Menantu Yang Tak Diinginkan

Menantu Yang Tak Diinginkan
#Bab 77


__ADS_3

Mendengar perkataan Bram, penjahat itu tak bergeming.


"Bawa saja mereka ke belakang, lagipula kalau dibuang di jalan, tidak akan ada yang mengenalnya.Wajah mereka sudah hampir hancur dipukuli olehmu Zen"ucap Bram.


'Jangan tuan.. jangan berikan saya ke singa."pinta salah satu penjahat itu.


"Kalau kau tidak mau jadi makanan singa,maka berbicaralah"


"Kami tidak tahu siapa yang menyuruh kami tuan,kami hanya diberi foto target,dan kami hanya bertemu sekali dengan yang menyuruh kami.Itupun dia memakai masker dan kacamata,jadi kami tak bisa mengenalinya " jawab salah satu penjahat.


"Dia laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan tuan"


"Dia muda atau sudah tua" tanya Zen lagi


"Dia seumuran anda tuan, tidak terlalu tua"


Zen bergumam sendiri.


"Bagaimana Zen,apa dia juga kita bawa ke kandang singa?" tanya Bram.


"Terserah padamu Bram,aku pergi.Ayo kita pergi Robert,aku akan kembali ke rumah sakit "


"Tuan... tolong saya tuan, bukankah saya sudah memberi informasi tuan, kasihanilah saya tuan.Istri dan anak saya menunggu di rumah.Saya melakukan ini karena terpaksa."ucap penjahat itu.


"Bram, lepaskan yang satu itu"ucap Zen pada Bram.


"Aku akan melepaskanmu asalkan kamu tidak mengulanginya lagi"ucap Zen.


"Baik tuan, saya akan cari yang halal saja.Saya sudah kapok tuan, saya janji akan berhenti.Terima kasih banyak tuan"ucap penjahat itu.


"Aku pergi Bram, terima kasih banyak"


"Sama-sama Zen, senang berbisnis denganmu"ucap Bram.


Mereka saling berjabat tangan.


Zen dan Robert keluar dari sana untuk kembali ke rumah sakit.


"Buang mereka berdua ke kandang kesayanganku, yang satu lepaskan saja "perintah Bram pada anak buahnya.


"Siap tuan'


Bram meninggalkan mereka di gudang dengan anak buahnya.


"Ayo kalian berdua....'' anak buah Bram menyeret keduanya ke kandang singa.


Sudah bisa ditebak bagaimana nasib keduanya.


Di perjalanan Zen....


Robert melihat tuannya merenung.


"Apa yang anda pikirkan tuan?" tanya Robert.


'' Aku memikirkan penculik itu Robert,dia bilang yang menyuruhnya adalah wanita yang seumuran denganku, siapa kira-kira wanita itu?


Kalau saja lebih tua, mungkin saja itu ibu, tapi ini seumuran denganku Robert.Aku merasa tak punya musuh seorang wanita yang seumuran denganku."


"Mungkin saja ibu anda menyuruh orang lain tuan"


"Entahlah Robert,bisa jadi juga seperti itu.Tapi akhir-akhir ini ibu sudah mau menerima Cinta"


"Terserah tuan, kalau saya masih tetap tidak percaya pada ibu tuan.Tidak mungkin dia berubah secepat itu."


"Iya juga ya... tapi kita tak punya bukti Robert"


"Biarlah waktu yang berbicara tuan.Suatu saat nanti, pasti kita akan menemukannya"


"Semoga saja" pandangan Zen mengarah ke jalan.


Satu jam kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Zen keluar dari dalam mobilnya dan segera ke kamar istrinya.


Zen membuka pintu kamar Cinta,dan dia melihat istrinya duduk menekuk lututnya di atas kasur dengan tatapan kosong.


Zen berlari dan memeluk istrinya.

__ADS_1


"Sayang.....kamu kenapa? Sadarlah sayang...aku suamimu" Zen mengguncang-guncang istrinya.


Cinta tetap terdiam tanpa merespon suaminya.Dia tak bergeming.


" Na..ada apa dengan dia?"


"Sepertinya dia mengalami depresi berat Zen" ucap Nana


"Sayang....aku suamimu... sadarlah sayang.."


Cinta hanya menoleh saja tanpa menghiraukan suaminya.


"Heru....Nana.... bagaimana ini?"


"Tidak ada yang bisa menyembuhkannya selain dirinya Zen"


"Her.... aku harus bagaimana?"


"Kamu harus lebih bersabar menghadapinya,dia sedang mengalami trauma berat Zen.Dia butuh waktu lama untuk penyembuhannya"


Tiba-tiba Cinta menangis keras.Zen memeluknya.


"Kembalikan anakku.. kembalikan anakku...hiks hiks"


"Sayang.... sadarlah...dia sudah pergi sayang...Allah lebih sayang pada anak kita."


"Semua ini gara-gara kamu mas, kamu terlambat datang menolongku,kamu yang membunuh anakku,ini semua gara-gara kamu" Cinta memukuli suaminya.


Zen semakin mempererat pelukannya.


"Cinta...jangan seperti ini... maafkan aku..maafkan aku sayang..." Zen ikut menangis juga.


Cinta kembali pingsan lagi dan Heru segera mendatanginya.


"Minggir dulu Zen, aku akan memeriksanya"


Heru memeriksa Cinta.Dia melihat nadi dan denyut jantungnya.


"Dia tidak apa-apa Zen,dia hanya masih shock.Dia akan bangun sendiri nantinya. Bersabarlah, jangan lupa berdoa pada Yang Kuasa.Aku pulang dulu Zen,nanti kalau ada apa-apa telfon aku ya"


"Aku pulang juga ya Zen,jangan sungkan untuk menelfonku kalau ada apa-apa"


"Iya Na, terima kasih "


"Kami pulang dulu ya Zen" ucap Heru.


" Iya, terima kasih "


Heru dan Nana segera pergi dari kamar Cinta.


Cinta tersadar dari pingsannya.


"Sayang...kamu sudah sadar"


"Aku lapar mas"


"Mau makan apa sayang...?"


" Gado-gado mas"


"Aku akan menyuruh Robert membelikannya "


Zen menelfon Robert,


"Hallo...Robert, tolong belikan gado-gado ya!"


"Baik tuan " jawab Robert dari seberang sana.


"Segera ya Robert"


"Iya boss "


Zen menutup telfonnya.Dia memandang istrinya dan membelainya.


"Sayang...kamu sudah baikan" tanya Zen.


Cinta hanya mengangguk saja.

__ADS_1


"Sayang...anak kita dimana?' tanya Cinta.


"Dia sudah tenang di surga sayang.Aku menyuruh Robert untuk memakamkannya.Dia cantik sekali sepertimu" Zen menunjukkan foto anaknya.


Cinta mengambil handphone milik Zen dan meraba raba wajah anaknya yang ada di handphone suaminya.


"Benar katamu sayang..Dia cantik sekali" Cinta meneteskan air matanya.


"Sayang...dia sudah bahagia di sana.Dia menunggu kita di surga"


"Iya sayang..aku yakin itu"


Kriet.... terdengar suara pintu dibuka.


Terlihat Robert membawa makanan yang diinginkan Cinta.


" Ini pesanannya tuan?" kata Robert sambil memberikan sebungkus gado-gado.


Zen mengambil bungkusan dari tangan Robert.Zen mulai menyuapi Cinta.


"Ayo makan dulu sayang.." ucap Zen.


Cinta membuka mulutnya dan mulai makan.


"Mas,besok antar aku ke makam anak kita"


"Zena...aku memberi nama dia Zena Andriana Wijaya"


"Zena... nama yang bagus mas"


"Ayo makan lagi sayang.."


"Iya Mas"


Cinta membuka mulutnya dan makan sampai habis semua gado-gado itu dengan di suapi oleh suaminya.


"Sayang..aku minta maaf atas semuanya,aku tak mempercayai ucapanmu.Sehingga menyebabkan semua ini terjadi"


"Tidak ada yang perlu dimaafkan"


"Maksudmu,kau tidak memaafkanku"


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, lebih baik kita saling memperbaiki bersama semuanya, jangan pernah menyalahkan satu sama lain.Rumah tangga itu bisa berjalan jika dua orang saling bekerjasama,bukan saling menyalahkan"


"Kamu tidak menyalahkanku atas semua ini"


"Tidak mas, semua sudah takdir dari Yang Kuasa,kita harus menerima semua dengan lapang dada"


Zen semakin terkagum dengan istrinya itu.Meskipun Cinta lebih muda, tapi berpikirnya bisa lebih dewasa.


"Sayang...aku mencintaimu" Zen memeluk dan menciumi istrinya.


"Ehemmm....ehem....ada anak di bawah umur boss,jangan mengotori matanya"


"Di bawah umur apanya,di atas umur yang ada"


" Hehehe.." Cinta tertawa


Robert bahagia bisa membuat Cinta tertawa.


"Mas.. aku tidur dulu ya, aku merasa sangat capek" ucap Cinta.


"Iya sayang,tidurlah.Aku di sofa bersama Robert ya.."


" Iya..."


Cinta berbaring dan Zen menyelimutinya..


To Be Continue...


Tinggalkan jejak kalian di sini....


Terima kasih untuk readers yang masih setia di sini


Terluv buat kalian..


😘😘😘😘❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2