Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 112


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir Aulia berada di Bali, sore nanti ia akan kembali ke kota J. Seperti yang lalu, hari terakhir adalah hari libur dan Aulia bisa menggunakan waktunya untuk bersantai.


Benki dan Aulia kembali menghabiskan waktu dipagi hari, berjalan-jalan disekitar atau menghampiri para penjual oleh-oleh. Setelah itu, Keduanya kembali menghabiskan waktu ditepi pantai sambil duduk dibawah pohon rindang.


Aulia menyandarkan kepalanya dibahu Benki dengan tangan memeluk lengan cowok itu, menikmati deburan ombak dipagi yang cerah. Ia tidak bisa berhenti tersenyum mengingat semalam.


Saat Benki berlutut didepannya, ia menganga. Ia tidak percaya sekaligus terharu hingga meneteskan air mata. Dia tidak pernah merasa sebahagia ini dalam hidupnya, rasanya seperti mimpi dan ia hanya bisa menangis.


Benki pun tersenyum melihat ekspresi Aulia. Ia masih setia berlutut didepan gadis itu hingga Aulia mengangguk dan menarik Benki berdiri kemudian memeluknya erat menumpahkan rasa harunya.


Setelah melepaskan pelukannya, Benki menyematkan cincin itu kembali ke jari manis Aulia yang disambut sorakan beberapa orang yang sedang berada di area penjual sambil menonton adegan itu. Keduanya tersipu.


"Terima kasih, aku mencintaimu kak !"


"Aku juga, sepenuh hati !" Benki tersenyum seraya memeluk kekasih hatinya.


Keduanya berpelukan, menyalurkan rasa haru sekaligus rasa bahagia setelah apa yang telah mereka lewati.


Kini keduanya telah sampai dibandara dan telah turun dari pesawat kemudian menuju rumah Aulia. Benki berencana akan melamar Aulia kepada ibu gadis itu.


Ibu Lastri, ibunya Aulia terkejut saat membuka pintu, sang anak pulang bersama seorang pria tampan dan terlihat kaya. Benki tersenyum ramah kepada calon mertua.


"Silahkan masuk nak !" Ucap ibu Aulia seraya membuka lebar pintu rumahnya agar Aulia maupun pria tampan itu bisa masuk.


Sejoli itu gugup seraya saling pandang diruang tamu apalagi saat ibu Aulia kembali dengan membawa nampan berisi teh juga kue jajanan pasar dan bergabung dengan keduanya.


"Bu, kenalkan ini kak Benki !" Ucap Aulia hati-hati pada ibunya membuat wanita tua itu mengerutkan kening.


"Benki ?" Ulang ibu Lastri.


"Iya Bu, betul !" Jawab Benki.


Ibu Aulia menghela nafas kemudian tersenyum pada pria itu, ia ingat laki-laki ini yang Beberapa waktu lalu diceritakan Aulia dan membuat gadis itu menangis galau.


"Maksud kedatangan saya kemari ingin meminta restu ibu, saya ingin melamar Aulia ?" Ucap Benki mantap.


Ibu Lastri terkejut mendengar itu dan beralih menatap Aulia dengan pandangan minta penjelasan namun sang anak hanya tersenyum kikuk.


"Menikah ? Tapi kamu kan calonnya Tiara ?"


Benki dan Aulia saling pandang.


"Bu, semua baik-baik aja !" Tatapan mata Aulia begitu memohon pada ibunya.


Meski bingung, ibu Lastri kembali mengarahkan pandangannya kepada Benki.


"Kami tidak sederajat denganmu nak, apa kata orang kalau kamu menikah dengan seorang anak supir, papa Aulia dulu seorang supir !"


"Saya sudah tau Bu dan saya tidak masalah. Saya bisa menerima dia apa adanya !" Jawab Benki mantap.


"Lalu bagaimana dengan orangtuamu, apa bisa menerima Aulia yang hanya anak seorang supir ? Tidak punya status sosial ?"


"Untuk itu, ibu tidak perlu khawatir. Saya yakin orangtua saya pasti bisa menerima Aulia !" Benki berkata tegas seraya menatap dalam Aulia.


Ibu Lastri menghela nafas. Ia beralih menatap Aulia yang seolah mengatakan lewat tatapan mata jika hubungan mereka baik-baik saja.


"Baiklah nak, kalau kalian sudah yakin, ibu pasti merestui !"


Benki dan Aulia terlihat lega mendengar itu.


"Ibu titip Aulia, perlakukan dia dengan baik dan cintai dia dengan baik !" Pesan sang ibu.


"Pasti Bu, ibu tenang aja !" Benki dan Aulia saling pandang dengan bahagia.


"Bu, terima kasih !" Aulia menghampiri dan memeluk erat ibunya.


Benki tidak langsung pulang dan kembali mengajak Aulia jalan-jalan. Setelah makan malam diluar, Benki membawa Aulia menemui orangtuanya.


"Kak, aku takut !" Aulia menahan langkah Benki yang hendak memasuki rumahnya.


"Tidak apa-apa, yakin deh !" Benki membelai lembut rambut gadisnya.


"Tapi.....!" Aulia masih ragu.


"Jangan takut, ayo !" Benki menggandeng tangan Aulia.


Keduanya memasuki rumah tersebut, terlihat orang tua Benki sedang berdiskusi dengan mimik serius di ruang keluarga.


"Ma, pa !" Sapa Benki membuat orang tuanya langsung menoleh kearahnya namun mereka mengerutkan kening manakala menyadari ada Aulia dibelakang Benki.


"Duduk !" Perintah sang papa melihat tingkah keduanya nampak aneh.


Sejoli itu duduk dengan gugup terutama Aulia yang lebih banyak tertunduk malu tidak berani menatap orang tua Benki apalagi ia sadar telah membohongi mereka. Kedua oarang tua itu tidak bertanya hanya menunggu apa yang akan dikatakan anak mereka.


"Ma, pa. Aku dan Aulia mau nikah !" Benki to the point.


Orang tuanya terkejut dan saling pandang.


"Kamu yakin ?" Tanya sang mama membuat Aulia semakin tidak enak.

__ADS_1


"Iya ma, pa. Aku yakin, jadi aku harap papa sama Mama bisa restuin kami !" Benki menatap lekat orang tuanya bergantian.


Orang tua Benki menatap lekat Aulia, gadis yang sempat mereka pikir adalah seorang model juga dari keluarga terpandang tapi ternyata ia hanya gadis biasa namun meski begitu ia sangat mengangumkan selain sopan juga lemah lembut.


Papa dan mama saling menatap dan menggenggam tangan, setelah bertatapan cukup lama, sang mama terlihat mengangguk.


"Oke, kalau kalian mau menikah, papa dan mama akan merestui, yang penting kalian bahagia !" Kata sang papa seraya menggenggam erat tangan istrinya kemudian melirik sang istri yang masih tersenyum.


Perasaan Aulia tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata mendengar itu, ia menatap kedua orang tua itu tidak percaya. Matanya berkaca-kaca saat melihat jelas papa dan mama Benki tersenyum kepadanya.


"Ma, pa. Terima kasih !" Lirih Aulia hampir menangis saat menatap orang tua itu.


Kedua orang tua itu kembali mengangguk seraya tersenyum. Ingin memisahkan namun sulit karena Benki sempat terlihat depresi saat kebohongan Aulia terungkap dan sekarang cowok itu kembali ceria dengan Aulia disampingnya. Mereka berdua sadar, menentang sejoli itu adalah hal yang salah.


"Terima kasih ma, pa. Kalau begitu, aku akan mempercepat pernikahan kami !" Benki.


*****


"Papi dan mami mana ?" Tanya Bryan saat memasuki rumah Michael.


"Mereka masih di luar negeri, besok baru pulang !" Jawab Michael.


"Oh oke !" Bryan duduk di sofa sementara Michael membawa barang-barang Bryan dan Jerry ke kamar.


Michael kembali dan duduk di sofa bersama Bryan. Cowok itu tampak sedikit gelisah membuat Bryan mengerutkan kening.


"Aku mau bilang kalau 2 hari lagi Cleo menikah !" Lapor Michael.


Mendengar itu Bryan awalnya terkejut namun tak berapa lama ia biasa aja.


"Oh, oke !"


Michael melongo melihat ekspresi wajah Bryan.


"Kamu baik-baik aja ?"


"Aku sudah lama melupakannya !"


"Oh,.oke !"


"Jadi mau datang ?"


"Iya, oke, kita datang bertiga !"


Bryan beranjak naik kekamarnya dan menuju balkon menikmati pemandangan disana, jika membicarakan Cleo, ia yakin perasaannya mungkin sudah bisa merelakan wanita itu dan......


Bryan mengernyit saat tiba-tiba wajah Syifa hadir dibenaknya, tersenyum manis membuat Bryan tersadar seketika.


"Udah ih, aku mau pulang nanti aku dicari mama papa !" Omel Tiara.


"Iya nanti, aku masih kangen padamu. Kita udah berbulan-bulan gak ketemu lho masa kamu gak kangen sama aku !" Kilah Jerry malah mempererat pelukannya.


"Nggak lah, yang benar aja !" Tiara memukul punggung Jerry.


"Jangan banyak bergerak dulu, masih sakit kan !" Ledeknya membuatnya langsung mendapatkan Capitan kepiting diperut.


Jerry mengerang tapi malah mempererat pelukannya.


"Aku masih gak percaya, kamu disini denganku !" Jerry lebay.


'Aku lebih gak percaya lagi !' Batin Tiara.


Jerry meraih dagu Tiara, menariknya hingga membuat gadis itu mendongak menatapnya.


"Lupakan siapapun yang kamu pikirkan sekarang dan hanya boleh memikirkanku, oke !" Jerry memaksa kemudian ia mencium lembut kening Tiara dan memeluknya erat.


Tiara masih tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi, ia menghela nafas, menempelkan pipinya didada Jerry, menikmati detak jantung pria itu sambil balas memeluk erat hingga keduanya tertidur.


*****


"Kak !" Teriak Jerry didepan pintu masuk.


"Ya !" Jawab Bryan dan Michael yang sedang makan siang.


"Kakak pulang kok gak bilang-bilang, tadi waktu aku balik eh kamar udah kosong. Trus kata dokter cantik itu kakak udah pulang !" Gerutu Jerry sambil mengambil nasi beserta lauk dipiringnya.


Saat momen berpisah dengan Tiara yang memaksanya untuk kembali pada sang kakak namun saat helikopter mendarat di helipad rumah sakit, ia segera menuju kamar sang kakak tapi malah mendapati kamar itu kosong membuatnya segera mencari dokter sang kakak.


"Aku gak mau ganggu acara menginapmu di mini market !"


"Hah ?" Michael tidak mengerti.


"Sudahlah, dia ini memang tidak jelas !" Ucap Bryan membuat Michael mengangguk.


Ketiganya larut menikmati makanan masing-masing.


"Assalamualaikum !" Salam lembut itu menggema.


"Waalaikumsalam !" Ketiganya menjawab dan menoleh bersamaan.

__ADS_1


"Mami, papi !" Sapa Bryan dan Jerry bersamaan.


"Ya ampun, kalian disini. Kapan datang ?" Tanya mami Michael terkejut.


"Kemarin mi !" Jawab Bryan.


Mama Michael memeluk Bryan dan tanpa sadar menekan luka dibahu cowok itu dengan dagunya membuat Bryan menahan sakit membuat Michael dan Jerry saling pandang sambil menahan senyum.


Saat mami Michael beralih memeluk Jerry, kini sang papi yang memeluk Bryan.


"Apa kalian baik-baik aja ?" Tanya sang papi sambil menepuk-nepuk bahu kiri Bryan membuat cowok itu kembali menahan sakit.


"Iya Pi !" Jawab Bryan dan Jerry bersamaan membuat tuan Prana tersenyum.


"Ayo Pi, mi. Kita makan sama-sama !" Ajak Michael.


"Kalian aja, mami sama papi sudah makan dan sekarang mau istirahat !" Ucap mami.


Kedua orang tua itu berlalu, melenggang menuju kamar meninggalkan ketiganya yang kembali menikmati makanannya.


*****


2 hari kemudian...


Malam ini adalah pesta pernikahan Cleo dan Rizky.


Bryan terdiam lama didepan cermin menatap dirinya yang gagah terbalut kemeja batik putih, ia mempersiapkan hati untuk melihat Cleo lagi.


"Kak, ayo berangkat !" Panggil Jerry yang memakai batik hijau.


Keduanya memasuki mobil dimana Michael yang juga memakai batik senada warna merah berada.


Ketiganya sampai ditempat acara, suasana ramai yang dipenuhi dengan orang-orang penting nan terpandang. Sebelum turun Bryan dan Jerry mengenakan masker.


Mata Bryan langsung tertuju pada pelaminan, disana Cleo tampak amat cantik mempesona, wanita itu juga tak berhenti tersenyum disamping Rizky yang mengisyaratkan betapa bahagianya wanita itu sekarang.


Hingga kemudian ketiganya melangkah bersama menuju pelaminan serta melepaskan maskernya, Bryan dan Jerry melirik kearah tuan Robby dan tuan Kevin yang melihat kearah mereka.


Ekspresi Cleo berubah seketika melihat kedatangan Bryan. Wajahnya sendu menatap pria yang semakin mendekat itu.


"Selamat ya, turut bahagia untukmu !" Ucap Bryan seraya mengulurkan tangannya.


"Terima kasih, aku harap kamu juga bahagia dimanapun kamu berada dan dengan siapapun kamu bersama !" Ucap Cleo seraya menyambut jabat tangan Bryan, ia menggenggam tangan itu dengan sepenuh jiwa.


Bryan tersenyum dan berlalu turun dari pelaminan, perasaannya lumayan lega, sepertinya ia sudah bisa benar-benar merelakan perasaannya untuk Cleo.


Bryan berlalu saat melihat tuan Robby dan tuan Kevin mendekatinya, meninggalkan Michael yang nampak berbicara dengan seseorang. Bryan hendak memakai maskernya kembali seraya berjalan cepat.


"Bryan, Jerry !" Panggil tuan Robby namun Bryan tetap mempercepat langkahnya hingga...


"Kyaaaaaaaa, cup !" Suasana sunyi seketika dengan semua yang berada disitu menatap mereka.


Akibat terburu-buru, Bryan menabrak seorang wanita dan karena kaget ia menarik pinggang wanita yang hampir jatuh itu, saking kerasnya menarik hingga tanpa sengaja wanita itu menciumnya, tepat dibibir.


Jerry yang melihat itu menganga lebar, terutama sang peran utama. Bryan mematung seraya melotot menatap wanita yang dekat sekali dengan wajahnya itu.


Perlahan Bryan melepaskan diri dari wanita itu dan jeng.. jeng.. jeng.. wanita itu adalah Syifa sang dokter. Wajah gadis itu memerah menatap Bryan tidak percaya.


"Maaf !" Ucap Bryan pelan.


Tanpa menjawab Syifa segera memasuki ruangan.


"Bryan, Jerry. Ayo masuk, mari kita bicara !" Ucap tuan Robby mengalihkan rasa kaget Bryan.


"Iya, jangan menghindar lagi. Ayo !"


Bryan tidak tahu harus menjawab apa dan mau tidak mau ia mengikuti langkah kedua pria tua itu dengan mata mencari keberadaan Syifa.


Sementara itu, Syifa seperti orang kebingungan didalam sana. Saat ia menuju kedua mempelai untuk bersalaman. Cleo dan Rizky pun bingung melihat Syifa yang tampak salah tingkah itu.


Kemudian beralih pada kursi dan meneguk habis jusnya, berusaha meredam rasa kaget juga malunya, kemudian ia beranjak dari sana tidak peduli dengan pandangan aneh orang didekatnya.


Sedangkan, Bryan dan Jerry berada di restoran hotel duduk bersama 2 pria tua teman ayah mereka itu.


"Arman Joseph, pria yang sudah membunuh kedua orang tua kami, ia bunuh diri. Enak sekali hidupnya berakhir begitu saja ?" Ucap Bryan.


Tuan Robby dan tuan Kevin menghela nafas.


"Lalu apa rencana kalian selanjutnya ?" Tanya tuan Kevin.


"Belum tahu, masih kami pikirkan. Apakah melanjutkan perusahaan di negara P atau buka cabang di negara ini !" Jawab Bryan.


"Tinggallah di negara ini, buka perusahaan kalian disini. Jangan khawatir, papamu banyak menyimpan uang untuk kalian dan itu bisa kalian gunakan untuk memulai perusahaan yang baru !" Ungkap tuan Robby.


"Benar, kalau kalian butuh apapun jangan ragu-ragu meminta bantuan kepada kami, kami pasti akan menolong kalian !" Tambah tuan Kevin.


"Jadi menetaplah disini, jangan disana. Kita tidak tahu bahaya apa saja yang bisa datang mengganggumu disana !"


Bryan dan Jerry saling pandang.

__ADS_1


"Terima kasih dan maaf dengan apa yang sudah terjadi !" Ucap Bryan.


"It's Ok !" Jawab tuan Kevin.


__ADS_2