
Tiga bulan berlalu, kandungan Cinta sudah memasuki usia tujuh bulan.Zen mulai menyiapkan kamar sendri untuk anaknya yang akan lahir nanti.
"Sayang...hari ini kita beli perlengkapan bayi untuk menghias kamarnya"
"Kamu tidak bekerja?"
"Bekerja atau tidak bekerja kan apa kataku sayang...aku boss nya"Zen mencium keningku mesra.
"Kasihan Robert sayang, kalau harus menggantikanmu terus"
"Kenapa sekarang kau jadi perhatian sama Robert,memangnya dia suamimu"
"Kan suamiku bukan Robert, tapi kamu"Cinta bergelayut manja pada Zen.
Zen menyentil hidungnya.
''Dasar manja"
"Tapi kamu suka kan"ucap Cinta.
"Aku sangat menyukaimu, bahkan sampai mati akupun akan bersamamu"
"Bulsyeet....aku sumpahi deh,kalau kamu sampai tidak hidup bersamaku,kamu tidak akan pernah bahagia "
"Kok gitu sih"
"Biar kamu gak pindah ke lain hati "
Zen hanya tersenyum mendengar ucapan Cinta.
"Ayo kita sarapan dulu sayang ."ajak Cinta.
"Ayo.. setelah itu kita berangkat ya"
"Masih belum buka sayang... masih terlalu pagi"
"Hehhe...lupa"
Kami berjalan ke bawah untuk sarapan pagi.
"Mbok.. sudah matang semua kan masakannya"
"Sudah nyonya,ini masih mau mbok bawa ke sana"
Cinta tidak tinggal diam,dia menolong mbok Ijah menata makanan di meja makan.
"Ayo makan di sini bersama kami mbok"
"Tidak nyonya,saya makan di dapur saja"
Cinta menarik kursi untuk mbok Ijah duduk.
"Ayo duduk di sini mbok,tidak usah sungkan, anggap kami anak mbok sendiri.
Selama ini sebenarnya Cinta selalu menyuruh mbok Ijah untuk makan bersama mereka,namun dia selalu menolaknya.
"Ayo mbok.. duduk saja"ucap Zen sambil tersenyum.
"Baiklah kalau tuan dan nyonya memaksa.
Akhirnya mereka makan bertiga di meja makan.
Setelah selesai makan, Cinta membantu membereskan meja makan.
"Mbok,kita ke kamar dulu ya"
"Iya nyonya"
Kami berdua kembali ke kamar.
"Sayang....aku mau bersiap dulu ya"
"Bersiap kemana sayang"Zen mulai memelukku dari belakang.
"Bersiap ke mall lah, katanya mau belanja"
"Masih terlalu pagi,aku mau sarapan pagi yang kedua bersamamu,kita sudah lama tidak melakukannya sayang"Dia mencium tengkukku dan meremas bukit kembarku.
Sejak hamil muda Zen jarang menyentuhku, meskipun dokter membolehkan.
Katanya dia merasa kasihan melihatku yang hamil.
__ADS_1
"Bukankah kata dokter kalau lebih sering lebih baik"
"Terserah padamu,aku akan selalu melayanimu kapanpun kamu mau"
Zen segera merebahkan tubuhku ke kasur king size di dalam kamar.
Dia melucuti semua tanpa basa basi.
"Perutmu besar sayang,kamu semakin seksi"ucap Zen dengan semangatnya.
Dia melahap bukit kembarku yang semakin berisi dan kenyal.
"Ah......."aku mulai bersuara.
"Keluarkan saja suaramu sayang... aku senang mendengarnya"
Dia menjelajahi semuanya,aku semakin merasa seperti melayang ke awang-awang.Apalagi saat dia mulai bermain di gua semak belukarku.Aku tak bisa mengatakan lagi.Yang keluar dari mulutku hanya suara-suara kenikmatan.
Ketika aku hampir ke puncak,dia malah berhenti.
"Kok berhenti sayang..?"
"Aku ingin kita bersama menuju puncak"
Zen segera meluncurkan juniornya untuk masuk ke lubang gua yang penuh semak belukar.
Dia bermain di sana.Si junior maju mundur tak henti -hentinya .
Sudah satu jam lamanya kami bertempur dengan berbagai gaya.
"Sayang.....aku mau keluar"
Zen semakin mempercepat gerakan juniornya.
Dia menembak dari arah depan sambil memelukku.
"Ayo.. sayang...aku juga mau keluar"ucapku.
"Ayo kita sama-sama sayang"ucap Zen.
Si junior memuntahkan laharnya di dalam gua.
"Terima kasih sayangku...."Zen merebahkan diri di sampingku dan mencium keningku.
"Terima kasih sayang,kamu sudah mau menerimaku apa adanya"
"Jangan bilang begitu sayang..aku mencintaimu"ucap Zen.
"Aku juga mencintaimu sayang"ucap Cinta.
Dia memelukku erat.
"Aku mandi dulu ya sayang"ucap Cinta.
"Aku masih ingin bersamamu di sini"
"Aku sakit perut sayang...hehe"Cinta segera masuk ke kamar mandi meninggalkan suaminya.
Cinta segera menyelesaikan ritualnya dan keluar dari kamar mandi.
"Ayo sayang... mandilah!katanya kita mau pergi belanja"ucap Cinta.
"Baik sayang,aku segera mandi"
Zen masih mampir untuk menciumku sebelum ke kamar mandi.
"Bau kamu sayang... segera mandi sana"
"Hehe.iya sayang"
Sementara Zen mandi, Cinta merias dirinya dan berganti baju.
Zen keluar dari kamar mandi.
"Kamu sudah siap ya sayang"
"Iya sayang..."
"Aku juga akan segera bersiap"
Zen segera ganti baju,dia memakai kaos dan celana jeans.
__ADS_1
"Kamu masih terlihat tampan sayang"
"Kan ada istri yang selalu mengurusku dengan baik"
"Karena suamiku selalu memberi yang terbaik untukku"
"Ayo kita berangkat sayang"ucap Zen.
Mereka segera berangkat,tak lupa mereka pamit pada mbok Ijah.
"Mbok,kami berangkat ke mall dulu"
"Iya nyonya"
Kami berangkat ke mall berdua saja.
Tak lama kami sampai di mall besar tengah kota.
"Ayo masuk sayang"
Zen menggandeng tanganku masuk.Kami segera mengambil semua keperluan yang kami butuhkan.
"Sayang..kita beli warna apa ya baju dan perlengkapannya"tanya Zen
"Kita beli warna biru saja,kita cari yang bisa dipakai bayi laki-laki dan juga bayi perempuan sayang...jadi gak mubadzir."
"Kamu memang istri yang hemat"dia menyentil hidungku.
Setelah selesai kami langsung pulang,aku merasa sangat capek.
"Sayang... sayang..."Zen memanggil.
Ternyata yang dipanggil sedang tertidur pulas.
"Mungkin dia lelah karena ulahku tadi pagi "ucap Zen.
Zen membiarkan istrinya yang sedang tertidur.Dia kasihan melihat istrinya.
Setelah sampai rumah, Cinta terbangun dari tidurnya.
"Hoaemm... kenapa berhenti sayang"
"Kita sudah sampai sayang"
"Sampai di mana?"
"Sampai di rumah sayang"Zen membuka seat belt milik Cinta.
"Aku tertidur lama kalau begitu"
"Ayo masuk sayang,aku akan panggil mbok Ijah untuk membantu membawa barang-barang ini"
Pak satpam pun ikut membantu membawa belanjaan kami.
Cinta berjalan bahagia bergandengan tangan dengan Zen.
Ketika masuk ke rumah dia melihat ibu Zen sedang duduk di ruang tamunya.
"Ibu..."ucap Cinta kaget.
Ibu berdiri dan memeluk Cinta.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu hamil sayang...ibu bahagia sekali melihat kamu hamil seperti ini Berarti sebentar lagi aku akan punya cucu"ucap ibu.
Cinta kaget dengan perlakuan ibu yang tiba-tiba jadi baik seperti itu.
"Ayo duduk menantuku,aku ingin membelai calon cucuku ini"
Ibu menyeret Cinta untuk duduk di kursi.Terpaksa Cinta mengikuti ibu Zen.
Cinta tahu bahwa ibu tidak akan mudah berubah hanya karena dia hamil.Dia tetap berhati-hati pada mertuanya.
Ibu membelai perut Cinta dan berkata,
"Kenapa kamu tak bilang kalau kamu hamil nak..?"
"Kami tidak mau merepotkan ibu,kami ingin menanggung semua berdua"
"Jangan begitu nak, kalau ada apa-apa hubungi ibu ya, pasti ibu akan membantu kalian.Sekarang ibu pergi dulu ya,lain kali ibu akan mampir lagi"
"Iya buu, terima kasih atas kunjungannya"
__ADS_1
Ibu segera pergi dari rumah kami.
TBC....