Menantu Yang Tak Diinginkan

Menantu Yang Tak Diinginkan
#Bab 54 : Pelaku Sebenarnya


__ADS_3

Zen masih sabar menunggu seseorang yang akan datang.Sebenarnya bukan Robert yang ditunggu,tapi orang lain.


Tak lama terdengar jejak kaki seseorang memasuki rumah itu.


"Darimana Bu"


Ibu terkejut mendengar suara Zen.


"Dari belanja nak"


"Belanja dimana bu?"


"Belanja di mall lah, masak belanja di pasar.Jijik ya..."


Ta jugak lama berselang,Robert datang.


"Bu,duduklah!Ada yang ingin kubicarakan?"


Ibu segera duduk di depan Zen.


"Robert! panggilkan Deni dan istrinya.Suruh mereka ke siniโ€perintah Zen.


"Baik boss"


"Ada apa ini Zen, kenapa kau juga memanggil Deni dan Fitri.?"


"Sssttt....diamlah bu, Jangan banyak omong"Zen meletakkan jari di depan mulutnya,tanda agar ibunya berhenti bicara.


Deni dan Fitri datang dan duduk berkumpul di sana, Robert juga ikut berkumpul di sana.


"Ada apa ini kak?kenapa kamu mengumpulkan kami di sini?" kata Fitri.


"Diam,dan dengarkan kalian semua"ucap Zen dengan serius.


"Tadi siang untung saja aku tidak datang terlambat,kalau saja aku tidak pulang, pasti istriku sudah jadi korban perkosaan"


"Jadi kamu mengumpulkan kami di sini hanya untuk memberitahukan itu pada kami"ucap ibu sambil berdiri mau meninggalkan mereka.


"Berhenti bu"bentak Zen.


"Berani beraninya kamu membentak ibu karena wanita itu"


"Ibu yang membuatku jadi seperti ini"


"Apa maksudmu?"ibu juga ikut meninggikan suaranya.


"Aku tahu apa yang ibu lakukan pada istriku,aku bukan tak tahu bu,aku hanya diam karena aku tahu istriku tidak mau aku melawanmu,tapi ibu sudah keterlaluan pada Cinta"


"Apa maksudmu kak"ucap Fitri.


"Tanya saja pada ibumu?"


"Apa yang terjadi bu?"


Ibu hanya diam tak berkata apa-apa.


"Kenapa kau diam bu,jelaskan semua pada anak perempuanmu ini"


Ibu tetap diam tak berkutik.

__ADS_1


"Karena ibu tak mau mengatakannya,maka aku yang akan mengatakannya.Ibu sudah menyuruh Cinta membersihkan rumput di taman belakang sampai tangannya luka-luka,ibu juga menyuruhnya membersihkan kamar mandi dan mengepel.Itu semua masih bisa kumaafkan, tapi untuk yang satu ini,aku tak bisa memaafkan dirimu bu, ibu sudah sangat keterlaluan."


"Kenapa kau tidak bisa memaafkan ibu kak,apa yang telah diperbuatnya hingga kau tidak bisa memaafkannya"


"Ibu membayar orang untuk memperkosa istriku"


"Apa...? Deni dan Fitri berkata bersamaan.


"Jangan memfitnahku Zen, kenapa kau begitu kejam memfitnah ibumu sendiri hanya karena seorang perempuan"ucap ibunya sedih.


"Tidak usah pura-pura bu,aku berani mengatakan ini semua karena aku mempunyai bukti kalau semua ini adalah rencanamu"


"Kalau kau punya bukti, silahkan tunjukkan buktimu.Aku tidak bersalah Zen"


"Dengarkan rekaman ini ya!"


Zen memperdengarkan rekaman suara si pelaku yang mengatakan dengan jelas siapa orang yang menyuruhnya untuk melakukan aksinya itu.


"Ibu masih mau mengelak setelah mendengar ini"


"Rekaman palsu itu"ucap ibu.


"Untuk apa aku membuat rekaman palsu, atau aku harus mendatangkan orangnya ke sini"ucap Zen.


"Ibu.. benarkah apa yang kudengar itu bu?Jawab bu?"


"Tidak.. tidak benar itu"ucap ibu


"Apa ibu ingin meringkuk di penjara"ancam Zen.


Ibu terdiam sejenak dan dia akhirnya berbicara,


"Memang aku yang menyuruh laki-laki itu untuk memperkosa istrimu,aku benci dia di sini.Aku benci wanita miskin itu di sini.Aku tidak menginginkan menantu seperti dia,aku benci dia,aku benci dia.Aku tidak mau dia ada di sini"ucap ibu bernada tinggi.


"Salah dia adalah dia terlahir miskin"


"Saya memang miskin harta bu, tapi saya tidak miskin hati seperti ibu"ucap Cinta tiba-tiba dari atas tangga.


"Kurang ajar kamu ya"


"Cukup sudah bu,aku sudah tidak tahan berada di sini.Sayang...ayo kita pergi dari sini.Kita pindah ke rumah kita.Bukankah kamu sudah membeli rumah baru untuk kita."ucap Cinta sambil menggandeng suaminya ke kamar.


Zen menurut saja digandeng istrinya ke kamar.


Sampai di kamar aku langsung mengemas semua baju-baju yang ada di lemariku.


"Sayang..kamu benar-benar mau pindah ke rumah baru kita"ucap Zen


"Iya sayang, kenapa? Apa kamu tidak mau pindah dari sini"ucap Cinta.


Zen memelukku dari belakang dan mencium tengkukku.


"Siapa yang bilang tidak mau sayang...aku mau....malah sangat mau...aku suka hanya berdua denganmu malah."


"Kita pindah sekarang ya sayang...aku tidak mau kamu bertengkar dengan ibumu.Lebih baik kita pisah rumah saja agar lebih tenang."


"Apa kamu menyerah mengambil hati ibu sayang?"dia menciumiku.


"Aku tidak akan pernah menyerah sayang, sampai kapanpun aku akan terus berjuang untuk kita"aku membalikkan badan dan mencium suamiku.

__ADS_1


"Jangan menggodaku sayang....?"ucap Zen.


"Hehehe...ayo segera bantu aku mengemas baju-baju kita"


"Baik istriku tercinta!"


"Lepas dulu pelukannya sayang.. kalau seperti ini kapan selesainya?"


"Ehehe...baik sayang,aku akan melepas pelukanku, tapi cium dulu dong"


Aku menghujani wajahnya dengan ciumanku.


"Sudah sayang...yuk segera kita masukkan koper semuanya"


"Siap tuan putri Cinta"Zen mengucapkan sambil hormat padaku.


Kami tertawa bersama sambil mengemas baju-baju kami.


"Sayang.. rumah kita tapi tidak sebesar di sini"


"Tidak apa-apa sayang,aku tidak butuh rumah besar, rumah kecil tidak apa-apa, yang penting kita bahagia di sana"


"Inilah yang kusukai darimu sayang... kesederhanaanmu, kamu tak pernah tergiur dengan harta"ucap Zen sambil mencium keningku.


"Sudah selesai..yuk kita segera pergi"ucap Cinta.


Aku sudah mantap untuk pindah dari sana,aku takut kejadian itu terjadi lagi.Ternyata ibu bisa melakukan segala cara untuk membuatku tidak betah di situ, tapi perbuatannya hari ini sangat keterlaluan,aku tidak terima dengan perlakuan ibu padaku.Untung saja suamiku segera datang, kalau dia tidak datang tepat waktu,aku tak tahu lagi apa akan terjadi padaku.


Zen memanggil Robert untuk membawakan kopernya.


"Robert....naiklah kemari, bawakan koperku"


"Baik tuan"dia segera naik ke atas untuk membantu membawa koper tuannya.


Deni terdiam dalam lamunannya.


"Kalau kak Cinta pergi,aku tak bisa melihatnya lagi setiap hari...huft"


"Ah ..."aku tergelincir di tangga,Zen tidak sempat memegangku.


Deni yang berlari menangkapku dari bawah.


"Kak Cinta.."jerit Deni.


Fitri bingung dengan kelakuan suaminya yang begitu mengkhawatirkan kakak iparnya.


Deni menangkapku dan memegang pinggangku.


Zen segera berlari ke arahku,


"Lepaskan tanganmu dari istriku"Zen mengibas tangan Deni


"Maaf kak...."


To Be Continue..


Terimakasih buat readers yang masih setia bersamaku


Tinggalkan jejak kalian di sini, jangan lupa like+vote+koment.

__ADS_1


Othor juga butuh koment kalian loh...


๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2