
Sungai Reuss dengan airnya yang jernih bergelombang-gelombang kecil. Terdengar halus suara dari riaknya yang menggoda. Banguna-bangunan eksotis bernuansa Eropa sungguh mempesona.
“Aku ingin mengajakmu berlibur di Sungai Aare, tapi tidak diizinkan oleh ayahku,” keluh Grace dengan raut wajah yang cukup sedih.
“Hari ini pengenalan dan besok aku sudah mulai bekerja, Grace. Jadi mana mungkin ayahmu memberikan izin,” balas Stefan sambil melihat-lihat buku menu.
Sebagai gantinya, Grace mengajak Stefan makan malam di Restaurant Ammos di tepi Sungai Reuss, meskipun rasanya dia tidak puas karena hanya berlibur di Luzern saja.
“Suatu saat, apa kau ingin jalan-jalan samaku menyusuri Swiss?” tawar Grace perlahan membangkitkan senyum di bibir tipisnya.
Stefan mengangguk. “Apa yang tidak buat anak dari seorang CEO?” Stefan mengunggah senyuum tipis.
Stefan memesan Lamb meatballs dan Souvlakia, sementara Grace memesan Moussaka dan Greek salad.
Grace sebenarnya ingin bisa bekerja di Swiss, tapi dilarang oleh ayahnya. Terlebih ketika Stefan diterima, Grace makin kepincut agar bisa bekerja di Swiss, meskipun tidak harus di kantor ayahnya sendiri, toh dia akan melamar di perusahaan lain.
“Aku tidak tahu apa alasan ayahku memberikan larangan tersebut,” ucapnya setelah mengunyah.
“Salah satu cara bersyukur kepada orang tua adalah kita menuruti perintah dan nasihat mereka. Sekarang kau masih punya ayah dan ibu, patuhilah perintah mereka,” saran Stefan peduli.
Grace perlahan kian menunduk. Dia teringat kalau Stefan sudah tidak punya orang tua lagi. “Kau bisa menganggap ayahku layaknya orang tuamu sendiri, Stefan. Lagi pula, Ayah sering menceritakan sosok dirimu.”
Jika Grace mengatakan sejujurnya bahwa dulu ayahnya sempat ingin menjodohkan dirinya dengan Stefan, kira-kira apa tanggapan Stefan, terlebih sekarang Stefan statusnya tidak punya seorang istri? Apa mungkin Stefan akan bersedia menjadi suaminya?
Namun, entah kenapa Grace berat mengatakannya. Tempo lalu Grace bicara sama ayahnya perihal tersebut, tapi ayahnya malah ingin fokus mengurus Stefan sebagai karyawan, bukan menantu, sebab takutnya malah akan mengganggu pekerjaan di kantor.
“Apa yang ayahmu ceritakan tentangku?”
“Prestasi dan kelebihanmu. Ayahku syok mendengar kau pernah menjadi seorang ojol, lalu diperlakukan tidak layak di kantor Sanjaya Sawit.”
“Sebenarnya kau tidak perlu menceritakan semua itu pada ayahmu, Grace.”
__ADS_1
“Kenapa? Kau takut nanti ayahku malah memandangmu jelek? Tidak akan, Stefan,” ungkap grace menatap percaya diri. “Ayahku tetap menilaimu baik.”
\=\=\=>>>0<<<\=\=\=
Tim 7 tengah mengerjakan sebuah project program anti-malware yang dipesan khusus oleh salah satu perusahaan teknologi di Amerika Serikat. Sudah tujuh puluh persen progres pengerjaan. Namun, tim 7 agak kesulitan menyelesaikannya karena ada beberapa kendala yang masih belum bisa teratasi padahal waktu pengerjaannya hanya menyisakan dua minggu lagi.
Theo menggebrak meja cukup kuat. Braak! Lalu dia keluar ruangan sambil berkoar, “Aku ragu sekali pas bergabung dengan tim ini. Seharusnya project ini sudah kelar cukup waktu satu bulan. Tapi sudah masuk minggu ke tujuh masih belum juga kelar.”
Ceklek!
Crrtk!
Alan selaku ketua tim agak berang, “Aku juga menyesal sudah menjadikan anak kecil itu salah satu anggotaku. Kerjaannya hanya mengeluh. Ada kendala sedikit saja, mulai merasa berat, lalu seperti mau putus asa.”
Stephanie masih sibuk di depan layar komputernya. Begitu juga Stefan, meskipun mendengar kegaduhan kecil ini, dia masih fokus. Beda halnya dengan Liam. Pria bertubuh besar itu beranjak dan menatap wajah Alan lekat-lekat.
“Kau pemimpin di sini! Dari kemarin-kemarin kau sudah mendengar keluhannya, seharusnya sebelum dia pergi, kau jeritkan di dekat kupingnya soal ketidaksenanganmu, bukan malah merepet di hadapan kami,” damprat Liam agak emosi.
“Percuma bicara sama anak kecil seperti dia itu. Toh besok-besok dia tidak akan berubah juga,” tepis Alan membela diri.
Liam duduk kembali, kemudian melanjutkan pekerjaannya sampai siang waktu istirahat. Stefan, karena baru masuk kerja, sepertinya dia tidak akan angkat bicara dulu sampai benar-benar mengenali karakter masing-masing orang di ruangan ini dan paham betul permasalahan yang tengah dihadapi.
Seperti halnya junior pada umumnya, sering kali memang mendapat perlakuan tidak begitu mengenakkan, terlebih orang tersebut dianggap seorang maestro atau primadona. Bukan karena diharap-harap, tapi kehadirannya justru akan mengancam keberadaan sebagian orang atau pihak di sekitarnya.
Seperti halnya Stefan. Pria yang dianggap sebagai maestro, jika dia ditempatkan dalam sebuah kotak, penghuni di dalam kotak akan merasa terancam. Alasannya adalah kehadiran Stefan hanya akan menjadi pengganggu dan penghambat saja. Begitulah yang dirasakan oleh Alan terhadap Stefan.
Dalam sebuah momen, ketika di dalam ruangan hanya ada mereka berdua saja, Alan membuka mulutnya dan mengeluarkan gumpalan yang menyesakkan relung jiwanya selama beberapa hari belakangan. Didekatkannya kursinya. Sambil mengangkat kaki Alan mencomel.
“Stefan, aku tahu kalau kau orang yang dibangga-banggakan oleh Pak Arya, terlebih kalian berdua berasal dari negara yang sama, terus satu gedung kantor ini mengenal siapa dirimu, namun, bukan berarti kau bisa berlaku seenaknya. Kau paham maksudku?” Alan membusungkan dadanya.
Stefan menghela napas sebentar. Setelah berdecak heran, dia pun menjawab, “Kau start duluan dan sudah unggul dua putaran. Mustahil bagiku untuk menyusulmu lalu memenangkan perlombaan.”
__ADS_1
Alan menyergah, “Cepat sekali kau paham! Kau tentu bisa memenangkan perlombaan ini jika kau pakai cheat! Bukankah kau ahlinya dalam memanipulasi, mengeksploitasi, lalu memonopoli ha?” ketusnya.
Stefan berdecak lagi sambil menggleng. “Aku akan mengerjakan sesuai dengan apa yang ditugaskan padaku, Alan. Jika tiba-tiba aku yang memenangkan perlombaan, tentu tidak mustahil, bisa saja peserta di depanku tersendat-sendat kehabisan tenaga, atau mungkin kehabisan cara untuk berlari.”
“Sudah aku duga kau ingin mendapatkan posisi di perusahaan ini. Dari awal aku curiga padamu. Bagaimana mungkin kau langsung menjabat segabai senior programmer. Jelas itu hadiah dari Pak Arya.”
“Pak Arya memberi hadiah itu karena beliau tahu kapasitasku.” Tidak ingin diintimidasi, Stefan terpaksa menyerang balik dengan cara agak meninggikan dirinya, sebab dia tahu maksud dari Alan adalah tidak ingin posisi ketua digantikan kepadanya.
“Stefan, apa kau tahu aku telah berhasil menyelesaikan belasan project sebelumnya dalam waktu singkat. Tidak pernah molor sekali pun.”
“Project seperti apa?” tanya Stefan agak menusuk. “Sudah pernah buat program anti-malware?”
Alan terdiam. Sebelumnya dia hanya menyelesaikan pembuatan website dan aplikasi, serta ada satu project game itu pun cuma jadi anggota.
“Dengar kau penjilat!” maki Alan mulai naik darahnya.
Stefan cepat memotong. “Bicara apa kau ha? Apa katamu?” sergah Stefan menyeringai, berusaha membela diri karena tidak terima atas ucapan Alan.
“Sebelum terlalu jauh, aku sudah bisa menebak kalau kau mengincar posisi di perusahaan ini,” seloroh Alan membulatkan matanya.
Ceklek!
Theo mengecap-ngecap, menghabiskan rasa manis di permen karet yang sedang dia kunyah. Sambil membaguskan rambut keritingnya yang memang kusut dia berkata, “Stefan, sudah jam istirahat. Kau perlu asupan agar neuron di kepalamu tetap dalam keadaan stabil. Dan kau juga perlu mendengarkan suara air selama beberapa menit untuk kembali me-refresh jiwamu setelah acara adu mulut barusan. Ayo!”
Sekelebat Stefan melirik Alan, kemudian melencit keluar ruangan berjejer pinggang bersama Theo. Selama berjalan tak henti-hentinya Theo menggunjing Alan.
“Aku dituduhnya penjilat. Belum satu minggu aku di kantor.”
“Justru dia yang penjilat. Tapi kasihan, apa yang dia inginkan sulit tercapai. Kau akan terkejut kalau aku beberkan semuanya.”
Untuk memuaskan hatinya, Theo mengeluarkan unek-unek di kepalanya, lalu memuntahkan semuanya dengan berapi-api. Dia mengatakan bahwa Alan selalu mendekati atasan seperti manager dan direksi untuk mencari muka, padahal tugas yang dia selesaikan biasa-biasa saja.
__ADS_1
Theo melanjutkan, “Dia orangnya sok atur. Ketemu sama aku. Hm, gak bakal sesuai.” Theo mencebik remeh. “Aku ini orangnya cuek minta ampun sama orang yang sok dan ambisius seperti Alan. Tapi, kalau ketemu sama orang enak, humble, baik, seperti kau Stefan, lihatlah aku ini orangnya seperti apa.”
Stefan memutar bolanya alon-alon, lalu menghunjamkan pandangannya tepat ke arah tahi lalat di atas bibir sebelah kanan itu. Tanda bahwa pria itu mulutnya cerewet, dan ... kocak!