Menantu Yang Tak Diinginkan

Menantu Yang Tak Diinginkan
# Bab 79


__ADS_3

"Apa ibumu ikuti andil dalam penculikan istrimu Zen"


" Aku tidak tahu ayah, penculiknya tidak tahu jelas siapa orang yang menyuruhnya "


" Kalau ibumu ikut andil dalam kejadian ini,dia benar-benar sudah keterlaluan Zen.Dia sudah di luar batas "


" Entahlah ayah,kami masih mencari bukti-bukti " ucap Zen.


" Ibumu sudah kehilangan akal kalau dia sampai berbuat seperti itu.Istrimu tak punya salah padanya, apalagi calon cucunya.Kenapa dia begitu tega pada cucunya sendiri" ucap ayah.


" Bukankah sejak awal ibu tak pernah suka dengan istriku yah, padahal menurutku, istriku adalah menantu idaman semua orang.Dulu saja, kalau aku tak segera menikahinya, pasti Edo yang akan menikahinya "


" Maksudmu Edo anak teman ayah itu"


" Iya ayah,dia dulu juga menyukai istriku,makanya aku segera menikahinya,aku tidak mau dia diambil orang."


" Yang dipandang ibumu hanya kekayaan saja,dia tak pernah melihat sisi lainnya.Dia sudah lupa dari mana dia berasal dulu.Seandainya dia tidak menikah dengan ayah, pasti dia juga masih miskin sekarang."


" Maksud ayah.?"


" Ibumu itu sama saja dengan Cinta.Dia juga berasal dari keluarga biasa saja seperti Cinta.Dulu ibumu tidak seperti itu,makanya ayah mencintainya.Ibumu dulu orang yang rendah hati dan tidak pernah membeda-bedakan orang dari hartanya.Hidup kaya membuat dia lupa siapa dirinya.Aku rindu ibumu yang dulu Zen " ucap ayah sambil berkaca-kaca.


" Ayah...ini ujian kita.Semoga saja ibu sadar dan bisa kembali seperti dulu.Dan semoga saja ibu bisa menerima istriku dengan baik" ucap Zen.


" Aamiin... semoga saja Zen "


" Ini sudah malam ayah, sebaiknya kita istirahat dulu.Besok kami akan ke makam Zena anakku.Cinta ingin ke sana besok.Semoga saja besok istriku sudah boleh pulang "


" Semoga saja..!" sambung ayah.


" Mas..." suara Cinta.


Zen menghampiri istrinya.


" Ada apa sayang..?"


" Aku kangen...." Cinta memeluk Zen.


" Aku juga kangen sayang..."


" Kamu bobok sini bareng aku ya..."


Mendengar itu Zen sangat senang,dia memang ingin tidur sambil memeluk istrinya.


" Ayah dan Robert sebaiknya pulang saja, biarkan aku saja yang menjaga istriku "


Ayah dan Robert paham dengan maksud Zen.


" Baiklah kalau begitu,kami akan pulang.Besok kami akan kembali kemari" kata ayah.


" Terima kasih ayah "


Robert menghampiri Zen.


" Ingat boss, rahim istri anda masih terluka" bisik Robert pada Zen.


" Iya,aku tahu Robert.Segeralah pergi, agar Istriku bisa segera istirahat "


" Baik tuan " ucap Robert sambil pergi dari kamar itu.


Zen naik ke atas kasur bersama Cinta.Dia memeluk istrinya dan mencium kepala istrinya.


" Aku mencintaimu sayang..." ucap Zen


" Aku juga mencintaimu Mas.." jawab Cinta


Mereka pun tertidur lelap berdua di atas kasur rumah sakit.


Pagi menjelang Cinta terbangun.Dia sudah merasa lebih baik dari kemarin.


" Mas..." ucap Cinta.


" Emmmmmhhhh..." jawab Zen.


" Ayo bangun.. sudah pagi !"

__ADS_1


" Sebentar lagi sayang...aku masih ingin memelukmu "


Tiba-tiba pintu terbuka,Nana dan Heru masuk ke kamar Cinta.


Mereka berdua menggelengkan kepalanya melihat Zen yang tidur di kasur bersama istrinya.


Cinta yang melihat Nana dan Heru merasa malu.Sedangkan Zen tetap saja memeluk istrinya.


" Zen.. ayo bangun" Heru menepuk pipi temannya itu.


" Mengganggu saja kalian " ucap Zen sambil tetap memeluk Cinta.


" Ayo bangun mas,malu dilihat mereka" ucap Cinta.


" Biarkan saja mereka di sini,aku masih ingin memelukmu"


" Kalau kamu tidak mau turun, bagaimana kami memeriksa istrimu,apa kau tidak ingin istrimu pulang"


" Iya iya... segera periksa dia, biar kami segera pulang dari sini" jawab Zen.


Zen turun dari kasur diikuti Cinta.


" Kamu mau kemana sayang..?"


" Aku akan ke kamar mandi juga, bukankah aku juga tak turun-turun dari tadi karenamu"


Zen menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


" Hehehe..." Zen tertawa sendiri.


Cinta segera turun dari tempat tidurnya dan ke kamar mandi.


" Sepertinya istrimu sudah sehat Zen, tapi kami tetap akan memeriksanya untuk memastikan "


" Semoga saja semuanya baik-baik saja Na"


" Mental Cinta sepertinya baik-baik saja"


" Semoga saja Na "


Cinta keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih segar.


Zen segera ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.


Cinta kembali merebahkan diri di kasurnya.


" Cinta...aku akan memeriksa keadaanmu!" ucap Nana.


" Silahkan Na..."


Nana segera memeriksa keadaan Cinta.


" Apa kau sudah selesai Na,aku juga akan memeriksanya "


" Sebentar lagi ya Her "


" Oke..."


Nana menepuk nepuk perut Cinta.


" Sakit Cin?"


" Sedikit.."


Nana menyelesaikan pemeriksaannya.


" Aku sudah selesai Her, silahkan kau memeriksanya "


Nana sedikit menjauh dari Cinta agar Heru bisa memeriksanya.


Heru mendekat pada Cinta untuk memeriksa keadaannya.Heru mulai memeriksa Cinta.


Zen keluar dari kamar mandi.


" Bagaimana keadaannya Her?"

__ADS_1


" Dia sudah baik-baik saja,dia sudah boleh pulang Zen" jawab Heru.


" Kalau dari Nana?"


" Dia sudah baikan Zen, tapi dia masih harus istirahat, jangan menggempurnya dulu "


" Hehehe....."


" Kalau begitu aku boleh pulang Na ?" tanya Cinta.


" Kamu sudah boleh pulang,tapi jangan mengerjakan pekerjaan berat dulu ya"


" Siap Na " jawab Cinta.


" Rahimmu masih belum sembuh benar,jangan terlalu banyak berkegiatan bersama Zen sebelum rahimmu sembuh benar "


" Iya Na..." jawab Cinta.


" Terima kasih kalian untuk kalian berdua yang sudah mau diribetkan oleh diriku hehe "


" Sama-sama Zen, Cinta sudah seperti saudara bagiku.Aku akan membantu kalian berkemas " ucap Nana.


Heru melepas infus di tangan Cinta.


" Robert,kamu cari kursi roda untuk membawa istriku!"


" Kan bisa telfon bos,tidak perlu aku yang mencari"


" Iya ya, lupa aku"


" Aku sudah menelfon ,mereka sedang mengantarnya kemari" ucap Heru pada Zen


" Terima kasih Her,kamu memang banyak membantuku"


" Bukankah kita teman,tak perlu ada kata terima kasih, sudah kewajiban kita saling membantu Zen"


Heru menepuk pundak Zen.


Seorang perawat masuk ke dalam kamar Cinta.


" Silahkan duduk di sini nyonya," ucap perawat itu.


" Suster, biarkan saya yang mendorongnya ya "


" Iya tuan"


Suster itu membiarkan Zen mengambil kursi roda yang dipegangnya.


"Sudah siap pulang sayang...?"


" Aku siap sayang.."


Zen menggendong Cinta ke kursi roda.Cinta melingkarkan tangannya ke leher suaminya.


Zen mendudukkan Cinta di kursi roda.


" Enak duduknya sayang..?" tanya Zen


" Sudah enak mas" jawab Cinta


Zen segera mendorong istrinya ke luar dari kamar rumah sakit itu.Nana dan Heru membantu membawa barang-barang mereka.


Robert segera mendahului Zen,dan menyiapkan mobil.


" Silahkan masuk nyonya!" ucap Robert yang sudah siap dengan mobil Zen.


" Terima kasih Robert" ucap Cinta.


Cinta masuk ke dalam mobil dengan digendong oleh Zen.


Zen memasukkan barang-barang ke mobil dan menyusul Cinta ke dalam mobil.


"Terima kasih Na, terima kasih Her" Cinta melambaikan tangannya pada Nana dan Heru.


" Ayo jalan Robert,aku ingin segera pulang ke rumah" ucap Zen.

__ADS_1


Robert melajukan kendaraannya menuju rumah Zen dan Cinta.


To Be Continue....


__ADS_2