Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 078


__ADS_3

Keesokan harinya, beberapa mobil ambulance terlihat bolak-balik ke gedung itu. Pihak kepolisian membereskannya begitu rapi dengan kantung mayat berwarna hitam keluar dari sana satu demi satu dan diangkut oleh ambulance dan ambulan lainnya datang hendak mengangkut kantung mayat yang lain.


Hal itu dilakukan dalam waktu yang lama juga dalam pengawasan ketat polisi yang melarang keras warga disana yang heboh untuk menonton dan harus kembali ke rumah masing-masing.


Bryan memantau hal itu menggunakan teropong dikamarnya, senyum sinis tersungging di bibirnya.


Mereka melakukan pengangkutan menghabiskan waktu seharian. Setelah mengangkut semua mayat, penyidik memasuki bangunan itu dan setelah memeriksa seluruh ruangan giliran tukang bersih-bersih yang memasuki bangunan itu menjadikannya sedia kala.


Hingga salah seorang yang berpakaian petugas kebersihan yang baru keluar dari gedung itu bertindak aneh dan celingak-celinguk kesana kemari memerhatikan keadaan dan saat melihat suasana aman dia memisahkan diri dari yang lain. Ditengah suasana dingin yang masih menggigit, pria itu melepaskan pakaian kebersihannya dan menyisakan kaus tipis serta bersembunyi dari satu rumah ke rumah yang lain.


Bryan menghela nafas saat mengenali pria itu dan dengan cepat ia membuka lemarinya mencari-cari sesuatu disana, memilah dari satu barang ke barang yang lain dan entah dari mana munculnya sebuah gaun yang mirip dengan boneka annabel berada di lemarinya. Pria itu ingat, ia memenangkan undian yang diselenggarkan disebuah supermarket besar disana saat malam natal. Bryan yang iseng mengikuti malah memenangkan gaun itu. Cowok itu juga menemukan wig kribo hitam putih yang mirip rambut lansia, pria itu lupa darimana dia memiliki ini.


Bryan segera menuju balkon belakang dan melihat Jerry sedang bersembunyi waspada dengan sekitar sambil menggigil kedinginan, wajahnya tertutupi topeng putih yang menyisakan mata, lubang hidung dan mulut membuatnya terlihat seperti maling pakaian dalam.


Hingga tatapan Jerry terarah pada Bryan yang berada di balkon belakang dan terlihat tidak sengaja Bryan menjatuhkan sebuah kantung hitam berukuran cukup besar bersama sebuh jaket tebal kemudian kembali memasuki rumah karena kedinginan.


Dengan penuh waspada, Jerry mengendap-endap meraih bungkusan itu dan kembali bersembunyi jauh dibalik pohon untuk membukanya.


Ia menganga melihat apa yang berada didalamnya dan menoleh dengan garang kearah rumahnya. Mau tidak mau Jerry akhirnya mengenakan pakaian itu yang ajaibnya muat ditubuhnya.


Akhirnya setelah memasukkan seluruh pakaiannya juga pakaian kebersihan di kantung tadi dan juga langsung mengenakan jaket tebalnya, Jerry berjalan dengan wajah menunduk malu melewati jalur yang tadi, sedikit memutar hingga ia seolah-olah datang dari tempat lain.


Berjalan melewati museum itu dengan wajah menunduk sebab beberapa orang disana mengangga melihatnya memakai gaun dimana mereka yakin bahwa yang sedang lewat itu adalah pria.


Menahan dingin juga menahan malu, Jerry mempercepat langkahnya hingga ia tiba dirumahnya dan langsung disambut oleh Bryan yang tertawa geli melihat penampilan adiknya.


Jerry menatap garang pada sang kakak yang sudah membuatnya malu sekali.


"Ya ketawa aja terus !" Semprot Jerry jengkel sambil melepas wignya tapi malah membuat tawa Bryan semakin keras. Bagaimana tidak pria itu seperti boneka annabel versi nenek-nenek.


"Yang penting kan kamu pulang dengan selamat !" Bryan masih tertawa.


"Tapi apa yang kau lakukan disana. Kau tidak takut ketahuan oleh mereka !" Ganti Bryan yang menyemprot setelah tawanya reda.


"Aku mengambil ini !" Jerry menunjukkan 3 kamera tersembunyi yang kemarin ia pasang.


"Harusnya kau biarkan saja barang itu disana, bagaimana jika mereka curiga denganmu !"


"Oh tidak bisa, sidik jariku berada disini jadi sangat mudah untuk ditemukan !" Ucap Jerry membuat Bryan terdiam. Jerry bersyukur penyidik itu tidak menemukan 3 benda ini.


"Lalu bagaimana caranya kau bisa menyusup ?" Tanya Bryan.


"Semalam aku mendengar seseorang datang kesana dan merencanakan untuk menghubungi kantor polisi X juga meminta mereka membawa beberapa bantuan untuk membereskan mayat-mayat yang berada disana jadi pagi-pagi buta aku menuju ke kantor polisi untuk mencuri pakaian ini dan bergabung dengan mereka jadi mereka tidak akan curiga. Aku akan membuang atau mengubur baju ini disuatu tempat !" Jelas Jerry.


"Siapa orang itu ?"

__ADS_1


"Entahlah, aku tidak bisa melihat wajahnya, dia memakai topi. Mungkin saja si pengawal pribadi Perdana Menteri itu !"


"Pastikan saja kau tidak tertangkap atau kau mau kembali ke Indonesia ?" Tawar Bryan.


"Untuk ?"


Ya, kita bisa mengunjungi paman dan Michael juga sekalian liburan sampai kita dapat rencana baru untuk menghancurkan si Arman itu !" Kata Bryan membuat Jerry berpikir sejenak.


"Baiklah, atur saja. Aku akan ikut !" Ucap Jerry kemudian memasuki kamarnya.


Keesokan harinya, Bryan tersenyum sinis membaca koran pagi yang meliput kejadian itu juga saat menonton siaran berita televisi.


"Sebuah geng mafia yang cukup terkenal dengan nama X ditemukan mati keracunan disebuah museum besar di daerah A. Belum diketahui zat apa yang meracuni mereka, hingga saat ini pihak kepolisian masih menyelidiki kandungan apa yang berada ditubuh mereka juga mencari tahu siapa dalang dari semua kejadian ini. Bukti yang terkumpul berupa beberapa botol wine yang sedang mereka minum bersama. Hal ini menjadi salah satu kejadian terbesar dalam kurun waktu 20 tahun geng mafia yang membaur pada masyarakat sekitar. Demikian sekilas info."


HAHAHAHAHAHAHAHAHA..


Bryan tertawa terbahak-bahak menonton berita itu sedangkan Jerry yang berada dibelakangnya juga tersenyum sinis.


Disebuah rumah jabatan mewah yang diperuntukkan untuk Perdana Menteri. Pria itu juga sedang menonton siaran berita dengan mata melotot. Mematikan tivi dan berjalan kearah balkon sambil menyesap minuman alkoholnya dengan gemetar. Dia terlihat berpikir keras dengan semua keadaan ini.


"Beri perintah pada kepolisian untuk menghentikan penyelidikan itu !" Perintahnya pada Keanu yang sejak tadi diam berdiri mengawasinya.


"Dihentikan ?" Tanyanya memastikan.


"Baik tuan !" Si pria angkuh itu segera pergi untuk melaksanakan perintah sang atasan.


"SIALAN."


Perdana Menteri melempar gelas minumannya ke dinding hingga jatuh pecah berkeping-keping dengan perasaan yang juga kacau balau. Rasa gelisah menguar dipikirannya dan merasa kalau ia pun kemungkinan besar diincar.


"Tidak, aku tidak boleh lemah seperti ini. Aku harus mencari jalan keluar !" Tekadnya dalam hati dengan jemari terkepal kuat.


Sementara itu di Indonesia, belasan jam kemudian berita itu disiarkan melalui Chanel nasional yang khusus menyiarkan berita internasional.


"Beberapa hari yang lalu sebuah geng mafia terbesar di negara P bernama X ditemukan mati keracunan disebuah museum besar disana. Belum diketahui obat apa yang terkandung hingga membuat seluruh anggota mafia itu meninggal ditempat. Diketahui mereka sedang minum anggur bersama dan kemudian tewas keracunan. Hingga saat ini kepolisian negara P masih menyelidiki hal tersebut karena ini juga disebabkan adalah salah satu kejadian terbesar yang terjadi disana dalam kurun waktu 20 tahun. Saya Fitriana, demikian berita pagi."


Tuan Robby yang sedang berada di ruangan tuan Kevin seketika melotot menonton berita itu dan ia sangat yakin bahwa kakak beradik itu terlibat dengan kejadian itu.


"Aku yakin itu perbuatan Bryan dan Jerry. Aku yakin mereka berdua masih hidup untuk balas dendam !" Ucap tuan Kevin memecah kesunyian.


"Mereka masih hidup !" Tuan Robby membeo.


"Ya, aku yakin itu. Geng mafia itu benar-benar terkenal kejam, tak segan-segan menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalan mereka !" Jelas tuan Kevin.


"Mereka benar-benar nekat, aku jadi takut terjadi sesuatu pada mereka.!" Sahut tuan Robby.

__ADS_1


"Sepertinya dendam membara berkobar pada mereka hingga nekat melakukan itu. Aku harap mereka bersedia menemui kita Dan meminta bantuan. Aku pasti akan menolong mereka !" Ucap tuan Kevin.


"Aku juga akan melakukan hal yang sama untuk melindungi mereka !" Tambah tuan Robby.


Keduanya bertatapan dengan senyum tipis berbicara mengenang masa lalu cukup lama hingga waktu makan siang tiba.


"Bagaimana jika kita makan siang bersama Evan dan Rizky. Mungkin kita butuh bantuan mereka untuk bisa terhubung dengan Bryan dan Jerry ?" Tawar tuan Robby.


"Baiklah, ayo !" Tuan Kevin bangkit dari duduknya dan bersama keluar.


*****


Tante Chyntia kembali mengajak Syifa makan siang bersama dan menuju kantor Evan. Saat memasuki ruangan Evan, Syifa melihat ruangan itu sudah ramai. Tuan Robby dan tuan Kevin yang hendak mengatakan tentang Bryan dan Jerry pada Evan seketika mengurungkan niatnya saat melihat Tante Chyntia dan Syifa datang.


"Eh, ada kalian !" Tante Chyntia menyapa suami dan mantan besannya.


Sedangkan Syifa, pandangannya langsung terpaku pada Lala yang menatapnya tidak karuan. Dalam hati Syifa tersenyum melihat wajah cemburu gadis itu.


"Mama kesini mau ajak kamu makan bareng Van, karena sudah ramai kita makan bersama saja !" Ajak Tante Chyntia pada semua yang berada disitu.


Berjalan menuju lift, Syifa dan Evan terlibat pembicaraan seru meski merasakan aura neraka dibelakangnya, Syifa pura-pura tidak peduli dan terus bercanda dengan mantan calon suaminya itu.


Hingga saat memasuki lift, Syifa tidak sengaja terpeleset membuat Evan langsung meraih pinggangnya membuatnya tersenyum malu karena menjadi perhatian. Diliriknya Tante Chyntia yang tersenyum senang melihat kedekatan mereka tapi Syifa tidak berani melirik kearah Lala yang aura nerakanya semakin terasa.


"Terima kasih kak !"


"Bos, itu yang tenggelam dikapal titanic sudah bangkit dari kubur dan sekarang gentayangan !" Sepertinya Syifa mengerti ucapan Rizky itu terbukti saat Lala menatap garang pada cowok itu.


Mereka tiba di restoran seafood dan menyewa private room dan segera duduk. Syifa dan Evan yang duduk bersebelahan kembali terlibat obrolan seru mengabaikan Rizky dan Lala yang berada didepan mereka.


Hingga pintu terbuka dan memunculkan Cleo. Syifa tersenyum ramah padanya yang juga dibalas sama oleh Cleo namun senyum itu hilang berganti mimik terkejut saat Cleo menatap Lala yang juga menatapnya rumit.


Cleo mulai tersenyum dan menyapa Lala seraya duduk disamping gadis itu yang juga bersampingan dengan ayahnya.


"Laki-laki atau perempuan ?" Pertanyaan itu membuat Syifa mengurutkan kening.


"Tengah-tengahnya !" Rizky yang menjawab dan tak lama Lala mulai mencubit pipi Rizky yang dibalas cowok itu.


Keduanya gelut saling cubit, saling berusaha menjambak rambut satu sama lain membuat Syifa yang awalnya melongo ingin sekali tertawa geli melihat kelakuan 2 orang dewasa itu. Saat Evan dan Cleo berusaha memisahkan keduanya, Syifa menutup mulutnya agar tawanya tidak menyembur keluar hingga 2 orang itu berhasil dipisahkan.


Syifa bisa melihat jelas kepedulian Evan pada mantan sekertarisnya itu. Tatapan matanya, bahasa tubuhnya yang penuh cinta membuat Syifa yakin kalau keduanya memang sulit dipisahkan dan tidak ada celah baginya untuk masuk ke hati Evan.


Syifa tersenyum melihat interaksi 2 pasang didepannya yang saling peduli, Evan dan Lala. Rizky dan Cleo membuat hatinya iri. Syifa segera menggenggam kalung titaniumnya yang selalu berhasil menenangkan hatinya.


'Suatu hati nanti aku ingin bahagia seperti mereka !' Doa Syifa dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2