Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 074


__ADS_3

Tepat dugaan Bryan, bahwa di museum itu sepertinya akan diadakan pesta karena sejak jam 7, mobil mewah tidak henti berdatangan namun meski beberapa orang itu adalah orang-orang penting namun tak dinyana pengamanan ketat tetap terjadi, tamu-tamu itu diperiksa dengan teliti sebelum dipersilahkan masuk. Tak lama para bodyguard ikut memasuki ruangan dengan mengunci rapat pintu masuk.


Bryan menurunkan teropongnya, diletakkan di meja. Menarik kursi dan mendudukinya dengan pikiran kacau. Bagaimana caranya bisa menembus keamanan ketat itu ?


Bryan memerhatikan bangunan wine didepannya. Toko penghasil wine terbaik di kota itu tampak ramai dengan orang yang lalu lalang keluar masuk disana. Ia memeriksa mobil box itu yang berasal dari toko ini.


Sebuah mobil box terlihat dan beberapa pegawai saling membantu memasukkan beberapa kotak kayu kedalam mobil itu. Bryan mengenali salah satu dari mereka yang ia lihat saat berada didepan museum.


Bryan memutuskan masuk dan disambut jejeran botol wine yang terlihat nikmat, menggoda dan mahal. Sang pemilik yang melihatnya tersenyum.


"Silahkan melihat-lihat, jika butuh sesuatu katakan saja padaku !"


"Baik !"


Bryan berjalan kesana kemari menatap botol-botol itu satu demi satu dan juga menatap tajam pada sang pemilik yang terlihat melayani tamu dengan ramah.


Bryan meraih botol wine merah dan membawanya ke kasir, pria tadi kembali tersenyum pada Bryan.


"Pilihan yang bagus !" Ucapnya dan mulai mengemas wine itu.


"Jika aku ingin memesan dalam jumlah banyak. Apa bisa anda membawanya ke rumahku ?" Tanya Bryan.


"Tentu, kapan anda menginginkannya !"


"Nanti, jika aku akan mengadakan acara. Apa langsung bisa anda antarkan ?"


"Ow, mungkin lebih baik anda memberitahukan kepadaku seminggu sebelum acara jadi kami bisa mengantarkannya dengan aman dan tepat waktu karena pesanan kami sungguh membludak jadi jika anda memesan beberapa hari sebelum acara, mungkin saya sulit menerima !" Jelasnya.


"Baik, saya akan mengatakan kepada anda seminggu sebelum acara !" Bryan tersenyum. Saat pria tua tadi sedang menulis nota, tangan Bryan tanpa kentara meletakkan sebuah benda kecil yaitu alat penyadap suara dibawah meja.


"Ini milikmu dan terima kasih atas kunjungan anda. Silahkan kembali kemari kapanpun anda mau !" Pria tua itu tersenyum ramah.


"Terima kasih !" Balas Bryan dan segera pergi dari tempat itu.


*****


Pesta mewah dan meriah itu telah usai dan para pegawai hotel berbondong-bondong membersihkan sisa-sisa kekacauan pesta.


Setelah selesai, Kelima gadis itu kembali pulang beriringan dengan kembali mengeluh.


"Sumpah ya, kalau kerjaan tiap hari seperti ini pastinya badan remuk juga !" Keluh Isa sambil memijat lehernya.


"Sabar, beberapa hari lagi kita pulang !" Sahut Veni.

__ADS_1


"Itu dia, kita udah mau pulang tapi belum pernah jalan-jalan ih !" Gerutu Irma.


"Kita kabur aja gimana ?" Ana memberi saran yang membuat 4 lainnya menoleh kearahnya cepat.


"Maksudnya bagaimana ?" Tanya Irma.


"Kita gak usah kerja, kita kabur aja jalan-jalan, hehehehe !"


"Jangan lupa, ada kak Toni eh pak Toni lho. Nanti dia cariin kita semua !" Sahut Aulia. Mendengar itu kelimanya melotot saat membayangkan wajah sang direktur utama. Tampan namun tegas, dalam masalah pekerjaan Toni sangat mengutamakan disiplin pada semua pegawainya. Jika ia menemukan kesalahan maka tanpa basa basi ia akan langsung memecat orang itu.


Membayangkan itu, yang lainnya hanya menarik nafas lesu. Bayangan mereka bisa menikmati sedikit liburan juga berbelanja selama di Bali pupus sudah, mereka harus rela jika sampai hari terakhir di Bali tidak pernah bisa jalan-jalan.


Kelimanya memasuki kamar dan mulai bergantian membersihkan diri, tanpa berkata-kata lagi semuanya sudah mulai terlelap namun saat Aulia juga ingin membaringkan tubuhnya jadi urung saat mendengar HP-nya bergetar kencang. Ia meraih benda itu dan menatap layar yang memunculkan nama Benki.


"Halo kak ?"


"Halo Ra, kamu kok dari tadi dihubungi gak diangkat ? Kamu sibuk sekali kah ?" Suara Benki terdengar kesal. Aulia diam karena sengaja belasan panggilan Benki tak ada satupun yang ia angkat.


"Maaf, tadi aku sibuk sekali jadi gak bisa terima telepon. Ada apa ?" Tanpa sadar Aulia berbicara ketus, kembali mengingat kebersamaan Benki dengan Helen membuat hatinya kembali nyut-nyut.


Keduanya terdiam sesaat, sibuk dengan pikiran masing-masing. Meski bisa merasakan kekesalan Benki namun Aulia juga tak memungkiri dia tidak terima jika Benki tersenyum pada wanita lain.


"Ayo ketemu !" Ucap Benki tiba-tiba.


"Sama aja kan seperti kemarin, aku tunggu ditempat kemarin !" Tanpa mendengar jawaban Aulia, Benki langsung memutuskan panggilan telepon.


Aulia menarik nafas panjang, menatap langit malam dengan kerlap-kerlip bintang-bintang kecil. Andai bisa mengulang waktu, ia ingin kembali dimana Tiara meminta tolong untuk menggantikan dirinya. Saat itu Aulia akan menolak dan ia tidak akan pernah bertemu Benki ! Tidak akan jatuh cinta pada laki-laki itu dan juga tidak akan pernah merasa minder jika berdiri disamping laki-laki itu.


'Aku jadi takut jika suatu nanti kamu tau yang sebenarnya ! Apa kamu masih mau menatapku yang miskin ini ?' Batin Aulia menangis.


Aulia segera mengganti pakaiannya memakai celana jins hitam serta kaos hitam dan sweater putihnya. Berlari kecil menuju kolam renang dan melihat Benki sudah menunggunya dengan wajah datar. Cowok itu memakai celana training pendek dan jaket kebesaran.


"Ayo !" Masih dengan wajah datar Benki berlalu. Aulia yang merasakan kekesalan cowok itu sedikit merasa bersalah.


Aulia mengikuti langkah Benki yang kembali menyusuri pasir basah dan terkadang ombak kecil menghantam kaki mereka. Aulia menatap punggung pria didepannya dengan perasaan nano-nano, ia tidak suka keadaan ini, ia tidak suka Benki bersikap seperti itu.


Aulia segera meraih sebelah tangan Benki dan menggenggamnya membuat langkah Benki terhenti tanpa menoleh kearahnya.


"Maaf !" Ucap Aulia akhirnya. Ia tidak tahan melihat sikap dingin Benki.


"Tolong jangan marah, aku gak bisa lihat kamu kayak gini !" Dengan berani Aulia menelusup dibalik jaket besar itu dan memeluk tubuh yang terbalut kaos singlet itu. Aulia memejamkan mata menikmati aroma tubuh Benki juga detak jantungnya yang berpacu dengan suara deburan ombak membuat perasaanya tenang.


"Maaf ya, jangan marah. Maaf aku sibuk jadi mengabaikan teleponmu !" Aulia mendongak menatap Benki yang juga menunduk menatapnya masih dengan tatapan datar. Menyembunyikan rasa cemburu yang kini mulai bersarang.

__ADS_1


Aulia kembali menenggelamkan wajahnya di dada Benki, merasakan hangatnya suhu tubuh cowok itu dan kemudian dia rasakan Benki merapatkan jaketnya membungkus tubuhnya dan balas memeluk gadis itu.


"Aku juga minta maaf, tidak mengerti dengan pekerjaanmu !" Ucap Benki akhirnya membuat Aulia tersenyum lega seraya memeluk erat tubuh itu.


"Tapi tolong, kalau bisa angkat teleponku dan jika memang tidak bisa, kirimkan aku pesan supaya aku tidak terlalu khawatir !" Benki membelai lembut kepala Aulia.


"Iya, aku akan berusaha seperti itu. Jadi jangan khawatir, aku pasti baik-baik aja !" Aulia memejamkan mata menempelkan pipinya di dada Benki.


Benki membimbing Aulia untuk duduk di pasir kering tanpa alas, membawa Aulia duduk didepannya dan kembali menyelimuti tubuh gadis itu dengan jaket yang dipakainya seraya memeluknya dari belakang.


"Ini !" Benki memperlihatkan coklat didepan wajah Aulia, membuat gadis itu memekik senang dan akhirnya menikmati coklat sambil menyandarkan tubuhnya di dada Benki, sesekali menyuapi cowok itu coklat sambil menatap indahnya lautan malam yang diterangi cahaya bulan membuat Aulia sangat bahagia.


"Ra ?"


"Hmm ?" Aulia masih menikmati coklatnya.


"Suatu hari nanti saat kita menikah dan aku memintamu berhenti dari pekerjaanmu ! Apa kamu bersedia ?" Tanya Benki hati-hati.


Aulia terdiam seketika, tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya menoleh dan tersenyum manis pada Benki yang saat melihat reaksinya juga ikut tersenyum dan kembali memeluk perutnya.


Aulia gamang, sebenarnya ia ingin sekali mengatakan pada Benki bahwa dia bukan Tiara dan ingin cowok itu melihat dia yang sebenarnya dan apa adanya namun ia tidak mampu mengungkapkannya dan niat awalnya yang ingin membatalkan perjodohan Tiara dan Benki hancur karena malah ia sendiri terjebak dengan perasaannya sendiri.


Sibuk dengan pikirannya hingga Aulia tersentak saat merasakan sesuatu melingkar dilehernya. Ia menunduk dan meraih benda itu, sebuah aksesori kalung dimana bandul kayu berbentuk hati yang cukup besar dan disamping kanan kiri bandul itu kayu berbentuk dadu masing-masing berjumlah 3 membuat kalung itu terlihat unik.


"Maaf, aku cuma ngasih kalung mainan begini !" Ucap Benki.


"Kok ngomong gitu, ini bagus kok. Aku suka banget !" Aulia menoleh kearah Benki dan tersenyum tulus pada cowok itu.


"Aku berharap bisa kasih kamu yang lebih bagus dari ini !"


"Udah, nggak apa-apa kok. Ini bagus banget. Terima kasih ya !" Refleks Aulia mencium pipi Benki dan menatap kagum kalung barunya.


Benki mematung terkejut dengan serangan tiba-tiba Aulia seketika memegang pipinya seraya melihat mimik bahagia Aulia. Tangannya kembali melingkar di perut gadis itu, meletakkan dagunya dibahu Aulia, ikut tersenyum bahagia saat ini.


Cukup lama menikmati kebersamaan dipinggir pantai, keduanya memutuskan untuk pulang. Berjalan sambil bergandengan tangan dan hati yang bahagia. Kini keduanya berada di kolam renang dan waktunya berpisah.


"Ya udah kak, aku ke kamarku. Kakak juga istirahat ya !" Ucap Aulia pada Benki yang malah menatap sesuatu di bibir bawah Aulia.


"Itu, ada coklat dibibirmu !" Benki menunjuk bibir bawah Aulia.


"Oh ya dimana ?" Aulia sudah mengangkat lengannya hendak menyeka bekas coklat itu.


"Sini biar aku yang bersihkan !" Benki menahan lengan Aulia.

__ADS_1


Detik berikutnya, Aulia membulatkan matanya saat Benki mendekatkan wajahnya dan menciumnya lembut, Aulia hanya diam saat lidah Benki menyapu bibir bawahnya dan tak lama merasakan rasa manis dari lidah Benki. Tangan Benki melingkar memeluk bahunya dan memperdalam kecupannya, mata Aulia perlahan terpejam dan balas memeluk Benki, ikut terhanyut dengan kegiatan mereka sekarang.


__ADS_2