!


“Bisakah Tuan Bobby Sanjaya berdiri di samping saya, lalu memberikan beberapa kalimat tentang kerjasama antara Sanjaya Techno dan Nano-ID? Saya juga ingin mendengar komentar dari Bobby Sanjaya langsung tentang saya dan Nano-ID.”


Badan Bobby merinding seperti mendengar gledek. Wajahnya pucat pasi. Lionny menyenggolnya supaya segera naik ke atas panggung.


Bobby memutar kepalanya ke kiri dan kekanan. Semua orang memandanginya dengan ekspresi yang berbeda-beda. Bobby makin kikuk.


Stefan tersenyum renyah, lalu berkata ramah, “Tuan Bobby Sanjaya sangat antusias pada hari ini. Lihatlah, wajah beliau sangat berseri dan cerah. Para undangan juga tidak sabar menunggu beliau untuk segera berdiri di sini.”


Bobby menyeka keringat dingin di dahinya. Deru napasnya terdengar kasar. Apa Bobby sedang bermimpi? Apa Bobby terkena genjutsu?


Lionny kembali menyenggol tangan ayahnya. Dia kembali memberi isyarat agar ayahnya segera beranjak. Tetapi, badan Bobby mengeras seperti batu satu ton.


Stefan mengedarkan pandangan. “Para hadirin, apa ada di antara kalian yang tidak mengenal sosok Bobby Sanjaya? Pasti kalian mengenal satu-satunya penerus dan ahli waris dari mendiang Kakek Sanjaya ini. Beliau merupakan pemimpin hebat.”


Martin mendekati Bobby sesuai arahan dari Stefan, lalu menggiring Bobby layaknya pria tua renta. Bobby berusaha menyeret kakinya sendiri dan naik ke atas podium.


Saat ini Bobby berdiri menghadap tamu undangan dan persis di sebelahnya ada Stefan yang tengah berdiri. Stefan mendengar helaan napas kasar dari Bobby. Jelas sekali.


Stefan berbisik, “Tenang, Tuan Sanjaya. Silakan apa yang ingin Anda sampaikan mengenai diriku dan Nano-ID! Apa ada yang aneh?”


Bobby melirik Stefan dan tidak berani menatapnya. Lalu, Bobby menguatkan diri dan berusaha memandangi ratusan orang yang tengah duduk rapi di hadapannya.


Bobby mengatur napas beberapa saat, menghilangkan gugup yang menyerang dirinya.

__ADS_1


“B-baiklah......” Bobby terbata.


Stefan berbisik, “Ngomongnya yang jelas!”


__ADS_2