
Aulia menatap tidak percaya pantulan dirinya dicermin, setelah beberapa saat ia didandani oleh Tiara kini ia tampil 180 derajat berbeda dari biasanya, membuatnya senyum-senyum sendiri melihat dirinya yang seperti anak Sultan di cermin
"Ya ampun, ternyata aku oke juga ya !" Aulia senyum-senyum membuat Tiara mengangkat kedua alisnya.
"Nah, nanti kamu ngaku kalau kamu itu aku dan buat perjodohan ini kacau. Sebisa mungkin kamu buat dia ilfeel trus dia sendiri yang batalin perjodohan ini !" Pesan Tiara yang hanya diangguki Aulia karena cewek itu masih mengagumi dirinya di cermin.
"Ya udah yuk, udah waktunya !" Ajak Tiara yang diikuti oleh Aulia.
Keduanya menuruni tangga bersamaan, suasana tampak sunyi dan saat terdengar suara mama Tiara memanggil, Aulia cepat-cepat sembunyi menghindari pertanyaan yang akan terlontar mengapa ia ikut.
"Ra, sini sebentar nak, mama mau kasih tau. Nanti kalau ketemu sama si B......!" Suara mama Tiara semakin tidak terdengar saat Aulia berhasil menyelinap keluar.
Sepanjang perjalanan Tiara memberikan banyak pertuah tentang apa saja yang harus dilakukan oleh Aulia dan tips-tips bagaimana caranya agar cowok ilfil.
"Nanti kamu sendawa yang keras, Ngupil, ngomong kasar atau naikin kakimu ke meja !"
"Eh, jangan dong. Nanti celana dalamku kelihatan !" Potong Aulia menyadarkan Tiara bahwa ia sedang memakai rok.
"Oh iya ya. Ya udah lakuin aja yang lain supaya perjodohan ini harus batal. Sekalian kamu minta dibeliin yang mahal-mahal supaya dia pikir kamu matre. Mengerti ?"
"Iya, iya !"
Mobil Tiara telah sampai direstoran tempat janji bertemu. Aulia kembali menatap spion memastikan makeup wajahnya belum luntur.
"Oke, jadi nanti kamu cari cowok yang bawa paperbag yang ada pita merahnya. Janjiannya gitu supaya bisa gampang dikenali !" Ujar Tiara.
"Namanya Benki !" Tambah Tiara.
"Oh oke, kalau gitu aku masuk ya !" Aulia membuka pintu dan berjalan pelan karena tidak terbiasa memakai heels tinggi.
Tiara menatap kepergian Aulia, terus menatap hingga tubuh gadis itu memasuki restoran saat Hp-nya berdering membuatnya tersenyum.
"Halo sayang !"
*****
Aulia yang sudah memasuki restoran sejenak celingak-celinguk mencari pria yang dimaksud saat disudut terlihat pria dengan paperbag dengan pita merah. Perlahan Aulia mendekat dan seketika terpana saat pria itu adalah dewa Yunani yang dilihatnya tempo hari. Aulia terpana sekaligus terpesona melihat pria itu namun dengan cepat ia memukul keningnya sendiri agar tidak melupakan tujuannya.
"Kak Benki !" Sapa Aulia. Pria itu mendongak dan seketika terdiam menatapnya membuat Aulia salah tingkah.
"Kak !"
"Oh ya, silahkan duduk !"
Aulia duduk didepan Benki yang terus menatapnya intens membuat Aulia gelisah takut jika penyamarannya terbongkar.
"Ayo pesan dulu !" Benki memanggil pelayan yang kemudian datang menghampiri dan memberikan buku menu pada mereka.
Aulia tampak pusing melihat tulisan berbahasa Inggris itu dengan foto-fota daging steak yang menggugah selera bukan hanya karena sebagian besar sulit dimengerti tapi juga ia takut jika memilih yang non halal.
"Triple cheese Hamburg steak dengan orange juice !" Ucap Benki membuat Aulia lega.
"Saya pesan yang sama !" Aulia mengembalikan buku menu pada pelayan yang menunduk hormat dan berlalu pergi.
Benki kembali menatap Tiara, sesuatu pada diri gadis ini yang terlihat pada pandangan pertama dengan cepat menarik perhatiannya. Melihat tatapan Benki membuat Aulia semakin tidak tenang ditempat. Apalagi 2 orang yang ia juga lihat saat dihotel berjalan dibelakang Benki duduk disamping mereka sering melirik kearahnya dan Aulia berpura-pura tidak menyadari itu.
"Nama kamu siapa ?" Tanya Benki memecah kesunyian.
"Aku Aul eh Tiara iya Tiara !"
__ADS_1
"Ini hadiah dari mama !" Benki menggeser paperbag itu kedepan Tiara.
"Terima kasih kak !" Aulia tersenyum manis membuat Benki terpaku dan lagi Aulia salah tingkah.
Keduanya terlibat obrolan ringan, Aulia pura-pura mengabaikan 2 orang disampingnya yang berbisik-bisik sambil melirik kearahnya hingga pesanan datang dan tersaji didepan mereka.
Aulia kembali bingung, bukan karena pertama kali makan steak tapi ia sadar harus makan ala orang kaya yang penuh keanggunan karena biasanya ia akan langsung melahap menggunakan garpu saja tapi sekarang ia harus menggunakan pisau dan garpu bersamaan.
Melihat yang dilakukan Benki yang akhirnya diikuti oleh Aulia dan berhasil menikmati ala anak sultan.
"Kamu suka banget dengan pekerjaan model ?" Tanya Benki.
"Eum iya suka banget !" Ucap Aulia mengernyitkan dahi tapi dalam hati ia tertawa karena tidak mengerti dengan dunia modeling dan hanya mengerti manajemen hotel.
"Kalau kakak pekerjaannya apa ?" Tanya Aulia balik membuat Benki terdiam sejenak.
"Aku kerja sebagai supir truk !" Entah Benki sadar atau tidak mengatakan itu. Fajar dan Lala hampir meledak tawanya mendengar itu.
"Supir truk ?" Aulia mengulang.
"Eh bukan, pekerjaanku cuma wakil direktur sebuah perusahaan biasa !" Ucap Benki hati-hati.
Mendengar itu Aulia mangut-mangut seraya tersenyum pada Benki yang lagi-lagi membuat cowok itu terdiam.
Saat orang tuanya memberitahukan bahwa ia dijodohkan, Benki memberi syarat untuk tidak memberitahu gadis itu beserta keluarganya tentang siapa dia sebenarnya dan dengan caranya sendiri ia akan memberitahu tentang dirinya pada gadis pilihan orang tuanya itu dan orang tua Benki menyanggupi dan Tiara asli pun tidak diberitahukan orang tuanya jika ia dijodohkan dengan salah satu pengusaha sukses di Indonesia.
Setelah makanan habis dan obrolan ringan yang terjadi juga malam yang semakin larut membuat semuanya memutuskan pulang.
"Ayo aku antar pulang !" Tawar Benki.
"Gak usah kak, saya dijemput kok. Duluan kak !" Aulia menolak halus dan bergegas pergi namun ditahan oleh Benki.
Setelahnya, Aulia langsung berlari pergi dari hadapan Benki dan saat cowok itu sudah tidak terlihat dan memastikan tidak ada yang melihatnya Aulia dengan cepat memasuki mobil Tiara.
"Gimana ?" Tanya Tiara.
"Dia ternyata ganteng banget. Kamu nyesal deh kalau batalin ini perjodohan !" Ucap Aulia bangga.
"Bodo amat, gak peduli. Cita-citaku lebih penting ketimbang dia !"
"Oh ya, ini dari mama dia !" Aulia menyerahkan paper bag dengan pita merah kearah Tiara.
Tiara membuka paperbag itu dan mengeluarkan serta memerhatikan isinya yang adalah tas merk ternama berwarna pink, Aulia pun mupeng melihatnya namun mimik wajah Tiara nampak biasa saja melihat benda itu. Meski tas itu keluaran beberapa bulan yang lalu namun baginya sudah masuk kategori ketinggalan jaman.
"Buat kamu aja. Aku gak suka !" Ketus Tiara menyerahkan tas itu kepada Aulia yang melotot tidak percaya.
"Yakin ? Gak nyesal ? Gak bakal ambil tas ini kembali ?" Aulia memastikan.
"Yakin banget. 100%, aku gak suka tas keluaran lama !"
"Eh, tapi ini cantik pake banget !" Aulia memeluk tas pink itu seraya menggesekkan ke pipinya. Aroma tas baru itu sungguh membutnya senang.
Hari ini, Aulia sangat senang. Sudah dapat gaun dan high heels baru. Sekarang ditambah tas branded baru membuatnya memeluk benda itu dengan sayang. Tiara yang melirik kearahnya hanya geleng-geleng kepala.
"Tapi beneran deh, dia tadi super super oke. Kamu juga kalau lihat dia pasti termehek-mehek terpesona !" Ujar Aulia. Tak bisa ia pungkiri senyum Benki membuatnya sekejap melupakan pesan Tiara.
"Bodo amat, sebentar lagi aku bisa jadi model internasional. Memeragakan busana dari desainer ternama juga dapat kontrak eksklusif dimana jalanku akan bisa mulus tapi itu semua bakal hancur kalau aku menikah sekarang. Jadi aku gak peduli seperti apa dia, selama menghambat aku meraih impianku maka dari itu aku akan selalu bilang.. Tidak !" Tegas Tiara membuat Aulia mangut-mangut.
"Tapi apa pekerjaannya ?"
__ADS_1
"Wakil direktur di perusahaan biasa ! Jawab Aulia jujur.
"Whatttt ? Gak salah ? Yang bener aja di berani lamar aku dengan posisi seperti itu. Gak waras itu cowok !" Tiara geleng-geleng kepala.
Aulia hanya diam melihat reaksi Tiara. Sejujurnya ia pun tidak percaya jika Benki hanya seorang wakil direktur karena penampilan dan pembawaan pria itu sungguh berselera tinggi.
"Eh, ya ampun. Tapi tadi aku sudah kasih nomor Hp-ku. Gak enak kalau nggak kasih !" Pekik Aulia.
"Ya udah, kamu yang urus dia. Pastikan perjodohanku dengannya harus batal !"
"Oke !" Aulia kembali fokus pada tas barunya.
Keduanya terdiam selama perjalanan, pandangan Aulia beralih kearah luar jendela melihat kegelapan menyelimuti sebagian besar permukaan bumi dimana para hantu datang bergentayangan dan menganggu manusia.
Aulia tidak bisa melupakan Benki, pandangan mereka yang sempat terpaku. Hatinya berdesir saat mereka saling bertatapan juga saling berbicara.
Sementara itu, Benki yang juga berada diperjalanan pulang menyandarkan kepalanya di kursi mobil seraya menatap langit malam. Entah mengapa, gadis tadi menyimpan kesan yang dalam padanya hingga ia refleks meminta nomor Hp-nya. Cara gadis itu berbicara, tersenyum dan pembawaannya yang sopan membuat Benki merasakan sesuatu yang berbeda hingga ia selalu memikirkan gadis baru itu.
"Tiara !" Gumamnya pelan.
"Apa bos ?" Lala yang menyahut.
"Bukan kamu yang aku panggil, terima kasih banyak !"
"Trus siapa ?"
"Oh iya, kenapa bos ?" Kali ini Fajar yang menyahut, berpikir dia yang dipanggil.
"Aku tidak memanggil kalian !" Gerutu Benki.
"Trus siapa ?" Fajar dan Lala bertanya bersamaan membuat Benki semakin geram.
"Oh, jangan-jangan bos jatuh cinto sama Tiara !" Ucap Lala membuat Benki mendelik.
"Hmm, dia itu jujur saja ya sperti bukan anak orang kaya, bukan juga model. Dia terkesan sangat sederhana untuk itu !" Ucap Lala.
"Itulah arti seorang wanita, meski anak orang kaya dan model terkenal tapi tetap rendah hati dan tidak sombong !" Balas Benki membuat Lala keki.
"Eh kakek, ini petunjuk penting. Aku pun ingin tahu dia lebih dalam !" Pekik Lala tanpa sadar dan detik berikutnya tangan Benki terulur dan menjambak rambut Lala.
"Kamu bilang apa ?" Semprot Benki kesal.
"Eh. Eh maaf kek, maksudku bukan seperti itu !" Lala panik saat kepalanya mendongak dengan tangan Benki dirambutnya.
"Apa ?" Jambakan Benki semakin kencang membuat Lala memberontak dan balas menjambak rambu Benki.
"Ini perawatan rambutku mahal !" Pekik Lala saat tangan Benki tidak mau melepaskan rambutnya.
"Aku ini bosmu, beraninya kamu menjambak rambutku yang lebat nan indah ini !" Benki mulai narsis.
"Indah apanya !"
"Ei, ei, ei !" Gerakan tubuh 2 orang itu membuat Fajar yang sedang menyetir ikut terganggu.
"Sudah.. sudah.. aku jadi gak konsen nyetir !" Mendengar itu Lala akhirnya melepaskan tangannya dari rambut Benki karena ia masih sayang nyawa tapi Benki sempat menarik-narik rambut Lala hingga gadis itu memekik sebelum melepaskannya.
Lala menggerutu sambil merapikan rambutnya, Benki yang mendengar itu cuek saja. Pikirannya kembali teringat pada gadis pilihan orang tuanya, sekarang ia berpikir gadis itu pasti langka karena tidak memperlihatkan betapa kayanya dia.
"Sepertinya aku mau mengenal dia lebih dalam !" Ucap Benki membuat Fajar dan Lala saling pandang.
__ADS_1
Hingga perjalanan jadi sunyi dengan pikiran masing-masing.