Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
37. Acara Meriah


__ADS_3

Sebuah pesta pernikahan berlangsung sangat meriah di Yesvotel. Lebih dari lima ratus tamu undangan hadir pada acara minggu siang hari ini. Turut dihadiri pejabat pemerintahan, pengusaha terkenal, tokoh publik dan artis daerah. 


Erick dengan setelan jas hitam sungguh berkharisma nian, sementara Lionny dengan gaun putih melilit tubuhnya tampak anggun dan menawan sekali. Para tamu undangan terpukau tatkala melihat mereka berdua duduk berdampingan dengan mesra.


Kiri kanan mereka ada orang tua masing-masing. Tepat di belakang mereka semua terdapat pelaminan khas Palembang Melayu dengan corak ukiran melati berwarna emas. Motif songket yang menggelayut di sekitar panggung menambah nuansa melayunya.


“Tentu kau bahagia dengan semua apa yang aku berikan saat ini, istriku,” ujar Erick tersenyum bahagia.


Lionny menjawabnya cuma dengan senyuman tipis. Tiba-tiba dia teringat dengan acara pernikahannya dulu bersama Stefan yang hanya dilangsungkan di depan kediaman ayahnya, tidak begitu mewah, tidak seperti acara sekarang yang begitu gegap gempita.


Jika dulu bersama Stefan hanya berada di bawah tenda, sekarang bersama Erick berada dalam gedung.  Dan jika dulu sajian makannya hanya dari catering biasa, sekarang semua santapannya disajikan oleh chef andal. Tentu semua karena kemauan keras dari Bobby Sanjaya semata.


Erick meluaskan pandangannya ke arah tamu undangan, lalu bicara pada istrinya, “Aku tidak pernah melihat ayahmu sebahagia ini dimulai dari acara pernikahan kau bersama Stefan. Setelah hubungan kalian berlalu dan kau menikah denganku, barulah ayahmu seperti habis keluar dari jeruji besi.”


Lionny mencuri pandang ayahnya dan benar, ayahnya tampak bahagia sekali. Senyumnya lebar dan matanya berbinar-binar. Sesekali ayahnya melambaikan tangan dan menyapa tamu di bawah sana. Begitu pun ibunya, sumringah tak terkira.


Saat sudah masuk di pengujung acara dan selesai santap siang, berbondong-bondong tamu undangan bergerak maju naik ke atas panggung untuk menyalami pengantin.  Satu per satu tamu undangan bersalaman dengan Erick dan Lionny.


“Terima kasih,” ucap Lionny dan Erick berbarengan sambil tersenyum.


“Selamat yah.”


“Semoga cepat diberikan anak.”


“Bahagia selalu.”


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=

__ADS_1


Keesokan harinya Erick dan Lionny langsung menempati sebuah rumah mewah bertingkat dua pemberian dari Bobby Sanjaya.


Kilas balik. Rumah yang masih berada di kawasan Bukit Kecil ini merupakan rumah pemberian Kakek Sanjaya untuk Stefan dan Lionny. Karena Stefan ingin berangkat ke Swiss dan malah mendapat musibah, rumah ini diurus oleh Bobby Sanjaya, dan menganggap bahwa Stefan tidak layak mendapatkannya.


Masih banyak hal yang belum dibuka oleh Bobby Sanjaya. Sebab, jika dibeberkan semuanya, beliau dan anak keturunannya akan berkurang bagiannya karena kehadiran Stefan. Maka dari itu apa pun akan dilakukan oleh Bobby Sanjaya untuk menjaga keutuhan hartanya.


“Bawa masuk terus, Mas!” perintah Erick pada orang-orang yang tengah mengangkut barang-barang belanjaannya, seperti tv led, kulkas, mesin cuci dan barang elektronik lainnya.


Erick menuntun mereka ke titik-titik tempat diletakkannya barang-barang tersebut satu per satu. Tidak lama kemudian satu truk besar masuk ke halaman rumah, lalu menurunkan kursi dan meja ukiran khas Palembang dengan warna kuning emas dan merah tua.


“Maju sedikit, terus! Ok!” Erick keluar rumah lagi, terus memberikan arahan kepada para kuli panggul untuk menyusun semuanya dengan rapi. Sore hari baru kelar, itu pun baru sebagian, masih banyak barang-barang yang harus diisi.


“Istirahat dulu, suamiku,” saran Lionny sambil duduk pas di sebelahnya.


“Buatkan aku minuman, Sayang. Haus sekali.” Erick yang tengah tersandar di sofa terengah-engah napasnya. Bulir keringat menyembul di sekujur kening dan lehernya.


Pria hitam manis itu mendongak dan melihat lampu kaca di langit-langit seperti berlian. Lalu dia tersenyum-senyum sendiri. Sebuah senyum tipis pengungkapan rasa puas di relung jiwanya. Akhirnya impiannya tercapai untuk menjadi bagian dari Keluarga Sanjaya.


Meskipun rencana ini sempat urung bahkan sempat pula menikah dengan seorang wanita beberapa tahun lalu bercerai, Erick merasa telah lepas dari hambatan-hambatan tersebut, dan sekarang telah berhasil mewujudkan impiannya.


Jika sudah menjadi bagian dari Keluarga Sanjaya, hidupnya tidak akan sengsara dikarenakan akan bukan sekedar mendapat percikan, melainkan tumpahan deras harta yang begitu banyak melimpah. Erick sekarang menjadi kaya raya.


Apa lagi yang diharapkan untuk menikahi anak orang kaya selain harta dan nama besar? Duit dapat, pamor dapat. Semenjak menjadi bagian dari Keluarga Sanjaya, Erick semakin dihormati di kantornya PT Sanjaya Karet.


“Aku buatkan jus jeruk,” tutur Lionny sambil meletakkan gelasnya di atas meja. “Bilang kalau ada yang kurang pas.”


Erick buru-buru meraih gelasnya, lalu mencicipinya, “Hm, seperti buatan restoran. Enak sekali, Sayang.” Erick lalu meneguknya sampai setengah gelas. “Aku mau tanya sama kau, Sayang. Kau tentu sudah berhubungan badan dengan mantan suamimu. Kenapa masih belum punya anak? Apa dia mandul?”

__ADS_1


Perlahan Lionny menatap mata cokelat itu. Menggeleng pelan, lalu menjawab lirih, “Aku tidak tahu. Karena selama pernikahan kami belum pernah memeriksanya ke dokter.”


Erick tersentak. Bisa jadi malah Lionny yang mandul, batin Erick. “Aku yakin dia yang mandul.”


“Tidak bisa juga menerka-nerka seperti itu, Erick. Banyak orang yang lama menikah, bahkan ada yang enam tahun, baru dikasih anak,” Lionny mengelak dan tetap membela Stefan.


Erick menghembuskan napas kasar sambil menghempaskan punggunya ke sofa lagi. “Yang penting kau belum mengandung anak darinya. Kalau sudah, bisa berabe urusannya.”


Tentu maksud Erick jelas kalau keturunan Stefan hanya akan menambah daftar penerima waris harta mendiang Kakek Sanjaya.


Selama beberapa hari ini mereka berdua sibuk membersihkan dan merapikan seisi rumah. Setelah ini mereka akan menyiapkan satu orang pembantu dan sopir untuk membantu tugas-tugas mereka.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Beberapa kali suara petir menggelegar. Hujan turun dengan derasnya, membasahi kawasan di sekitar Bukit Kecil, karena termasuk wilayah yang agak tinggi, di sini jarang banjir. Pemerintah Kolonial Belanda dulu memang cerdik dalam pemilihan lokasi buat hunian mereka di eranya. Bukti kuat adalah di sekitar sini rumah-rumahnya arsitekturnya bernuansa Eropa.


“Stefan tinggal di Swiss dan bekerja di perusahaan yang dipimpin oleh bapaknya Grace, mantan sekretarisku. Apa kita tidak sepatutnya curiga bahwa mereka benar-benar ada hubungan istimewa?” kecam Bobby Sanjaya mulai naik lagi darahnya.


Seperti biasa, Chyntia Dewi sibuk mengutak-atik benda pipih banyak fitur itu, lalu berusaha membalas omongan suaminya. “Karena tidak punya siapa-siapa, jadi dia harus kuat dalam menjalani kehidupan ini. Tidak berhasil di lobang ini, dia akan mencari lobang yang lain. Dia mendekati Grace pasti ada maksud,” gunjingnya sambil memampang wajah curiga.


“Tepat nian. Kalau aku tidak bertindak, kasihan anak-anak kita. Aku sebagai kepala rumah tangga saja kualahan meladinya, apalagi anak-anak kita. Tapi, untungnya sekarang dia sudah jauh,” repet Bobby Sanjaya mata yang berapi-api.


“Dia mau sukses atau tidak di sana, terserah, yang penting tidak lagi mengusik hidup kita,” tukas Chyntia mencebik.


GARR!!


Bukan sebuah gedoran di pintu kamar Stefan, tapi suara petir menggelegar.

__ADS_1


__ADS_2