
Sejam kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit kota Zen tinggal.Di depan pintu rumah sakit mereka sudah menunggu kedatangan Zen dan Cinta
Dengan sigap mereka memindahkan Cinta ke brangkar mereka dan membawa ke ruangan VVIP yang sudah dipesan Zen.
Para perawat segera memasang alat-alat yang dibutuhkan untuk Cinta bertahan hidup.
"Semua sudah selesai tuan,kami pergi dulu"ucap para perawat.
Nana dan Heru masih tetap disitu.
"Zen... bagaimana semua ini bisa terjadi, semoga saja Cinta tidak apa-apa kehilangan anaknya "
"Itulah yang aku pikirkan Na,aku tidak tahu harus menghadapi istriku ketika dia sadar."
"Apa yang terjadi Zen?"tanya Heru.
"Hari itu ibu tiba-tiba datang ke rumah dan sangat perhatian pada istriku.Aku tahu dia tak percaya pada ibuku, karena ibuku memang tak mau punya menantu seperti istriku yang miskin.
Aku tidak percaya pada istriku,aku lebih mempercayai ibuku.Mungkin dia tersinggung denganku yang tak percaya padanya.Jadi dia pergi ke taman tanpa pamit padaku.Di sanalah kejadian itu bermula.Seseorang menculiknya dan menyiksanya."
"Apa kau tak segera menemukannya"
"Aku terlambat datang Her, aku datang ketika dia jatuh di dorong salah satu pelaku penculikan."
"Jadi Cinta terguling -guling di tangga."
"Iya,aku bodoh,tak bisa menjaga istriku dengan baik"
"Sayang....."terdengar rintihan suara Cinta.
Zen segera berlari ke arah Cinta.
Zen memegang tangan Cinta dan menciuminya.
"Kamu sadar sayang...."
"Aku ada di mana?" ucap Cinta sambil menengok kanan kiri.
"Kamu di rumah sakit sayang "jawab Zen.
Cinta mengingat ingat kejadian yang menimpanya.
"Kau datang menolongku kan sayang,kamu yang membebaskanku dari para penculik itu" kata Cinta
Zen menganggukkan kepala.
Melihat Cinta sadar, Heru dan Nana segera menghampirinya.
"Cin...aku siapa?"tanya Heru
"Anda dokter Heru dan disebelah anda dokter Nana"
"Dia tidak apa-apa Zen, tidak ada yang perlu dikhawatirkan "
Cinta memegang perutnya.Dia melihat dan meraba -raba perutnya yang rata.
"Zen, kemana anakku...Zen katakan! Kau kemanakan anakku?" Cinta menangis histeris sambil mengguncang-guncang tubuh suaminya.
"Sayang.... sayang.... tenanglah dulu.Tidurlah kembali,aku akan menceritakan semuanya sayang"
"Hiks....hiks....hiks... kembalikan anakku"
Cinta terus menangis.
Zen hanya bisa memeluknya dan menenangkannya.
"Sayang... menangislah agar kamu lega"
"Huaa......Hua......"Cinta menangis semakin keras.
Zen membiarkan semua itu agar Cinta menjadi lega.
"Hiks....hiks.. sayang...aku tidak membunuh anakku kan"
__ADS_1
Zen melepaskan pelukannya dari Cinta.
"Sayang....kamu tidak membunuh anak kita, mereka yang membunuhnya"
"Siapa?"
"Orang yang menculikmu"
"Zen.. bisakah kau kembalikan anakku"
"Sayang.... tolong jangan seperti ini" Zen membelai rambut istrinya.
"Sayang... anakku tidak mati kan, anakku masih ada kan,dia ada di ruang yang berbeda kan,dia pasti lahir dan hidup.Iya kan Zen.. jawab Zen...."Cinta berteriak di akhir katanya dan kembali menangis.
Heru datang mendekat dan menyuntikkan obat penenang pada Cinta.
"Zen....anakku masih hidup kan"suara Cinta semakin melemah.
Cinta pingsan lagi.Heru segera memeriksa Cinta.
"Dia masih mengalami trauma Zen, sebaiknya jangan tinggalkan dia dulu,kamu harus menemaninya!"
"Bagaimana keadaannya sekarang"
"Aku memberinya obat penenang,dia akan tenang untuk beberapa saat.Tensi darahnya sudah normal, jantungnya pun normal"ucap Heru.
"Nana,aku harus bagaimana?"tanya Zen.
"Kita lihat dulu ke depannya Zen, semoga dia bisa menerima semua ini"jawab Nana
"Zen kami pergi dulu ya,nanti kami kembali lagi.Jangan lupa jaga kesehatanmu juga"
"Iya Her, terima kasih atas semua bantuannya.Na...bisakah kamu tetap di sini,aku mau melihat makam anakku"
"Baiklah,kalau begitu aku tidak jadi pergi.Aku akan tetap di sini menemani Cinta."
"Terima kasih banyak Na"
"Hallo..."jawab suara di seberang sana.
"Robert,apa semua sudah selesai"
"Sudah tuan,aku sudah ada di depan rumah sakit menjemput anda"
"Baiklah,aku akan segera turun kesana" ucap Zen pada Robert.
"Nana.. tolong jaga istriku". pinta Zen pada
"Okey.. jangan khawatir,aku akan menemaninya"
"Terima kasih Na"
"Sama-sama"
Zen pergi meninggalkan istrinya,dia pergi dari kamar istrinya.
"Robert...ayo jalan"
"Tuan sudah sampai?"
"Ayo segera Robert,aku sudah tak tahan ingin menghajar mereka semua" ucap Zen.
"Tapi kita ke makam dulu kan tuan"
"Iya Robert,aku ke makam dulu"
Robert melajukan mobilnya ke tempat dimana Zena disemayamkan.
Zena dimakamkan di tanah yang baru Zen beli untuk pemakaman keluarganya.
Zen sampai di makam anaknya.
Dia bersimpuh di atas makam anaknya.
__ADS_1
"Maafkan ayah nak....ayah tak bisa menjagamu.Ayah bukan ayah yang baik untukmu.Maafkan ayah nak....'
Zen menangis di atas makam putrinya dan meraung-raung.
"Tuan... waktu kita tidak banyak, kita masih harus menemui pembunuh anak anda" ucap Robert.
Zen menyeka kedua air matanya.
"Ayah akan menghajar mereka nak, ayah akan membuat mereka menyesal telah membuatmu pergi dari dunia ini" Zen mengepalkan tangannya.
"Ayo kita segera pergi Robert" Zen meninggalkan pemakaman anaknya.
"Baik tuan"jawab Robert.
Robert melajukan mobilnya dengan cepat,dia juga ingin menghajar orang yang telah membunuh ponakannya itu
Tak lama mereka sampai di gedung milik Bram.
"Hei... sudah sampai kalian" ucap Bram sambil menepuk pundak Robert.
"Dimana mereka.."
"Mereka di dalam.Ayo kita kesana"ajak Bram.
Zen dan Robert mengikuti Bram.
"Itu mereka di sana" Bram menunjuk pada tiga orang yang sedang diikat di kursi.
Zen yang geram melihat mereka, segera saja memukuli mereka.
"Siapa sebenarnya kalian.Ada dendam apa denganku" Zen memukul perut orang2 itu sambil berteriak-teriak.
"Dasar kurang ajar kalian"
"Boak..boak..boak...."terdengar suara pukulan.
Robert ikut memukuli mereka juga.
"Robert! Mereka hanya orang bayaran, tidak ada sangkut pautnya dengan mereka" ucap Bram pada Robert.
Zen dan Robert menghentikan kegiatannya.
"Sebelum kau menghajarnya, aku sudah menghajar mereka.Aku sudah bertanya pada mereka.Mereka itu hanya orang suruhan"
"Siapa yang menyuruh mereka"tanya Zen.
"Entahlah, mereka tak mau bicara siapa yang menyuruhnya.Sepertinya, mereka lebih baik mati daripada harus mengatakan orang yang sudah membayarnya"
Zen mengambil pistol dari saku Robert.
Dia menembak ketiga kaki orang itu.
"Dor...dor..dor..."
"Aw...."mereka hanya sedikit merintih.
"Mereka sudah terlatih Zen, bagaimanapun kau menyiksanya,mereka tidak akan bicara" ucap Bram.
Zen memukuli wajah ketiga penjahat itu.
"Dasar kurang ajar kalian...... kalian sudah membunuh anakku.."
Ketiga penjahat itu hanya tersenyum.
"Misi kami berhasil..hahaha"
Mendengar itu Zen semakin geram.
"Dor..dor..dor..."Zen menembak perut penjahat itu.
"Zen... sudahlah, jangan menembak lagi,itu kematian yang terlalu mudah untuk mereka.Berikan saja mereka pada singa-singku di belakang sana" ucap Bram.
To Be Continue
__ADS_1