Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
76. Taruhan


__ADS_3

Ryan syok. “Dasar kau pria hilang ingatan!” maki Ryan tapi ada sunggingan halus di salah satu sudut bibirnya. Jika baru kenal dengan Ryan, orang pasti akan menilai bahwa Ryan serius, tapi nyatanya Ryan ngomong barusan ada kesan bercandanya. Tetap diingat, sebuah candaan yang kering.


Stefan berkata dengan sangat kalem, seperti pria sigma pada umumnya. “Jangan pernah meremehkan omongan orang yang hilang ingatan! Apa kau lupa dengan kasus Robert?” sentak Stefan.


Dan Ryan pun tersentak. Tapi, baginya, semua terjadi lantaran kebetulan semata. “Kau hanya menebak-nebak, Stefan. Jika kau masih mempercayai hal seperti itu, berarti kau bisa terjatuh dalam kesyirikan. Dukun peramal sama seperti babi!”


Stefan menyeruput cappucinonya, lalu membalas santai, “Aku mendapat cukup banyak pelajaran mengenai logika darimu. Dan aku bicara kepada Robert dan kepadamu dengan menggunakan logika kepalaku. Aku bukan peramal. Bahkan, aku pun tidak mengeluarkan asumsi ataupun prediksi. Semua nyata!”


Ryan menghembuskan asap rokoknya cepat-cepat. “Asli, bisa gila aku lama-lama berteman sama kau. Jika bukan karena kasihan, aku tidak akan pernah berteman denganmu, Stefan. Tidak ada faedah yang bisa aku ambil dari hidupmu yang sangat menyedihkan. Jadi tukang sapu saja kau tidak bisa lama. Mengherankan.”


Tiba-tiba, tidak jauh dari tempat duduk mereka, ada lima orang anak kuliahan yang sedang membicarakan sesuatu yang cukup penting. Mereka membahas soal software terkenal dan agak mahal, tapi tidak bisa berfungsi banyak.


Seorang pria berkata, “SigmaX-mu itu masih versi lama 0.4.”


Yang lain berkomentar, “Oh, wajar ponselmu terserang malware yang sedang viral saat ini.”


Obrolan mereka terhenti dan masing-masing mereka telah sibuk sendiri dengan game dan media sosial.


Stefan malah penasaran. Malware apa?


Kemudian, Stefan membalik badannya dan bertanya, “Maaf, tadi di antara kalian ada yang bahas Sigma-X. Apa software itu bermasalah?”


Belum mereka menjawab, tiba-tiba Ryan menyerobot, “Stefan, jangan pernah permalukan aku di sini. Bahasan mereka terlalu tinggi. Kau tidak akan pernah mampu memahami urusan mereka. Otakmu yang tingal sepersepuluh itu tidak akan mampu mencerna omongan mereka.” Ryan menepuk jidat, lalu menyembunyikan dirinya. Dia langsung sibuk main HP dan merokok.


Salah seorang dari mereka menjawab, “Banyak modusnya. Ada berupa informasi pengiriman paket, link berhadiah, undangan elektronik. Jika kita meng-klik-nya, hacker akan mudah menguasai gawai kita.”

__ADS_1


Ryan mendengus jengkel, “Hei kalian! Jangan ajak ngomong temanku. Dia pernah kecelakaaan dan mengalami gegar otak parah. Jika kalian masih mengajaknya bicara, kalian akan tertular gila.”


Para remaja yang beranjak dewasa itu tak menggubris omongan Ryan. Sempat mereka memperhatikan Stefan dan tidak ada yang aneh. Stefan tampak sehat dan gagah. Dari mana gilanya?


Seorang dari mereka berkata, “Antivirus SigmaX sepertinya belum upgrade. Apa mungkin aku yang belum update ke versi 0.7. Entahlah.”


Stefan berdiri dan bertanya, “Siapa di antara kalian yang memakai software serba bisa itu di gawai kalian?”


Mereka berlima serempak menjawab, “Iya”.


Ryan berdiri dan menggamit pundak Stefan. “Ayo duduk lagi! Kau mengerti apa itu malware?”


Stefan duduk dan tersenyum simpul. “Jika aku paham, sepertinya kau jauh lebih paham, temanku.”


Stefan mengangkat cangkir kopinya lagi. “Betul. Diam adalah emas. Jika bicara terang-terangan, emas bisa meledak, dan ledakanya bisa menghancurkan gendang telingamu!” sindir Stefan.


“Aku harap kau masih minum obat, lalu segera mencari kesibukan. Mencari barang bekas sepertinya sedikit lebih mudah daripada menyapu. Jika kau mau, akan aku kasih modal. Gerobak dan karung, tidak lebih dari satu juta modalnya.”


Stefan melipat tangan di dada. Dia berkata dingin, “Kabarnya, CEO Nano-ID orangnya kalem dan tegas. Beliau tidak suka tampil garang. Dia bukan pria alpha sepertimu yang selalu tampil dominan. Kau pria alpha, Ryan, membuka diri dengan percaya diri. Tapi, kau kalah ambisius dari CEO. Jika beliau punya keinginan, harus sekuat tenaga tercapai.”


“Imajinasimu terlalu tinggi, Stefan! Aku sebagai supervisor Nano-ID saja tidak mengenal karakter CEO seperti apa. Dengar-dengar, dia rendah hati dan suka naik ojek online kalau ke mana-mana.”


Lalu, Ryan terus menggali ingatan-ingatan di dalam kepalanya, mengingat omongan Martin, David, dan Grace. Dia menatap Stefan sangat lama, sampai lupa mengisap rokoknya.


Stefan menatap heran dan berkata, “Kenapa kau? Apa ada yang salah dengan wajahku?”

__ADS_1


Ryan membuang pandangannya dan menggeleng cepat. “Ah. Tidak. Tidak mungkin kau orangnya, Stefan!” tepis Ryan dengan nada tidak percaya. “Sekilas apa yang disampaikan para atasanku, CEO ada kemiripan denganmu dari segi watak dan kebiasaan. Hampir-hampir. Dunia ini akan menjadi sangat lucu kalau kau CEO-nya. HA-HA.”


“Dunia akan tertawa? Ya, dunia akan menertawaimu!” serah Stefan.


Malam ini Ryan sangat hepi, bukan hanya karena merayakan kemenangannya di kantor dan luapan perasaannya terhadap Grace, melainkan dia sangat senang lantaran bisa menikmati lelucon bersama Stefan.


Lawakan kering ini baginya pribadi begitu menghibur dirinya. Meski orang akan berpikir bahwa Ryan ‘garing’, ke-narsis-an-nya sudah mengikis semua persepsi manusia. Ryan tipe pria pamer yang tidak suka menggubris komentar orang lain, kendatipun yang berkomentar tersebut adalah orang yang berada di atasnya.


Teguh pendirian dan komitmen dengan prinsip merupakan sebuah kepastian bagi Ryan. Namun, dia menempatkan dua sisi dalam kotak yang salah. Kotak itu adalah kepalanya yang keras dan besar. Lagi-lagi Ryan salah dalam mengambil sudut pandang berpikir dan bersikap.


Ketika hari makin malam, mereka segera ingin pulang. Ryan berkata, “Sori tidak bisa menemanimu berlama-lama. Aku mau tidur karena takut besok akan kesiangan. Dan kau pun ingin tidur karena besok takut kesiangan, bukan bekerja, tapi takut kesiangan menganggur. Pesanlah ojol-mu! Siapa tahu dengan mengikuti kebiasaan CEO, kau bisa menjadi CEO!”


Stefan menepuk-nepuk pundak Ryan, lalu berkata dingin, “Semoga saja. Jika aku menjadi CEO, kau ingin menjadi apa?”


Ryan makin congkak. “Jika kau menjadi CEO, di mana saja, bahkan CEO di toko kelontong pun, maka aku akan .....”


Stefan langsung memotong, “Bagaimana kalau kau menjadi OB di Nano-ID selama satu tahun lagi?”


Ryan berkacak pinggang dan membalas dengan nada pasti, “Aku akan menjadi OB di Nano-ID selama lima tahun lagi. Benamkan baik-baik omonganku dalam kepala gegar otakmu!”


Mereka berdua bersalaman layaknya pria sejati.


“Tapi, bagaimana jika aku tidak menjadi CEO selama beberapa tahun ke depan?”


Ryan Vikes berkata tegas, “Kau tidak akan pernah menjadi pimpinan perusahaan mana pun selama seribu tahun ke depan!”

__ADS_1


__ADS_2