
Lala sudah turun dari taksi dan menatap kantor besar didepannya. Kemarin saat dia datang memberi berkas dan wawancara ia tidak memerhatikan detail gedung ini.
Gedung itu sangat besar dan tinggi dengan halaman yang sangat luas dan tempat parkir tiga kali lapangan bola.
Perusahaan yang bergerak dibidang makanan ringan ini adalah terbesar di Indonesia yang sudah banyak meluncurkan berbagai merek yang laris manis dipasaran.
Saat Lala sedang mengagumi interior gedung itu saat bahunya ditepuk.
"Eh, monyet !" Pekiknya kaget seraya menoleh kepada siapa yang menepuknya.
"Maksudnya ?" Fajar yang berada disebelahnya melotot mendengar ucapan Lala.
Oh maaf, maaf. Saya kaget !" Lala menormalkan reaksinya.
"Ayo masuk, sudah waktunya bertemu direktur utama ?!"
Mendengar itu Lala langsung jadi gugup, seperti saat Rizky akan membawanya menemui Evan untuk pertama kalinya dan langsung membuatnya jatuh hati.
Perlahan Lala mengikuti Fajar menaiki lift, Fajar menekan tombol 18. Lift membawa keduanya ke lantai teratas gedung itu.
"Kita meluncurkan berbagai macam Snack dengan bahan baku singkong, ubi jalar dan kentang dan lainnya juga seperti biskuit, wafer dan lainnya !"
"Pembuatan Snack, Biasanya kentang kita memasok dari daerah dimana dari petaninya langsung, jadi harga dan kualitas bisa seimbang !".
"Kalau singkong, orang tua direktur mempunyai kebun singkong yang luas jadinya setiap singkong yang diolah semua dari kebun singkong direktur sendiri !"
"Wow, hebat !" Sahut Lala.
"Peralatan disini juga semakin canggih dan berkualitas tinggi jadi produk yang akan dibuat sangat aman dan juga atribut kelengkapan pekerja dipastikan bagus dan sesuai standar kesehatan yang berlaku !"
"Kita pun mengekspor ke luar negeri seperti Amerika dan Australia bahkan negara-negara Asia lainnya yang dimana membuat produk kita go internasional !" Fajar tertawa dan menjelaskan dengan begitu bangga membuat Lala paham.
Saat keluar dari lift, Lala memandang interior yang didominasi warna orange itu sangat cantik dan indah, menunjukkan betapa sang direktur memiliki selera yang bagus.
Berbeda dengan ruangan Evan yang bersebelahan dengan ruangan Rizky. Ruang direktur disini berhadapan dengan ruangan asistennya sedangkan meja sekertaris terletak persis didepan ruangan direktur utama.
Warna orange yang memanjakan mata dengan hiasan lampu-lampu kecil putih palsu membuat suasana ramai. Sebuah ruangan tertulis ruangan dokumen berdiri ditengah antara ruangan direktur utama dan ruangan Rizky dan toilet berada lorong antara ruangan dokumen dan ruangan asisten
Didepan ruangan Rizky ada dispenser air dan sebelah kiri ada ruang tunggu yang diisi sofa dan didepannya ada televisi yang ditempel di tembok atas jadi tamu bisa menunggu seraya menonton televisi. Begitu pun Lala ia bisa menonton televisi dari mejanya.
Memasuki ruangan direktur, Lala melihat seorang pria tinggi dengan tubuh atletis sedang menatap keluar kaca jendela didepannya. Saat mendengar suara pintu terbuka ia membalikkan badan, saat itulah saat ia perlahan berbalik terlihat seperti sekarang berada di taman bunga yang indah dengan bermacam-macam bunga indah yang tumbuh dengan kupu-kupu warna-warni yang beterbangan sekitar pria itu disertai hembusan angin lembut yang menerpa wajahnya dan memainkan rambutnya membuat pria itu terlihat sangat mempesona. Pahatan wajah pangeran Yunani kuno itu benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata membuat Lala terpaku.
'Wow, tamfannya !' Lala terpersona namun tiba-tiba wajah Evan melintas di kepalanya membuatnya tersadar.
Lala mengingat pria itu, dulu ia juga hadir dalam pelelangan di perusahaan berlian di kota M, pria ini menjadi pusat perhatian karena membeli banyak berlian dengan harga tinggi dengan Fajar duduk bersamanya. Sekarang Lala mengerti mengapa merasa pernah melihat Fajar sebelumnya.
"Perkenalkan tuan, ini Mirela sekertaris anda yang baru !" Ucap Fajar memperkenalkan Lala.
Pria rupawan itu berjalan menghampiri Lala, menelisik dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Benyamin Qitela Shine biasa dipanggil Benki !" Dia menyodorkan tangan kepada Lala yang langsung disambut oleh Lala.
'Namanya unik !' Pikir Lala.
"Mirela Tania pak. Anda bisa memanggil saya Lala !" Balas Lala memperkenalkan diri.
"Fajar sudah memberitahu sedikit banyak tentangmu. Terutama kalau kamu pernah bekerja sebagai sekertaris selama kurang lebih 2 tahun. Dimana kamu bekerja dulu ?" Benki menghampiri kursi kebesarannya dan mendudukkan dirinya seraya menyandarkan kepalanya.
Lala terdiam menatap 2 pria didekatnya bergantian yang dimana menunggu jawaban darinya.
"Saya kemarin bekerja di PT. Samudera Api pak. Saya sempat menjadi sekertaris Evan Setyawan !" Jawab Lala membuat 2 pria didepannya saling pandang.
"PT. Samudera Api. Bukankah itu salah satu perusahaan terbesar di Indonesia ?"
"Benar pak !" !"
"Lalu apa yang membuatmu berhenti bekerja ?" Pertanyaan itu kembali membuat Lala terdiam namun bagaimanapun ia tak bisa lagi diam tak menjawab.
"Saya jatuh cinta pada atasan saya yang sudah menikah !" Ucap Lala berani membuat 2 orang didepannya terkejut.
"Saya tidak ingin merusak rumah tangganya jadi saya memilih pergi !" Jelas Lala membuat 2 orang itu menganga.
"Wow, kamu sangat jujur ?" Pekik Fajar.
__ADS_1
"Terima kasih !" Lala menunduk malu.
"Kalau begitu kukatakan jangan jatuh cinta padaku !" Benki tersenyum aneh.
"Baiklah !" Jawab Lala langsung membuat sudut bibir Benki dan Fajar tertarik.
"Karena kamu sudah pantas disebut berpengalaman sebagai sekertaris maka kamu sudah pasti tahu apa saja yang harus kamu lakukan tapi jika memang ada yang belum kamu mengerti maka jangan malu-malu bertanya padaku atau Fajar !" Jelas Benki sambil menunjuk Fajar yang sedari tadi diam.
"Baik pak, terima kasih !" Lala mengulurkan tangan lagi yang disambut Benki yang tak sengaja melihat 2 cincin hitam di jari Lala.
"Untuk penampilan saya rasa saya juga tidak perlu memberitahumu kan ?" Benki menelisik penampilan Lala yang menurutnya tomboi.
"Iya pak, saya mengerti !"
"Jar !" Benki memberi kode pada Fajar lewat mata.
"Kalau begitu kamu sudah boleh bekerja. Mari !" Ajak Fajar.
Keduanya keluar dari ruang direktur dan Fajar menunjuk tempat duduk Lala yang persis berada didepan ruangan Benki kemudian Fajar memasuki ruangan dokumen.
Lala duduk di meja barunya dengan perasaan senang. Menatap komputer barunya dan kembali menelisik setiap sudut ruangan. Fajar kembali dengan membawa beberapa map pada Lala.
"Ini peraturan kantor yang harus kamu baca dan ini adalah project yang biasa dilakukan. Pelajari gaya bahasa berkas ini karena kedepannya kita akan memakai gaya ini !"
"Oke, terima kasih !"
"Dan kamu bisa masuk kesana untuk mempelajari berkas yang lain !" Tunjuknya pada ruangan yang tadi dimasukinya. Lala mengangguk.
"Untuk hari ini kamu boleh santai karena hari pertama dan besok bersiaplah untuk sibuk !" Wajah Fajar amat serius mengatakan itu membuat Lala tertawa.
Lala fokus pada berkas-berkas didepannya, membacanya dengan teliti, mempelajarinya serta menghapalnya dengan baik setelah memasuki ruangan yang dimasuki Fajar tadi yang ternyata berisi rak-rak besar yang menyimpan banyak bentuk macam model lama hingga terbaru dan berdebu hingga yang masih baru.
Lala mengambil lagi dan lagi serta membacanya dengan teliti mengabaikan Fajar yang sejak tadi bolak-balik keluar masuk ruangan direktur hingga tak terasa makan siang telah tiba.
"Ini. Apa kamu suka ayam geprek ?" Tanya Fajar seraya menyodorkan kotak nasi pada Lala.
"Iya, suka. Terima kasih !" Lala meraih nasi kotak itu seraya tersenyum. Fajar menuju sofa ruang tunggu dan memainkan hp-nya. Lala membuka kotak itu dan perutnya langsung konser.
Tak ambil pusing, Lala menuju toilet, mencuci tangan di wastafel kemudian kembali untuk memakan makanannya dengan tangan. Fajar yang tak sengaja melirik kini melongo melihat cara makan Lala yang tidak elegan sama sekali.
Tak lama kotak nasi itu ludes meninggalkan tulang belulang ayam yang kemudian ikut dibuang ditempat sampah.
Waktu pulang telah datang. Benki, Fajar dan Lala memasuki lift bersama. Saat dibawah Benki pamit pada kduanya dan langsung pulang dengan mengendarai mobilnya.
"Mau pulang bareng ?" Tawar Fajar membuat Lala melirik kesana-kemari mencari kendaraan Fajar.
"Nggak, aku mau ke mall mau shoping. Hehehehe. Oke bye !" Lala langsung menyetop taksi dan meminta mengantarkannya ke mall kemarin.
Saat telah berada di mall, Lala langsung memasuki salon kecantikan, merawat rambut lurusnya sepunggung agar lebih lembut jatuh dan juga mewarnainya coklat.
Puas dengan rambutnya, Lala memasuki toko yang khusus menjual pakaian formal nan modis, membeli banyak baju, rok dan celana baru meski setelah itu dompetnya menangis. Lala memutuskan kali ini akan merubah penuh penampilannya. Dia tidak akan lagi menjadi Lala kemarin yang walaupun dengan pakaian tertutup namun tetap modis dan elegan. Tapi sekarang Lala tidak akan tampil seperti itu lagi. Dia akan membuang jejak sebagai sekertaris Evan dan lahir kembali sebagai sekertaris Benki.
Saat sampai di kost-nya, malam telah larut, suasana sudah cukup sepi. Lala segera masuk dan mengunci kamarnya, meletakkan barang-barangnya dan memasuki kamar mandi membersihkan diri ala kadarnya, Lala yang lelah langsung tidur.
*****
Keesokan harinya, Benki dan Fajar berpapasan saat akan menaiki lift.
"Para petani sudah panen dan 5 ton kentang akan datang hari ini !" Benki memulai pembicaraan.
"Apa kentang dengan varian baru akan segera diliris tuan ?"
"Benar, kita akan memulai dengan rasa keju. Setelah dipasarkan dan mendapat respon bagus dari masyarakat maka kita bisa langsung mengekspor ke luar negeri !"
"Baik, tuan. Kalau begitu kita tinggal menunggu keju buatan daerah B yang akan dikirim hari ini dan kita bisa segera memulainya !"
Benki mangut-mangut mendengar itu. Keduanya keluar lift dan berjalan menuju ruangan masing-masing.
"Selamat pagi !" Sapa seorang gadis yang baru keluar dari toilet. Kedua pria itu kompak menoleh dan seketika terpana.
Sekertaris baru itu tampil dengan begitu cantik dan elegan. Kemeja tanpa lengan berwarna peach bersama rok span hitam diatas lutut dan high heels hitam membuatnya terlihat benar-benar berbeda. Rambut coklatnya yang terurai indah disertai make up tipis menambah kesan seksi padanya.
"Selamat pagi !" Balas Benki terkejut melihat penampilan Lala yang berubah 180 derajat Sedangkan Fajar belum menutup mulutnya.
__ADS_1
Lala sedang fokus dengan berkas yang ada didepannya dan menulis sesuatu saat Fajar menghampirinya.
"La, sebentar lagi kita akan menghadiri rapat di hotel N. Kamu siap-siap ya !"
"Oke !" Lala memasukkan ke tasnya apa saja yang dibutuhkan.
Tak lama Benki keluar yang diikuti Fajar yang memberi kode pada Lala untuk mengikuti mereka. Ketiganya memasuki lift dan saat lift berhenti di lantai dasar, semua orang yang menunggu didepan lift seketika terpana saat pintu lift terbuka menampilkan 3 orang yang amat memukau.
Benki yang sangat tampan dengan Lala yang cantik berjalan disamping kirinya sedangkan Fajar yang juga tampan disebelah kanan Benki mengibaratkan ketiganya datang dari dimensi lain.
Gosip yang sudah beredar luas bahwa sang direktur utama telah memiliki sekertaris baru namun tidak menyangka yang terbaru ini amat sangat cantik.
Seorang OB sampai menjatuhkan kertas ditangannya hingga menimpa kakinya saat Lala lewat didepannya dan merasakan angin lembut menerpanya.
Rapat berjalan dengan lancar, dimana Lala sering menjadi perhatian pria-pria berjas mahal disana, sedangkan para wanita yang mayoritas adalah sekertaris memandang penuh minta pada Benki dan Fajar namun ketiganya berusaha fokus mengabaikan tatapan-tatapan itu.
Saat Lala sedang menikmati pekerjaan barunya. Ditempat lain ada Rizky yang pusing tujuh keliling karena pekerjaannya, bukan hanya mencari keberadaan Lala tapi juga penyelidikannya terhadap Dharmawangsa bersaudara juga belum menemukan titik terang yang membuat kepalanya mumet. Belum lagi dia yang menghandel seluruh pekerjaan Lala karena Evan belum bersedia mencari sekertaris baru.
Mendongakkan kepalanya seraya menutup mata sambil memutar kepalanya agar pegalnya bisa sedikit hilang. Rizky membuka matanya saat mendengar suara lift terbuka.
Seketika ia tersenyum cerah saat pujaan hatinya muncul dengan membawa rantang makanan. Cleo mendekat ke meja Lala dengan tatapan datar pada Rizky.
"Aku rindu padamu !" Ucap Rizky langsung.
"Mas Evan ada ?" Cleo mengabaikan ucapan Rizky.
"Ada didalam, masuk aja !"
Cleo terdiam sejenak.
"Tidak usah, tolong kasih makanan ini ke mas Evan !" Cleo menyodorkan rantang pada Rizky yang disambut Rizky dengan menyentuh pergelangan tangan Cleo dan sebelah tangannya meraih rantang.
Keduanya bertatapan dalam dengan tangan Rizky memegang tangan Cleo. Cleo tersadar, melepaskan tangan Rizky dan segera membalikkan tubuhnya sedikit berlari menuju lift, memasukinya dengan jantung yang berdebar. Rizky terkekeh kemudian berdiri merenggangkan tubuhnya. Kedatangan Cleo cukup membuat moodnya membaik.
Dia melangkah memasuki ruangan Evan, dilihatnya atasannya itu sedang berdiri mematung seraya menatap keluar jendela.
"Bos !"
"Kira-kira Lala sedang apa ya Ky ?" Suara Evan bergetar.
Evan sedang membayangkan bisa menemukan Lala dengan pikirannya. Melihat gadis itu baik-baik saja, mendengar suaranya, menatap wajahnya yang tersenyum dan juga ingin memeluknya.
'Dimanakah Lala berada sekarang ?'
'Apakah sekarang Lala sudah makan ?'
'Apakah dia sehat-sehat saja ?'
'Apa disana yang berteman dengan orang baik ?'
'Apakah Lala merindukanku ?'
Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Evan membuatnya tidak sabar untuk menemukan gadis itu.
'Apakah Lala sudah punya pacar baru ?'
Pikiran itu membuat Evan tersentak dan menoleh cepat kearah Rizky.
"Ky, jangan-jangan Lala sudah punya pacar baru. Kalau benar segera temukan Lala dan selidiki itu. Jika benar dia punya pacar. Culik laki-laki itu masukkan ke dalam karung dan lempar ke laut !" Wajah Evan amat serius mengatakan itu membuat Rizky menganga.
Rizky menghela nafas, saat penyakit malarindu Evan kambuh, pria itu akan jadi gelisah galau merana.
"Bos, saatnya makan siang. Ini makanan yang dibawa nona Cleo !" Ucap Rizky.
"Aku mau makan bareng Lala Ky !" Ucap Evan membuat Rizky menatapnya dengan mimik stress.
"Saya sedang berusaha menemukan Lala bos. Saya janji akan berusaha secepatnya menemukan dia !" Kata Rizky serius.
"Mari makan bos, setelah ini penanggung jawab pembangunan pabrik batu bara akan datang setelah makan siang ini !" Ucap Rizky membuat Evan tersadar.
"Baik, ayo kita makan bersama !" Ajak Evan menuju sofa diikuti Rizky dan menikmati masakan yang ada di rantang.
Setelah makan siang keduanya menuju ruang rapat dan sesuai kesepakatan dalam rapat yaitu pembangunan akan mulai dilakukan besok.
__ADS_1