
Jerry sedang menatap keluar pada jendela kaca besar yang juga mengarah ke kolam renang. Bisa dia lihat gadis yang kemarin tidak sengaja duduk di pangkuannya sedang menikmati kegiatan berenangnya dengan menggunakan baju kaos putih dan celana jeans selutut.
Jerry memutuskan segera turun meninggalkan sang kakak yang masih terlelap di ranjangnya. Ingin menghampiri gadis itu dan berkenalan dengannya sebelum gadis itu beranjak dari sana.
Namun saat sudah berada dilantai dasar dan berniat menghampiri gadis itu, dilihatnya gadis itu sudah berdiri ditepi kolam sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dan mulai berjalan kearahnya. Akhirnya Jerry hanya terdiam kecewa saat gadis itu menyudahi acara berenangnya menuju pintu masuk.
Tapi tiba-tiba sebuah tangan memegang bahu gadis itu dan mendorongnya kearah tembok membuat gadis itu memekik kaget.
"Rafly, kamu itu apa-apaan sih ?" Bentak Tiara saat tahu siapa yang membuatnya terkejut
"Ra, kamu kenapa blokir nomorku ? aku jadi gak bisa hubungin kamu !"
"Kita udah putus, makanya aku blokir kamu. Kan aku udah kirim chat mau putus !"
"Tapi kenapa ? Salahku apa ? Aku kira kita baik-baik aja tapi kamu malah tega tinggalin aku sendirian di hotel itu !" Rafly marah.
Tiara menatap nanar pada Rafly yang benar-benar tidak merasa bersalah atas apa yang hendak ia lakukan padanya.
"Aku lihat. Aku lihat kamu kasih sesuatu di minumanku dan itu yang buat aku tinggalin kamu disana !" Jujur Tiara yang langsung membuat Rafly terbelalak kaget.
"Kamu bicara apa sih ? Aku gak kasih apa-apa ke minuman kamu !" Rafly berkilah.
Emosi Tiara seketika naik dan menghempaskan tangan Rafly dari bahunya.
"Mulai sekarang, jangan pernah temui aku lagi. Ingat, kita putus. P.U.T.U.S !" Tandas Tiara final.
"Ra, kamu kenapa sih. Aku sayang sama kamu. Kamu juga sayang kan sama aku !" Rafly kembali memegang kedua bahu Tiara.
"Aku sudah gak percaya sama kamu lagi jadi perasaanku ke kamu sudah hancur. Sekarang lepas.. lepas !" Tiara berusaha mengenyahkan tangan Rafly dari tubuhnya.
Semua yang melintas hanya menonton tidak tahu harus berbuat apa.
"Nggak, sebelum kamu tarik kata-kata kamu kembali. Aku gak mau putus !" Rafly mengcengkram kuat tubuh Tiara membuat gadis itu memekik.
"Raf, lepas, sakit !" Keluh Tiara tapi nampaknya Rafly seolah tuli dan tidak mengendurkan cengkramannya membuat Tiara semakin meringis.
"Lepasin dia !" Sebuah telapak tangan mendarat di bahu Rafly hingga pria itu tehuyung mundur.
"Heh, Lo siapa ikut campur urusan orang lain ?" Bentak Rafly pada pria baru datang itu.
"Aku Ng... Aku ini....!" Jerry menoleh kearah Tiara yang masih meringis.
"Aku calon suaminya dia, kami dijodohkan orang tua kami masing-masing !" Ucap Jerry percaya diri membuat 2 orang yang mendengarnya menganga.
"Apa itu benar Ra ?" Rafly beralih pada Tiara dan meminta penjelasan.
"Itu benar, kami akan segera menikah !" Jerry meraih pinggang Tiara dan merangkulnya mesra. Sedangkan, Tiara hanya diam melongo tidak tahu harus menjawab apa.
"Oh ya, perkenalkan Jerry Collins. Pemilik perusahaan x yang berada di negara P !" Jerry mengulurkan tangan pada Rafly.
Tiara dan Rafly menganga mendengar itu, perusahaan yang bergerak di bidang bahan bakar yang namanya terkenal di dunia pebisnis begitu sukses.
"Saya dan.....!"
"Siapa namamu sayang ?" Bisik Jerry pada Tiara.
"Tiara !" Tiara ikut berbisik.
__ADS_1
"Aku dan Tiara akan menikah, jadi tolong kamu jangan ganggu calon istriku lagi !" Jerry sudah hampir membawa Tiara pergi saat Rafly menahan mereka.
"Ra, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf Ra. Tolong jangan lakuin ini ke aku. Aku sayang banget sama kamu !" Rafly mengiba.
"Maaf Raf, tolong pergi dari sini !" Tiara hendak langsung pergi bersama Jerry menuju lift diikuti pandangan mematikan Rafly.
"Tapi Ra ?"
"Bisa berhenti ganggu calon istriku ? Dia bukan milik kamu lagi tapi milikku !" Jerry mencium kening Tiara membuat gadis itu membeku kemudian memegang dagunya hingga mendongak dan mencium mesra pipi kanannya.
Rafly menganga dan Tiara jangan ditanya, semakin membeku.
"Sudah jelas ? Jadi mulai sekarang berhenti mengganggu kekasihku !" Jerry membawa Tiara pergi dengan masih merangkul pinggangnya. Tangan Rafly terkepal erat melihat itu.
'Sialan, aku gak akan lepasin kamu begitu aja Tiara. Kamu milikku dan selamanya seperti itu!' Batin Rafly seraya memandangi hotel mewah itu.
'Hotel ini akan menjadi milikku !' Tekadnya dalam hati menatap interior bangunan mewah itu dengan seringai berbahaya.
Di lift..
PLAK.
Sebuah tamparan cantik mendarat mulus di pipi kiri Jerry.
"Seharusnya kau berterima kasih kan karena sudah kubantu. Kenapa malah nampar ?"
"Heh, aku gak butuh bantuanmu. Tadi aku bisa atasi sendiri. Pake cium-cium lagi, kau tahu gak, itu sudah masuk pelecehan !" Bentak Tiara.
"Kamu seperti baru pertama kali dicium aja !"
Mendengar itu, tangan Tiara siap memberikan tamparan cantik lagi namun dengan sigap ditahan oleh Jerry.
Tiara menghempaskan tangannya dengan mimik jengkel. Jerry tersenyum melihat itu.
"Bagaimana kalau kita pacaran ?" Pertanyaan itu sukses membuat Tiara menatap Jerry dengan terbelalak.
"Namaku Jerry, umurku 25 tahun. Aku tampan dan berkharisma serta pekerja keras !" Jelas Jerry sambil menaik turunkan kedua alisnya pada Tiara.
"Maaf, aku udah punya calon. Dia direktur utama salah satu perusahaan makanan terbesar di Indonesia !" Ucap Tiara percaya diri yang sukses membuat Jerry terdiam menatapnya.
Pintu lift terbuka, Tiara keluar dari sana. 5 langkah berjalan ia menoleh kearah Jerry yang menatapnya diam hingga pintu lift itu tertutup.
*****
Seharian ini, Michael sibuk dengan berbagai meeting sedangkan Bryan dan Jerry hanya bisa menunggu sambil menikmati fasilitas hotel seperti berenang atau spa. 2 pria manja itu juga menjadi pemandangan indah bagi cewek-cewek cantik nan jomblo.
Dan kini 3 pria tampan itu sedang makan siang bersama, mengabaikan tatapan mupeng gadis-gadis sekitar yang naksir mereka.
"Ya ampun, ganteng banget 2 cowok bule itu ya !" Ucap Irma menatap Jerry dan Bryan.
"Betul, aku mau banget jadi pacarnya kalau mereka jomblo !" Sahut Ana.
Sedangkan Tiara dan Aulia yang baru saja tiba dan berhenti tepat dibelakang 2 gadis itu, ikut menatap objek yang menyenangkan mata.
Jerry yang menyadari keberadaan Tiara, seketika melambaikan tangan seraya tersenyum membuat Irma dan Ana histeris senang seraya balik melambaikan tangan pada Jerry. Aulia menahan tawa melihat tingkah kedua temannya karena ia tahu jika lambaian tangan itu untuk Tiara.
Sedangkan Tiara, ia hanya melengos dan menuju meja prasmanan dan duduk jauh dari meja Jerry yang masih menatap lekat padanya.
__ADS_1
*****
Besoknya ketiganya akan kembali ke kota J setelah sarapan. Setelah sarapan bersama, ketiganya menuju kamar masing-masing untuk membereskan barang-barang mereka.
Saat lift tiba dilantai dasar, ketiganya segera menuju pintu keluar. Terlihat Tiara berjalan dari arah berlawanan sambil fokus bermain Hp. Jerry melambatkan langkahnya sejenak hingga Tiara semakin dekat dan dengan cepat Jerry menyambar Hp itu.
"Hei !" Semprot Tiara kaget saat Hp-nya dengan cepat berpindah tangan.
Jerry tidak peduli dan malah sibuk mengetik sesuatu disana.
"Kembalikan Hp-ku !" Tiara berusaha merebut Hp-nya kembali namun dengan lihai Jerry menghindar sampai Hp-nya sendiri berbunyi.
"Ini, aku akan mencoba menghubungimu jadi jangan rindu, karena rindu itu berat !" Ucap Jerry memeluk punggung Tiara dan memberi kecupan angin membuat gadis itu melongo.
Jerry segera pergi dari sana menyusul sang kakak sebelum gadis itu meledak emosi.
Satu jam lebih perjalanan yang ditempuh menggunakan helikopter, kini keduanya telah sampai ke rumah Michael namun mama dan papa Michael belum pulang.
"Ya udah, aku mau jalan-jalan dulu !" Ucap Bryan setelah meletakkan kopernya dikamar.
"Oh, oke !" Jawab Michael sedangkan Jerry memilih menyalakan televisi.
*****
Bryan berjalan-jalan menuju mal, langsung menghampiri toko perhiasan mewah dan mahal. Sejenak Bryan terdiam menatap perhiasan berbagai bentuk nan cantik yang berjejer rapi itu.
Cukup lama melihat-lihat hingga mata Bryan tertuju pada kalung dengan bandul emas putih berbentuk matahari dengan berlian kuning cukup besar ditengahnya.
"Saya mau yang itu !" Ucap Bryan pada pegawainya.
"Baik kak !" Pegawai itu mengambilkan apa yang ditunjuk dan memberikannya pada Bryan.
Saat memegang langsung kalung itu, Bryan tersenyum hangat. Ia sudah membayangkan seperti apa ekspresi Cleo saat menerima kalung ini.
"Tolong bungkus !" Ucap Bryan menyerahkan kembali kalung itu beserta kartu kreditnya.
Bryan berjalan menuju pintu keluar sambil memandangi paperbag kecil ditangannya sekarang ini, senyum tidak luntur darinya. Diraihnya kotak beludru merah itu dari paperbag dan dibukanya, kembali menatap dan memegang kalung cantik itu. Ia sudah tidak sabar memberikan kalung ini pada Cleo.
Asik dengan pikirannya, tiba-tiba dari samping seseorang tersandung dan menerjang kearah Bryan dengan cepat. Bryan yang kaget seketika membuang apa yang dipegangnya dan menyambut tubuh yang jatuh kearahnya.
Tubuh itu memeluk tubuh Bryan dengan mulus membuatnya mendongak seketika. Mata mereka bertemu bersamaan dengan perasaan yang mengatakan.
'kayaknya pernah lihat tapi dimana ?'
Cukup lama keduanya berpandangan seraya berpelukan dengan wajah cukup dekat.
"Maaf, maaf saya gak sengaja !" Gadis itu tersadar dan langsung melepaskan diri. Matanya terarah pada kotak beludru serta paperbagnya yang tergeletak mengenaskan di lantai tak jauh dari mereka.
Gadis itu segera memungutnya dan menyerahkan kembali pada Bryan.
"Maaf ya, sekali lagi maaf !" Gadis itu menunduk dan menatap wajah tampan didepannya yang juga menatapnya lekat.
"It's oke !" Jawab pria itu kemudian berlalu. Beberapa langkah sebelum berbelok, ia berbalik sejenak menatap gadis itu yang masih menatapnya dengan senyuman.
Bryan menatap sejenak, merasa pernah melihat gadis itu tapi ia lupa dimana. Kemudian ia kembali melangkah dan hilang di belokan.
Sedangkan gadis itu kembali meraih paperbagnya dan bersiap melangkah saat merasakan sesuatu tersangkut di gaunnya bagian pinggang dan saat melirik, ia terkejut saat sebuah kalung cantik berbentuk matahari dengan berlian kuning ditengahnya bertengker manis disana.
__ADS_1
Ia terperangah dan tersadar jika itu milik pria tadi yang dimana kotak beludrunya terjatuh membuatnya ingin berlari mengejar pria tadi untuk mengembalikan namun langkahnya terhenti saat sebuah suara memanggilnya.
"Syifa !"