Menantu Yang Tak Diinginkan

Menantu Yang Tak Diinginkan
#Bab 70 : Rahasia Kecil Fitri


__ADS_3

Pulang dari periksa kami tidak segera pulang.Zen mengajakku untuk jalan-jalan ke mall.


Di kejauhan aku melihat seorang wanita yang sepertinya aku kenal sedang berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam mall.


Aku memperhatikan mereka berdua dengan seksama.


"Fitri..."aku segera menutup mulutku.


"Ada apa sayang...."tanya Zen.


"Tidak ada apa-apa sayang, sepertinya aku tadi melihat seseorang yang aku kenal.Tapi mungkin saja aku salah.Ayo kita masuk"ucapku.


Zen menggandeng tanganku masuk ke mall.


"Kita mau kemana sayang"tanyaku.


"Makan dulu ya,aku sudah lapar"


"Oke sayangku"aku berjalan di samping suamiku.


Kami masuk ke resto yang ada di dalam mall.


"Sayang..mau makan apa"


"Soto ayam dan jus alpukat"


"Oke,aku akan memesannya"


Zen berdiri dan memesan makanan.


Aku melihat Fitri di lantai bawah sedang memilih milih baju dengan seorang laki-laki.


"Sepertinya itu bukan Deni"Cinta melihat dengan lebih seksama lagi.


"Iya,dia bukan Deni, sedang bersama siapa si Fitri itu"


Fitri tertawa -tawa dengan lelaki itu, bahkan sampai bergandengan tangan mesra.


"Sepertinya Fitri bersama laki-laki lain "


"Ada apa sayang, kamu sedang memperhatikan apa"


"Oh..aku melihat baju-baju di sana bagus-bagus "


Aku menyembunyikan apa yang aku lihat pada Zen.


"Kamu mau membelinya tah?"


"Tidak,aku hanya senang saja melihat baju warna warni berjejeran"aku berbohong pada suamiku.


"Benar tidak mau membelinya"


", Tidak sayang "


"Ya sudah kalau begitu.Sayang..kamu mengabari ibumu kalau kamu hamil.?"


"Sudah,ibu bahagia sekali akan punya cucu"


", Seharusnya begitulah seorang nenek, tidak seperti ibuku"Zen menunduk sedih.


"Sudahlah sayang,aku tidak apa-apa kok,dedek bayi pasti sudah bahagia mendapatkan kasih sayang orangtuanya.Kita akan memberikan banyak cinta dan kasih sayang untuknya"aku memegang tangan suamiku untuk menguatkan dirinya.


"Cup.."aku menciumnya agar dia tak sedih lagi.


"Ini tempat umum sayang"


"Terus kenapa, bukankah kamu suamiku,mau aku apain aja halal kan .."


"Kamu memang bikin aku gemas"Zen mencubit hidungku.


Usahaku tak sia-sia untuk membuat suamiku kembali terhibur.


"Tuan, nyonya,ini pesanan anda "ucap waiters.


"Terima kasih mbak "ucapku


"Sama-sama nyonya"


Kami mulai memakan makanan kami.


Ada seseorang yang memperhatikan kami berdua dari jauh.


"Ibu,itu bukan cinta kah"

__ADS_1


"Mana Ris?"


"Itu bu?Sedang makan bersama Zen"


Ibu melihat kesana kemari dan matanya tertuju pada wanita hamil dan seorang anak muda sedang makan.


"Apa benar itu Cinta dan Zen"


"Iya bu, sepertinya wanita itu sedang hamil"


"Sepertinya iya.Aku tidak sudi punya keturunan dari wanita miskin seperti dia,aku lebih suka punya keturunan dari wanita terpelajar sepertimu"ucap ibu.


Ibu tidak tahu kalau Riska sudah menikah dengan orang lain.Riska bilang ke ibu kalau dirinya belum menikah.


"Kita samperin ke sana kah bu?"


" Tidak usah,aku punya rencana lain untuknya, lebih baik kita pulang saja",ajak ibu.


Aku dan Zen tidak tahu kalau dua orang itu sedang memperhatikan kami.


Aku terus saja menyantap makanan yang ada di meja.Aku begitu lapar seperti orang yang sudah tidak makan enam hari.


"Sayang... pelan -pelan makannya,nanti keselek"ucap Zen.


Cinta tidak menggubris perkataan Zen, Cinta makan dengan lahapnya.


Zen hanya tersenyum melihat istrinya.


Tak lama aku sudah selesai makan.


"Egh.... Alhamdulillah"Cinta bersendawa.


"Kenyang sayang..?"


"Aku sudah kenyang sayang,ayo kita pulang"


"Kok pulang sayang...kan belum belanja perlengkapan untuk anak kita"


"Kata orang pamali belanja sebelum dekat dengan lahiran"


"Kamu percaya itu"


"Aku percaya itu,ayo kita pulang saja"Cinta menarik tangan Zen untuk pergi


"Tunggu dulu sayang...aku belum bayar"


"Hehe..iya lupa, entar ditagih sama mbak kasirnya"


"Aku kesana dulu ya sayang"


"Iya,aku tunggu di sini saja "


Zen pergi membayar ke kasir.


"Berapa semua mbak "


"Seratus lima puluh ribu pak"


Zen mengeluarkan dua lembar uang ratusan.


"Kembaliannya ambil mbak saja"


"Terima kasih tuan"


Zen pergi dari sana dan kembali ke istrinya.Namun yang dia cari tidak ada di tempatnya.


"Cinta....Cinta....kamu dimana?"Zen berteriak-teriak kebingungan.


"Kemana perginya istriku"Dia berkeliling mencari keberadaan istrinya.


Setiap bertemu orang dia menanyakan istrinya,namun tidak ada orang yang melihatnya.


Di tengah kebingungan dia melihat istrinya dari kejauhan.Zen segera berlari ke arah istrinya dan memeluknya.


"Kamu darimana saja istriku"Zen memeluknya erat sekali.


"Apa yang terjadi"tanya Cinta.


"Akhirnya kamu kutemukan,aku sudah mencarimu kemana mana sayang"Zen tetap memeluk Cinta.


"Aku dari toilet sayang,maaf aku tidak pamit tadi, perutku tiba-tiba sakit,jadi aku langsung mencari toilet."


"Aku kira kamu kemana sayang...Ayo kita pulang,gak usah kemana-mana"ucap Zen khawatir.

__ADS_1


"Orang aku gak kemana-mana sayang,aku cuma ke kamar mandi,kamu sampek segitunya"ujar Cinta santai.


Zen menarik tangan Cinta dengan lembut dan menggandengnya.


"Ayo segera pulang,aku tak mau kamu hilang lagi"


"Padahal aku hanya dari kamar mandi, kenapa dia sampek segitunya"ujar Cinta dalam hati.


Cinta berjalan di samping Zen.


"Ayo masuk sayang "


Cinta masuk ke dalam mobil disusul oleh Zen.


Zen melajukan mobilnya dengan cepat ke rumahnya.


Rupanya Cinta tertidur lelap di dalam mobil.Zen tidak tega untuk membangunkan istrinya.


Dia menggendong Cinta sampai ke dalam rumah.


Sementara di rumah pak Wijaya....


"Ris, apa kamu masih mau bersama Zen "


"Aku mau bu,aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya"


"Ayo kita bekerjasama untuk memisahkan mereka "


"Setuju bu "


Dua orang berotak busuk sudah bersatu.Entah apa yang akan mereka rencanakan untuk Cinta.


"Ehm...ehm...."pak Wijaya berdehem pada mereka.


"Oh... bapak,aku bawa calon menantu kita kemari"


"Memangnya mau kau nikahkan dengan siapa "


'Dengan anak laki-laki kita yang jelas pak, masak dengan bapak"


"Si Zen?"


"Iya.."


"Kamu gila kah bu, Zen itu sudah beristri,kok mau kau nikahkan lagi"


'Aku tidak menginginkan menantu seperti dia,aku ingin menantu seperti Riska"


"Bukankah dulu Riska yang meninggalkan anak kita, bukan anak kita yang tidak mau padanya.Sekarang, Zen sudah menikah,untuk apa kau ganggu rumah tangga mereka.Mereka sudah bahagia dengan keluarga mereka."


Riska duduk bersimpuh di kaki ayah


"Maafkan Riska ayah, Riska janji, Riska tidak akan meninggalkan Zen lagi"


"Maaf Riska,bagiku Cinta adalah menantuku, tidak akan ada yang bisa menggantikannya sampai kapanpun"


"Ayah,aku akan menjadi menantu yang baik,aku akan jadi istri yang baik untuk Zen"dia berpura- pura sedih agar pak Wijaya iba padanya.


"Kemana kau ketika anakku depresi, kemana kau ketika anakku terpuruk..ha..."pak Wijaya berkata dengan nada marah.


Dia ingat ketika anaknya itu mengalami depresi berat hingga mau bunuh diri ketika ditinggal Riska.


"Istrinya yang sekarang,bisa mengembalikan semua kepercayaan dirinya,dia kembali pulih,dia kembali percaya pada yang namanya cinta.Kamu yang sudah menghancurkannya,dan sekarang kamu mau kembali padanya,aku pun tak sudi punya menantu sepertimu.Sekarang kamu pergi dari sini atau aku akan panggilkan satpam"


"Oke ayah,aku akan pergi sekarang juga"Riska segera pergi dari sana.Ibu mengantarnya sampai ke depan.


"Ris, maafkan ayah ya..."


"Tidak apa-apa bu, memang dulu Riska yang salah",tapi ibu tetaplah ibuku"dia melemahkan suaranya sehingga dia kelihatan sangat sedih.


"Sudahlah nak, bagiku kau adalah menantuku, bukan di Cinta"


''Terima kasih bu,aku pergi dulu"


"Hati-hati di jalan Ris"


"Iya bu"


Riska berjalan meninggalkan rumah pak Wijaya dengan sebel.


'Lihat saja nanti, aku pasti akan membuat ayah menyesal dengan sikap ayah padaku...hahaha


Tunggulah pembalasanku ayah..."

__ADS_1


Riska melajukan mobilnya kembali ke rumahnya.


To Be Continue


__ADS_2