Menantu Yang Tak Diinginkan

Menantu Yang Tak Diinginkan
#Bab 81


__ADS_3

Tiga tahun berlalu sejak kematian Zena.Cinta tak kunjung hamil lagi.


Di suatu sore yang indah,Zen dan Cinta duduk berdua di taman belakang.


" Mas,apa kau tidak menginginkan anak lagi" tanya Cinta.


" Aku menginginkannya sayang, tapi jika Allah belum memberi kita kepercayaan lagi.Aku akan sabar menanti waktu itu lagi." jawab Zen


" Apa mas tidak akan mencari perempuan lain ?"


" Kau wanita paling sempurna untukku sayang..." Zen memeluk istrinya dan mencium keningnya.


" Aku bahagia bersamamu sayang " Cinta mencium bibir suaminya dan berlari.


" Mau lari kemana kamu sayang...." ucap Zen.


Mereka berdua berlarian di taman.


" Kena kamu ya..." Zen menangkap Cinta dan berguling di tanah dengan posisi Cinta ada di bawah.


Zen ******* bibir istrinya dengan nafas yang masih terengah-engah.


Cinta menjauhkan Zen dari dirinya.


"Kamu tidak akan berhasil sayang....aku menikmati ini semua"


Zen melanjutkan kegiatannya.Kebetulan hari itu pembantu dan satpam sedang libur.


Dia mencium leher istrinya dan turun ke bawah bukit kembar yang menantang.


" Mas... jangan di sini,nanti ada yang melihat ?"


" Tidak akan ada yang melihat sayang..."


Zen tetap saja menikmati istrinya.


" Ah.... kita ke kamar saja sayang..." ucap Cinta.


" Oke..." Zen menghentikan kegiatannya dan menggendong istrinya ke dalam.


Cinta mengalungkan tangannya ke leher Zen.


Ketika sampai ke ruang tengah, tiba-tiba ibu menyapa mereka.


" Pengantin lama aja masih kayak gitu..hem..." ibu mencibir mereka.


" Ada apa ibu tiba-tiba ke sini ?" Zen tetap menggendong istrinya di pelukannya.


" Ibu hanya berkunjung"


" Kami mau melanjutkan kegiatan kami dulu, silahkan ibu duduk saja di sini"


" Mas, turunkan aku.Jangan seperti ini.Dia ibumu mas,hormati dia"


" Aku ingin mengajak Cinta jalan-jalan.ke mall" ucap ibu.


" Jalan-jalannya nanti saja bu.Nanti aku akan mengantar Cinta ke mall.Kita ketemu di sana saja"


" Baiklah,ibu menunggumu Cin?"


" Iya bu" jawab Cinta.


Ibu pergi dari rumah itu.


" Mas,kenapa kau tidak menurunkan aku ketika ada ibu"


" Biar saja,ayo kita lanjutkan lagi buat dedek buat Zena"


" Dasar kamu ya..." ucap Cinta


Zen menggendong istrinya ke kamar, tak lupa dia mengunci pintu kamarnya.

__ADS_1


Zen menurunkan Cinta dan langsung menyerangnya di dekat pintu.Dia ***** bibirnya, sementara tangannya bermain di bukit kembar yang kenyal.


Cinta masih dalam posisi berdiri.Zen mulai turun ke bukit dan bermain-main di sana.Tangannya mulai membuka tabir segitiga di gua gelap istrinya.


Suara sahut menyahut terdengar di kamar itu.


Zen turun lagi ke gua gelap yang gundul tanpa semak belukar.


Dia memainkan lidahnya di sana.


" Ah......."


Cinta begitu menikmatinya.Si junior sudah tidak sabar untuk menjelajah di gua gelap miliknya.


Zen segera melepas belenggu junior,dengan posisi berdiri dia masukkan junior dari depan dan kaki istrinya diangkatnya sebelah untuk melancarkan jalan ke tujuannya.


Jeritan terdengar dari mulut Cinta.


" Sakit kah sayang..."


" Tidak.... hanya ada sensasi berbeda"


Zen tersenyum mendengarnya.


Dia memainkan juniornya di dalam gua.Dibaliknya posisi istrinya.Dia hujamkan juniornya dari belakang.Ditariknya maju mundur.


" Sayang....aku mau sampai" ucap Zen


" Aku juga mau sampai mas...."


Zen semakin mempercepat gerakannya.


Mereka berpindah ke sofa.Cinta duduk dan Zen menghujamnya dari depan sambil memeluknya.


Zen semakin cepat bergerak maju mundur.


Cinta meracau tak karuan.


" Aku mau sampai sayang..." ucap Zen


Zen semakin cepat melakukannya.


" Sayang..."


" Mas....."


Mereka melenguh bersamaan.


" Ah... terima kasih sayang.Kamu selalu bisa menyenangkanku" Zen memeluk Cinta dan mencium bibirnya.


Zen menggendong Cinta dan beralih ke tempat tidur untuk istirahat.


Zen menyelimuti istrinya dan ikut tidur di sampingnya.


" Ayo kita tidur sayang..." ucap Zen


Cinta hanya mengangguk saja.


Setelah pertempuran itu,mereka tertidur lelap tanpa suara.


Sore hari Zen terbangun karena suara ponselnya.


Dia bangun dan mengambil hpnya di atas nakas.


" Hallo..."


" Hallo..dimana istrimu Zen..."


" Istriku masih tidur,ada apa bu?"


" Bukankah tadi siang kita sudah janjian di mall"

__ADS_1


" Oh. iya,aku lupa.Lain kali saja ya bu, istriku sedang tertidur lelap." Zen menutup sambungan telfonnnya dan kembali tidur memeluk Cinta.


" Mas, kenapa kau bilang lain kali pada ibu,kan kasihan ibu mas "


"Biarkan saja sayang, biarkan ibu jalan-jalan sendiri.Aku takut ada apa-apa padamu jika ibu yang mengajakmu"


" Jangan seperti itu mas,dia tetaplah ibumu "


" Tapi aku lebih mencintaimu sayang...." Zen memeluk erat istrinya.


" Tapi aku ingin jalan-jalan mas "


" Kapan-kapan saja,hari ini aku ingin seperti ini dulu.Berdua denganmu."


Cinta membalikkan tubuhnya menghadap suaminya.


" Terima kasih masih mau bersamaku sampai saat ini, meskipun aku masih belum hamil lagi,kau masih mau menerimaku.Aku mencintaimu Zen Andrian Wijaya"


" Aku juga mencintaimu Cinta Andriana"


Cinta tiba-tiba naik ke atas tubuh suaminya.


" Aku menginginkannya lagi sayang, biarkan aku yang akan melayanimu di permainan ini "


" Dengan senang hati sayangku..."


Mereka memulai lagi peperangan ronde kedua di hari itu dengan Cinta yang memimpin permainan.Sudah lama mereka tidak melakukannya berkali-kali karena Zen sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk.


Sementara di sebuah rumah kontrakan.


" Kamu puas sayang...." ucap Satria.


" Kau selalu bisa memuaskanku" ucap Fitri.


Mereka berdua sudah lama berhubungan,namun Fitri tetap tidak mau berpisah dari Deni.


" Fit, kenapa kamu tidak mau berpisah saja dari Deni, menikahlah denganku"


" Aku tidak punya alasan untuk berpisah darinya Sat.Aku tidak ingin ada di pihak yang bersalah,aku ingin dia yang terlihat bersalah jika memang nantinya aku berpisah dengannya"


" Suatu saat nanti, pasti akan ada jalan untuk itu,aku yakin Fit"


Satria memeluk erat Fitri.


Di hotel lainnya ternyata ibu Zen juga sedang berduaan dengan seorang laki-laki.Dia bersama mantan pacarnya sewaktu SMA.


Karena Cinta tadi tidak mau jalan-jalan dengannya,dia langsung menelpon selingkuhannya untuk bertemu.


" Kamu semakin cantik sayang.." dia membelai rambut ibu Zen


" Benarkah..." ucap ibu Zen


" Aku menjadi semakin tergila-gila padamu"


Mereka mulai membuka apa yang membalut tubuh mereka hingga tak bersisa sehelai benangpun.


Mereka memulai pergumulan panjang mereka di siang hari yang panas.


Sejam kemudian mereka selesai dengan pergumulan mereka.


" Sayang...apa kau tidak takut ketahuan suamimu?"


" Dia tidak akan tahu,dia mengurus perusahaannya yang di luar negeri"


" Sayang...aku butuh uang untuk membayar hutangku"


" Aku sudah menyiapkannya untukmu sayang.."


Ibu Zen mengeluarkan segepok uang ratusan pada Sony selingkuhannya.


"Semoga kita sering bertemu, jadi aku bisa dapat uang banyak dari dia" ucap Sony dalam hatinya.

__ADS_1


Ternyata dia hanya memanfaatkan ibu Zen untuk mendapatkan uang.Namun ibu Zen yang sudah terkena bujuk rayu Sony, tidak merasa bahwa dirinya hanya digunakan sebagai alat.


To Be Continue


__ADS_2