Menantu Yang Tak Diinginkan

Menantu Yang Tak Diinginkan
# Bab 80


__ADS_3

Cinta sudah sampai di rumahnya.Dia tidak boleh berjalan oleh suaminya. Zen menggendong Cinta hingga ke kamarnya.


" Mas,aku bisa berjalan sendiri,untuk apa kau gendong seperti ini "


" Aku mencintaimu...". jawab Zen singkat.


" Ada apa dengannya" ucap Cinta dalam hati.


Zen menurunkan Cinta di ranjang.


" Sayang...jangan capek-capek ya.Istirahat ya sayang...." Zen mencium kening istrinya.


" Kamu mau kemana mas?" tanya Cinta.


" Mau menurunkan barang-barang kita sayang "


" Oh ..aku kira kamu mau meninggalkan aku " Cinta menjadi sensitif.


" Sayang.. jangan pernah berpikiran seperti itu.Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.Kamu ??wanita satu-satunya dalam hidupku " Zen membelai pucuk kepala istrinya.


" Habisnya kamu tadi jawabnya hanya seperti itu, hanya bilang aku mencintaimu.Aku tanya a jawabnya b "


" Hahaha...istriku semakin lucu pulang dari rumah sakit.Aku mencintaimu sayang..makanya aku menggendongmu.Aku tidak mau kamu capek dulu "


" Maafkan aku ya mas.."


" Kurasa panggilan baru ini cocok untukku.Aku senang kau panggil mas "


" Iya mas sayang....." Cinta mencium bibir suami?nya


" Mulai deh..." kata Zen


" Hehehe..."


" Aku mau menurunkan barang-barang dulu ya sayang "


" Tidak usah boss,aku dan mbok Ijah sudah menurunkannya"


" Aku tidak melihat mbok Ijah dari tadi "


" Maaf nyonya,tadi saya di kamar mandi.Perut saya mules " jawab mbok Ijah tiba-tiba datang dan memeluknya.


" Mbok Ijah.." ucap Cinta.


" Nyonya...sehat selalu" kata mbok Ijah.


Mereka saling melepaskan pelukan mereka.


" Akhirnya nyonya pulang juga"


" Semua berkat doa mbok juga" ucap Cinta.


" Saya ke bawah dulu nyonya.." ucap mbok Ijah.


'' Iya mbok, terima kasih"


" Sekarang kamu istirahat dulu ya sayang,aku akan melanjutkan pekerjaanku" Zen menyelimuti istrinya.


" Iya mas..." jawab Cinta.


Zen pergi ke sofa untuk melanjutkan pekerjaannya.


Robert sudah tidak ada di sana, Zen menyuruh Robert melihat keadaan perusahaan.


Hari itu Zen baru bisa bekerja dengan tenang.


Telfon Zen berdering, tertera nama ibunya di layar ponselnya.


" Hallo..ada apa bu?" tanya Zen


" Kenapa kamu tidak bilang kalau istrimu sudah pulang"


"Apa itu penting untuk ibu, bukankah ibu bahagia karena aku kehilangan anakku"


" Apa maksud ucapanmu Zen,mana ada seorang nenek yang senang kehilangan cucunya.Jangan menuduh ibu sembarangan "

__ADS_1


" Lalu ibu mau apa kalau istriku sudah pulang?"


" Aku kan bisa menjenguknya di rumah kalian"


" Ibu tidak perlu kesini,istriku biar istirahat dulu"


Zen menutup sambungan telfonnnya.


Dia kembali mengerjakan pekerjaannya.


Hari menjelang sore, Cinta terbangun dari tidurnya.


Cinta melihat Zen masih di depan laptopnya.


" Mas,...'


" Kamu sudah bangun sayang.."


" Heemm.."


Zen mendekat pada istrinya dan mencium keningnya.


" Mas,aku ingin ke makam Zena "


" Aku akan mengantarmu kesana,kamu mandi dulu ya,aku juga akan mandi setelah ini" Zen membelai rambut istrinya.


Cinta bangun dari tidurnya dan membersihkan dirinya di kamar mandi.


Ceklek... pintu kamar mandi terbuka.


Cinta terlihat begitu segar.Zen yang melihatnya berdiri dari tempat duduknya.


Dia memeluk istrinya dari belakang


" Kamu begitu wangi sayang...."


" Namanya juga baru mandi mas, pasti wangi."


Ada yang bangun di diri Zen.Mungkin karena sudah lama tidak mengunjungi gua gelap tersembunyi,pelukan saja sudah membangkitkan hasratnya.


Zen yang merasa tergugah hasratnya segera pergi ke kamar mandi dan segera mandi untuk menghilangkan hasratnya.


Zen mengguyur tubuhnya dan segera menyelesaikan ritual mandinya.


" Mas, sudah selesai mandinya?" Cinta melihat Zen keluar dari kamar mandi.


" Sudah sayang.." Zen keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggang.


" Mas, ayo segera ya, keburu sore " ucap Cinta.


" Iya sayang..."


Zen segera bersiap-siap memakai bajunya dan menyisir rambutnya.


" Ayo sayang...kita berangkat" Zen menggandeng tangan istrinya.


Mereka berdua keluar dari kamar dan berjalan turun.


" Mbok...mbok Ijah..." panggil Cinta.


" Ada apa nyonya..?" jawab mbok Ijah.


" Saya dan tuan mau pergi dulu,tolong jaga rumah"


" Iya nyonya"


" Kami pergi dulu ya mbok" kata Zen


" Iya tuan "


Mereka berdua segera pergi menuju makam anaknya.Selama perjalanan mereka berbincang-bincang.


"Mas...kata dokter rahimku masih terluka ya "


" Kata siapa sayang "

__ADS_1


" Aku mendengar kalian berbincang kok"


" Jangan dipikir sayang..yang penting kamu sehat dulu "


" Aku tidak akan bisa punya anak kan mas dalam waktu dekat ini "


" Sayang.. bagaimanapun dirimu, aku tetap mencintaimu.Kamu tidak perlu mencemaskan apa yang terjadi"


" Terima kasih selalu menerimaku mas " ucap Cinta sambil memeluk suaminya.


" Aku mencintaimu sayang.." Zen mencium pucuk kepala istrinya.


Tak lama mereka sampai di makam anaknya.


Zen menggandeng tangan istrinya.


" Apa itu makam anak kita sayang...?"


"Iya sayang..." Zen menuntun istrinya ke makam anaknya.


Cinta duduk bersimpuh di depan makam anaknya.


" Maafkan mama Zena...mama tidak bisa menjaga Zena dengan baik.Mama yang membuat Zena harus terbaring di sini,maafkan mama Zena..." Cinta menangis di pusara anaknya.


" Sayang.... Zena sudah bahagia di sana, jangan kau tangisi dia seperti itu"


" Ini semua karena aku lalai mas,aku tidak bisa menjadi ibu yang baik,makanya Allah menghukumku dengan merusakkan rahimku "


" Apa yang kau katakan sayang..."Zen memeluk istrinya.


" Ini terjadi karenaku mas,aku ibu yang jahat.Aku sudah membunuhnya"


"Sssttt..... jangan pernah mengatakan hal seperti itu" Zen menaruh satu jarinya di depan mulut istrinya.


Cinta menangis kembali.


" Sayang... sudah cukup, jangan menangis terus.Kalau kamu seperti ini,lebih baik aku bawa kamu pulang." ucap Zen.


" Tidak mas,aku tidak akan menangis lagi " jawab Cinta.


" Ayo kita berdoa untuk anak kita sayang..."


" Iya Mas..."


Zen dan Cinta berdoa di makam anaknya.


" Semoga kamu bahagia di alam sana nak, maafkan ayah dan mama.Tunggu kami di surga ya sayang..." Ucap Cinta sambil mengelus-elus nisan Zena.


" Sayang... ayo kita pulang "


" Iya mas.."


Mereka berdua beranjak dari makam anaknya dan pergi dari sana.


Dari kejauhan nampak seseorang di dalam mobil memperhatikan mereka berdua.


" Kamu pasti menderita telah kehilangan anakmu kak.Aku hanya bisa berdoa dari jauh untuk anakmu dan kebahagiaanmu.Semoga kamu lekas pulih kak"


mobil itu segera melaju meninggalkan tempat itu.


" Sayang... apa ada yang ingin kamu beli " tanya Zen


" Tidak mas, sebaiknya kita pulang "


" Baiklah sayang.."


" Mas,apa kamu masih tidak bisa menemukan orang yang menculikku"


" Belum sayang, aku masih belum menemukannya.Kami masih mengumpulkan bukti-bukti"


"Dia seorang perempuan mas,dia rasanya sangat tidak menyukaiku.Bahkan dia ingin merusak wajahku waktu itu"


" Apa...?" Zen menghentikan mobilnya tiba-tiba.


" Dia sepertinya benci padaku.Seandainya aku bertemu dengannya,aku pasti bisa mengenalinya dari suaranya"

__ADS_1


" Semoga saja lekas ketemu sayang.."


To Be Continue


__ADS_2