Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 095


__ADS_3

Hari dimana katanya launching produk ternama diadakan. Bryan dan Jerry tidak perlu repot-repot mencari hotel yang dimaksud sebab produk ternama itu banyak memberikan iklan dimana hotel dimaksud.


Kakak beradik itu turun dari mobil dengan penampilan layaknya eksekutif muda dengan menggunakan jas hitam buatan desainer terkenal di negara itu. Saat memasuki tempat acara, Jerry menyebutkan nama sebuah perusahaan terkemuka hingga raut wajah penerima tamu itu seketika sumringah dan dengan hormat mempersilahkan kakak beradik itu memasuki ruangan karena mereka tamu super penting.


Kakak beradik itu tersenyum penuh kemenangan saat dengan mudah masuk ke acara itu.


Mata keduanya langsung menatap liar kesana-kemari berusaha mencari keberadaan Perdana Menteri yang mungkin saja hadir diacara itu guna menaikkan nama baiknya namun batang hidung pria tua itu tidak terlihat sama sekali. Mata keduanya mulai menatap struktur hotel itu berusaha mencari dimana kamar VVIP.


"Jerry !" Sebuah suara memanggil membuat kakak beradik itu menoleh bersamaan.


"Tiwi !" Jerry tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Apa kabar ?" Gadis cantik itu mendekat dan tersenyum manis pada Jerry yang masih mematung melihat gadis itu.


"Aku baik, kamu sendiri apa kabar ?"


"Aku juga baik, gak nyangka ya kita ketemu disini !"


Keduanya sama-sama tersenyum canggung. Jerry menatap gadis itu tanpa kedip. Ia ingat dulu ia pernah mencoba mendekati gadis ini semata-mata demi balas dendamnya pada keluarga Setyawan namun kini ia lega tidak pernah melakukan apapun yang buruk pada gadis ini.


"Kamu semakin cantik !" Jerry tanpa sadar mengucapkan itu membuat Tiwi tertawa.


"Kamu juga cakep banget !"


"Duduk yuk !" Ajak Tiwi.


"Hah.. oh, oh. Iya ayok !"


Keduanya menuju kursi yang disediakan pihak acara untuk tamu terhormat mereka.


"Oh ya, kamu sama siapa kesini ? Michael ?" Tanya Tiwi.


"Oh, aku sudah tidak bekerja di perusahaan Michael. Aku sekarang tinggal disini. Kamu sendiri mewakili perusahaan siapa ?"


"Oh ya. Kalau aku mewakili perusahaan papa. Besok aku harus terbang lagi ke negara K untuk menghadiri undangan lagi dan negara lainnya. Kamu tahu sebentar lagi pernikahan kak Evan tapi aku malah gak bisa datang. Menyebalkan sekali !" Tiwi mengeluh.


Jerry tertawa melihat mimik wajah Tiwi yang lucu saat mengeluh seperti itu.


"Kamu sendiri ? Apa sudah menikah ?"


Mendengar itu, Tiwi menatap dalam Jerry.


"Belum tapi mungkin segera. Papa udah jodohin aku !" Ucap Tiwi lirih.


Ia ingat dulu saat pertama kali Jerry mengajaknya kenalan dan mengajaknya jalan-jalan membuatnya sangat senang namun Rizky si kakek gayung itu entah mengapa selalu berhasil menghalanginya bertemu Jerry dan akhirnya pertemuan selanjutnya keduanya bertemu hanya 2 kali didepan rumah Tiwi tepatnya didalam mobil Jerry dimana keduanya bertemu namun karena campur tangan Evan dan Rizky pada akhirnya hubungan mereka berhenti sendiri. Begitu juga Jerry, niat awal yang ingin mempermainkan gadis itu demi balas dendam tapi sekarang ia bersyukur hal itu tidak pernah terjadi dan gadis ini baik-baik saja.


"Aku harap kamu bahagia selalu. Siapapun dia, aku harap dia akan mencintai kamu dengan sepenuh jiwa !" Ucap Jerry, Tiwi mengangguk.


"Kamu juga, aku harap kamu bahagia !" Tiwi tersenyum, matanya berkaca-kaca. Tidak menyangka masih menyimpan rasa untuk pria ini.

__ADS_1


"Aku minta maaf !" Kata Jerry.


"Maaf untuk apa ?" Tiwi bingung.


"Maaf karena aku begitu pengecut jadinya kita selesai begitu aja !"


"Tidak apa-apa, aku juga mungkin tidak pantas untukmu !"


"Tolong jangan bilang seperti itu. Kamu cewek yang baik juga terhormat. Tolong bahagialah dimanapun kamu berada dan dengan siapapun yang ada bersamamu !"


Jerry berdiri menghampiri Tiwi, menarik gadis itu berdiri dan memeluknya erat, Tiwi pun balas memeluk cowok itu. Air matanya luruh dibahu Jerry yang memejamkan mata menyelami perasaannya sendiri dan ia menemukan gadis itu pernah ada disana yang tanpa sadar ia ijinkan untuk memasuki hatinya.


Bryan yang melihat interaksi itu perlahan menjauh dan membiarkan 2 orang itu berbicara. Bryan berjalan-jalan sejenak mengelilingi acara seraya berpikir dari mana ia akan memulai mencari melihat struktur hotel itu sedikit rumit.


Saat Bryan hendak pergi menuju meja resepsionis untuk mencari tau saat pintu lift terbuka dan memunculkan seorang pria angkuh sedang mendorong kursi roda dimana seorang pria lemah dengan tubuh tertutup rapat hingga wajahnya tidak terlihat tampak terlihat lemah. Bryan kaget bukan kepalang dan langsung balik badan sebelum orang-orang yang baru keluar dari lift itu mengenalinya.


Saat orang itu terdengar berlalu, Bryan melirik. Ia sangat yakin jika orang yang mendorong kursi roda itu adalah Keanu meski pria itu memakai masker namun Bryan mengenalinya lewat tatapan mata angkuhnya.


Dan yang berada di kursi roda itu, Bryan sangat yakin jika itu adalah si Perdana Menteri.


Bryan memerhatikan tanpa kentara hingga sebuah taksi berhenti didepan mereka. Dengan cepat Bryan keluar saat taksi itu mulai berlalu, Bryan merhatikan nomor unit taksi itu dan segera menuju mobilnya dan mengikuti taksi itu dengan jarak aman.


Taksi itu mulai masuk ke perumahan dan berhenti di ujung sedangkan Bryan berhenti diluar yang agak jauh agar orang-orang itu tidak curiga. Bryan keluar mobil setelah melepaskan setelan jasnya dan menggantinya dengan pakaian training abu-abu.


Bryan berjalan setengah berlari seraya waspada dengan sekitar juga merubah ekspresi tubuhnya agar tidak terlihat mencurigakan.


Tak lama 2 mobil datang dan berhenti dirumah ujung itu dan keluarlah 11 pria kekar dari sana dan memasuki rumah itu. Bryan yang melihat itu seketika salah tingkah dan bingung. Ia pun balik badan dan merenggangkan tubuhnya kemudian lari ditempat dan akhirnya jogging menjauh dari sana.


Arman ternyata telah belajar dari kegagalannya kemarin.


Pria-pria itu tampak tidak ada keinginan untuk meninggalkan rumah itu, beberapa kali juga pengantar makanan bolak-balik kerumah itu membuat Bryan menyerah dan meninggalkan tempat itu dengan rasa penasaran yang tinggi.


*****


"Dari mana ?" Tanya Jerry saat Bryan membuka pintu masuk rumahnya.


"Menguntit Perdana Menteri !" Jawab Bryan pendek.


"Bagaimana hasilnya ?"


"Siapa dia ?" Bryan balik tanya seraya menatap lekat adiknya.


Jerry terdiam balik menatap lekat kakaknya.


"Dia Tiwi, sepupunya Evan. Aku pernah dekati dia waktu misi balas dendam !"


Mendengar itu Bryan hanya mengangguk mengerti dan tidak bertanya lebih lanjut karena dia sudah tahu dengan melihat mimik wajah Jerry jika cowok itu sama seperti dirinya yang gagal mempertahankan hati untuk tidak jatuh cinta pada target balas dendamnya.


"Lalu, kakak darimana ?"

__ADS_1


"Arman nampaknya menyimpan sesuatu diperumahan x, soalnya rumah itu dijaga banyak bodyguard. Aku yakin ada sesuatu yang penting disana !"


"Apa kita tidak bisa menyusup ?"


"Tidak bisa. Tempat itu dijaga ketat. Pria tua itu sepertinya sudah belajar banyak dari kegagalannya kemarin !"


"Kita coba lagi, karena kalau kita lengah nanti dia hilang jejak lagi. Ingat kak, ini saatnya sekarang kita selesaikan dia !"


Bryan terdiam mendengar itu, apa yang diucapkan Jerry sangat benar namun melihat keadaan sekarang yang berbeda maka ia butuh rencana lain yang lebih matang.


Keesokan harinya, dalam gelapnya malam Bryan mengajak Jerry menguntit rumah ujung itu dengan sangat hati-hati. Keduanya bertahan didalam mobil dengan menggunakan teropong untuk melihat keadaan rumah itu dan tepat seperti perkataan Bryan jika rumah itu dijaga ketat belasan pria kekar.


"Bagaimana sekarang ? Apa perlu kita kirimkan makanan yang sudah diberi obat tidur !" Saran Jerry.


"Kelamaan !" Bryan menoleh sejenak.


Keduanya saling memberi masukan namun tetap mendapat jalan buntu hingga sebuah mobil bergerak dari rumah itu dan melewati mobil keduanya.


Bryan segera balik arah dan mengikuti mobil itu dari jarak aman, mobil itu melaju dengan kecepatan biasa membuat Bryan lega hingga berhenti di hotel yang kemarin. Terlihat seorang pria memakai kemeja putih dan celana bahan hitam biasa keluar dari sana dengan memakai topi serta syal yang menutup hampir seluruh wajahnya dan seorang pria angkuh yang memakai masker.


2 orang itu memasuki hotel dengan sedikit menunduk berusaha menghindari tatapan orang sekitar. Bryan dan Jerry turun dari mobil dan juga sama-sama memakai masker.


Terlihat 2 orang tadi sudah memasuki lift. Bryan dan Jerry menghampiri lift yang tertutup itu dan memerhatikan dimana angka lantai itu berhenti. Lantai 12.


"Tunggu disini !" Ucap Bryan kemudian pergi dari sana.


"Maaf, saya ingin booking kamar VVIP !" Ucap Bryan pada resepsionis wanita.


"Apa sudah memesan sebelumnya !" Tanya resepsionis itu ramah.


"Tidak, ini pertama kalinya saya datang kesini. Apa bisa ?"


"Tolong tunggu sebentar !" Resepsionis itu tampak fokus memerhatikan komputer didepannya dan setelahnya memberikan Bryan keycard setelah cowok itu menyelesaikan prosedur administrasi.


"Terima kasih !" Bryan tersenyum manis membuat gadis didepannya terpesona.


Bryan menghampiri Jerry dan menekan tombol lift dengan keycard itu. Keduanya menuju lantai 12. Saat sampai keduanya celingak-celinguk dan melihat seorang pria kekar menjaga sebuah kamar pertama paling ujung.


Keduanya menuju kamar nomor 7, dengan lambat membuka kunci kamar itu dan menoleh kearah kamar pertama yang mereka yakini dihuni sang Perdana Menteri dan juga pertanyaan bagaimana caranya agar bisa masuk kesana.


Saat sibuk berpikir, lift terbuka dan memperlihatkan 3 gadis cantik remaja yang tampak centil mengobrol tentang penampilan masing-masing seraya menuju kamar nomor 1 itu.


Bryan dan Jerry saling pandang, keduanya benar-benar buntu untuk bisa mengetahui apa yang terjadi didalam kamar itu. Penjaga kamar menoleh kearah mereka yang belum juga memasuki kamar dan tersenyum tipis.


Beberapa detik sebelum keduanya memasuki kamar, lift kembali terbuka dan memperlihatkan pegawai hotel pria membawa troli makanan yang membawa makanan mewah serta 2 botol anggur nikmat menuju kamar pertama itu.


Bryan dan Jerry mematung saat mengenali pria itu, pria yang merekam kegiatan panas Perdana Menteri dan tamu hotel lain. Iya, dia Ron. Pria itu tidak menyadari keberadaan Bryan dan Jerry dan tersenyum penuh arti sambil menuju kamar pertama itu.


Kakak beradik itu saling pandang.

__ADS_1


"Biarkan dia bekerja, nanti kita copet lagi dia !" Ucap Jerry tersenyum penuh arti.


"Baiklah !" Bryan tertawa kecil dan memasuki kamar untuk mengistirahatkan tubuh masing-masing menikmati kamar mewah hotel itu sebelum bekerja keras lagi.


__ADS_2