
Zen segera memasuki rumahnya.
"Mbok, istriku mana?"
"Ada di kamar tuan"
"Terima kasih mbok"
Zen menuju ke kamar.Dia membelaiku dengan mesra.
"Sayang...kamu sudah pulang,sudah selesai meetingnya"tanya ku.
"Sudah sayang,aku langsung pulang.Robert yang aku suruh ke kantor.Aku khawatir padamu karena ada ibu di sini.Aku takut dia menyiksamu lagi."
"Tidak sayang,aku tidak apa-apa?"
"Kenapa wajahmu pucat sayang?''
"Aku tidak apa-apa kok"
Tiba-tiba aku mual lagi.Aku berlari ke kamar mandi.
"Huwekkk.. huwekkk... huwekkk"
Zen berlari memijat tengkuk Cinta.
"Sayang....makanya kamu pucat, pasti mulai tadi muntah -muntah ya.Pantas saja aku seharian ini baik-baik saja, ternyata malah kamu yang mual-mual "
"Huwekkk..... huwekkk... huwekkk "
Aku muntah-muntah lagi,sampai tidak ada yang dikeluarkan lagi.
"Sayang...aku tidak kuat lagi"tiba-tiba aku pingsan.
"Sayang.....kamu kenapa "Zen menggendongku ke tempat tidur dan merebahkanku.
"Mbok Ijah....tolong mbok... istriku pingsan"teriak Zen.
"Ya Allah,nyonya pingsan?"mbok Ijah berlari ke kamar.
"Mbok,tolong jaga istriku dulu,aku akan menyiapkan mobil,aku akan membawanya ke rumah sakit."
"Iya tuan"
Sementara mbok Ijah menyadarkan Cinta, Zen menuju garasi menyiapkan mobil untuk membawa Cinta.
Mbok Ijah mengoleskan minyak kayu putih pada hidungku dan juga menggosokkan-gosok kakiku.
"Nyonya... ayo sadarlah"suara mbok Ijah khawatir.
"Mbok...."
"Alhamdulillah anda sudah sadar nyonya"
"Mana suamiku mbok"
"Dia menyiapkan mobil untuk membawa nyonya ke rumah sakit."
"Aku gak sakit parah,kenapa dia mau membawaku ke rumah sakit"
"Jangan bilang sakitmu tidak parah,wajahmu pucat,aku takut terjadi apa-apa padamu"Zen muncul dan menggendongku menuju mobil.
Tak lupa Zen menghubungi dokter Heru.
"Sayang,untuk apa sampai ke rumah sakit?"
"Sudah diamlah sayang,kamu ikuti aku saja"
Zen segera membawaku ke rumah sakit.Mbok Ijah juga diajak oleh Zen.
"Sudah sampai sayang"
Zen segera turun dan menggendongku ke IGD,Heru sudah menunggu di sana.
"Ada apa dengannya Zen, taruh dia di ruang nomer 5"
Heru mengikutiku ke kamar nomer 5 itu.
"Dia mual dan muntah sampai pingsan Her"
"Aku akan menelfon dokter Nana"
Kring.... kringg... kringg...
__ADS_1
"Hallo Her,ada apa"
"Segeralah ke IGD, pasienmu di sini"
'Siapa?"
"Cinta...istri Zen"
"Oke...aku meluncur ke sana"
"Tunggu Zen,dokter Nana segera kemari.Aku akan memasang infus di tangan Cinta"
Heru mengambil peralatan untuk menginfus Cinta.
Heru mulai mencari nadiku untuk memasukkan jarum infus.
"Her,jangan meraba-raba istriku"
Heru hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku mencari nadinya Zen.Diamlah!Kamu ingin istrimu sehat atau tidak"
"Iya iya..."
"Tahan sedikit ya Cin, sakitnya sebentar kok"ucap Heru.
Heru mulai menancapkan jarum infus ke tangan Cinta.Cairan infus di setel dengan aliran deras, karena wajah Cinta terlihat pucat.Heru takut Cinta dehidrasi.
"Gimana Her?"tanya dokter Nana yang baru datang.
"Dia mual dan muntah,sampai kekurangan cairan Na"
"Aku akan memeriksanya dulu ya Her"
"Silahkan Na"
Dokter Nana.memeriksa perut Cinta.
"Nyonya,apa tadi perut anda kram?"
'Iya dok"
"Nyonya, anda harus lebih sabar, jaga emosi anda.Jangan sampai gampang tersulut emosi'
"Baik dokter'
"Apa tidak bisa langsung aku bawa pulang "
"Kami harus memeriksa janinnya lebih lanjut tuan "
"Terserah lah,beri fasilitas terbaik di rumah sakit ini"
"Baik tuan"ucap dokter Nana.
Heru menelfon bagian admisi untuk memindahkan Cinta ke ruang VVIP.
"Sebentar Zen,aku ambil brangkar dulu."
"Jangan lama-lama,aku sudah capek berdiri di sini "
"Bukannya loe baru aja berdirinya "
"Gak usah banyak bicara dah, segera ambil brangkarnya"
Heru mengambil brangkar dan memindahkan Cinta ke ruang VVIP.
",Biar aku saja yang membawanya "
"Terserah loe deh, dasar bucin "
Zen tak peduli dengan ucapan Heru.Baginya yang penting jangan ada orang yang menyentuh istrinya jika tidak terpaksa.
Zen mendorongku ke ruang VVIP.Dia memindahkanku dengan menggendongku sendirian ke tempat tidur.
"Sayang, jangan sampai orang lain menyentuhku, meskipun dokter Heru sekalipun"
"Kamu apaan sih, kalau dia tidak menyentuhku, bagaimana dia akan memeriksaku"
"Oh ..kamu senang ya dipegang-pegang dia"
"Terserah padamu saja,aku tak mau bicara padamu kalau kau berprasangka buruk padaku"Aku membuang muka ke tempat lain.
Zen bingung dengan sikapku.
__ADS_1
"Sayang... jangan seperti ini padaku "dia memohon padaku dengan memelas.
Aku tetap tidak menggubrisnya.Kadang sifatnya yang seperti itu membuatku jengkel.Sekali-kali aku akan memberi pelajaran padanya.
"Sayang.... jangan merajuk seperti itu,aku mencintaimu sayang"
"Kalau kau mencintaiku, biarkan dokter melakukan tugasnya dengan baik, jangan kau mengganggu mereka"
"Baik sayang,aku akan menuruti keinginanmu"
Aku membalikkan badanku dan memandangnya.
"Suamiku,mendekatlah kemari"
Zen mendekatkan dirinya padaku.
"Dekatkan wajahmu padaku"
Zen mendekatkan wajahnya padaku.
Aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku.
''Sayang... seluruh jiwa ragaku hanya untukmu,aku tak mungkin berpindah ke lain hati.Percayalah sayang,mereka itu hanya menjalankan tugas saja sebagai dokter, tidak lebih "Aku mencium bibirnya.
"Aku percaya padamu sayang,maafkan aku "
dia juga mencium bibirku.
"Ehemmm....ehemmm.Ingat!Di sini masih ada kita lo..."celetuk Heru dan Nana.
"Eh...maaf dokter"ucapku.
"Berisik kalian ini,kita ini sudah resmi menjadi suami istri, kenapa kalian yang terganggu dengan kami,anggap saja kami tidak ada"
"Dasar si egois"ucap Heru dalam hati.
"Tuan Zen, bisakah anda menjauh dari nyonya Cinta.Saya akan mengganti infus nyonya Cinta "suster perawat datang membawa infus pengganti.
"Baik suster "akhirnya dia menjauh dari istrinya.
Suster mengganti infusku yang sudah habis.Tadi infusku memang disetel untuk cepat habis sebagai pengganti cairan yang aku keluarkan ketika muntah tadi.
"Sudah tuan, terima kasih"suster itu pergi keluar kamar.
Dokter Nana mendekat padaku.
"Nyonya Cinta,anda harus banyak istirahat ya,Makan yang banyak.Aku sudah memberi obat anti mual di infusnya.Sekarang aku pergi dulu.Besok pagi aku akan kesini untuk memeriksamu lagi"
"Terima kasih dokter Nana,maaf kalau suamiku merepotkan"
"Hahaha.. tidak apa-apa,saya sudah terbiasa dengan suami yang seperti itu"
"Terima kasih dokter"
"Aku pergi dulu ya nyonya Cinta"
"Iya dokter, hati-hati "
"Aku juga pergi Zen,jaga istrimu baik-baik, jangan membuat dia cemberut"
Zen memajukan bibirnya padaku.
"Dasar kau'
"Ayo pergi Her, jangan menuruti dia"
Dokter Nana mengajak dokter Heru untuk keluar dari kamar VVIP itu.
Zen menutup pintu kamar Cinta.
"Sayang, ayo kita istirahat saja"Zen naik ke kasurku.
"Sayang.. kenapa kamu juga ikut naik ke kasur?"
"Aku tak bisa jauh darimu sayang"dia memeluk pinggangku.
"*Aku tahu itu alasannya saja agar dekat denganku"
To Be Continue*...
***Terimakasih masih tetap setia di sini.
Yuk yang mau mampir di ceritaku yang lain...
__ADS_1
"Pembantu Jelekku"
๐๐๐๐๐๐๐น๐น๐นโค๏ธโค๏ธ๐๐๐๐๐๐๐***