Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
45. Tentang Erick


__ADS_3

Erick sedang menggenggam setir dan matanya fokus ke jalan di depan sana. Sesekali dia melirik adik laki-lakinya yang berada di kursi sebelahnya.


“Kau punya pengalaman lima tahun kerja di tambang batu bara, Gerry. Sulit dapat posisi di sana. Mentok di supervisor. Malu-maluin Keluarga Sanjaya saja. Parah nian.” 


Erick menggeleng tak percaya karir adiknya tidak pernah berkembang di salah satu perusahaan batu bara swasta. Kesal, akhirnya dia segera mengambil tindakan.


“Seharusnya dari dulu aku keluar dari sana. Terus masuk ke Sanjaya Group,” keluh Gerry yang sebentar lagi ingin melangsungkan acara pernikahan.


“Bukannya apa, adikku. Kakek Sanjaya memang baik hati, tapi beliau dulu tidak sembarangan juga memberi posisi untuk orang di perusahaannya. Kalau waktu itu kau masuk di Sanjaya Group dan mengecewakan, aku yang kena getahnya.”


“Ya aku tahu Kakak menunggu waktu yang pas. Aku mengerti, Kak.”


“Sekarang, ketika aku sudah menjadi menantu Bobby Sanjaya, semua akan mudah. Nanti bilang sama ayah mertuaku, kau ingin langung diangkat jadi manager. Setelah ini, aku mau mengurus Micky pula. Aku ingin kedua adikku sukses dan mendapat bagian dari harta Sanjaya.”


Alphard hitam itu akhirnya berhenti di halaman kediaman milik Bobby Sanjaya. Erick dan Gerry keluar dari mobil hampir berbarengan. Mereka berdua pun melangkah ke teras.


Bobby, istri dan kedua anaknya, serta Lionny juga sedang berkumpul di rumah di hari minggu ini. Segera Bobby membukakan pintu dan menyuruh menantunya itu masuk.


“Lama tidak berjumpa denganmu, Gerry, tambah gemuk saja badanmu.” Bobby menepuk-nepuk pundak Gerry, begitu hangat dan akrab.


“Dari bandara ke sini tidak macet?” tanya Chyntia Dewi sambil melontarkan senyum simpul. Bulu matanya makin lentik. Walaupun usianya makin tua.


“Tidak macet, Bu. Lumayan sepi jalanan,” balas Erick.


Robert melangkah panjang, dua anak tangga dilangkahinya. Saking semangatnya mengetahui kedatangan iparnya. Beda ketika dia iparan dengan Stefan.


“Micky tidak ke sini?” pekik Robert. Karena seumuran, Robert satu frekuensi dengan Micky. Sama-sama berstatus mahasiswa dan hobi foya-foya.


Erick melambai-lambaikan tangannya ke arah Robert. “Dia belum bisa ke Palembang. Masih sibuk kuliah di Jakarta.”


Robert merengut, bulu matanya layu ke bawah. Dia langsung melemparkan tubuhnya pas di sebelah Erick. Dirangkulnya pinggang Erick dengan akrab. Beda jauh ketika sedang berhadapan dengan Stefan.


“Padahal waktu itu dia sudah bilang kalau akan main ke sini.” Robert mendengus kecewa.


Luchy yang sedari tadi bermalas-malasan di kamar pun girang melompat-lompati anak-anak tangga, turun dengan heboh. Gadis ini suka dengan kepribadian Erick yang gagah dan maskulin. Belum lagi otot lengan dan perut itu. Sungguh menggoda. Beda dengan Stefan si ipar sampah itu.


“Mana cokelatnya?” jerti Luchy masih berjingkat-jingkat seru. Tangannya menadah.

__ADS_1


Erick membuka tas selempangnya, lalu mengeluarkan makanan kesukaan adik iparnya itu. “Tiga. Awas, jangan sampai badanmu jadi tambun!”


Luchy sumringah. “Makasih, Kak Erick.”


Erick dengan fisik, penampilan, sikap, dan cara bicaranya bisa menghipnotis satu orang di rumah. Mertua dan iparnya jatuh hati padanya. Semua suka padanya. Tidak seperti halnya Stefan si sampah.


Lionny? Bagaimana dengan dia? Apa wanita melankolis itu sudah merasa nyaman sepenuhnya menjalani hubungan rumah tangga bersama Erick? Tidak. Lionny hanya bisa mematung di dapur dan menguping pembicaraan mereka.


Tiap kali Lionny membahas soal wasiat dari Kakek Sanjaya untuk Stefan, kedua orang tuanya selalu mengelak, seolah lupa, padahal jelas sekali Lionny ingat kalau Kakek Sanjaya menitipkan bagian untuk Stefan di ayahnya.


Berarti Lionny masih belum bisa melupakan mantan suaminya itu. Bisa jadi kehangatan dan kebahagiaan sekarang ini hanyalah semu atau sandiwara saja. Apalagi, Lionny tahu kabar soal suksesnya Stefan di Swiss.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Setelah berkelakar dan ngobrol santai, Erick pun menyambung ke pembicaraan inti. Status sebagai menantu telah mengikis rasa malunya.


Erick menyeruput tehnya, lalu berkata. “Adikku Gerry. Sudah lima tahun hanya bisa jadi supervisor.”


Mendengar itu, Bobby kaget. Putih matanya membesar. “Bagaimana bisa? Resign dari sana segera!”


“Akan aku hubungi segera Dirut Sanjaya Coal, Pak Arman, di Kalimantan. Tenang saja, Gerry akan langsung jadi manager. Mau jadi manager apa?”


Gerry tersentak dilempar pertanyaan seperti itu. Tinggal pilih? Agak lama Gerry menjawab.


“Gerry ini orang lapangan, Ayah. Dan punya pengalaman di HSE.”


Bobby Sanjaya mengedikkan bahu. Tanpa ada keraguan beliau langsung memberikan keputusan. “Gerry akan jadi Manager HSE di Sanjaya Coal.”


Rencana Erick berhasil. Impiannya perlahan mulai tercapai. Dia ingin sekali agar adiknya suatu saat menjadi dirut seperti dirinya. Dan satu lagi, Micky, setelah lulus kuliah dua tahun lagi, akan dimasukkan di Sanjaya Oil, tentu calon dirut juga.


Dan pada akhirnya sebagian harta kekayaan Sanjaya akan jatuh ke tangannya. Itulah harapan dan cita-citanya.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Terlahir dari keluarga miskin dan menjadi anak sulung dari tiga bersaudara, menjadikan Erick harus memutar otak dan menguatkan otot, supanya ayah dan ibunya yang sakit-sakitan dan tua agar tetap bisa hidup enak.


Siapa Erick sebenarnya?

__ADS_1


Pria yang lahir dan tumbuh di dusun Musi Banyuasin ini menempuh pendidikan formal dari SD hingga SMA di sana. Semenjak kecil Erick terbiasa dengan bekerja keras. Setelah pulang sekolah, dia selalu membantu pekerjaan bapaknya sebagai petani karet.


Satu-satunya mata pencaharian keluarga kecil Erick hanyalah dari penjualan karet. Kebun mereka tidak luas seperti milik orang pada umumnya. Hanya dua hektar saja. Bertahun-tahun Erick dan kedua adiknya makan dan sekolah dari hasil uang karet.


Suatu ketika, harga karet turun drastis. Perekenomian sedang tidak stabil. Orang-orang di sana yang hidup dengan bergantung dari karet terpaksa menjual tanah-tanah dan kebun-kebun mereka agar bisa bertahan hidup.


Padahal saat itu bapaknya Erick sedang butuh banyak uang untuk biaya makan, berobat, bayar sekolah, dan semua kebutuhan. Tidak ada jalan lain, selain dari menjual tanah beserta kebun mereka.


“Dari mana kita akan makan, Pak?” tanya ibunya Erick, mengerang menahan sakit. Napasnya satu-satu karena ada asma.


“Mudah-mudahan Tuhan akan mempermudah urusan kita.” Bapaknya Erick mengelus dada. Penyakit jantungnya kian parah karena waktu bujang sangat hobi merokok.


Erick waktu itu duduk di kelas dua belas SMA. Jika bapaknya tidak mengambil tindakan, Erick jelas akan putus sekolah. Begitu juga dengan kedua adik Erick yang masih SD semua.


Nasib satu keluarga itu berada di ujung tanduk. Harta tersisa hanya rumah dengan isinya yang tidak lengkap serta sedikit perabot yang tidak mewah. Erick si remaja, sudah dewasa lebih cepat karena paham pahitnya hidup.


Sanjaya Group satu-satunya yang mau membeli semua lahan di sana. Termasuk membeli tanah milik bapaknya Erick. Perusahaan rela menanggung rugi sebentar, karena tahu krisis pasti akan berakhir nantinya.


Waktu itu Kakek Sanjaya yang masih cukup gagah ingin melebarkan gurita bisnisnya di sektor karet. Beliau mengakuisisi pabrik karet yang hampir bangkrut karena tidak tahan menghadapi krisis.


Dibangunlah PT. Sanjaya Karet di Musi Banyuasin dengan memperbaiki pabrik tadi serta memperluas lahannya.


Namun, begitu pihak Sanjaya Karet telah mengamankan lokasi yang telah menjadi milik mereka, tiba-tiba seorang remaja menangis sambil mengusir semua orang yang tengah berada di kebunnya.


“Lari kalian dari sini! Ini tempat kami!” jeritnya sambil menyeka bulir air matanya.


Bapaknya memeluknya dari belakang dan terus menariknya. “Bapak sudah menjualnya, Nak. Ini bukan milik kita lagi.”


Kakek Sanjaya yang ada di lokasi terheran-heran melihat remaja itu. Beliau mendekatinya dan langsung merengkuhnya erat. “Sabar. Siapa namamu?” 


“Erick,” balasnya sesenggukan. Matanya merah dan tak henti lagi mengeluarkan air.


Saat itu juga Erick langsung menjadi cucu angkatnya Kakek Sanjaya. Beliau berjanji akan menyekolahkan Erick sampai sarjana agar kelak bisa menghidupi orang tua dan kedua adiknya.


Sementara bapaknya Erick dipekerjakan di pabrik biar ada pendapatan. Dua adik Erick dijanjikan akan selesai sampai SMA.


Selesai bergelar sarjana, Erick langsung menjabat sebagai manager di Sanjaya Karet. Kurang dari sepuluh tahun langsung menjabat sebagai direktur utama perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2