
Perdana Menteri panik saat Keanu menyampaikan laporan dari anak buahnya jika seseorang berhasil menyusup kediaman barunya.
Pria tua itu seketika pusing, ia gusar sekali padahal ia sudah menyewa banyak bodyguard agar siapapun yang selalu mengusik bisnisnya tidak mudah mendekatinya tapi sekarang nampaknya orang itu muncul lagi dan akan membuatnya rugi untuk kesekian kalinya.
"Nu, ayo kesana ?" Ucap Perdana Menteri.
"Baik tuan !" Patuh sang pengawal pribadi.
Dengan cepat ia membukakan pintu mobil untuk Perdana Menteri dan segera melajukan mobilnya ke rumah barunya.
"Sial. Siapa sebenarnya yang selalu mengangguku ?" Umpat pria tua itu.
Kemarin-kemarin penyelidikan yang ia cari diam-diam tidak membuahkan hasil namun jika membiarkan kepolisian resmi untuk mengusut kasus-kasus yang terjadi maka pasti terungkap keterlibatan dirinya dengan semua penjahat yang mati itu.
"Tidak bisa seperti ini terus, aku harus menemukan dalang dari semua ini dan melenyapkannya !" Ucapnya, ia yakin jika pelaku adalah orang yang sama yang selalu menghancurkan rencananya dan sialnya ia tidak tahu seperti apa orang itu bahkan bayangannya saja tidak.
"Tunggulah, jika aku menemukanmu maka kamu akan merasakan kepedihan akibat bermain-main denganku !"
Keanu hanya terdiam mendengar ucapan itu. Pria tua itu tampak gelisah, matanya menatap liar kesana-kemari dengan pikiran yang berputar cepat.
"Sepertinya aku harus pergi dari negara ini untuk sementara waktu sampai suasana cukup aman !" Ucap Perdana Menteri tiba-tiba.
"Pesawat Jet sudah siap seperti rencana awal tuan !" Ucap Keanu.
"Tidak, aku akan pergi ke negara lain dulu !"
"Anda berniat pergi kemana ?"
"Afrika, aku tidak akan pergi ke Irak. Ya, aku akan pergi diam-diam kesana, disana aku bisa bersembunyi sementara jadi pastikan tidak ada yang tahu keberadaanku selain dirimu !" Titah sang atasan.
"Baik tuan !"
"Baiklah, tanyakan pada pihak pesawat jet jika tujuanku berubah, aku ingin berangkat malam ini juga dan membawa semua senjata itu !"
"Baik tuan !" Ucap Keanu seraya menekan tuts Hp-nya yang menempel di dashboard mobil.
Panggilannya diangkat dan Keanu mengatakan jika Perdana Menteri merubah tujuannya dan tetap berangkat malam ini, setelah obrolan yang sedikit alot akhirnya si penerima telpon menyanggupi dalam beberapa jam kedepan.
*****
Setelah mengikat seluruh bodyguard itu dan mengurungnya di kamar belakang. Bryan dan Jerry kembali kekamar dimana barang berharga Perdana Menteri tersimpan.
Terlihat belasan peti mati berjejer disana dengan berbagai macam senjata berada didalamnya, dari bentuk kecil hingga besar juga Laras pendek dan panjang. Berbagai senapa angin tak luput disana serta bermacam-macam bentuk peluru.
"Ini mau dijual ?"
"Pastinya, dan semua senjata ini juga bernilai ratusan juta dollar meski tidak semahal nerkotika kemarin !"
"Oh, wow. Lalu ? Mau kita apakan semua pistol ini ?"
Bryan terdiam, ia juga bingung mau bagaimana dengan benda-benda ini.
"Telepon polisi !" Perintah Bryan yang langsung dikerjakan Jerry.
Saat asik menelisik semua benda yang ada diruangan itu, terdengar suara mobil berhenti disana membuat Bryan dan Jerry saling pandang, segera saja Jerry keluar dari ruangan itu meninggalkan Bryan disana.
Saat Perdana Menteri memasuki rumah itu bersama Keanu yang juga terkejut melihat rumah itu tidak ada penjagaan dengan pintu terbuka lebar, pria angkuh itupun segera memasuki rumah mencari semua bodyguard yang kompak menghilang.
Sedangkan Perdana Menteri, ia yang panik langsung menuju kamarnya dan saat pintu kamar itu terbuka dan terlihat wajah terkejut Perdana Menteri saat melihat siapa yang berada disana.
Bryan pun awalnya terkejut namun perlahan senyum sinis muncul dibibirnya.
"Apa kabar tuan Joseph ? Kau merindukanku ?" Tingkah Bryan begitu santai.
__ADS_1
"Collins ?" Ucap Perdana Menteri tidak percaya.
"Benar, beberapa tahun tidak bertemu apa kamu merindukanku !" Jawab Bryan santai.
"Apa yang kau lakukan disini ?" Tanya Perdana Menteri gugup. Ia tidak menyangka akan melihat orang ini lagi. Tadinya ia pikir laki-laki ini masih berada di Indonesia sebab bisnisnya disini dipegang orang lain.
"Hanya jalan-jalan saja !" Jawab Bryan enteng.
"Pergilah, ini bukan tempat untuk jalan-jalan !" Lirih Perdana Menteri, entah mengapa aura pria didepannya membuatnya merinding.
"Selama ini aku menunggumu untuk menawarkan kerjasama lagi pada perusahaanku seperti dulu kau bekerjasama dengan ayahku tapi mengapa kau tidak pernah mendatangiku lagi ?" Bryan pura-pura pilon dan mimik lawan bicaranya sekejab pucat.
"Kau tahu aku sangat sibuk dan juga aku tidak tahu jika kau kembali ke negara ini. Aku pikir kau akan bertahan di Indonesia ?"
Bryan terdiam dan memandang tajam pada pria tua itu.
"Kau tahu, aku berhasil menemukan orang-orang yang membuat orang tuaku terbunuh. Terima kasih padamu yang memudahkanku untuk menemukan mereka !"
Mendengar itu, pria tua itu tersentak.
"Baguslah, aku harap dendammu terpenuhi !" Ucap pria tua itu.
"Tapiiiiiiiii..........!"
Bryan tersenyum aneh membuat Perdana Menteri merinding.
"Aku sudah tahu kebenarannya, bahwa kaulah yang membunuh kedua orang tuaku !" Teriak Bryan membuat Perdana Menteri terkejut.
"A...apa ? Apa maksudmu ?" Pria tua itu gugup.
"Kau tahu, aku hampir membunuh orang yang tidak bersalah dan itu semua akibat cerita bohongmu padahal kaulah pelakunya !" Mata Bryan memerah.
Perdana Menteri itu meski shock namun ia berusaha untuk tetap tenang, ia sadar situasi sekarang ini tidak berpihak padanya maka dari itu dia harus mencoba kembali memprovokasi pria didepannya.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan karena semua sudah jelas !" Bentak Bryan.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan, aku akan memperjelas semuanya !"
"Tidak perlu, saat aku hampir mengacaukan segalanya, aku langsung kembali ke negara ini dan mencari tau semua kebenarannya. Kebenaran yang sangat valid hingga aku menemukan pelaku sebenarnya yaitu kau !"
"Tunggu..... !" Perdana Menteri masih mencoba mengatasi, posisinya sangat tidak bagus apalagi Bryan berdiri begitu dekat dengan senjata itu.
"Jadi aku mulai memburumu, oh ya, aku beritahu rahasia padamu yaitu akulah yang membuang semua narkotika itu ke laut ya itu adalah perbuatanku !" Bryan tersenyum jahat membuat Perdana Menteri terperangah amat sangat.
"Apa maksudmu ?" Ganti perdana Menteri yang membentak.
"Aku yang menyusup ke kapal itu dan membuang semua narkotika itu ke laut. Hahahahahaha !" Bryan tertawa kencang. Perdana Menteri terkejut bukan main, menatap pria didepannya tidak percaya.
"Lalu pembunuhan di museum itu. Apa itu juga ulahmu ?" Tanya pria tua itu dengan gigi gemeletuk. Bryan tidak menjawab hanya menatap datar pada pria tua namun detik berikutnya senyum sinis mengejek tersungging dibibirnya membuat Perdana Menteri itu shock.
"Dan sekarang aku juga ingin menginginkan ini !" Tunjuknya pada semua senjata dibelakangnya.
Perdana Menteri terdiam mencerna ucapan pemuda didepannya. Ia tidak menyangka sejak lama ia mencari tahu tentang dalang dari semua kesialan yang sangat merugikannya dan kini biang kerok itu berdiri didepannya dan mengakui segalanya tanpa dosa.
"KURANG AJAR !" Perdana Menteri murka dan dengan cepat menerjang Bryan yang tak menduga serangan mendadak itu.
Sementara itu, Keanu mencari ke setiap tempat semua orang tanpa tahu seseorang sedang memperhatikan gerak-geriknya dan saat membuka kamar belakang, ia terkejut melihat semua anak buahnya dalam keadaan terikat dan mendengkur nyaring berjamaah. Kemudian ia merasakan dibelakangnya seseorang pelan-pelan mendekatinya. Saat dirasa orang itu semakin dekat, Keanu langsung berbalik dan bersiap menonjok orang itu namun sebuah semprotan tepat diwajahnya membuat kesadarannya hilang seketika.
Jerry tersenyum puas saat pria angkuh itu ambruk dilantai, ia berhasil menyemprotkan cairan obat bius sebelum kepalan tangan itu menghantam wajahnya. Ia sangat sadar kalah jauh dari kemampuan beladiri dari pria angkuh ini.
Pukulan dan tinju menghujani wajah dan tubuh Bryan hingga membuat cowok itu jatuh terlentang dan memudahkan pria tua itu memukulinya dengan brutal tanpa Bryan bisa hindari meski kemudian pria tua itu kelelahan dengan nafas ngos-ngosan. Segera ia bangkit dan meraih sebuah pistol beserta pelurunya.
Memasangkannya dengan cepat dan menodongkannya kepada Bryan. Sontak saja Bryan mematung, wajahnya yang mulai lebam pucat seketika membuat Perdana Menteri tersenyum sinis.
__ADS_1
"Mana tadi wajah sombongmu itu ?" Ganti Perdana Menteri yang tertawa jahat.
"Kau tahu, seperti apa perjuanganku untuk sampai diposisi ini ? Apa kau tahu berapa banyak yang kukorbankan untuk mempertahankan semua ini ? Banyak, banyak sekali !"
"Termasuk membunuh orang-orang tidak bersalah !" Sinis Bryan.
"DIAM KAU !" Bentak Perdana Menteri.
"Ayahmu yang bodoh itu, andai saja ia mau kembali bekerjasama maka aku pastikan bisnisnya akan kembali berjalan lancar, hanya sedikit sandungan ia malah ingin menyerah dan kembali ke Indonesia. Aku mencarinya kemana-mana dan setelah menemukannya, aku berbicara sebaik mungkin agar ia kembali bekerjasama dengan kami. Apa kau tahu dia bilang apa ?"
"Tidak, suatu hari nanti putra-putraku akan mewarisi bisnis ini dan aku tidak ingin mereka terjebak didunia hitam. Aku ingin mereka hidup normal seperti anak-anak lainnya jadi sampai aku mati aku tidak akan bekerja dengan kalian lagi !" Ucap Perdana Menteri yang kemudian membuatnya mencibir.
"Laki-laki itu begitu kolot, aku bahkan mengancamnya untuk membunuhnya tapi dia bilang tidak takut padaku atau pada geng mafia yang berdiri di belakangku. Huft, ayahmu benar-benar menyebalkan !"
Bryan terpaku ditempatnya, hatinya kembali sakit mendengar itu. Demi dirinya dan adiknya, ayahnya rela menjemput ajal. Air mata Bryan jatuh dipipinya. Melihat itu Perdana Menteri itu tertawa terbahak-bahak.
"Ya ampun, ternyata kau cengeng seperti perempuan sama seperti ayahmu yang bertingkah seperti pahlawan tapi pada dasarnya dia laki-laki cengeng dan pengecut !" Ejek pria tua itu.
"DIAM KAU. KAU YANG PENGECUT DAN CENGENG, SIALAN !" Bryan berteriak seraya bangkit dan berusaha menyerang pria didepannya.
DORRR.
Jerry yang sedang mengikat tubuh Keanu kaget mendengar suara tembakan itu, ia panik namun berusah tetap tenang dengan mendatangi arah suara dengan harapan semoga kakaknya baik-baik saja dan apa yang dilihatnya seketika membuat jantungnya nyaris berhenti berdetak.
Bryan tergeletak dilantai dengan darah yang mengucur dari bahu kanannya, ia terlihat shock melihat keadaannya sendiri.
"Huh, nampaknya kau datang untuk mengantar nyawa padaku. Pada akhirnya kau bodoh sama seperti ayahmu !" Hina Perdana Menteri sinis.
Mendengar itu Bryan emosi dan berusaha bangun untuk menyerang pria tua didepannya.
DORRR.
Satu tembakan lagi mengenai dada kanan Bryan membuat cowok itu sektika ambruk dilantai tak sadarkan diri dengan darah yang mengucur banyak.
Jerry shock, menatap tidak percaya pemandangan didepannya. Jantungnya terasa berhenti berdetak melihat keadaan Bryan sekarang, rasanya ia ingin berteriak dan menyerang tua Bangka yang sedang memeriksa kelengkapan senjata didepannya.
Samar-samar Jerry mendengar suara sirine mobil polisi dan nampaknya sang Perdana Menteri tidak menyadarinya dan terus sibuk memeriksa semua senjata disana.
Jerry meraih vas bunga hias dengan gerakan pelan dan melemparkannya kearah dapur sekuat tenaga hingga meninggalkan suara pecahan yang amat mengejutkan kemudian bersembunyi. Berhasil, sang Perdana Menteri terlihat terkejut dan berlari ke asal suara.
"Keanu !" Panggilnya seraya berjalan cepat.
Saat itulah, saat tubuh pria tua itu masuk ke dapur. Jerry dengan cepat menghampiri Bryan dan mengangkat tubuhnya dan segera berlari keluar sebelum Perdana Menteri itu kembali atau polisi yang tiba.
Dengan air mata mengalir, Jerry berusaha fokus untuk menemukan jalan tersembunyi agar mereka bisa pergi dari tempat itu dengan selamat dan membawa Bryan ke rumah sakit dengan cepat.
Jerry melewati jalan sempit dibelakang perumahan itu, penuh semak belukar juga gelap gulita hanya cahaya bulan yang membantu penglihatan Jerry. Ketakutan meresap pada tubuh Jerry, tubuh yang digendongnya terasa kaku membuatnya mengabaikan ranting yang menggores kulit betisnya atau bahkan nyaris tersandung oleh batu maupun akar tanaman liar.
Berat tubuh Bryan juga kondisi jalan membuat Jerry tidak bisa berjalan cepat justru ekstra hati-hati namun didalam hatinya ia berdoa sepenuh jiwa agar kakaknya baik-baik saja, melihat darah itu telah membasahi tubuh mereka, tidak dihiraukan meski tubuhnya sangat kelelahan, Jerry fokus agar bisa sampai di mobil mereka yang terparkir cukup jauh.
"Tolong kak, tolong bertahan. Tolong jangan mati !" Pinta Jerry dengan air mata berlinang.
Hingga ia mendengar suara mobil polisi lewat didepan perumahan itu membuatnya mempercepat langkah agar keberadaan mereka tidak diketahui.
Sementara itu, sang Perdana Menteri amat jengkel sebab Keanu tidak merespon panggilannya tapi kemudian kaget saat menemukan semua anak buahnya dikamar belakang.
Dan terdengar suara mobil polisi yang semakin lama semakin nyaring membuat pria tua itu panik dan kembali kekamar depan namun ia kembali terkejut saat tak mendapati tubuh Bryan disana, belum sadar dari kekagetannya saat sebuah teriakan terarah padanya.
"Jangan bergerak !" Sebuah suara keras mengembalikan kesadarannya dan saat berbalik, beberapa polisi sudah menodongkan senjata padanya.
"Lempar senjatamu kemudian angkat tanganmu !" Perintah polisi itu lagi.
Mau tidak mau Perdana Menteri menurut, pistol yang tadi ia pakai untuk melukai Bryan , ia lempar jauh dan Mengangkat tangannya. Pikirannya kosong melihat kenyataan ini.
__ADS_1
Beberapa polisi mulai menggeledah rumah itu yang semakin membuat pria tua itu nelangsa dan menatap nanar para polisi yang memasuki kamar senjatanya.