
Beberapa kali tidak menemui Benki dikantornya membuat Tiara geram juga. Padahal ia sudah merubah jadwal pemotretannya hanya untuk bisa lebih dekat pada calon suaminya itu namun Benki kini mulai menghindarinya bahkan teleponnya pun tidak pernah diangkat.
"Ma, pa. Bisa gak kalau pertunangan aku dipercepat ?" Ucap Tiara saat makan malam bersama keluarganya.
Papa, mama dan kak Toni seketika menghentikan makannya dan menoleh padanya.
"Maksudmu ?" Tanya papa.
"Iya pa, pertunanganku dengan Benki disegerakan aja !"
"Bukannya kamu bilang pekerjaanmu melarang pertunangan atau pernikahan ?" Kak Toni bertanya.
"Iya sih, tapi kan kita bisa adain pesta kecil-kecilan aja, keluarga inti aja yang datang nanti kalau menikah baru deh bikin pesta besar-besaran !" Saran Tiara.
Semua yang dimeja makan saling lirik.
"Kamu yakin ?" Tanya sang mama.
"Yakin ma, yakin banget. Nanti kalau aku menikah dengan Benki, aku gak perlu khawatir lagi soal peraturan-peraturan itu. Benki bisa buat aku jadi model internasional dengan nama yang dia punya !" Ucap Tiara yakin. Mama dan papa saling pandang.
"Oke, kalau begitu. Nanti mama dan papa akan bicara sama orang tua Benki !" Ucap sang mama yang membuat wajah Tiara sumringah, ia sudah tidak sabar menunggu hari itu datang, hari dimana Benki akan menjadi miliknya.
"Kenapa gak langsung menikah aja ? Kenapa mesti tunangan ?" Tanya sang kakak.
"Sebentar lagi aku ada peragaan busana untuk membawakan baju rancangan desainer nomor 1 di Indonesia kak. Aku gak mau lewatin ini, jadi aku gak bisa terikat pernikahan dulu sekarang, beberapa bulan lagi deh !" Kata Tiara yang membuat keluarganya mengangguk mengerti.
Sementara itu, Benki yang duduk di bangku taman belakang seketika bersin. Setelah menyeka hidungnya, ia kembali menatap langit malam dengan sedikit bintang itu. Rasa rindu pada seseorang kembali hinggap didadanya membuatnya melangkah ke tempat ini tanpa sadar.
'Andai kamu jujur sejak awal mungkin hubungan kita baik-baik aja !'
'Seberapa kuat aku melupakan kamu tapi kamu semakin kuat juga ada di pikiranku !'
'Kenapa kamu datang kalau pada akhirnya akan pergi !'
Mata Benki berkaca-kaca saat menatap langit malam itu, sisi lain hatinya kini terasa sangat kosong, terasa ada yang hilang yang terus membuatnya melamun, keluarganya pun tidak bisa berbuat apa-apa melihat keadaan Benki sekarang dan hanya berdoa semoga cowok itu bisa segera melupakan Aulia.
Sedangkan Aulia, gadis itu kini sedang rebahan dipangkuan ibunya, rasa rindunya yang berat membuatnya juga sering melamun. Sang ibu pun hanya membelai kepalanya, wanita tua itu sudah tahu apa yang terjadi karena Aulia sempat bercerita.
"Kamu jangan sedih terus, lihat mukamu jadi jelek !" Hibur sang ibu.
"Aul kangen kak Benki, Bu !" Lirih Aulia membuat ibunya menghela nafas tidak tahu lagi harus berkata apa.
__ADS_1
Hingga Aulia terlelap, sang ibu pun menyelimuti tubuh gadis itu kemudian keluar dari kamar itu. Saat pintu terdengar tertutup Aulia membuka mata, ia beralih ke mejanya dan meraih kotak beludrunya, membuka dan melihat 2 cincin cantik itu, kemudian dipakainya dan kembali tidur berharap jika cincin itu sedikit saja mengurangi rasa rindunya kepada kekasih hati.
*****
Jerry meletakkan Hp-nya di meja seraya menghela nafas bosan, sampai sekarang Bryan belum sadar juga. Jerry menoleh kesana-kemari tidak tahu harus melakukan apa. Bahkan makanan enak yang ia pesan online tadi kini tak lagi menarik minatnya.
Ia pun meraih remote televisi, menyalakan dan mencari Chanel televisi yang menarik minatnya hingga berhenti pada sebuah berita kriminal.
'Kemarin, sekelompok pria ditemukan disebuah perumahan di daerah X dengan banyak senjata ilegal disana, bukan hanya itu ditemukan barang narkotika jenis kokain. Pelaku berjumlah 8 orang itu kini ditahan pihak kepolisian dan barang bukti disita. Masih ditelusuri motif kedelapan pria itu memiliki senjata ilegal dalam jumlah fantastis tersebut."
Kemudian suara itu memperlihatkan jumlah senjata api dalam jumlah banyak yang tersimpan di peti mati bersamaan 8 orang memakai baju tahanan dengan wajah menunduk tengah melakukan konferensi pers dan juga ancaman hukuman penjara yang kemungkinan mencapai puluhan tahun.
Jerry mengepalkan tangannya, tidak percaya jika nama Perdana Menteri tidak disebutkan dan semua kesalahannya malah dilimpahkan kepada anak buahnya. Apa itu artinya laki-laki setan itu kali ini lolos ?
Jerry sangat geram, emosinya naik ke otak. Ingin sekali dia mencekik pria tua itu dan membantingnya ke lantai.
Saat Jerry sibuk memikirkan kekesalannya, ia tidak tahu jika di resepsionis rumah sakit seseorang datang kesana.
"Apa kemarin dirumah sakit ini ada pasien yang datang dengan luka tembak ? Saya keluarganya !" Tanya pria itu ramah.
"Tunggu sebentar. Pasien atas nama Bryan Collins dia berada dikamar VIP nomor 802 !" Ucap si resepsionis dengan senyum manis.
"Terima kasih !" Ucap pria itu seraya mengedipkan matanya membuat si resepsionis tersipu.
Pria itu menaiki lift dan saat berhenti dilantai VIP, suasana yang terlihat mewah itu membuatnya seketika tersenyum sinis dan mulai melangkah mencari nomor kamar Bryan.
Dan kini ia berhenti didepan kamar 802, ia menoleh kesana-kemari sebelum tangannya terulur hendak membuka pelan pintu itu namun belum juga tangan sempat menyentuh saat pintu itu secepat kilat terbuka dari dalam dengan bunyi yang sangat keras.
BRAKKKK
Tanpa sadar Jerry membuka pintu dengan kencang hingga mengeluarkan suara mengejutkan.
"Oh maaf, maaf. Aku gak bermaksud membuatmu kaget !" Ucap Jerry menoleh pada Bryan yang nampak tidak terganggu dengan ulahnya.
Sedangkan pria asing tadi, ia begitu terkejut saat pintu itu terbuka, refleks ia ingin berlari menghindar namun posisi tubuhnya yang sangat dekat dengan tembok membuat wajahnya menghantam tembok itu saat hendak berbalik.
Pria itu langsung terduduk saat rasa sakit menjalar ke seluruh wajahnya, sedikit darah keluar dari hidungnya dan jidatnya benjol. Jerry juga ikut terkejut saat melihat pria asing berada didepan kamarnya.
"Eh, anda baik-baik saja ?" Tanya Jerry sopan tanpa curiga sedikitpun.
"Tidak apa-apa, saya baik-baik aja. Permisi !" Masih meringis menahan sakit ia menuju lift setelah sempat melihat Bryan tidak sadarkan diri didalam sana serta Jerry yang fokus di Hp-nya mencari berita tentang Perdana Menteri.
__ADS_1
Dan sebelum pria itu memasuki lift, ia melirik jengkel kearah Jerry yang nampak gusar memandang Hp-nya sendiri kemudian tersenyum sinis.
'Tunggulah. Hehehehe !' Batinnya kemudian memasuki lift.
*****
Lagi, Benki tidak ada ditempat saat Tiara datang ke kantornya dan lagi Fajar tidak tahu kemana perginya sang bos.
"Benki kemana ?" Tanya Tiara menatap Fajar tajam.
"Aku juga gak tahu, aku gak lihat bos keluar dari ruangannya !" Jujur Fajar, padahal ia sejak tadi duduk di meja Lala namun ia tidak menyadari jika sang bos meninggalkan ruangannya.
"Tunggu aja, mungkin lagi ke divisi lain sebentar !"
Tiara berpikir menerima tawaran itu atau nggak namun saat melirik jam tangannya membuatnya menghela nafas.
"Kayaknya gak bisa, waktuku cuma sebentar, aku masih ada kerjaan. Ya udah, kapan-kapan lagi aku kesini !" Ucap Tiara lesu.
"Oke kalau begitu. Telepon aja si bos supaya waktu kamu gak terbuang lagi !" Saran Fajar yang hanya dibalas helaan nafas oleh Tiara. Tidak perlu diberitahu dia sudah melakukan itu, hanya saja Benki sangat sulit dihubungi, kalau bukan karena tidak diangkat atau nomor cowok iti tidak aktif membuatnya frustasi.
10 menit setelah Tiara pergi, Benki terlihat melangkah mendekat tanpa disadari oleh Fajar.
"Jar, tolong pesankan makanan, aku lapar !" Ucap Benki seraya berlalu memasuki ruangannya membuat Fajar mendongak kaget.
"Baik tuan !" Ucap Fajar sedetik sebelum Benki masuk ke ruangannya.
Setengah jam kemudian Fajar memasuki ruangan Benki sambil membawa box makanan, dilihatnya pria itu sedang duduk di sofa sambil menonton tv dengan tatapan kosong membuat Fajar kembali menghela nafas.
"Ini makanannya tuan !" Fajar meletakkan box makanan itu didepan Benki. Benki tersadar dan mulai membuka tutupnya dan lagi tatapannya seolah tidak minat dengan makanan lezat itu namun tetap memaksakan makan.
"Tadi Tiara datang tapi anda tidak ada ditempat !" Lapor Fajar.
"Aku tadi ke atap, lagi pengen angin segar jadi aku kesana sebentar !"
"Nona Tiara tadi kesal sekali tuan karena beberapa hari ini anda sulit ditemui apalagi anda juga tidak bisa dihubungi !"
Benki terdiam sejenak, setelah 3 suapan ia berhenti makan. Meraih air minum dan meneguknya kemudian melirik Fajar.
"Aku jengah ada disampingnya !" Ucap Benki.
Fajar terdiam, ia tidak terkejut mendengar itu karena ia tahu bahwa tuan bos ini masih terus memikirkan gadis lain.
__ADS_1
"Anda tidak ingin mencoba mengenalnya lebih dalam ? Mungkin aja dia berhasil membuat anda melupakan Aulia !" Saran Fajar. Benki hanya tersenyum miris mendengar itu, tidak tahu harus berkata apa.