
Zen dan Robert mengerjakan pekerjaan mereka yang sempat tertunda.
" Robert, bagaimana kerjasama dengan perusahaan Riska?"
"Semua tetap berjalan lancar boss,dia tidak bisa berkutik, karena dia sudah menandatangani kontrak."
"Setelah selesai kontrak ini,kita tidak perlu memperpanjangnya lagi.Aku tidak mau bekerjasama dengan dia lagi.Kita akan cari pemasok lain"
Terdengar suara pintu terbuka.Zen dan Robert melihat ke arah pintu.Terlihat ibu Zen datang.
"Ibu...."Zen terkejut.
"Kenapa ibu sampai tahu Cinta ada di sini,pasti ayah yang mengatakannya" ucap Zen dalam hati.
" Zen, kenapa kamu tidak bilang kalau Cinta mengalami penculikan, bagaimana ini semua bisa terjadi?"
"Sssttt.... istriku sedang istirahat bu,tolong jangan ramai"
Ibu tiba-tiba memeluk Zen.
" Yang sabar ya nak,ibu tahu, pasti sakit kehilangan anakmu "
" Terima kasih bu" ucap Zen.
Ibu melepaskan pelukannya.
" Darimana ibu tahu kalau aku sedang kehilangan anakku"
" Aku ingin melihat menantuku"
"Tolong,tidak usah Bu ! Dia sedang istirahat.Biarkan istriku tidur,aku mohon bu! Biarkan dia istirahat dulu"
" Kamu sendiri bagaimana Zen?" tanya ibu.
" Aku kenapa bu? Aku tidak apa-apa,aku baik baik saja.Sebaiknya ibu pulang saja.Aku tidak mau istriku terganggu dengan kedatangan ibu"
"Apa maksudmu Zen,aku ke sini datang dengan baik-baik,kenapa kamu mengganggap ibu mengganggu" ibu berkata dengan suara keras.
" Ibu... jangan berisik!" Zen berbicara dengan meletakkan jarinya di depan mulutnya.
"Lebih baik aku pergi saja,aku tidak dibutuhkan di sini" ibu Zen pergi sambil marah.
" Tuan... kenapa anda mengusir ibu anda?" tanya Robert.
"Aku tidak mau dia tahu kondisi istriku,dia kesini hanya mau melihat kondisi istriku.Aku tahu dia bahagia melihat istriku seperti ini " Zen berbicara sambil mengerjakan pekerjaannya.
"Tuan...apa anda tidak merasa janggal dengan ucapan ibu anda "
" Yang mana Robert?"
" Darimana ibu anda tahu kalau istri anda kehilangan anaknya?"
" Mungkin ayah yang memberitahunya"
"Tidak mungkin tuan,ayah anda sudah berjanji tidak akan memberitahu ibu anda "
" Biarkan saja dulu masalah ini,kita mengerjakan pekerjaan kantor yang tertunda dulu "
Di luar rumah sakit....
"Bagaimana bu, benar tidak dugaanku?"
" Benar,Cinta sudah kehilangan anaknya "
" Hahaha... sekarang tidak ada yang mengikat mereka berdua lagi,aku akan membuat mereka berpisah"
" Ayo segera kita pulang, sebelum ada yang melihat kita" ucap ibu sambil masuk ke dalam mobil.
Dari jauh ayah melihat ibu masuk ke dalam mobil seseorang.
" Sepertinya itu istriku, bersama siapa dia?"
Mobil mereka berpapasan,ibu tidak melihat mobil ayah karena terlalu asyik berbicara dengan orang yang bersamanya.
__ADS_1
" Sepertinya aku kenal dengan wanita yang bersama istriku, wajahnya tidak asing" kata ayah.
Ayah Zen segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir rumah sakit.
Ayah masuk dan berjalan menuju kamar Cinta.
Zen yang sedang berkonsentrasi mengerjakan pekerjaannya, tidak tahu jika ayahnya masuk.
Ayah menepuk bahu Zen.
" Zen,apa ibumu dari sini?"
"Ayah... kapan ayah masuk?"
'' Kau terlalu serius dengan pekerjaanmu, sampai kau tak mendengar ayah masuk"
"Maaf ayah, mumpung Cinta sedang istirahat,jadi aku segera membereskan pekerjaanku"
" Aku tadi melihat ibumu ada di depan rumah sakit,apa dia dari sini"
"Ibu tidak bersama ayah kah?"
" Tidak, ibumu tidak bersama ayah.Ayah tadi melihat ibumu sedang bersama seorang wanita, sepertinya ayah mengenalnya"
Zen berpindah posisi menghadap ayahnya.
" Ibu dengan siapa ayah"
" Sebentar,ayah akan mengingatnya.Ibumu tertawa-tawa bersamanya" ayah mengingat-ingat wajah wanita itu.
" Dia pernah dibawa ibu ke rumah,dia mantanmu Zen "
" Riska ?" Zen dan Robert menjawab bersamaan.
" Nah....iya..dia "
" Jadi...."
" Jadi apa Zen?"
" Bagaimana istrimu?"
" Dia sudah lebih baik yah,dia sudah bisa sedikit menerima kejadian ini"
" Pelan- pelan Zen,kamu harus sabar !"
" Iya ayah?" jawab Zen.
" Ayah membawakanmu dan Robert makanan.Lebih baik kamu makan dulu, teruskan nanti saja pekerjaanmu"
" Iya ayah " Zen menaruh laptopnya.
" Ayo kita makan dulu Robert!"
"Tumben Zen baik hati,kesambet dimana dia" ucap Zen dalam hati.
Zen dan Robert membuka makanan yang dibawa ayah. Mereka berdua memakannya sampai habis.
" Kalian lapar ya..." canda ayah.
" Hehe..iya ayah, mungkin efek di depan laptop jadi lapar" jawab Zen.
"Mas....." terdengar suara Cinta
"Iya sayang..." Zen segera mencuci tangan dan menghampiri istrinya.
" Aku ingin pulang...!"
" Besok ya sayang....kamu masih belum pulih benar"
" Aku ingin ke makam Zena,aku kangen padanya.Aku tadi bermimpi tentangnya.Aku menggendongnya,dan dia tersenyum padaku."
" Dia sudah bahagia di sana sayang,Allah lebih sayang padanya"
__ADS_1
" Iya Mas,dia bahagia.Aku ikhlas dia pergi dari dunia ini."
" Aku yakin, Zena tidak ingin ibunya bersedih seperti ini.Dia pasti ingin melihat ibunya tersenyum." ucap Zen.
" Iya mas,maafkan aku membuat mas jadi susah"
" Susah senang kita tanggung bersama sayang "
Cinta memeluk suaminya dengan penuh cinta.
"Nanti kalau aku sudah pulang, kita buat dedek buat Zena ya" ucap Cinta
" Iya sayang.." (Tidak mungkin aku mengatakan yang sesungguhnya saat ini padamu istriku,pasti kamu akan tergoncang lagi) ucap Zen.
" Aku mau tidur lagi ya mas, besok kita pulang "
" Iya sayang.."
Cinta merebahkan dirinya untuk tidur kembali.
Zen menemani sambil memegang tangan istrinya sampai istrinya benar-benar tertidur lelap.
Ayah yang melihat anak dan menantunya itu hanya bisa mengeluarkan air mata.
" Pak,ada air yang keluar dari mata anda" kata Robert pada pak Wijaya
Pak Wijaya mengusap air matanya.
" Anda menangis pak?"
"Tidak...ini pasti air dari atas sana"
" Kalau terharu bilang saja pak,mana ada air dari atas, orang tidak ada plavon yang bocor" goda Robert.
Pak Wijaya menjitak kepala Robert.
" Dasar anak koplak kamu ya...."
" Hehehe... sekali -kali ngerjain orang tua kan boleh pak "
" Mau aku jitak lagi ?" tawar pak Wijaya
" Tidak pak..." Robert berucap sambil menghindar.
Tak lama Cinta tertidur dan Zen duduk kembali di sofa.
"Ayah... aku mau bertanya pada ayah "
"Tanya apa nak?"
" Apa ayah yang memberi tahu ibu kalau Cinta ada di sini?"
" Tidak..."
" Lalu..apa ibu tahu kalau istriku janinnya tidak bisa diselamatkan?"
" Tidak,aku tidak memberi tahu apa-apa pada ibumu"
"Darimana ibu tahu kalau Cinta dirawat di sini dan Cinta kehilangan janinnya "
" Benarkah Zen ?"
" Benar ayah.Tadi ibu kesini dan dia seperti tahu apa yang sedang terjadi pada kami"
" Apa ibumu ikuti andil dalam penculikan istrimu Zen"
" Aku tidak tahu ayah, penculiknya tidak tahu jelas siapa orang yang menyuruhnya "
" Kalau ibumu ikut andil dalam kejadian ini,dia benar-benar sudah keterlaluan Zen.Dia sudah di luar batas "
" Entahlah ayah,kami masih mencari bukti-bukti " ucap Zen.
To Be Continue
__ADS_1
Maafkan othor ya, yang gak bisa update setiap hari.
Masih sibuk dengan kerjaan 🙏🙏🙏