
Aku kembali ke kamarku dan tidur.Suamiku masih tertidur dengan lelap.Aku naik ke tempat tidur dengan pelan-pelan karena tidak ingin membangunkan suamiku.Aku berbaring membelakanginya.Tiba-tiba dia memelukku,
"Kamu darimana saja sayang..."
Ternyata dia tidak tidur.Aku membalikkan badanku menghadap padanya.
"Aku dari dapur sayang,aku haus.Aku tadi lupa membawa minum ke kamar.Jadi aku ke dapur untuk minum."
"Kenapa tak membangunkanku sayang"dia berucap sambil memejamkan matanya.
"Kamu kelihatan nyenyak sekali,aku tidak tega untuk membangunkanmu.Lagian aku tidak takut kok turun sendiri."
"Ya sudah, ayo tidur lagi sayang!"
Dia begitu erat memelukku,akupun juga memeluknya.Kami tidur saling berpelukan hingga pagi.
Sementara di kamar ibu.
"Sepertinya aku bisa menggunakan Deni untuk menjebak Cinta.Sekali dayung,dua orang miskin tersapu pergi,hahaha"ibu tertawa sambil memandang langit-langit kamarnya.
Entah apa yang dipikirkan ibu,dia begitu licik dan benar-benar tak menginginkan aku untuk menjadi menantunya.
Ibu akhirnya tertidur lagi setelah tertawa-tertawa sendiri.
Keesokan pagi, seperti biasa,aku selalu membangunkan suamiku dengan menciumnya setelah aku mandi pagi.
"Kamu selalu wangi setiap pagi sayang.."ucap Zen
"Lekas bangun sayang, agar tidak terlambat sholat subuh"
"Iya sayang...cium lagi dong"
Aku menciumnya lagi agar dia segera bangun.
Dia akhirnya bangun dan pergi ke kamar mandi.Sedangkan aku pergi ke dapur membuatkan kopi.Begitulah aktivitasku setiap hari.
Selesai menyiapkan kopi,aku menyiapkan baju kerja suamiku,dan aku turun lagi untuk menyiapkan sarapan suamiku.
Aku mulai memasak bersama bik Imah,jika selesai aku kembali ke kamar dan bik Imah yang menata meja.
"Bibik, semua sudah selesai,aku ke atas dulu ya"
"Iya non"
Aku berjalan ke kamarku dan melihat suamiku yang sudah berpakaian rapi tanpa memakai dasi.
Dia selalu menungguku untuk memakaikan dasinya.
"Sudah selesai sayang... emmuachhhhh."aku mencium bibirnya dengan tiba tiba.
"Istriku ini nakal ya...suka mencuri curi ciuman.Awas ya kalau kamu sudah selesai palang merah,aku akan membalas dendam"dia mencubit hidungku.
"Ayo kita turun untuk sarapan sayang..."
Dia selalu menggandengku ketika berjalan.
Kami menuruni tangga menuju meja makan.Semua sudah tertata rapi dan kami sarapan bersama.
Tidak ada pembicaraan di meja makan.Semua makan tanpa suara.Aku hanya merasa aneh dengan keadaan ini.Tapi aku cuek saja.
Setelah sarapan aku mengambilkan tas kerja Zen dan mengantarkan dia sampai ke mobil.
Dia selalu mencium keningku,bibirku,dan juga memelukku sebelum berangkat kerja.
Itu sudah jadi kebiasaanku setiap hari.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan sayang..."ucapku sambil melambaikan tangan.
"Kamu juga hati-hati di rumah istriku"ucap Zen dengan sedikit khawatir.
"Semoga hari ini ibu tidak bertingkah aneh-aneh"
Fitri menatapku sinis,
"Biasa.. kalau baru memang masih begitu,entar lama -lama juga enggak."ucapnya.
Aku tak perduli dengan apa yang dia ucapkan.
Aku ngeloyor masuk ke dalam rumah.
Ketika aku membuka pintu, tiba-tiba ibu menjambak rambutku dan menarikku.Aku jatuh tersungkur membentur meja.
"Aw....sakit bu.Aku salah apa bu?"
"Kamu mau tanya apa salahmu,kamu miskin dan berani menikahi putraku.Kamu tidak pantas menjadi nyonya di sini,kamu hanya pantas menjadi pembantu"bentak ibu padaku.
Ibu mendekatiku lagi dan menyeretku ke kamar mandi.Dia melemparku ke dalam sana dan menyuruhku membersihkan kamar mandi itu.
"Bersihkan kamar mandi itu,dan semua kamar mandi yang ada di rumah ini dalam waktu 2 jam, kalau tidak selesai,aku akan menambah pekerjaanmu."
"Baik nyonya..."
Ibu pergi ke ruang tengah dan bersantai.
Aku mulai membersihkan kamar mandi.Semua celah aku sikat.
"Aku tidak boleh menangis,aku harus menjalani ini semua demi cintaku pada suamiku"
Aku mulai bernyanyi-nyanyi untuk menghibur diriku sendiri.Tiga puluh menit kemudian aku sudah selesai membersihkannya.
"Hei perempuan miskin,apa sudah selesai?"ibu menarik rambutku lagi.
"Sekarang bersihkan kamar mandi di kamarku"ibu menyeret diriku yang membawa ember dan sikat.
Bruak....ibu menjatuhkanku.
"Segera bersihkan dalam waktu lima belas menit"
Kamar mandi ibu penuh lumpur, mungkin dia memang sengaja membuat kamar mandi ini begitu kotor.
"Jangan melamun!! Segera kerjakan pekerjaanmu"
"Iya nyonya"
Aku segera membersihkan dengan cepat.Keringatku mengucur meskipun aku ada di dalam kamar mandi.Ku sikat semua sampai lumpur-lumpur itu menghilang semua.Ibu duduk di kamarnya sambil bertelfon dengan seseorang.
"Iya sayang....nanti kita ketemu ya"ucap ibu.
Begitulah sedikit yang aku dengar dari ucapan ibu yang telfon dengan seseorang di seberang sana.
"Sudah nyonya"ucapku.
Ibu terkejut ada aku.Dia langsung mematikan telfonnya.
"Kau ini tidak sopan,menyela pembicaraan orang"ucapnya.
"Ya sudah kalau begitu, segera lanjutkan ke kamar mandi milik Fitri"
"Apa saya boleh masuk sendiri ke sana nyonya"
"Oh iya.Jangan masuk sendiri, nanti barang barang ankku hilang semua.Di sana banyak perhiasan yang pastinya mahal"
__ADS_1
Aku cuek saja dengan perkataan ibu.Aku sudah terbiasa dengan ucapan kasarnya.Aku anggap ucapan ibu senam telinga.
"Bik Imah...."panggil ibu.
"Iya nyonya"
"Antar perempuan miskin itu ke kamar Fitri untuk membersihkan kamar mandi.Ingat!!Jangan bantu dia!"
", Bukankah kamar mandinya sudah saya bersihkan tadi nyonya"
"Sssttt... sudah diam.Antar saja dia ke sana"
'Iya nyonya.Ayo non ikuti saya"
Aku berjalan mengikuti bik Imah.
Ceklek..bik Imah membuka pintu.
Kamarnya tak jauh beda dari kamarku.Malah lebih besar milikku.
"Non..itu kamar mandinya"
"Iya bik"
Aku berjalan masuk dan mulai membersihkan kamar mandi.Bik Imah hanya melihatku saja.
"Non...maaf kalau non diperlakukan seperti ini.Padahal non orangnya baik banget, tapi ibu bisa benci pada non.Bik Imah tak paham,dia ingin punya menantu seperti apa?"
"Dia ingin punya menantu kaya bik, aku hanya wanita miskin yang tidak bisa ibu banggakan ke teman-teman sosialitanya."aku berbicara sambil membersihkan kamar mandi.
"Bik Imah ..."panggil nyonya.
Bik Imah mendengar dirinya di panggil nyonya besarnya.
"Non.. sebentar ya,nyonya besar memanggil saya"
"Iya bik, pergilah"
Bik Imah melangkah pergi dari kamar.
Sebenarnya kamar mandi ini tidak begitu kotor.Ibu hanya ingin menambah pekerjaanku saja.
Aku mengerjakannya dengan senang hati dengan bernyanyi-nyanyi.
Aku tidak mendengar ada langkah masuk seseorang.
"Kenapa pintu kamarku terbuka?aku mendengar suara perempuan bernyanyi dengan merdu"
Deni melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.Ada berkas kantor yang ketinggalan di rumah.Dia mencari asal suara itu.
"Sepertinya dari kamar mandi"ucapnya.
Dia tidak melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan membuka pintu.
Ceklek...pintu terbuka
Pandangan mata kami saling bertemu..
"Kak Cinta???"....
To Be Continue. ......
Mampir di cerita ku yang lain yuk kak
Terimakasih banyak 😘😘😘😘
__ADS_1