Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
119. Bertemu lagi


__ADS_3

Tuan Stone gelagapan. “Stefan? Kau?” Seketika wajahnya memucat pasi. Bergidik badannya begitu yakin bahwa CEO Nano-ID saat ini yang dilihatnya merupakan pria yang kemarin di taman itu.


Di dalam ruangan hanya ada Tuan Stone, Stefan, Martin, dan Lionny. Sementara Mike berada di luar. Dia sibuk memperhatikan para wanita dan mulai menyeleksi.


Stefan menegakkan bahu, tersenyum, dan berkata ramah, “Silakan duduk, Tuan Stone. Bukankah Anda ke datang ke mari untuk membicarakan soal bisnis? Ayo kita mulai!”


Lionny juga tersenyum ramah seolah-olah kemarin sore tidak terjadi apa-apa. Padahal di hatinya, Lionny sangat benci dengan orang tua tidak tahu diri ini. Jika mencongkel biji mata orang tidak berdosa dan tidak kena hukum pidana, sudah dari tadi dia akan mencocol kedua biji mata Tuan Stone agar segera berhenti memilih-milih wanita yang bakal ditidurinya.


Stefan tidak gegabah dan seolah-olah dia dan Tuan Stone belum pernah bertemu sebelumnya. Stefan menyambut kedatangan Tuan Stone dengan begitu hangat. Sementara Martin hanya bisa menunggu perintah dari Stefan. Jika A, tentu Martin akan bilang A. Martin terlampau percaya terhadap Stefan.


Tuan Stone kaget begitu melihat Martin ada di sini. Melihat ekspresi keanehan tersebut, Martin meresponsnya dengan sebuah senyuman hangat. “Ya, saya Martin CEO Su.Co. Saya adalah bawahannya Tuan Stefan.”


Martin juga bilang pada Tuan Stone bahwa atas ide Stefan lah pertemuan ini bisa diselenggarakan lebih cepat. Maka dari itu Tuan Stone makin ternganga mulutnya. Seberapa berpengaruh Stefan hingga bisa mengatur sedemikian rupa?


Stefan memandang wajah Tuan Stone cukup lama, lalu berkata, “Kami sedikit banyak tahu tentang Anda dan perusahaan Anda. Tapi, kami dari Nano-ID dan Su.Co ingin tahu lebih dalam, dan langsung dari mulut bosnya. Dipersilakan!”


Tuan Stone mengatur napas untuk mengontrol kegelisahan yang mengguncang di dadanya. Saat ini, kalung emas dan semua barang mahal yang melekat di tubuhnya seperti tidak ada arti.


Tuan Stone tahu berita soal gara-gara kebijakan yang dikeluarkan oleh Stefan, ada satu perusahaan besar yang hampir bangkrut, ya Sanjaya Group. Oleh karena itu, kedatangannya ke Jakarta hanya ingin bisa berbisnis dengan orang hebat seperti Stefan.

__ADS_1


Dia kagum ketenaran nama Stefan, tapi lucunya dia tidak mau riset dan stalking tentang siapa sosok Stefan sesungguhnya. Anda saja dia mau meluangkan waktu untuk mencari tahu profil dan wajah Stefan seperti apa, mungkin dia tidak akan salah langkah.


Nano-ID menjadi target besar bagi Tuan Stone untuk menambah pundi-pundi uangnya, karena dia tahu potensi besar yang ada pada perusahaan ini, jadi sebelum investor lain masuk, Tuan Stone bermaksud mencuri start duluan.


Dan untuk Su.Co pun sama. Digadang-gadang start up tersebut juga akan sukses. Jika sudah sukses di dua itu, Tuan Stone akan lebih mudah dalam mengguritakan bisnis investasinya di Jakarta.


Namun, kekonyolannya kemarin telah mengikis semua asa yang telah ditekadkan. Sekarang, bahkan Tuan Stone tidak terbersit ingin menyeleksi sederetan wanita yang punya pesona di dalam gedung kantor Nano-ID.


Tuan Stone mencoba berbicara, “SG9 Enterprise berkantor di Singapura. Kami cukup terkenal sebagai investor yang dipercaya.” Lalu, bla bla bla. Segala macam bentuk bualan layaknya pebisnis ulung pada umumnya. Tuan Stone sangat lihai dalam memainkan kata-kata.


Setelah tenang, dia berusaha untuk membuat Stefan benar-benar lupa dengan peristiwa kemarin. “Kami menjanjikan akan memperbesar Nano-ID dalam banyak segi, seperti pembangunan kantor baru, penyediaan perangkat terbaik, dan penambahan para ahli. Dengan dana besar yang akan diberikan oleh SG9 Enterprise, tentu Nano-ID akan jauh lebih maju dari sekarang.”


Tuan Stone berkata dengan penuh meyakinkan. Perlahan ekspresi di wajahnya berubah. Tadi pucat pasi, sekarang perlahan mulai cerah dan berseri-seri. Dia melanjutkan padahal Stefan belum menyuruh, “Soal keuntungan, saya menjanjikan keuntungan yang besar bagi Nano-ID. Saya tidak akan seperti perusahaan investasi pada umumnya yang selalu mencari untung besar dan mementingkan perusahaan sendiri. Yakinlah, SG9 akan menjadi rekan bisnis yang sangat menguntungkan!”


Jika memang satu investor tengil ini cabut, toh masih banyak investor lain yang mau menyuntikkan dana. Stefan tidak gegabah dalam mengambil sikap. 


Tuan Stone memonyongkan mulutnya, dengan bahasa Indonesia yang pas-pasan, dia kembali berorasi, “SG9 Enteprise menerima ratusan proposal. Banyak perusahaan di Asia yang butuh uang kami. Tapi kami tidak asal-asalan. Kami selektif sangat. Dan untuk perusahaan sebesar Nano-ID, saya rela terbang dari Singapura ke Jakarta cuma untuk bisa mendapatkan tanda tangan Tuan CEO yang sangat terhormat.”


Mendengar omelan sampah itu, Lionny ingin muntah rasanya. Sedari tadi dia melirik wajah Tuan Stone, wajah yang tidak punya akhlak. Lionny masih sabar. Jika dia meluapkan emosinya sekarang, rencana yang dibangun oleh Stefan bisa kacau.

__ADS_1


Stefan masih tidak berekspresi. Dia berkata dingin, “Anda cukup terkenal di Singapura, Tuan Stone. Saya yakin Anda akan segera terkenal di Jakarta.” Stefan mencetak senyum tipis di bibirnya.


Andai Tuan Stone tahu, terkenal seperti apa? Terkenal baik, atau terkenal buruk? Namun, Tuan Stone merasa besar. Dia pikir dia akan aman sekarang setelah memberikan lobian.


“Setidaknya orang satu kantor akan segera mengenal Anda siapa, Tuan Stone.”


Tuan Stone salah tingkah. “Benar, Anda merupakan CEO yang begitu dikagumi. Saya yang untuk kali pertama bertemu saja kagum dengan gaya Anda, Tuan Stefan.”


Stefan sangat tidak terkesan mendengar kebohongan itu. Melihat wajah Tuan Stone, dadanya panas. Stefan tidak mungkin lupa dengan semua penawaran yang diberikannya kemarin. Masih segar dalam ingatan Stefan. 


Sangat keji apa yang dikatakan Tuan Stone kepada Lionny. Bagi Stefan, Lionny adalah harga mati yang harus dijaga kehormatannya. 


Dan untungnya, sekarang orang yang bersangkutan sudah ada di depan mata dan berada di kandang. Stefan tidak mau mengulur waktu terlalu lama dengan pria mesum ini.


Stefan memajukan badannya dan mengambil dua buah berkas. “Satu kontrak Nano-ID dengan nilai dua puluh juta dollar. Satu lagi dengan Su.Co sebesar lima belas juta dollar. Bagaimana, sudah sesuai dengan penawaran?”


Tuan Stone sangat antusias. Wajahnya berbinar seperti bunga. “Mana penanya, Tuan CEO? Segera saya tanda tangan dan uangnya akan segera saya transfer.”


Stefan tersenyum pahit. “Santai dulu, Dave Stone. Jangan terburu-buru. Anda terlalu bersemangat. Masih ada cukup waktu untuk diskusi dan penawaran, bukan? Apa kau ingat dengan kata penawaran ha?” 

__ADS_1


Stefan bangkit dan meremuk-remukkan dua berkas tersebut, lalu melemparkan bola kertas itu pas ke wajah Tuan Stone.


BUK!


__ADS_2