Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
040


__ADS_3

Evan melangkah dan duduk disofa didepan Lala dan Rizky namun tatapannya tak lepas dari Lala yang membuat gadis itu salah tingkah.


"Saya diutus atasan saya untuk mempelajari lebih jauh kerjasama yang anda tawarkan setelah itu kami akan memperhitungkan kedepannya !" Ucapan formal Lala membuat Rizky menguap lebar.


"Kamu seperti datang dari dimensi lain, La !" Rizky tertawa, Evan berusaha menahan untuk tidak ikut tertawa.


"Santai aja !" Tambah Evan.


Lala menghela nafas seraya melirik garang pada Rizky dan beralih pada Evan yang menatapnya lembut. Lala semakin salah tingkah, keputusannya untuk kesini memang salah.


"Kami akan pergi menuju pabrik baru kami yang dibangun dengan penuh perjuangan disertai darah dan keringat yang akhirnya setelah jatuh bangun kini telah berdiri kokoh sekuat batu karang !" Ucap Rizky membuat Evan menutup mulutnya menahan tawa.


"Ikutlah dengan kami !" Pinta Evan.


Lala mengangguk dan menuju lift bersama. Para karyawan yang melihat mereka keluar dari lift amat terkejut dengan kehadiran Lala. Bisik-bisik pun terjadi memunculkan berbagai perspektif. Berpikir jika Lala kembali menjadi sekertaris Evan.


Berlalu dengan Lala membalas sapaan karyawan lain yang tak percaya melihat keberadaannya.


Ketiganya menaiki mobil dan berlalu.


"Tiwi mana ?" Tanya Lala saat mobil mulai berjalan.


"Dia sedang berada di Amerika, ayahandanya memintanya dengan sepenuh jiwa untuk membantu meneruskan bisnis yang berada disana maka kedepannya bisnis itu bisa sukses dan memberikan manfaat bukan hanya pada pemilik tapi juga orang lain !"


Lala memukul lengan Rizky, kesal sekali karena cowok itu masih terus mengejeknya. Sedangkan Evan, hanya bisa menahan senyum mendengar itu.


"Berhenti bicara begitu, geli tahu !" Semprot Lala.


"Lah, kan kau yang mulai !"


"Ya udah, gak usah ngeledek. Dasar kakek gayung !"


"Eh kuntilanak, kan kau sendiri yang minta diledek !"


Lala geram dan langsung menarik rambut Rizky membuat cowok itu panik saat pandangannya jadi miring.


"Eh.. eh.. aku lagi NYETIR !" Pekik Rizky.


Setelah menarik rambut Rizky cukup keras Lala melepas pegangannya, mengalah jika ia masih ingin hidup.


"Huh !" Dengusnya.


Evan terdiam menatap keduanya, sudah lama sekali tidak melihat adegan itu. Tom and Jerry ini cukup mengobati sedikit kerinduannya.


Tanpa mereka sadari seseorang mengintai mereka sejak tadi dan ia pun dengan jarak aman mengikuti mobil Evan.


Selama perjalanan Evan menatap intens dari belakang gadis didepannya, tersenyum dengan pikirannya. Ia Ingin bisa segera memeluk satu-satunya gadis yang telah menguasai hatinya ini tapi nampaknya sulit.


Dari jauh Lala sudah menatap lekat bangunan pabrik itu. Rasanya baru kemarin ia juga ikut meninjau lokasi kosong nan luas itu dan menyetujui pembangunan pabrik di lokasi ini dan sekarang kini telah berdiri kokoh bangunan yang bagus dan besar tanpa pernah ia lihat prosesnya.


"Silahkan masuk nona !" Rizky berperan sebagai pelayan bangsawan.


"Grrrrrrrrrr !" Lala menggeram padanya. Tangannya sudah hampir meraih rambut Rizky saat cowok itu cepat berkelit.


Kemudian mereka bertiga memasuki pabrik itu. Lala menelisik setiap detail sudut yang ada, masih belum beroperasi maksimal karena banyak alat yang dibutuhkan belum tersedia.


"Ya disinilah kami akan memproduksi semua bahan tambang kemudian baru akan diekspor keluar negeri !" Ucap Evan.


"Dan kami tertarik pada sebuah lahan yang menjadi wilayah PT. EndoFood. Kami rasa bisa menambang disana dan memastikan tidak akan berpengaruh pada produksi tanaman yang akan ditanam !"


Lala mengernyit bingung, memiringkan kepalanya berusaha mencerna perkataan Evan. Melihat ekspresi wajah Lala, Evan melirik pada Rizky menyadari kekeliruannya dalam berkata.


"Baiklah !" Ucapan Lala itu membuat Evan menahan tawa kemenangannya.

__ADS_1


Kemudian mereka berkeliling, Evan mengenalkan pada suatu alat atau apa yang akan mereka pergunakan kedepannya dan bagaimana prosesnya serta pengeksporannya ke luar negeri.


Lala menyadari apa yang dijelaskan Evan sama sekali tidak ada hubungannya dengan perusahaan Benki dan kerjasama mereka terasa semu namun ia hanya bisa mengikuti saja tanpa tahu seperti apa yang pria ini rencanakan.


Setelah puas berkeliling dalam waktu yang lama dan membuat Lala terpukau, mereka memutuskan kembali untuk makan siang dan menuju restoran seafood langganan mereka.


Mobil Evan menjauh meninggalkan seseorang yang tadi mengikuti mereka, senyum sinis tampak di bibirnya kemudian beralih menatap bangunan baru itu dengan tatapan bengis, menelisik dan mempelajari sekitarnya dalam tempat yang tertutup tak terlihat orang lain.


Lala terenyuh saat kembali duduk di private room seperti dahulu kala bersama Evan dan Rizky. Entah digambar seperti apa perasaannya sekarang ini yang jujur ia akui ia merindukan hal ini dan tak pernah terpikir olehnya akan merasakan kebersamaan ini lagi.


"Apa anda sudah punya pacar nona Lala ?" Tanya Rizky usil membuat Evan terbatuk-batuk.


Lala membeku, bingung bagaimana menjawab pertanyaan usil Rizky. Menjawab jujur takutnya nanti dikira ia masih meminta harapan pada Evan tapi jika ia bohong maka bisa dipastikan Rizky akan terus mencercanya dengan banyak pertanyaan.


"Belum !" Akhirnya Lala memilih jujur.


"Oh wow !" Rizky tertawa membuat Lala ingin menembakkan sinar laser padanya agar wajahnya yang menyebalkan itu jadi gosong.


"Anda sendiri ? Apa sudah punya pacar ?"


"Oh, saya ini justru pusing. Karena banyak cewek-cewek ngantri buat jadi pacar dan istriku. Jadi sekarang aku masih jomblo karena bingung mau pilih yang mana. Cewek-cewek cantik plus seksi itu benar-benar buat saya tak bisa berpikir !" Jawab Rizky tengil.


"Cih !" Lala mencibir.


"Kalau bos saya ini jomblo, dia belum bisa move on karena pacarnya tenggelam di kapal Titanic !" Ucap Rizky menunjuk Evan.


Lala menganga. Evan pun sempat melongo namun detik berikutnya ia nampak cuek. Rizky menahan tawa.


"Haduh, mana itu cewek banyak utang. Cicilan pancinya belum lunas, cicilan daster dan cicilan lainnya belum lunas eh dia udah good bye duluan !" Wajah Rizky terlihat super menyebalkan membuat Lala ingin mencubitnya dengan capit kepiting.


Lala terdiam mengabaikan Rizky yang menyindir dan meledeknya seraya kembali menyantap makanannya mengabaikan Rizky yang menyeringai penuh kemenangan. Percuma membalas karena dipastikan cowok menyebalkan itu yang akan menang.


Menikmati makan dalam diam, tatapan Lala bertemu dengan mata Evan. Dengan cepat mengalihkan pandangan dengan menikmati makannya dengan jantung berdebar.


Rizky pura-pura tidak melihat dengan pura-pura fokus pada Hp-nya.


Setelah melewati suasana makan yang mendebarkan, mereka kembali ke kantor dan saat memasuki ruangan Evan tampak 2 wanita sedang duduk di sofa sambil bercengkrama.


"Mama, kapan datang !" Sapa Evan melihat sang mama bersama Syifa.


"Lho, Lala. Ya ampun, kamu ini kemana aja !" Pekik mama Evan saat melihat Lala serta mengabaikan sapaan anaknya.


Lala yang sempat tertegun melihat nyonya Chyntia yang sudah cukup lama tidak dilihatnya sedangkan Syifa saat mendengar nama Lala ia terperanjat menatap lekat gadis itu dan saling pandang kepada Evan yang menganggukkan kepala kepadanya.


"Saya baik nyonya !" Ucap Lala menyalami wanita tua itu dan beralih menatap perempuan asing diantara mereka.


"Oh ya La, kenalkan ini Syifa. Calonnya Evan !" Raut mama Evan terlihat senang saat mengatakan itu.


Seketika Lala membeku, menatap tidak percaya dengan apa yang dikatakan mama Evan.


'Trus Cleo ? dan juga anak mereka bagaimana ?' Batin Lala bertanya-tanya dimana ia memang tidak tahu perihal perceraian Evan.


"Maksudnya calon. Calon apa Tante ?" Tanya Lala pelan.


"Calon istri La !"


DUARRRRR


Tanpa sadar ia menatap nanar pada Evan. Tangannya terkepal erat merasakan sesuatu menusuk hatinya. Sedangkan Evan hanya memperlihatkan wajah datar seolah apa yang dikatakan bukanlah hal besar.


"Waduh, sepertinya yang tenggelam di kapal Titanic itu bakal jadi hantu gentayangan dengar ini !" Ucap Rizky membuat mama Evan dan Syifa menatap bingung padanya.


"Oh nggak, saya bercanda. Hehehe !" Rizky nyengir.

__ADS_1


Syifa menatap lekat pada Lala kemudian tersenyum manis.


"Kenalkan Syifa !" Gadis itu mengulurkan tangan.


"Lala !" Sambut Lala. Keduanya berjabat tangan dengan tatapan rumit yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.


"Wah, bakal perang dunia ini bos !" Bisik Rizky membuat Evan melirik sebal padanya.


"Fa, Lala ini dulu pernah jadi sekertaris Evan !" Jelas sang mama.


"Oh ya, berarti udah kenal kak Evan dengan baik kan !"


'Kak Evan !' Batin Lala sebal.


Lala hanya mengangguk.


"La, kalau nanti Evan dan Syifa tunangan, kamu bantuin ya !" Ucap sang mama.


"APA ?" Evan dan Lala memekik bersamaan membuat sang mama melirik keduanya bingung.


Rizky menutup mulutnya dengan tangan menahan tawanya.


*****


Di pabrik batubara yang baru saja Evan kunjungi. Dua orang satpam sedang tidur dengan posisi mesra. Yang satu tidur terlentang di lantai batako dihalama sedang yang satu menjadikan lengan pria satunya sebagai bantal dan memeluk erat tubuhnya selayaknya guling.


Merasakan sesuatu yang silau menari-nari didekatnya hingga membuatnya membuka mata perlahan dan langit malam yang berbintang kecil menyambut tatapannya. Merasakan sesuatu yang berat disebelah kirinya membuatnya menoleh seketika ia kaget dan langsung duduk saat melihat istrinya berubah jadi orang lain. Pria yang satu tadi pun ikut terbangun dengan paksa dan membuatnya kaget hingga ikut refleks duduk.


Baru saja keduanya akan saling melempar kata saat merasakan sesuatu yang silau membuat keduanya menoleh bersamaan dan langsung saja mata mereka melotot maksimal saat menyadari ada api yang sedang melahap sisi bangunan pabrik.


Mereka berdua panik seketika dan langsung berdiri berlari kesana kemari, hanya ada mereka berdua yang berada disana. Satpam yang tadi bangun duluan bernama Karman segera meraih Hp-nya dan menelepon polisi serta pemadam kebakaran serta yang satu bernama Agus berusaha memadamkan api menggunakan air keran yang berada dihalaman.


Lokasi yang jauh dari jangkauan penduduk membuat mereka setengah mati berusaha memadamkan api yang makin lama makin berkobar. Mereka hanya bisa berharap bantuan segera datang.


Dan seseorang dengan seringai jahat dan sedang bersembunyi di kegelapan sedang menonton kejadian itu. Tersenyum penuh kemenangan dengan tatapan benci.


"Ini baru permulaan !" gumamnya dalam kegelapan.


"Apa pabrik terbakar !" Teriak Evan saat menerima telepon.


Rizky menoleh kearahnya ikut terkejut. Baru saja mereka akan memutuskan pulang setelah mama Evan, Syifa dan juga Lala telah pulang sejak tadi dan sekarang malah mendapatkan kabar seperti ini.


Evan segera berlari menuju mobilnya diikuti Rizky. Menyetir dengan kecepatan kencang membuat Rizky yang baru saja duduk disampingnya terlempar-lempar hampir mengenainya dan langsung berpegang erat pada pegangan pintu.


Saat tiba disana, mobil pemadam dan polisi sudah memenuhi tempat itu, api sudah dipadamkan menyisakan asap yang masih terus keluar dari bekas lalap api.


"Apa yang terjadi ?" Tanya Evan langsung pada kedua satpam yang menunduk ketakutan.


"Kami tidak tahu tuan, tadi kami tertidur dan saat bangun pabrik sudah terbakar !" Ucap Karman pelan.


"Apa ? Kalian TIDUR ?" Tanya Evan menggeleggar.


"Kalau kalian mau tidur pulang ke rumah, jangan disini. Lihat akibat keteledoran kalian !" Bentak Evan


"Ma.. maaf tuan. Tidak tau kenapa kami tertidur setelah minum kopi dan bersiap bekerja tapi tiba-tiba kami jatuh tertidur dan saat bangun pabrik sudah terbakar !" Sahut Agus berusaha mereda emosi atasannya.


Wajah Evan mengeras mendengar alasan aneh itu, dadanya naik turun emosi menatap kedua satpam yang kembali menunduk itu kemudian menatap gedung yang hampir setengahnya terlihat hangus.


"Saya akan bicara kepada polisi bos !" Ucap Rizky seraya beranjak dari samping Evan.


Evan marah, amat marah melihat keadaan sekarang ini. Gedung pabrik yang baru ini membuatnya hampir gila. Ingin sekali dia menghajar kedua satpam ini melampiaskan amarahnya.


Pikiran Evan kemana-mana berusaha mengalihkan amarahnya. Memejamkan mata dan menghembuskan nafas pelan kemudian membuka matanya

__ADS_1


'Ada apa sebenarnya ?'


__ADS_2