
"Maafkan kami tuan,kami sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk istri anda,kami sudah berusaha sekuat tenaga kami,namun takdir berkehendak lain.
Istri anda mengalami luka di kepala akibat benturan yang terlalu keras,di sekujur tubuhnya pun penuh luka akibat terjatuh terbentur berkali-kali, rahimnya pun ikut terluka"
"Lalu bagaimana dokter...."
'Istri anda sudah selesai operasi,kami akan memindahkannya ke ruang ICU.Dia sekarang sedang mengalami koma, berdoa saja semoga dia sadar.Karena rahimnya terluka, untuk waktu dekat istri anda tidak boleh hamil dulu "
Deg....
Lengkap sudah penderitaan Zen.Anaknya meninggal, istrinya dalam keadaan koma,dan dia tidak bisa memiliki anak lagi dalam waktu dekat.
Zen hanya terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Salah apa aku ya Allah, kenapa kau beri aku cobaan seperti ini"ucap Zen.
"Nak, yang sabar,Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya.Ayah yakin,kamu bisa melewati ini semua"ucap ayah yang tiba-tiba sudah ada di samping Zen.
"Ayah....."Zen bangun dan memeluk ayahnya.
"Kamu harus kuat demi istrimu nak,kamu harus bisa menguatkan istrimu.Dia pasti lebih tergoncang darimu karena dia harus kehilangan anaknya yang sudah dia kandung selama berbulan-bulan "
Zen menangis di pelukan ayahnya.
"Menangislah nak, tapi cukup di sini kamu menangis,kamu harus kuat"
Zen melepaskan pelukannya.
Dia menyeka air matanya.
"Ayah benar, aku harus kuat demi istriku"
"Bagus nak...ayo semangat nak"ayah menepuk pundak Zen.
Cinta keluar dari ruang operasi untuk dipindahkan ke ICU.
Zen mengikuti Cinta.
"Sayang... kamu harus semangat..kamu harus bangun,aku akan selalu menunggumu di sini"
Zen dan ayah mengikutinya sampai ke ruang ICU.
"Maaf tuan,anda tidak boleh ikut masuk, silahkan tunggu di luar"
"Dokternya dimana suster"
"Itu tuan,dia di belakang anda"suster itu menunjuk di belakang Zen.
Zen berbalik badan.
"Dokter... apa istri saya tidak bisa di pindah ke rumah sakit lain"
"Anda mau memindahkan dia kemana tuan"
"Kami akan memindahkan ke rumah sakit kami di kota sebelah"
"Butuh biaya besar untuk memindahkanya tuan, karena banyak alat-alat yang harus kami bawa untuk menyokong hidupnya"
"Berapapun biayanya kami akan tanggung dok"
"Tunggu kondisi istri anda sedikit membaik, sekarang kondisinya sedang tidak stabil"
"Kira-kira sampai kapan dok"
"Kita tidak bisa menjawabnya tuan,kami akan memantau terus kondisinya.Kami akan menyiapkan semua perlengkapan untuk pindah rumah sakit,jika kondisi istri anda stabil, kami akan langsung memindahkannya."
__ADS_1
"Baik dokter"
"Setiap dua jam sekali kami akan memantaunya.Anda tunggu di sini saja ya"
"Baik dokter, terima kasih"
Dokter itu berlalu pergi meninggalkan Zen dan ayahnya.
"Darimana ayah tau aku di sini"
"Robert yang menelfonku agar kemari untuk menemanimu"
"Apa ayah memberitahu ibu tentang kejadian ini"
"Tidak, semua keluarga tidak ada yang tahu "
"Kamu sebaiknya makan dulu Zen, kamu juga harus jaga stamina "
"Bagaimana aku mau makan ayah, istriku sedang bertaruh nyawa di dalam sana"
"Kalau kamu sakit,siapa yang akan menjaga istrimu"
"Nanti aku akan makan yah,pasti aku akan menjaga diriku"
"Terserah kamu lah,kamu sudah dewasa, sudah tahu mana yang baik untukmu"
Sejam kemudian dokter menghampiri Zen.
"Tuan Zen,kondisi istri anda sudah bisa dipindahkan ke kota anda"
"Apa dia sudah sadar dok?"
"Belum tuan, tapi kondisinya memungkinkan untuk dipindahkan"
"Baik dok, saya akan mengkondisikannya"
Dokter pergi meninggalkan Zen dan ayahnya.
Ponsel Heru berdering...
"Siapa sih yang telfon,gak tahu aku lagi sibuk "
Nama Zen tertera di layar ponselnya.
"Mau apa lagi dia ini" keluh Heru.
Heru mengangkat ponselnya.
"Hallo, ada apa Zen, menggangguku saja"
"Tolong siapkan kamar VVIP yang fasilitasnya sama dengan ICU"
"Siapa yang mau kau taruh di situ Zen" Heru mengira Zen bercanda.
"Aku serius Her, setengah jam lagi aku berangkat dari kota sebelah.Kamar itu untuk Istriku.Dia sedang koma sekarang, tolong siapkan permintaanku.Terima kasih Her" Zen langsung menutup telfonnya sebelum Heru menyanggupi permintaannya.
"Ada apa dengan Cinta, kenapa dia bisa sampai koma,bagaimana keadaan kandungannya"Heri berbicara sendiri.
"Sebaiknya aku menelfon Nana"
Heru segera menghubungi Nana.
Kring ... kring...
Ponsel Nana bergetar tanda ada yang memanggilnya.
__ADS_1
"Hallo Heru, ada apa?"
"Nana, kamu bantu aku menyiapkan kamar VVIP untuk Cinta.Zen ingin kamar itu lengkap dengan peralatan yang sama dengan ruang ICU."
"Kenapa seperti itu Her,ada apa dengan pasienku itu"
"Entahlah, Zen hanya bilang kalau Cinta sedang koma"
"Bagaimana kandungannya Her"
"Aku juga tidak tahu Na, sebaiknya kau bantu aku,suruh saja pasienmu kembali lagi besok"
"Kebetulan pasienku sudah tidak ada Her"
"Kebetulan kalau begitu,kita ketemu di lantai atas"
Heru menutup telfonnya.
"Heru memanggil asistennya.
"Suster, tolong alihkan semua pasien ke dokter lain ya,aku sedang ada urusan.Jika ada pasien yang tidak mau dengan dokter lain, suruh saja dia kembali besok.Aku ada kepentingan mendadak" jelas Heru.
"Baik dokter،akan saya kondisikan"jawab asistennya.
"Terima kasih suster" Heru berkata sambil pergi setelah meletakkan jas dokternya.
Heru menuju lantai atas.Dia mengerahkan semua anak buahnya untuk memindahkan alat-alat yang dibutuhkan di dalam kamar yang dipesan Zen.
Tak lama Nana datang.
"Sudah siap semua kah"Nana melihat sekeliling.
"Tinggal menata rapi alat-alatnya Na"
"Aku akan membantumu" Nana meletakkan tas kerjanya dan membantu Heru menata peralatan tersebut.
Sementara Heru sibuk mempersiapkan kamar untuk Cinta,Zen di sana juga sibuk mempersiapkan keberangkatan istrinya kembali ke kota sebelah.
"Semua sudah siap tuan"ucap dokter
"Baik dokter, terima kasih'
"Di mobil akan ada dokter yang mengawal, takutnya ada apa-apa di tengah jalan dengan nyonya Cinta"
"Terima kasih banyak dokter"
"Semoga istri anda segera sadar dan segera sehat tuan Zen"
"Terima kasih doanya dokter"
"Baiklah,kami akan membawa nyonya Cinta keluar dari ruang ICU"
Dokter itu pergi dan memerintahkan untuk mengeluarkan Cinta dari ruangan.
Gradak... gradak... gradak..suara brangkar di dorong seorang transporter.
Zen mengikuti Cinta sampai ke mobil ambulance.
Dia ikut naik ke dalamnya.Zen menggenggam erat tangan istrinya dan membelai pipinya.
Berbagai alat tertancap di tubuh istrinya.Dari oksigen,infus, dan juga alat rekam jantung.
"Kamu harus hidup Cinta...aku membutuhkanmu,aku tak bisa hidup tanpamu" Zen menciumi tangan istrinya.
Sirine ambulance berbunyi, tanda mereka sudah berangkat.
__ADS_1
Ayah tidak ikut dengan Zen di ambulance.Dia membawa mobil Zen yang dibawa kemarin.
To Be Continue