Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 072


__ADS_3

Tiga hari sudah Aulia berada di Bali, pekerjaan disana benar-benar banyak sehingga rencana teman-temannya yang ingin jalan-jalan keluar saat jam pulang justru tinggal rencana saja karena kelimanya begitu kelelahan akibat membludaknya para tamu yang datang dari berbagai kota hingga memutuskan waktu pulang digunakan untuk istirahat penuh.


Dan hari ini, sebuah pesta ulang tahun perusahaan seorang konglomerat, dimana ia banyak mengundang tamu dari berbagai kalangan, kelimanya kembali bekerja seperti biasa. Tamu-tamu yang kembali tak henti datang membuat mereka bolak-balik menyajikan ini-itu.


Hingga mata Aulia menangkap bayangan seseorang yang dia kenal. Ia melotot tidak percaya melihat pria yang baru datang itu. Secepat kilat Aulia berbalik, mencoba segera menuju bagian dapur saat Benki semakin mendekat.


"Oh, tuan Benki. Akhirnya anda datang !" Sambut sang pemilik acara.


"Tuan Farid, selamat atas ulang tahun untuk perusahaan anda !"


"Terima kasih. Mari, silahkan dinikmati pestanya !" Ucap Tuan Farid itu.


"Baik !" Benki tersenyum ramah. Si pemilik acara meninggalkan Benki dan menyambut tamu lainnya.


Benki celingak-celinguk, berusaha mencari keberadaan Tiara, ia pikir mungkin saja gadis itu berada disini. Benki tersenyum membayangkan mereka bisa menghabiskan waktu di kota ini.


Sedangkan Aulia yang sudah berada di dapur langsung diberikan sebuah nampan besar yang berisi puding-puding aneka warna dalam wadah kecil dengan topping buah-buahan serta krim coklat maupun vanilla membuat siapapun yang melihatnya meneteskan liur namun tidak bagi Aulia, ia malah bingung bagaimana. Ia kemudian mengenakan masker hingga menutupi setengah wajahnya dan membawa puding itu pelan-pelan.


Mata Aulia menatap liar nan panik keseluruh tamu mencari keberadaan Benki namun tidak didapatinya cowok itu membuatnya bernafas lega namun orang itu malah muncul dihadapannya dan hendak meraih puding di nampan yang masih dipegangnya. Aulia membeku, langsung menunduk saat Benki menatap puding-puding itu dan menatap yang mana yang ia inginkan. Aulia berdoa dalam hati semoga Benki tidak mengenalinya.


Badan Aulia bergetar, jarak tubuh mereka hanya dipisahkan oleh nampan ditangannya, aroma parfum cowok itu yang mantap jiwa tercium oleh Aulia apalagi Benki amat lama memilih membuat Aulia ingin memakinya.


"Ya ampun ini cowok, pilih aja lama bener !" Sungut Aulia dalam hati.


Aulia melirik cowok yang masih memilah-milah rasa apa yang diinginkan hingga ia memilih coklat dan strawberry. Setelah kedua puding itu berpindah ke tangan Benki, Aulia segera melesat pergi dan menawarkan puding itu kepada tamu lainnya.


Benki juga sempat terdiam melihat pegawai hotel tadi karena proporsi tubuhnya mirip Tiara namun ia menggelengkan kepalanya dan menuju meja makan untuk menikmati puding ditangannya.


Aulia berkeliling ruangan yang membuatnya semakin menjauh dari Benki dan saat puding di nampan ludes, Aulia kembali ke dapur. Saat itulah Hp-nya yang dalam mode silent bergetar, dilihatnya nama Benki berada dilayar. Aulia segera menuju toilet dan mengangkat panggilan itu.


"Halo kak ?"


"Halo Ra, kamu dimana ?"


"Aku.. Aku lagi di mall kak !"


"Hah ? di mall ? Kamu nagapain disitu ?"


"Anu, ini... Aku butuh pakaian baru setelah itu ke tempat kerja lagi !"


"Oh begitu, coba tebak aku dimana sekarang ?" Mendengar itu, Aulia menahan tawa.


"Hmmm.. memang kakak dimana ?"


"Aku juga ada di Bali dan aku menginap di hotel yang sama denganmu !"


"APAAAAAA ?" Pekik Aulia benar-benar kaget.


"Hahahaha. Kamarmu nomor berapa ?" Tanya Benki.


"Hah ?" Aulia langsung pusing 7 keliling. Ia merutuki dirinya sendiri karena kemarin memberitahu Benki segalanya. Ia tidak menyangka cowok itu muncul tiba-tiba.


"Eh.. eh.. Gak boleh tau kak. Bahaya lho model sepertiku diganggu fans, hehe !"


"Hah ? Aku gak mau ganggu. Aku mau tau kamu kapan selesai kerja. Ayo jalan-jalan, mumpung kita ada di Bali !"


Aulia memijat kening, berpikir bagaimana baiknya.


"Hmm, gini aja kak. Nanti aku kasih info ke kakak kalau aku udah free ya soalnya disini aku sibuk !"


"Baiklah !"


"Ya udah ya kak, aku mau kerja lagi. Bye !" Aulia segera mematikan sambungan telepon dan kembali ke dapur. Memakai maskernya kembali dan meraih nampan puding lagi.

__ADS_1


Aulia begitu hati-hati saat memasuki ruangan acara lagi dan kembali mencari keberadaan Benki dan cowok itu kembali muncul didepannya dengan tiba-tiba hampir membuat Aulia memekik kaget. Benki mengambil rasa yang sama dengan tatapan mengarah pada gadis didepannya, Aulia menolehkan wajahnya menghindari tatapan Benki.


Baru saja Aulia hendak pergi saat didengarnya seorang gadis menyapa Benki dengan suara lembutnya.


"Benki, ya ampun itu kamu. Apa kabar ?" Gadis bergaun peach diatas lutut itu tersenyum manis pada Benki.


"Hei Helen, aku baik. Kamu sendiri apa kabar ?" Benki suprise dan balas tersenyum manis pada gadis itu.


Aulia mematung ditempatnya melihat interaksi keduanya. Ia menelisik gadis bergaun peach itu dari ujung kaki hingga ujung rambut, cantik mempesona dan terlihat juga dari keluarga terpandang. Kedua orang itu dilihat dari sisi manapun sangat cocok, tampan dan cantik membuat Aulia tidak tahan dan segera menjauh dari sana dengan berbagai pikiran berkecamuk.


Dan akhirnya, pesta telah usai. Setelah membereskan sedikit dan diselesaikan oleh staf pria. Para gadis pulang beriringan menuju mess.


"Ya ampun, kalau begini terus kapan kita bisa jalan-jalannya !" Keluh Isa sambil memijat pundak kanannya.


"Betul, kalau setiap hari sesibuk ini, yang ada kita gak akan pernah jalan-jalan dan pulang dengan tangan hampa !" Irma menimpali.


"Tapi oke juga tamu-tamu tadi, banyak banget yang ganteng-ganteng, aku jadi betah lama-lama disana, hehehe !" Ana.


"Udah deh, jangan dipikirin begitu. Cowok-cowok seperti mereka itu sombong dan kalaupun tidak sombong, pastinya dia juga gak mau berhubungan sama kita !" Veni menyahut.


"Maaf, cari cowok selevel mereka untuk dijadikan pasangan hidup itu susah banget. Nanti yang ada kamu ditindas sama mertua dan kakak ipar !" Tambah Veni.


"Iya, iya, iya. Kagumi aja kok ?" Yang lain mengalah.


Aulia yang mendengar ucapan Veni, kembali teringat dengan Benki dengan gadis bergaun peach tadi dan langsung saja hatinya bergemuruh.


"Maaf ya guys. Tapi bener deh, cowok-cowok tadi itu bagai bintang di langit. Terlalu tinggi untuk digapai. Seperti film-film itu, orang-orang seperti mereka sudah dijodohkan oleh orang tua mereka dan pastinya sama orang kaya juga. Yah, orang kaya menikah sama orang kaya ya tambah kaya !" Semua terdiam saling pandang.


"Oke. Oke. Mulai sekarang hanya sebatas mengagumi oke. mengagumi jadi jangan ngomel-ngomel lagi. Oce !" Kata Irma.


"Oke, oke !"


Aulia jadi berpikir, jika saja ia memperkenalkan diri kepada Benki sebagai Aulia, bekerja sebagai pegawai hotel biasa, apakah cowok itu masih akan terus menghubunginya ? Apakah cowok itu akan tetap memperkenalkannya pada keluarganya ?


Saat sampai, kelimanya bergantian membersihkan diri dan langsung tidur, berbeda dengan Aulia, ia menuju balkon merasakan hembusan angin malam menerpa wajahnya. Ia meraih HP-nya dan mengirim pesan untuk Benki.


'Kakak udah tidur ?'


Tak lama, Hp-nya berbunyi. Aulia mengangkatnya.


"Kamu lagi apa ?"


"Lagi lihat bintang-bintang di langit, hehehe. Kakak sendiri lagi apa ?"


"Lagi memikirkanmu !"


"Idih, gombal !"


Keduanya tertawa dan hening sejenak.


"Mau jalan-jalan ?" Tanya Benki tiba-tiba.


"Eh ?"


"Disekitar pantai aja, aku kang... ayo jalan-jalan sebentar !" Benki memotong ucapannya sendiri.


Aulia menatap jam di layar Hp-nya. Sudah mau jam 10 dan juga teman-temannya sudah ngorok semua.


"Oke kak !" Putus Aulia.


"Oke, kita ketemu di kolam renang sekarang !"


"Oke !"

__ADS_1


Aulia segera mengganti piyama tidurnya dengan jeans biru dan kemeja kaos putih, tak lupa sweater putih. Segera Aulia menuju kolam renang setelah mengunci kamar.


Benki telah berada disana saat Aulia tiba, cowok itu juga memakai setelah yang sama dengannya dilengkapi jaket hitam yang kebesaran ditubuhnya. Saat melihat Aulia, Benki refleks memeluk gadis itu, membuat Aulia membeku. Aroma parfum Benki masih tercium.


"Kangen !" Ucap Benki sambil memeluk erat Aulia membuat gadis itu membulatkan mata mendengarnya.


Kemudian Benki melepaskan pelukannya, sejenak tatapan keduanya bertemu dan tersenyum.


"Ayo jalan-jalan !" Benki segera menggenggam tangan Aulia dan menggandeng cewek itu pergi.


Keduanya berjalan-jalan ditepi pantai, menikmati deburan kecil ombak yang berusaha menerpa kaki mereka. Suasana malam sudah cukup sepi hanya terlihat beberapa orang dan pedagang yang berada disekitar dan penerangan cukup terang dari gerobak pedangan juga dari hotel.


"Mau makan sesuatu ?" Tawar Benki memecah kesunyian.


Aulia menoleh pada Benki kemudian ke pedagang yang masih berada disana, Aulia kembali memandang Benki dan menggeleng.


"Jadi mau jalan-jalan aja !" Aulia mengangguk.


Keduanya kembali menyusuri tepi pantai, Aulia menatap tangan mereka yang menaut erat kemudian menatap Benki.


'Sebentar aja, biarkan seperti ini. Suatu hari nanti saat kita berpisah, aku akan mengenangmu dengan baik '


Mata Aulia berkaca-kaca dan berusaha mengenyahkan pikiran buruk yang masih berkecamuk dipikirannya tentang hubungan palsu mereka.


"Kamu kenapa ?" Tanya Benki mengagetkan Aulia.


"Nggak kak, kayaknya ada yang masuk ke mataku tapi udah gak apa-apa kok !" Aulia tersenyum manis.


"Ya udah, kita duduk disini deh !" Benki melepas sandalnya dan dia jadikan tempat duduk yang diikuti Aulia.


"Kakak kok tiba-tiba ada disini ?" Tanya Aulia.


"Ya, aku diundang acara ulang tahun perusahaan rekan kerja, awalnya aku gak mau datang. Eh, waktu tau tempatnya disini, aku jadi semangat. hehehehe !" Benki.


"Aku bisa ketemu kamu dan ya sekarang kita bisa jalan-jalan berdua begini !" Benki kembali menggenggam tangan Aulia dan tangannya yang lain meraih tubuh gadis itu untuk rebah dibahunya.


Teringat saat Benki tahu undangan ini berada di alamat yang sama dengan Tiara dan langsung saja memesan tiket dan kamar hotel tanpa memberitahu Fajar dan ia baru memberi tahu saat sedang menuju bandara membuat asistennya itu menggerutu tanpa henti


"Aku senang ketemu kakak sekarang ini ?" Ucap Aulia jujur, mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Benki.


"Sama, aku juga senang !"


Keduanya terdiam menatap lautan yang gelap dengan suara deburan ombak yang bersahutan, rangkulan Benki disertai genggaman tangannya membuat Aulia merasa hangat dan nyaman.


Malam semakin larut dan cukup lama keduanya disana hingga akhirnya memutuskan kembali. Kini keduanya berada ditepi kolam renang, saatnya Teletubbies berpisah.


"Ya udah kak, aku balik ke kamar ya !" Pamit Aulia.


"Mau saya antar ke kamar !"


"Eh, gak usah !" Tolak Aulia langsung membuat Benki tertawa.


"Oke, kamu istirahat ya !"


"Oke kak, bye !" Aulia langsung balik badan.


"Ra !" Panggilan Benki membuat Aulia kembali menoleh.


"Iya kak ?"


Benki mendekat, menatap dalam mata Aulia dan wajahnya mendekat mencium kening Aulia lama membuat gadis itu mematung seketika. Setelah itu Benki tersenyum seraya membelai lembut pipi gadis itu yang menatapnya tidak percaya.


"Istirahatlah !"

__ADS_1


Aulia mengangguk dan segera berbalik, berlari kencang meninggalkan Benki yang tertawa melihat tingkahnya.


__ADS_2