
Aku turun bersama suamiku.Dia menggandeng tanganku begitu erat.
Di meja makan sudah ada ibu, ayah, Deni dan juga Fitri.
"Sayang..duduklah di sini"Zen menarik kursi yang di depan ibunya.
Ayah memang menyisakan dua tempat duduk di dekatnya.Yang satu memang tempat duduk Zen,dan yang satu tempat duduk untuk menantunya.
"Iya sayang.."ucapku.
"Ih ..sok sayang sayangan.Karena kakak gue kaya kalee...jadi disayang sayang"ucap Fitri.
"Jangan berbicara ketika mau makan"ucap ayah.
Zen merasa tak nyaman dengan ucapan adeknya pada istrinya.Sebenarnya dia sudah mau memarahi adiknya, sayangnya ayah mendahuluinya berkata-kata.
Ayah pun berbicara seperti itu karena dia paham,pasti anak lelakinya itu akan marah pada adeknya,makanya dia mendahuluinya.Ayah tak mau suasana pagi itu menjadi tidak nyaman.
Aku mengambilkan nasi untuk suamiku.
"Sayang mau lauk apa"ucapku
"Ambilkan semua sudah sayang.Aku lagi selera makan hari ini."
Aku memasukkan lauk ke piring suamiku.
Deni melirikku, dia mengambil makanannya sendiri..
"Enaknya kalau punya istri seperti istri kak Zen",ucapku dalam hati.
"Apa kamu mau saya ambilkan juga Den"
"Boleh kak"ucap Deni.
",Gak usah Cinta,di sini tugasku hanya melayani ku.Biarkan Deni dilayani istrinya.Fit, ambilkan suamimu makanannya!"perintah Zen.
"Biarkan saja dia mengambil sendiri makanannya kak.Dia sudah terbiasa seperti itu'ucap Fitri
"Jangan biasakan seperti itu Fit,sudah menjadi kewajiban kita untuk melayani suami."ucapku.
"Apa kamu perempuan miskin.Jangan mentang mentang kamu sudah menikah dengan kakakku,lalu kau mengatur atur aku.Rumah tanggaku tanggung jawabku"ucap Fitri.
"Kurang ajar kamu Fitri pada kakak iparmu"ucap Zen.
Aku segera berdiri menenangkan suamiku yang sepertinya sudah mendidih.Aku memegang bahunya dan menyuruhnya duduk
"Sudahlah sayang...ayo kita duduk dan makan dengan tenang.Biarkan dia berbuat seperti itu"
"Tapi dia menghinamu istriku"
"Sudah.. biarkan saja.Ayo kita makan, keburu telat nanti berangkat kerja."
Zen menurut pada Cinta.
"Minumlah dulu sayang,agar kamu lebih tenang."ucapku
Ayah diam saja melihat itu semua.Bukan di tak mau bertindak,hanya saja ayah tak suka ribut di meja makan.Sedangkan ibu hanya tersenyum melihatku diperlakukan seperti itu.Aku sadar diri dan paham dengan sikap ibu yang seperti itu.
__ADS_1
Setelah minum dan bisa tenang, suamiku mulai makan dengan lahap.
Semua makan dengan lahap,tak terkecuali ibu.Apa yang aku masak tadi adalah masakan favorit keluarga suamiku.
Setelah semua selesai makan, aku merapikan meja makan dan membantu bi Imah.
"Sayang..duduklah saja, biarkan bi Imah yang membereskannya."ucap suamiku.
"Tidak apa apa sayang...aku senang kok melakukan ini semua."
"Tapi jangan kerja berat berat ya sayang...",ucap Zen.
"Iya sayang..."
Kamu berdua membereskan meja makan.Ketika di dapur aku mendengar percakapan di meja makan.
"Bik Imah.. tumben bikin masakan favorit kami.Sudah lama kami tidak makan seenak ini",ucap ibu.
"Non Cinta yang memasaknya nyonya."
Ibu merasa kecewa karena menantu miskinnya yang memasak.
"Kalau tahu dia yang memasak, aku tidak akan memakannya"
"Kalau begitu muntahkan saja di kamar mandi", ucap ayah dengan santai.
",Ayah tidak pernah mendukungku"ucap ibu sambil meninggalkan meja makan.
Aku berjalan ke meja makan dan merasa seolah olah tidak tahu apa yang barusan terjadi.
"Istriku ini memang perhatian sekali.Aku tak salah memilih kamu sayang"ucap Zen sambil mencubit hidungku.
"Mulai deh romantis romantisannya"ucap Fitri sambil pergi dari meja makan.
"Kak Cinta pandai memasak ya.... Sepertinya kak Cinta wanita paket lengkap deh.Andai saja istriku seperti istri kak Zen."ucap Deni.
"Hei.. jangan macem-macem Den,dia istriku."
"Aku cuma memujinya kak.Masak tidak boleh"ucap Deni.
Tapi Zen menangkap gelagat lain pada diri Deni.
"Sayang.. ambilkan tas kerjaku"ucap Zen.
"Aku sudah mengambilnya barusan sayang..."ucapku sambil menyerahkan tas kerja suamiku.
"Hati hati di jalan ya sayang... semoga lancar kerjanya hari ini"ucapku sambil mencium tangannya.
Aku mengantarnya sampai ke pintu depan.Dia mencium keningku.
"Iya sayangku...aku pergi dulu ya...hati hati di rumah"ucap Zen.
",Den...ayo segera kita berangkat"ucap Fitri pada suaminya.
Sungguh pemandangan yang berbanding terbalik dengan Zen dan Cinta.
Deni segera mengambil tas kerjanya dan berangkat bersama istrinya.
__ADS_1
Deni bukan orang kaya seperti Fitri.Dia berasal dari orang yang biasa biasa saja.Makanya dia memperlakukan Deni seenak hatinya.
*Flash back off
Deni adalah teman sekolah Fitri sejak SMA.Sejak masuk SMA Fitri sudah menyukainya namun Deni biasa saja padanya.Mereka masuk ke universitas yang sama.Fitri masuk ke universitas yang sama karena ingin mengejar Deni.Sampai kejadian setelah wisuda kelulusan itu terjadi.Deni dan Fitri satu jurusan dan satu kelas.Setelah semua wisuda,para mahasiswa berencana merayakan kelulusannya.
Mereka berpesta di sebuah cafe.Di situlah Fitri menjebak Deni.
"Eh ..Satria.Deni sudah datang belum" ucap Fitri.
"Itu dia cintamu "
"Hallo sayang...",ucap Fitri menggandeng tangan Deni.
"Jangan seperti ini Fit,malu di lihat orang"ucap Den sambil menepis tangan Fitri..
"Aku tidak malu kok,bukankah kamu tau Den,sejak SMA aku sudah mencintaimu."
"Apa maksudmu Fit?"
Deni membawa Fitri ke pojok cafe.
"Den, sebenarnya sejak SMA aku sudah mencintaimu.Aku masuk ke universitas ini pun karena aku ingin mengejarmu"
"Fitri.. dengarkan.Aku hanya menganggapmu teman.Aku tak pernah punya perasaan padamu.Carilah lelaki yang sebanding denganmu.Aku hanya orang miskin Fit"ucap Deni sambil pergi ke teman-temannya yang sudah banyak berkumpul.
"Aku tidak peduli Den,hari ini aku harus mendapatkanmu"ucap Fitri.
Fitri berkumpul dengan teman-temannya yang lain.
Dia memanggil Satria.
"Sat,aku butuh bantuanmu"ucap Fitri.
Fitri membisikkan sesuatu ke telinga Satria.
"Apa yang aku dapatkan darimu"ucap Satria.
"Aku akan memberimu uang yang banyak"
"Aku tak butuh uangmu sayang...aku mau tubuhmu.Aku tak pernah merasakan bagaimana berhubungan dengan seorang perawan."ucap Satria sambil memutari Fitri.
"Tidak adakah keinginanmu yang lain.Aku akan memberi apapun yang kamu minta, tapi jangan tidur denganku."
"Ya sudah kalau begitu, silahkan jalankan rencanamu sendiri"
"Ba..baiklah...Sat,aku akan memberikan milikku untukmu demi mendapatkan Deni"
",Siippp..oke kalau begitu.Deal!"Mereka bersalaman.
Fitri sudah tidak peduli dengan dirinya, yang dia pikirkan hanya mendapatkan Deni bagaimanapun caranya.
Satria memang menyukai Fitri, tapi Fitri tak pernah mau dengan Satria.
"Tidak apa apa kamu tidak mau denganku,asalkan aku bisa dapat perawanmu,hahaha"ucap Satria.
To Be Continue
__ADS_1