Menantu Yang Tak Diinginkan

Menantu Yang Tak Diinginkan
#Bab 63 : Kedatangan Ibu


__ADS_3

"Suamiku...pesananku tadi mana?"


"Sebentar sayang,aku akan mengambilkannya"


Zen mengambil pesanan istrinya di meja.


"Ini sayang"Zen membawanya ke hadapanku.


"Buka semua"


"Semuanya?"


"Iya"


Zen membuka semua makanan itu.


"Aku mau makan es krim dulu,lalu rujak,lalu gado-gado"


Aku memakan semuanya dengan lahap tanpa tersisa.


"Egh....."aku bersendawa karena kenyang.


"Sudah kenyang sayang"tanya Zen


"Sudah sayang, terima kasih untuk semuanya.Dedek kecil baik-baik di dalam sana ya nak.Kami menyayangimu"aku mengelus elus perutku.


"Sayang... besok aku carikan kamu pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah ini.Kamu tidak boleh melakukan hal yang berat-berat"


"Terserah padamu sayang,tapi kalau memasak,aku masak sendiri ya sayang"


"Kalau hanya memasak boleh,asalkan kamu tidak apa-apa"


"Siap tuan Zen"aku mengangkat tangan hormat padanya.


"Kamu itu ya..."


Zen menggelitiki aku.Kami tertawa bersama.


Kami berdua sama-sama bahagia mendengar kabar bahwa aku hamil.Dia begitu menjagaku.Dia memberi aku pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah agar aku tidak capek.


Sebenarnya aku tidak mau ada orang lain di rumahku, tapi keadaan yang memaksa.


Namanya mbok Ijah.Dia wanita setengah baya yang hidup sebatang kara tanpa sanak saudara dan suami.


Sebenarnya dia pernah punya keluarga.Suaminya meninggal bersama anaknya,dan mbok Ijah tidak menikah lagi setelahnya.


Semenjak aku hamil Zen selalu muntah-muntah jika jauh dariku.


Sudah seminggu aku ikut kerja dengannya agar dia tidak muntah-muntah.Untung saja seminggu ini dia hanya kerja di dalam kantor.


"Sayang..pagi ini aku ada meeting, bagaimana ini?"


"Aku akan ikut denganmu"aku menjawab sambil memasangkan dasi untuknya.


"Tapi aku tidak mau kalau orang yang meeting denganku melihatmu.Aku tak mau dia jatuh cinta padamu."


"Apaan sih, biarkan saja dia jatuh cinta padaku, yang penting aku hanya jatuh cinta padamu"


Zen cemberut mendengar perkataanku.


Semenjak aku hamil,dia semakin cemburuan.Semua laki-laki yang memandangku, selalu dia marahi,tak terkecuali Robert.


"Sayang... aku hanya mencintaimu, percayalah padaku."


"Aku sebel, muntahku ini tak sembuh-sembuh"


"Sabar sayang.... semua pasti akan berlalu"


"Kamu tidak usah ikut saja sayang,aku akan menahan muntahku nanti.Aku akan meminum obat anti mual dari dokter Nana"


"Baiklah, terserah padamu.Hati -hati ya sayang.Sekarang kita sarapan dulu"


Aku dan Zen berjalan ke ruang bawah.Dia selalu menggendongku ketika turun.

__ADS_1


"Sayang...kamu tidak capek setiap hari selalu begini"


"Tidak,demi buah hatiku tercinta"


"Aku mencintaimu Zen Andrian Wijaya"


"Aku juga mencintaimu Cinta Andriana"


"Ngapain pake gendong- gendong segala "ucap ibu.


"Ibu?"aku terkejut.


"Ada apa pagi-pagi begini sudah sampai ke sini,apa tidak ada yang memasakkan ibu di rumah"


Zen bicara dengan santai dengan tetap menggendongku sampai bawah.


Dia menurunkan aku dan aku duduk di kursi makan.


"Silahkan duduk ibu"aku masih tetap berkata sopan dengan ibu mertuaku.


"Tidak usah dipersilahkan aku akan duduk sendiri'


"Tolong yang sopan ibu,ini rumah kami.Jangan berkata yang menyakitkan istriku"


"Sudah sayang,ayo kita makan.Bukankah kau akan segera meeting."


Zen menjadi sabar setelah mendengar kata-kata Cinta.


"Jika ibu mau makan,makan saja,tak usah banyak berkata-kata"


Ibu yang kesana memang ingin makan segera menyantap makanan di depannya.


"Kebetulan *di rumah tidak ada yang memasak, jadi aku akan ikut makan saja."


Sebenarnya* ibu ingin melihat rumah baru anaknya.Dia juga ingin melihat menantu yang di bencinya itu.


Setelah makan, Zen berangkat kerja.


"Sayang,aku berangkat,kamu hati-hati di rumah"


"Iya sayang"


Zen mencium keningku dan aku mencium tangannya.


"Hati-hati sayang..."aku melambaikan tanganku pada Zen sampai tak terlihat.


"Sudah enak ya di sini, tanpa gangguan dariku"


"Ibu benar,aku memang merasa lebih nyaman di sini.Tidak ada orang yang mau menyiksaku"


Aku berlalu tanpa memperdulikan ibu mertuaku.


"Dasar kurang ajar kamu ya, sudah berani kamu seperti itu padaku"


"Ibu yang membuatku seperti ini.Bukan aku yang mau menjadi menantu durhaka"


Tiba-tiba perutku kram.


"Kenapa nyonya"


"Bawa aku ke kamar mbok"


"Baik nyonya"


Aku tak peduli pada ibu mertuaku.Aku hanya memikirkan bayiku.


"Istirahatlah nyonya, kasihan bayinya"


"Iya bi, terima kasih.Tolong buatkan aku jahe hangat ya mbok.Oh iya, kalau ibu tanya sesuatu pada mbok Ijah tentang aku,bilang saja aku tidak hamil,aku hanya sakit biasa.Dia tak boleh sampai tahu tentang kehamilanku ini"


"Baik nyonya,anda istirahat saja dulu"


Ibu Zen tetap duduk manis di ruang depan.Dia masih ingin bersantai di rumah Zen.

__ADS_1


Aku tak mungkin mengusir ibu Zen,karena bagaimanapun dia adalah ibu dari suamiku yang harus aku hormati.


Tiba-tiba perutku terasa mual.Baru pertama kali aku merasa perutku tidak nyaman.


Aku berlari ke kamar mandi.


"Huwekkk ...huwekkk"aku muntah-muntah.


"Sepertinya terdengar suara Cinta mual-mual?"ucap ibu Zen.


"Huwekkk... huwekkk..huwekkkk"aku muntah-muntah lagi.


Semua yang aku makan keluar semua tanpa sisa.


"Eh. bik,kenapa dengan menantuku,kenapa dia muntah-muntah?"


"Nyonya muda hanya masuk angin"


"Oh... ya sudah.Urusi saja nyonya mudamu itu!"


"Iya nyonya"


Mbok Ijah membuatkan jahe untuk Cinta dan mengantarkan ke dalam kamar.


"Jangan-jangan menantu jelekku itu lagi hamil.Aku tidak mau punya cucu dari menantu seperti dia.Semoga saja dia tidak hamil."ucap ibu Zen.


"Nyonya,minum jahe ini agar mualnya berkurang"


"Iya mbok, terima kasih"


Aku segera minum jahe hangat yang dibuatkan mbok Ijah.


"Apa merasa baikan nyonya?"


"Sepertinya mualku berkurang"


"Lebih baik anda tidur nyonya, istirahat saja"


"Iya mbok,maaf tidak bisa bantu-bantu mbok Ijah"


"Tidak apa nyonya,kan sudah tugas saya membantu pekerjaan anda"


"Terima kasih mbok.Aku akan istirahat dulu"


Aku merebahkan diriku untuk tidur.Sedangkan mbok Ijah kembali mengerjakan pekerjaan rumahnya.


"Mbok,saya pergi dulu ya"


"Iya nyonya besar"


Aku mengikutinya sampai pintu depan.Aku melihat dia dijemput seorang pemuda yang lebih muda darinya.


"Apa itu saudara tuan ya,nanti aku akan tanya nyonya muda saja, sekarang aku akan melanjutkan pekerjaanku dulu"


...****************...


Meeting Zen berjalan lancar tanpa halangan sampai menjelang siang hari .Dia juga tidak merasa mual-mual.


"Tumben aku tidak merasa mual-mual,apa aku sudah sembuh ya??"


"Robert,apa jadwal setelah ini"


"Tidak ada tuan,hari ini hanya ini saja jadwalnya"


"Baiklah, aku akan pulang saja ya,aku khawatir pada istriku, karena ada ibu yang tiba-tiba berkunjung di rumah."


"Baik tuan"


"Setelah mengantarku,nanti kamu kembali ke kantor ya"


"Iya tuan"


Robert segera meluncurkan mobilnya menuju rumah Zen.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2