
Aku segera menyeduh kopi untuk suamiku.
"Bik,aku ke kamar dulu ya.Ingat!! jangan ngomong apa apa pada tuan muda tentang kejadian tadi"
"Iya non"jawab bi Imah.
Bik Imah melanjutkan memasak makan malam.Kali ini aku tidak ikut membantu bi Imah di dapur.
Aku berjalan menaiki tangga ke kamar lantai dua ku
Ceklek...pintu terbuka.
Kulihat suamiku sudah selesai mandi dan terlihat begitu segar, menggoda imanku.Sayangnya aku masih palang merah.
"Sayang... ini kopimu"
"Sebentar sayang,aku masih mau pakai baju dulu.Sekalian aku sholat magrib ya sayang"Dia memakai baju yang sudah kusiapkan di atas kasur.
"Baiklah,aku akan duduk di sini menunggumu"
Aku mengirim ibuku chat.
"Ibu.. bagaimana di sana.Apa keluarga baik baik saja."
Tring..masuk notifikasi di ponsel ibu Cinta.
Ibu membuka ponselnya.
"Di sini semua baik baik saja nak, kamu sendiri bagaimana di sana.Apa ibu Zen memperlakukanmu dengan baik"
"Aku di sini baik baik saja Bu.Pembantunya ramah ramah, semua orang welcome padaku"
"Jaga diri di sana nak,kamu hanya menantu di situ"
"Iya bu,aku akan jaga diriku dan aku akan bisa membawa diri selama di sini"
"Ya sudah nak, semoga kamu baik-baik saja, semoga Allah selalu melindungimu."
"Aamiin." ucapku.
Suamiku mendekatiku.
"Lagi chat sama siapa sayang?"
"Eh... ngagetin aja suamiku ini!Aku lagi chat sama ibu, sayang."
Zen menyeruput kopinya.
"Slurrppp.. enak banget sih kopi buatan istriku ini"
"Jangan terlalu memujinya sayang... entar aku terbang dan gak ketemu kamu lagi"
"Hahahah...kamu selalu bisa menghilangkan penatku"
Tak sengaja suamiku melihat tanganku yang terluka.
Dia mengambil tanganku dan membolak balikkan hingga terlihat semua luka.
"Kenapa tanganmu ini sayang, siapa yang melukaimu seperti ini"
Aku bingung mencari jawaban yang tepat agar suamiku tidak curiga.
"Oh. ini tadi aku bantuin pak Maman di belakang.Daripada aku hanya berdiam diri di rumah jadi aku membantunya"
"Sayang... aku bukan menikahimu untuk mempekerjakanmu.Aku menikahimu untuk membahagiakanmu"
"Aku bahagia kok sayang"ucap ku sambil menciumi suamiku.
"Aku tahu ada yang kamu sembunyikan dariku sayang.Pasti ibu sudah berulah ini"ucap Zen dalam hati.
"Sini aku obati ya sayang"
"Tidak usah sayang,nanti saja kalau mau tidur.Bukankah sebentar lagi kita masih akan makan malam"
"Baiklah sayang kalau itu maumu.Sayang...haidnya belum selesai kah.Aku sudah kangen mau buat Zen junior hehe"
"Sabar sayang...ini juga masih berapa hari"
__ADS_1
"Sudah kangen sayang...."sambil memanyunkan bibirnya padaku.
"Sabar aja kaleee..entar kalau sudah selesai kita langsung bulan madu"
"Beneran ya..."
"Beneran sayangku"
"Sayang.. sudah isya,aku sholat dulu ya"
"Iya sayang"jawabku.
Aku menscroll ponselku melihat medsosku yang sudah lama tidak ku buka.Terlihat foto Reta bersama seorang pria di status fb nya.
"Mungkin ini pacarnya..."ucapku pelan.
"Lihat apa sayang?"ucap suamiku.
"Aku melihat medsosku dan ada foto Reta lewat di beranda sedang bersama seorang laki-laki.Mungkin itu pacarnya"
Zen ikut melihat foto itu.Dia teringat kejadian ketika dulu bertemu Reta di hotel.
"Mungkin saja sayang.Ayo kita turun ke bawah untuk makan malam" ucap Zen.
Aku beranjak dari sofa dan berjalan bergandengan bersama suamiku.
Kami berjalan di tangga.Ibu menatapku dengan tajam.Mungkin dia takut aku mengadu pada anak lelakinya.Deni pun menatapku.Entah ada apa dengannya.
Zen menyeret kursi untukku.Aku duduk di kursi itu dan Zen duduk di sebelahku.Aku mengambilkan nasi dan lauk untuk suamiku,Deni hanya menatapku.
"Sayang..cukup, jangan terlalu banyak"ucap Zen.
"Baik sayang"aku melanjutkan mengambil makanan untukku sendiri.
Semua makan dengan tenang.
"Ayah kemana bu?"tanya Zen.
"Ayahmu sedang pergi ke luar negeri untuk mengunjungi proyek di sana"
"Mungkin pensiun jadi direktur, tapi tidak pensiun untuk mengurusi proyek"
"Terserah ayah dah"
Selesai makan aku membantu bik Imah membereskan meja makan.
"Non Cinta, apa tuan muda tentang tangan nona?"
"Tahu bik,aku bilang aku membantu pak Maman mencabut rumput"
"Tuan Zen tidak curiga kah?"
"Entahlah bik,aku tak memikirkannya"
"Sudah ya bik,aku akan menyusul suamiku ke kamar"
"Terima kasih sudah membantu saya non"
"Sama sama bik"
Aku mencuci tanganku dan kembali ke kamar.
Aku berjalan mendekati suamiku yang masih berkutat dengan laptopnya.
"Sayang.. pekerjaannya belum selesai kah"
"Sudah kok sayang..aku hanya mengecek ulang pekerjaanku.Kemarilah!"Zen menepuk bantal.
Aku mendekat padanya,Zen meletakkan laptopnya.
Dia memelukku dan aku menyandarkan kepalaku di dadanya.Dia mengecup mesra keningku.
"Sayang...jika kamu tidak betah di sini,kita pindah saja ya"
"Aku betah kok sayang.Aku tidak apa-apa?"
"Oh iya,mana salep untuk mengobati tanganmu.Aku hampir lupa mengobatimu."
__ADS_1
"Itu di atas nakas sayang"
Aku bangun dan duduk.Dia mengambil salep itu dan mengobati luka luka di tanganku.
"Kalau hanya membantu saja, tidak mungkin seperti ini.Apa ini ulah ibu ya"ucap Zen dalam hati.
"Tidak sakit kah sayang?"
"Tidak kok, hanya perih sedikit"
"Jika ada yang menyakitikmu,kamu bilang padaku ya sayang.Aku akan memberi mereka pelajaran untuk membalas sakitmu"
"Aku tidak apa- apa sayang.Orang-orang di sini semua baik kok"
"Apa ibu juga baik padamu"
Glek... akhirnya yang kukhawatirkan benar benar ditanyakan oleh Zen.
"Ibu baik kok sayang, kamu gak perlu khawatir"ucapku menutupi
"Sudah sayang, sudah kuobati semua"ucap Zen.
Dia menaruh obatnya di nakas.
"Ayo kita tidur sayang..."ucap Zen.
Aku tidur di dekapannya.Terasa begitu damai.Sakit di tanganku terbayar rasanya dengan kasih sayang suamiku.
Pukul 12.32
Tiba-tiba aku terbangun dan merasa haus.
"Aku tadi lupa mengisi air,huft!! terpaksa harus turun ini"ucapku.
Aku bangun perlahan agar tidak membangunkan Zen.Aku berjalan perlahan lahan menuju kulkas yang ada di dapur.Aku mengambil gelas dan menuangkan air ke dalamnya.Aku merasa ada seseorang di belakangku.Aku menoleh...
"Deni . kenapa malam malam ke sini"
"Kakak sendiri mau ngapain di sini"
"Mau minum,tadi aku lupa membawa air ke kamarku.Kamu mau ngapain?"
"Aku juga mau minum kak,haus"Deni memegang kerongkongannya.
Deni mengambil botol di kulkas dan meminumnya.
"Kak..aku boleh tanya sesuatu"
"Mau tanya apa?"
"Kenapa tadi sore kamu membuang sampah sendiri kak, bukankah di sini sudah ada pembantunya"Tak sengaja Deni melihat tangan Cinta yang terluka.
Dia mengambil tangan Cinta dan bertanya
"Kenapa dengan tanganmu ini kak, kenapa luka-luka seperti ini"
"Tidak apa-apa kok,sudah ya.Aku ke atas dulu,tak enak jika ada yang melihat kita berduaan.Aku tak mau ada salah paham"
Deni membiarkan Cinta kembali ke kamarnya.Ternyata ada mata yang tak sengaja melihat meraka berdua.Ibu ternyata ingin mengambil minum juga ke dapur.Karena merasa ada orang di sana,jadi ibu tidak segera ke sana.Dia mengintip dari dekat dapur.Kebetulan semua lampu
mati,jadi ibu tidak terlihat oleh keduanya.
"Kenapa tangan kak Cinta bisa seperti itu?Pasti ada yang berniat jahat padanya"ucap Deni sambil berjalan ke kamarnya.
Ibu berjalan ke dapur dan mengambil botol minuman.
"Sepertinya aku bisa menggunakan Deni juga untuk rencanaku hahaha.Tuhan ternyata membantuku.Aku bisa menyingkirkan mereka berdua sekaligus"ucap ibu.
Sebenarnya Deni mengalami hal yang sama denganku.Ibu tidak setuju dengannya karena Deni orang miskin.Tapi karena menuruti keinginan anak gadisnya, akhirnya dia setuju menikahkan Deni dan Fitri dengan terpaksa.
To Be Continue
Buah manggis buah mangga
Salam manis untuk readers semua.
🌹🌹🌹🌹😘😘😘😘🌹🌹🌹
__ADS_1